
Chapter 8
Setelah semua budak digiring masuk ke dalam Kediaman Lord, beberapa orang mulai pergi ke Istal. Beberapa orang itu adalah Yvonne, Daep, Aurie dan beberapa budak yang lain.
“Senang karena kau ikut membantu, Pak Daep,” kata Yvonne. Mereka memasuki Istal. “senang kau akhirnya memutuskan untuk membantu sesama kita.”
Daep mengangguk. “Apa kau kira mereka akan berhasil?” tanyanya pada Yvonne.
“Puluhan melawan dua lusin prajurit? Aku kira mereka pasti berhasil.” Yvonne berkata pasti. “Tugas kita sekarang yang terpenting hanyalah melepas kuda-kuda ini dan menyiapkannya agar dapat ditunggangi.”
“Kau tidak memperhitungkan Rouf dan Touf yang merupakan Kesatria berpengalaman,” jawab Daep. “Kau tahu, ‘kan, bahwa mereka adalah pemenang turnamen Kota Libbam dua tahun lalu?”
Yvonne mengangguk. “Tapi Daedalus juga tak kalah tangguhnya.” Dia mulai khawatir. “Aku yakin Daedalus pasti bisa menang melawan mereka.”
“Aku juga berharap begitu,” kata Daep. Tapi berharap saja tak akan mengubah hasil. “aku berharap begitu.”
Kemudian mereka melanjutkan urusan. Dalam hening mereka berdua melepaskan kuda-kuda, lalu memasangkan saddle padanya. Tak lupa juga mereka memeriksa apakah semua kuda yang dikeluarkan telah memiliki sepatu kuda.
Daep memilih satu kuda dan melepas satu sepatunya. Dia menyimpan sepatu tersebut di saku celana. “Kuda satu ini kehilangan sepatunya,” kata Daep. Yvonne menaruh perhatian.
“Kau benar, apa kita tidak memakai kuda ini?”
“Tidak, dia hanya kehilangan satu sepatu.” Daep menunjuk sudut Istal. “Aku tahu dimana sisa sepatu kuda, aku akan mengambilnya, sebentar.”
Yvonne mengangguk. Daep seorang diri berjalan ke sudut Istal. Dia tak pernah berniat membantu Yvonne menyiapkan kuda untuk pelarian para budak. Jika rencana mereka gagal dan Daep ketahuan membantunya, maka mereka sekeluarga akan dieksekusi. Daep telah melihat eksekusi besar-besaran pada budak bahkan sebelum dia menjadi budak dari Lord Puqress. Itu terlalu beresiko. Niatnya kemari adalah melepaskan Gallam demi keselamatan keluarganya—budak-budak yang selamat dari eksekusi besar-besaran yang dia kenal selalu berpihak pada majikan—tapi dia tak bodoh. Dia perlu mengkonfirmasi beberapa hal terlebih dahulu.
Gallam menyadari kehadirannya. Daep melepas penutup mulut Gallam. “Halo, pak Daep,” sapa Gallam. “Apa kau kemari demi membebaskanku?”
__ADS_1
“Tergantung,” jawab Daep. “aku bisa saja menusukmu sampai mati dengan celurit itu.” Daep menunjuk sebuah celurit yang terpajang di dinding. Dia harus bersikap mengancam. “atau aku bisa saja melepaskanmu, itu semua tergantung mana jalan terbaik demi keluargaku.”
Gallam mengernyit. “Kau menyuruhku berjanji untuk membujuk Lord mengampuni keluargamu?” tanyanya. Daep mengangguk. “Termasuk Daedalus?”
“Aku siap menghadapi pilihan yang sulit, nak,” kata Daep. “dan aku tahu pilihan sulitku itu adalah merelakan Daedalus. Aku tak bisa memikirkan cara bagaimana Lord mengampuni Daedalus yang menjadi perancang pemberontakan ini. Tapi aku yakin, Lord dapat mengampuni sisa keluargaku, termasuk Tael.”
Gallam terkekeh.
“Apa kau mendapat sepatu kudanya, Pak Daep?!” tanya Yvonne dari tengah ruang Istal.
Daep mengambil celurit di dinding dan dia memberikan Gallam tatapan tajam. Jawaban Gallam selanjutnya tak akan membuatnya segan. “Tawamu mengesalkan, nak,” katanya. “apa itu jawaban dari tawaranku?”
