
Chapter 21
Entah itu arogansi atau keberanian, Lupan benar-benar membuat semua orang tertegun.
"Berikan permatanya padaku," ujar Lupan.
Skard menatap dalam-dalam wajah Lupan, mencari suatu petunjuk apakah ucapannya itu hanya candaan atau tidak. Dia tak menemukan apapun.
"Kenapa juga aku harus berikan permatanya untukmu?!" tukas Skard. Dia menunjuk Daedalus. "Satu-satunya yang pantas mendapatkan Permata ini adalah dia, bukan Tael, apalagi kau. Jangan berlagak hebat ketika kau hanya mengirimkan tebasan terakhir pada Anglar."
Lupan tak senang. "Jadi kau akan memberikannya pada Daedalus?"
"Aku akan memberikannya ke siapapun yang kumau dan itu bukan urusanmu, dasar bocah tengil!" Bibir Skard menggelegar marah membuat ludahnya menciprat ke janggut putihnya.
Lupan hendak menjawab, namun tarikan kecil Hella pada bajunya membuatnya mengurungkan niat. Wajah mungil Hella menatapnya seolah menyuruhnya berhenti. Dia memutuskan untuk berhenti.
"Silahkan saja berikan pada Daedalus atau Tael, tapi diakhir hari kelak, tiap-tiap dari kalian akan menyadari seandaianya Permata itu di tanganku, situasi akan berubah."
"Seperti kau berguna saja!" seru Tael kesal.
Lupan tak menanggapi dan dia memilih duduk.
"Jadi, batu itu untukku?" tanya Tael.
Skard menunjuk Daedalus. "Tanyakan abangmu."
Tael melempar pandang dan Daedalus disana mengangguk.
Tael begitu senang, tapi dia bersikap dingin dan mengangguk pelan.
Skard menyerahkan Permata milik Anglar pada Tael. Tael menggenggam erat Permata merah itu, dia merasakan koneksi, lembut dan tenang, tapi dekat tidak seperti sebelumnya. Tael menengok ke bangku kusir. Dan pada akhirnya dia akan membuat dirinya dipandang layak. Dia akan menjadi hebat.
Tael menggenggam Permata di tangan kiri dan mengambil pisau di tangan kanan. Dia meletakkan pisau itu pada nadinya. Dia menoleh pada Daedalus, dia begitu bersemangat! "Ajarkan aku mantra yang kau gunakan, bang!"
__ADS_1
Skard menampar pisau di tangan Tael, pisau itu memantul jatuh keluar kereta kuda.
"Kau mau bunuh diri?" tanya Skard marah.
"A-apa? Aku ingin menggunakan kekuatan Permata-nya, apalagi?"
"Peminjam Iblis tak memakai Permata seperti itu! Yang kau lakukan adalah ritual para Pengendali Iblis dan Pengendali Iblis hanya berasal dari Perserikatan Iblis."
Tael bingung. "Tapi pak Toras dan abangku selalu menggunakannya seperti itu."
Skard menoleh pada Daedalus kemudian pada Toras yang duduk lesu dengan anak-anak. "Maksudmu mereka mengiris tangan dan iblis keluar?"
"Iya, setelah mengucapkan sebuah mantera," ucap Tael polos.
Daedalus menjawab kebingungan mereka dengan menggigit tangannya, darah keluar—sakit. Dia membaca mantera kemudian sosok Iblis Slimonoid menampakkan diri.
"Seperti ini."
Skard menarik Isolde dan Lagertha ke belakangnya, melindungi mereka berdua di kereta kuda yang sempit itu. Kemudian sebelah tangannya bersandar ke gagang pedang, bersiap dihunuskan.
"Gila," ujar Lupan pelan, "jika kami berniat jahat kami akan membiarkan orang barbar itu menghabisi kalian."
"Itu benar, pak Skard," tambah Daedalus. "Kemampuanku memanggil Iblis Slimonoid itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Perserikatan Iblis. Aku tak tahu menahu tentang perserikatan itu."
"Omong kosong!" bentak Skard. "Tak ada dunia dimana seseorang belajar menjadi Pengendali secara Cuma-Cuma. Ilmu itu gelap, busuk dan jahat! Hanya lidah yang telah memakan otak seorang gadis muda yang bisa mengucapkan bahasa kuno itu!"
