
Chapter 7
Pagi telah tiba, seluruh prajurit sibuk membangunkan semua budak. Daedalus dan keluarganya turut bangun. Khusus untuk perayaan ulang tahun Lord Puqress, seluruh budak dipersilahkan mandi dan berganti pakaian.
Daedalus berkumpul bersama budak lain di sungai terdekat. Dia bertemu dengan Yogot dan Lupan. Lupan membisikkan sesuatu padanya.
“Semuanya sudah siap, Daedalus. Semuanya ingin bergabung dan mengakhiri perbudakan Lord kepada kita.”
Daedalus senang mendengarnya. Semenjak tadi malam mereka menyusun rencana, Yvonne membawa beberapa kepala keluarga budak dan menunjukkan Gallam yang disandera kepada mereka.
“Kami telah membunuh tiga dari mereka dan apa sulitnya membunuh selusin lagi? Dengan bantuan kalian kita bisa!” pidato Yvonne.
Untungnya, pidato Yvonne berhasil dan tampaknya seluruh budak yang ditemui Daedalus menganggukkan kepala kepadanya. Menyapanya sekaligus mengkonfirmasi mereka berada di pihak yang sama.
Prajurit datang memberikan mereka pakaian baru dan seluruh budak memakai pakaian baru mereka. Itu adalah pertama kali Daedalus memakai pakaian bersih setelah berbulan lamanya atau bahkan setahun? Dia tidak begitu ingat.
Mereka dibawa ke Kediaman Lord. Dia melihat ada Yogot, Tael dan Lupan di barisan belakangnya. Serta ada juga Toras yang telah memotong rambutnya hingga botak, menyisakan janggut putihnya saja. Sosok yang memperkenalkannya pada Permata Delima itu tampak segar tak seperti semalam, dia turut senang.
Tapi dia tak melihat baik ayah dan ibunya. Dia bertanya-tanya dalam diri apakah mereka membantu Yvonne menyiapkan kuda untuk kabur? Daedalus hanya berharap seperti itu. Dia berharap semua akan berjalan lancar. Mereka kemudian masuk ke Kediaman Lord.
Kediaman Lord memiliki aula yang lebar dengan satu singgasana. Di depan singgasana tersebut disediakan meja beserta kue perayaan ulang tahun. Di sisi meja tersebut telah disiapkan ranjang, tempat Lord akan merayakan ulang tahunnya dengan ‘hadiah’ para budak.
Beberapa rekan Lord dan bangsawan lain berbaris di meja tamu sedangkan para budak dipersilahkan untuk duduk di lantai. Tak berapa lama setelah mereka berbaris, Lord datang dengan pakaian megahnya. Putih, berkilauan dan cantik.
Semua orang bertepuk tangan, Daedalus turut. Lord Puqress tertawa sambil melambaikan tangan. “Hahaha! Ini perasaan terbaik.”
Disisinya tak lepas juga dari sosok Rouf dan Touf, dua pengawal kembar paling setianya. Dia telah berbicara semalam tentang Rouf dan Touf kepada Toras dan Toras yakin dapat menangani kedua pengawal tersebut. Tapi mengingat yang memiliki kekuatan Permata Delima hanya Toras dan Daedalus, Daedalus yakin itu akan menjadi pertarungan yang seimbang atau bahkan sulit.
Bukan Toras tidak mau memberikan Permata Delima kepada Tael dan yang lainnya, namun Toras mengatakan dia tidak punya Iblis Rendahan yang bisa dikuasai oleh Tael, Yogot maupun Lupan. Memberikan Iblis Menengah kepada Peminjam Iblis tak berpengalaman hanya akan membuat Permata Delima menjadi sama seperti batu biasa. Akhirnya mereka dan puluhan budak yang hadir membawa pisau yang mereka simpan di pinggang—tertutup rapi oleh kaus mereka.