Gallam menggeleng. “Tidak, tidak,” jawabnya. “dengan sepenuh kekuatanku, aku akan bersumpah membujuk Lord untuk memberimu dan sekeluarga HAK untuk hidup—kecuali Daedalus—asal kau melepaskanku.”
“Setuju.” Daep berkata tanpa jeda. Dia segera memotong ikatan Gallam dengan celuritnya. Tak memakan waktu lama,Gallam telah lepas dan dia segera merebut celurit dari tangan Daep. “Ingat janjimu.”
“Saat ini, mereka melakukan pemberontakan di Kediaman Lord,” beritahu Daep. “jika kita pergi sekarang kesana mungkin akan sempat.”
Gallam mengangguk dan mereka berdua pergi ke ruang tengah Istal. Yvonne yang menyadari Gallam lepas segera mengambil senjata yang bisa dia temukan. Dia hanya menemukan balok kayu, budak lain mengikuti langkahnya.
“Apa-apaan ini Pak Daep! Kau melepaskan dia?!” bentak Yvonne. Gallam tertawa melihat ekspresi terkejutnya. “Harusnya kau mati di Menara Tua itu, prajurit! Tapi tak apa, aku akan membunuhmu sekarang juga.”
Gallam tertawa keras. “Harusnya kau memang membunuhku, tapi kalian budak adalah makhluk paling bodoh yang pernah kukenal.” Gallam menunjuk semua budak. “Siapa yang bisa membawa kepala budak wanita itu kepadaku, aku janji akan meminta kalian diampuni karena telah memberontak.”
Gallam menunggu, tapi tak ada budak yang melakukan permintaannya.
“Kau terlalu percaya diri, prajurit,” ejek Yvonne.
__ADS_1
“Baiklah kalau itu mau kalian ....” Gallam menarik napasnya dalam-dalam kemudian dia melepasnya dalam bentuk teriakan. “TOLONG AKU! BUDAK MEMBERONTAK! TOLONG AKU!”
Teriakan Gallam menggelegar bak guntur di pagi hari. Begitu besar, begitu keras sampai-sampai mereka yakin suaranya itu akan mencapai seluruh prajurit atau bahkan penjaga kota disekitar.
“Dasar penakut!” maki Yvonne. Dia segera melompat ke salah satu kuda. “Semuanya larilah dengan membawa kuda! Larilah sebelum bala bantuan datang!”
“Ya, larilah, larilah!” Gallam tertawa puas melihatnya, tak dia sadari sedikit air mata jatuh melihat Yvonne dan budak lainnya berlarian membawa kuda. Bahkan ada beberapa budak yang menaiki kuda dan mencoba menunggangnya, tapi langsung terjatuh.
Gallam menghampiri budak itu. “Kau bahkan tidak tahu menunggang kuda, dasar budak!” Dia menebas budak itu dengan celuritnya dan terus menebas, melampiaskan emosinya, membayangkan yang dia tebas adalah Daedalus. “Kau selanjutnya!”
Daep dan Aurie saling tatap, kekhawatiran timbul pada diri mereka melihat sikap Gallam.
“Ingat janjimu, Gallam.” Daep mengingatkan kembali.
Gallam berbalik kepada mereka. Pakaian dan celuritnya telah bermandikan darah akibat tebasannya ke budak yang terjatuh. “Ya, ya, janjiku. Apa tadi janjiku?”
Daep murka, tapi dia mencoba mengontrol dirinya. “Kau akan membantu membujuk Lord untuk mempertahankan hak kami untuk hidup.”
Gallam menebas ke depan, Daep dapat merasakan kepalanya terputus dari tubuhnya. Tapi dia masih memiliki kesadaran.
“Ke-kenap—a.” Mulutnya mencoba mengucapkan sesuatu, tapi kesadarannya perlahan hilang.
Sebelum kesadarannya menghilang penuh, dia masih mendengar teriakan Aurie istrinya. Dia bahkan dapat melihat samar istrinya itu dijambak oleh Gallam.
“Hak untuk hidup? Sejak kapan budak punya hak untuk hidup!”
Tawa puas Gallam dan penyesalannya mengiringi hembusan nafas terakhirnya. Daep telah binasa.
__ADS_1