Daedalus tak pernah memakan otak hewan, apalagi otak seorang gadis. "Ini salah paham, aku memang bisa memakai bahasa ini secara tiba-tiba. Bahkan Toras pun terkejut."
Toras mengangguk. "Hentikan omong kosong ini, turunkan senjatamu. Satu-satunya yang pernah memakan otak gadis muda adalah aku dan satu-satunya orang dari Perserikatan adalah aku."
Situasi hening, Daedalus menatap Toras sedikit tak percaya. Riel dan Abel merangkak menjauh dari Toras.
"Lalu apa tujuanmu menyusup kemari?" tanya Skard.
__ADS_1
"Aku adalah orang Perserikatan, tapi itu dulu. Sebelum aku menjadi seorang desertir dan kepalaku diburu oleh mereka. Poin pentingnya adalah kau dan aku sama-sama tak senang dengan Perserikatan."
"Percayalah pak, kami semua kecuali Toras hanyalah mantan budak rendahan," pelas Yogot. "Jangankan mendengar Perserikatan Iblis, mendengar Permata Delima berubah seiring warna elemen dan tingkatan sajapun kami tak pernah."
Ketiga anak mengangguk setuju. Tapi sekadar kata-kata belaka saja tidak membuat Skard percaya. Banyak pembohong di dunia ini. Isolde menepuk pundaknya dan berkata. "Kita sudah mati jika tanpa mereka. Aku sudah mati tanpa tuan Daedalus menyelamatkan."
Lagertha Valaan menarik pundak Skard mundur. Dia menatap keseluruhan kereta kuda dalam-dalam. "Aku tahu budak hanya dengan sekali lihat, Skard. Dan jikapun aku salah, melawan juga kita tak akan menang melawan dua Pengendali Iblis. Sudah terlambat untuk menyesali keputusanmu membawa mereka bersama kita. Kubilang, biarkan mereka tetap berada di Kereta kuda."
Skard mengangguk. Yang lain tak senang saat mereka lagi-lagi disebut budak, tapi mereka hanya memilih diam.
Lagertha Valaan melanjutkan. "Namun kereta kuda adalah milikku dan milikku adalah aturanku. Aku tak akan mentolerir Senjata tumpul dan tajam, termasuk juga Permata. Serahkan semuanya dan kita akan melanjutkan perjalanan kita dengan damai dan tentram. Jika menolak, silahkan angkat kaki dari sini atau langsung saja kudeta dan potong saja kepalaku."
Lupan menyerahkan pedangnya. "Kami tak berniat buruk, yang kami inginkan adalah tumpangan dan koneksi bergabung ke Garda Valaan," ujarnya. Kemudian yang lain mengikuti. Pisau belati kecil dan pedang diserahkan pada Skard. Bahkan Yvonne yang menjadi kusir juga disita senjatanya. Daedalus memanggil kembali Iblis Slimonoid dan menyerahkan Permata Delimanya. Tael yang baru menerima Permata juga terpaksa menyerahkan.
Skard datang dan meminta Permata milik Toras, tapi Toras hanya membalasnya dengan tatapan tajam mata.
"Aturan adalah aturan, tak ada Permata di kereta kuda."
Toras awalnya ragu, tapi pada akhirnya dia memberikan Permata Delima merah kehijauannya pada Skard.
"Hanya itu?" tanya Skard.
"Hanya itu."
Skard pergi dan menyimpan seluruh permata ke dalam peti kecil, kemudian menguncinya. Daedalus pernah melihat Toras meminjam kekuatan Iblis Manusia Malam untuk menghancurkan gerbang kota. Permata Skard tidak hanya satu, tapi Daedalus memilih untuk diam.
Skard menyerahkan kuncinya pada Lagertha. "Bagus, terimakasih atas tindakan kooperatifnya."
"Sampai kapan permata kami disita?" tanya Daedalus.
"Sampai kalian mendapatkan kepercayaan penuh kami," jawab Lagertha.
"Tanpa senjata, kami hanya beban jika terjadi penyerangan lagi," Tael menambahkan.
__ADS_1
"Kalian akan mendapatkan senjata jika terjadi penyerangan, tenang saja." Lagertha kembali duduk tenang, peti di bawah kakinya dan kunci di saku pakaiannya. Dia memegang kekuasaan penuh atas semuanya. "Untuk saat ini, mari kita bersantai dan menikmati perjalanan."