Perang Pengendali Iblis

Perang Pengendali Iblis
Arc 1 Menyelamatkan Riel


__ADS_3

Chapter 11


Daedalus sudah berada di batasnya. Dia kembali mencoba untuk memberikan serangan dengan Paluperang. Dia mencoba bergerak selincah saat dia memegang pisau. Menanti Rouf menebas dengan pedang besar, lalu dia menghindar dan memberikan serangan balasan.


Rouf menebas tinggi, Daedalus menghindar kemudian dia melayangkan pukulan dengan Paluperang. Zirah Iblis Beku milik Rouf terpampang begitu jelas di depan mata Daedalus. Namun Paluperangnya begitu lambat, sesaat sebelum Paluperangnya mengenai Rouf, si Tembok Beku menjauh menghindarinya.


"Mencoba hal yang sama berulang kali takkan ada hasilnya," beritahu Rouf. Dia menendang Daedalus hingga dia tumbang. Dia mulai risih dengan ketenangan Rouf, seolah Daedalus bukanlah lawan yang layak. Dia mengangkat pedang tinggi, hendak menebas Daedalus, tapi seseorang berteriak padanya.


"Sombong sekali kau!" Tael berteriak padanya. Di tangannya teracung pedang prajurit dan dia siap bertempur. "Ayo lawan juga aku!"


Rouf mengangguk bersedia. "Kemarilah, budak."


Tael maju menyerang. "Yaaaah!" Pedang mereka beradu. Perbedaan kekuatan yang begitu besar membuat Rouf berhasil menekan pedang besarnya kepada Tael.


Tael melepas pedangnya sebelum dia terbelah dua dan menghindar, tapi Rouf mengirimkan pukulan susulan yang membuat Tael terhempas jauh. Dia mencoba bangkit, wajahnya berdarah-darah, hidungnya mimisan hanya karena satu pukulan.


Daedalus tak bisa membiarkannya. Tapi bagaimana cara untuk menang? Dia bertanya kembali kepada dirinya.


Disisi lain, Daedalus melihat pertempuran Toras dan Touf. Toras telah kehilangan api yang membakar tubuhnya. Zirah apinya diselimuti oleh Iblis Air kekuatan pinjaman milik Touf—menyelimuti Toras dalam pelukan air.


Toras menggeliat dan berhasil melepaskan dirinya dari ditenggelamkan hidup-hidup. Dia terbatuk mengambil napas namun lawannya telah datang kepadanya, tak membiarkan dia bebas.

__ADS_1


Touf menghunuskan pedang besarnya. "Kau seharusnya merasa terhormat karena telah bertarung dengan Touf si Air Bah. Sekarang aku akan memberimu kematian!"


Daedalus menggeleng, jika Toras tak memikirkan sesuatu, maka dia akan mati. Dia harus membantu Toras, tapi dia sendiripun tak kunjung menang melawan Rouf si Tembok Beku.


Disaat itulah, Daedalus menyaksikan jelas sesuatu yang membuatnya takjub sekaligus bingung. Toras menggenggam Permata Delima di tangannya, kemudian menyayat nadi tangannya sendiri. Touf juga tampak jelas bingung. Lalu tak berapa lama, mulut Toras mengucapkan sesuatu yang asing, sesuatu yang tak pernah dia dengar. Tapi entah kenapa Daedalus mengetahui artinya.


"Kupersembahkan nadi dan darahku, kuminta kau bertarung disisiku! Penuhi sumpahmu kepadaku, datanglah, Iblis Peri Beku!"


Dari nadi Toras yang mengeluarkan darah, darah tersebut membasuh Permata Delima di tangannya. Dari Permata Delima yang telah terbasuh darah, muncul seberkas cahaya menyilaukan dan sesosok keluar dari sana.


Berdiri di sebelah Toras adalah sosok Iblis Peri Beku. Bentuknya nyaris sama seperti manusia, namun wajahnya begitu cantik serta telinganya runcing dan bertubuh ramping. Tapi seluruh tubuhnya diselimuti es beku yang menyatu pada dirinya seolah kebekuan itu menjadi daging dan kulitnya.


"Habisi orang sombong itu!" Toras berseru.