“Kita akan memulai perayaan ulang tahun ke tigapuluh Lord kita.” Seorang akademisi menjadi pembicara. “Sebelum Lord melakukan peniupan lilin dan melakukan perayaan dengan ‘hadiah’nya, pertama mari kita dengarkan Lord yang akan bercerita tentang bagaimana dia dapat mencapai umur yang panjang dan kisah kebangsawanannya.”
__ADS_1
“Hoho, kau baik sekali,” kata Lord tersebut. “Ini semua bermula saat ayahnya ayahku, dan ayahnya ayahnya ayahku, yang seorang saudagar yang berkeliling kesana kemari, namun suatu hari dia berpi—”
Untuk beberapa saat, Daedalus mendengarkan kisah tentang bagaimana keluarga Puqress bangkit dari kehidupan saudagar menjadi bangsawan seperti sekarang ini. Dia tak peduli akan kisah itu, dia hanya menunggu kedatangan Riel dan menanti.
Untuk beberapa saat, Daedalus mendengarkan kisah tentang bagaimana keluarga Puqress bangkit dari kehidupan saudagar menjadi bangsawan seperti sekarang ini. Dia tak peduli akan kisah itu, dia hanya menunggu kedatangan Riel dan menanti.
Setelah beberapa saat kemudian, Lord Puqress selesai mengkisahkan kisah kebangsawananannya.
“Akhirnya selesai juga,” keluh Yogot disebelah Daedalus. “dia kira dia penting apa?”
Daedalus mengangguk dalam diam mendengarkan perkataan Lord Puqress berikutnya.
“Aku punya kabar mengerikan, terdengar terdapat Pengendali Iblis yang berhasil masuk ke kota Libbam,” beritahu Lord Puqress dengan suara sedih. “Mereka berhasil membunuh 3 prajurit tersayang kota kita dan menyerap jiwa mereka hingga habis. Mengerikan sekali! Bahkan ada satu prajurit yang hilang dan masih dalam masa pencarian.”
Lord Puqress menunduk sedih. Yogot sampai bertanya pada Daedalus. “Apa kau kira Lord benar-benar sedih?”
Daedalus tak tahu pasti, namun Lord Puqress yang dia kenal bukan sosok yang peduli pada bawahannya. “Entahlah.”
Ini yang Daedalus dan lainnya tunggu. Mereka akan segera menyerbu saat gadis-gadis sudah berada dalam jangkauan. Rouf dan Touf pergi ke pintu belakang dan tak berapa lama kemudian mereka kembali membawa tiga gadis. Mereka tampak rapi, indah dan cantik dengan pakaian mewah ditubuh mereka. Salah satunya adalah Riel.
“Sekarang?” tanya Yogot. Daedalus melihat Lupan juga sudah bersiap untuk menerjang kapan saja demi menolong anaknya. Tapi ini belum waktu yang tepat.
“Belum saatnya,” jawab Daedalus. “kita harus menunggu mereka terpisah dari Rouf dan Touf.”
Lord Puqress merentangkan tangannya menyambut gadis-gadis. “Kemarilah sayangku.” Dia mendekap mereka bertiga sekaligus dengan tubuh gemuknya. Gadis-gadis meringkih tak senang. Lord Puqress menggiring mereka ke ranjang. “Mari naik ke ranjang dan kita akan melaksanakan perayaan.”
Lupan sudah mulai gelisah. “Kapan Daedalus?”
Rouf dan Touf masih terlalu dekat di sisi Lord. Jika mereka bergerak sekarang, maka Rouf dan Touf akan menyadarinya dan berhasil membawa pergi Lord atau lebih parahnya, membawa Riel dan gadis-gadis lainnya kabur.
Para gadis sudah dibaringkan di ranjang. Lord Puqress tertawa riang. Rouf dan Touf mundur menjauh dari ranjang dan bergabung ke barisan budak—memberikan Lord mereka spotlight yang dia butuhkan.
__ADS_1
“Sekarang?” tanya Lupan lagi.
Daedalus mengambil belatinya dan menyelimuti tubuhnya dengan kekuatan pinjaman Iblis Slimonoid. Barulah dia berseru, “SEKARANG!”
Serentak setelah Daedalus berteriak, seluruh budak mencabut belati dan mulai menyerang. Mereka yang dipinggir menikam prajurit dan bangsawan yang bahkan tak sempat bereaksi. Darah tertumpah dimana-mana. Beberapa prajurit yang menyadarinya melawan balik dari kedua sisi. Sedangkan budak yang lain maju menerjang ke baris depan, mencoba ke arah Lord.
“Kami akan memenggalmu dasar Lord Gendut!” teriak seorang budak.
“Ah, apa ini!” Lord Puqress terperanjat. Riel dan gadis lain juga sama.
Dia maju paling depan dengan belati di tangan. Rouf menyambut kedatangannya dan semangatnya. Namun dalam satu gerakan pedang dasar saja, Rouf memenggal budak itu dengan pedang besarnya.
“Touf amankan Lord!” perintah Rouf.
Saudara kembarnya menuruti lantas berlari menghampiri Lord, namun Toras yang menyamar sebagai budak tiba-tiba telah hadir di hadapannya. Di tangan Toras ada pedang yang dibaluri api, begitu juga dengan seluruh tubuhnya. Itu pasti kekuatan pinjaman dari Permata Delima yang dimilikinya.
“Lordmu akan mati disini,” kata Toras santai. Lord Puqress ketakutan sambil memeluk Riel.
Touf mengangkat pedang besarnya lalu mengibaskannya ke sekitar. Di gagang pedang besarnya terdapat Permata Delima, sekejap, tubuh Touf dibaluri elemen air kebiru-biruan. Itu adalah kekuatan Permata Delima milik Touf.
“Air atau Api yang akan menang, pak tua?” balas Touf. “Kupikir kau tahu jawabannya.”
Toras tahu iblis apinya akan kalah pada iblis air milik Touf, tapi kuda-kudanya yang mantap tak mengatakan dia akan kalah mudah. Mereka berdua beradu keahlian.
Di sisi lain Rouf memenggal satu persatu budak yang datang ke arahnya. Dia masih menggunakan teknik berpedang biasa, namun setiap budak yang datang menyerangnya dengan pisau kecil telah dikirimnya ke alam akhirat.
Daedalus datang dengan meminjam seluruh kekuatan Iblis Slimonoid. Geraknya lebih cepat dari budak biasa dan dibalik serangan membabi buta para budak, Daedalus berhasil menanamkan tusukan ke perut Rouf. Rouf tersedak darah dan dia segera menebas pedang ke arah Daedalus, memaksa Daedalus mundur.
“Kau baik saja?” tanya Yogot pada Daedalus, Tael serta Lupan berada disisinya. Daedalus menjawab dengan anggukan.
Rouf melihat saudara kembarnya juga kesulitan melawan Toras dengan kekuatan Permata Delima. “Aku tak menyangka akan ada Peminjam Iblis diantara para budak,” katanya. Dia mengelus pedang besarnya—yang terdapat Permata Delima di gagang pedang tersebut. Perlahan tubuhnya diselimuti elemen beku, memancarkan hawa dingin dan menyelimuti tubuhnya bak zirah besi. “Tapi akan kutunjukkan perbedaan Iblis Rendahan tanpa elemen sepertimu dengan Iblis Beku sepertiku!”
__ADS_1
Auranya Rouf terasa begitu berbeda dari sebelum dia meminjam kekuatan iblis. Sekarang bahkan Daedalus dibuatnya merinding, tapi baik Daedalus maupun Tael, Yogot dan Lupan bersiap melawan rasa takutnya. Dikelilingi oleh budak dan prajurit lain yang sibuk bertempur satu sama lain, pentas pertempuran diserahkan pada mereka berlima. Daedalus melawan rasa merindingnya dan mulai menyerang.