Iblis Peri Beku memegang pedang Touf dengan pelan, kemudian membekukan pedang air tersebut dengan sekejap dan perlahan pembekuan mengalir kepada Touf yang diselimuti zirah air.


Touf mencoba lari, tapi Iblis Peri Beku mengejarnya. Di tangan Iblis Peri Beku telah tercipta tombak es, yang kemudian dia lempar kepada Touf. Touf menangkis satu, namun Iblis Peri Beku membuat tombak beku yang lain, kemudian melemparnya lagi, kemudian membuatnya lagi, dan kemudian melemparnya lagi.


Touf hanya dapat menangkis beberapa. Namun tubuh Touf yang diselimuti zirah Iblis Air tak membantunya. Saat satu tombak beku berhasil menusuknya, dari tombak beku itu memulai pembekuan pada Touf. Kemudian tombak beku yang lain menusuknya dari berbagai titik.


Dada, kaki, tangan, pundak, perut. Seluruhnya mengenainya. Itu merupakan pembantaian sepihak. Touf berteriak, "Tolong, Rouf—!" Namun sebelum ada satu tarikan napas, Touf terbaring di tanah dengan seluruh dirinya membeku. Dia membeku dalam keadaan berteriak.

__ADS_1


Daedalus dapat melihat Toras, sosok pemilik Iblis Peri Beku, wajahnya semakin memucat. Dia mencoba mengucapkan beberapa patah kata lagi namun tubuhnya tak mendukung. Dia segera tumbang, pingsan, tak sadarkan diri. Iblis Peri Beku-nya menghilang dan masuk kembali ke dalam Permata Delimanya.


"Mengerikan! Ini mengerikan!" Lord Puqress berseru terkejut. Dia memeluk-meluk Riel dalam kondisi ketakutan. "Iblis! Itu Pengendali Iblis!"


"Tidak, ini tak mungkin, " keluh Rouf. Rouf si Tembok Beku baru pertama kali dilihat Daedalus mengeluarkan wajah panik. Dia berlari mendatangi Toras, tapi Daedalus tak dapat membiarkannya. "akan kubunuh kau!"


Daedalus datang sambil membawa Paluperangnya. Dia memukul Rouf dari belakang, namun pria itu sempat menangkisnya.


"Jangan mengganggu!" keluh Rouf. Rouf menyerang Daedalus bertubi-tubi, kali ini tiap tebasannya lebih keras daripada yang pernah Daedalus rasakan. Dia begitu khawatir pada Touf, saudara kembarnya. Tapi Daedalus tak bisa biarkan dia pergi menolong, dia akan menghentikan Rouf disini.


"Kau takkan pergi kemana-mana!" seru Daedalus. Dia melayangkan Paluperang lagi namun Rouf menendang perutnya dan membuatnya terhenti di tempat.


Jarak Daedalus dan Rouf semakin menjauh, dia harus melakukan sesuatu untuk menghentikannya. Dia tak bisa biarkan Rouf dekat-dekat dengan Toras yang telah membekukan saudara kembarnya. Lalu, Daedalus teringat bahasa asing yang diucapkan Toras.


Dia juga memiliki Permata Delima dan dia percaya diri dapat mengucapkan bahasa yang sama, itu patut dicoba. Daedalus menyayat nadinya, darah keluar banyak, dia mengernyit. Sayatannya terlalu dalam.


"Apa yang kau lakukan, bang?!" Tael berteriak khawatir.


Tapi Daedalus tahu apa yang dia lakukan. Dia harus mencobanya. Jadi dia menggenggam Permata Delima keras dan mulutnya mulai mengucapkan hal yang diucapkan Toras.


"Kupersembahkan nadi dan darahku," rapal Daedalus, dia berhasil mengucapkan bahasa asing yang tak pernah dia pelajari seolah-olah itu bahasa sehari-harinya. "kuminta kau bertarung disisiku. Penuhi sumpahmu kepadaku, datanglah, Iblis Slimonoid!"

__ADS_1


Dari nadi Daedalus yang basah akan darah, darah tersebut memandikan Permata Delimanya. Dari Permata Delima yang bermandikan darah, terbuka cahaya besar menyilaukan, sekejap, yang kemudian cahaya tersebut membawakan keluar sebuah sosok.


Iblis Slimonoid muncul dan menyembahnya.


__ADS_2