Perang Pengendali Iblis

Perang Pengendali Iblis
Arc 1 Menyelamatkan Riel


__ADS_3

CHAPTER 14


Para budak dan prajurit serta kedua Kesatria terpaku melihat kematian Aurie. Saat tubuhnya ambruk dan saat darahnya membasahi tanah, tak ada seorangpun yang mengambil napas. Semua hening, diam. Kemudian keheningan itu dipecahkan oleh seorang pemuda yang mengamuk atas kematian ibunya.


Saat iblis merah Daedalus menampakkan diri, barulah para budak dan prajurit terbangun ke alam realita.


"Pengendali Iblis!" seru Ser Corvark.


"Tak kusangka Iblis Merah itu berasal dari seorang budak." Ser Gholam menambahkan. Dia memasang kuda-kuda, hembusan angin menyelimuti tubuhnya bak zirah pelindung. "Corvark, jangan turunkan penjagaanmu."


Ser Corvark yang pendek juga turut memasang kuda-kuda. Berdirinya kokoh pedangnya diselimuti buih-buih air.


Tapi pemuda yang mengamuk—Daedalus—tak melampiaskan amarahnya pada mereka berdua. Dia yang tak pernah ingin mengambil hak hidup siapapun, kali ini berseru, "Siksa dan Bunuh dia!"


Iblis Slimonoid dengan kedua tangan kosongnya, melejit kepada pembunuh Aurie. Prajurit Gallam menyambut dengan tebasan pedang, menebas satu tangan Iblis Slimonoid. Namun seolah tak merasakan sakit, Iblis Slimonoid memukul Prajurit Gallam dengan tangannya yang tersisa. Dia terlempar.


"Kau benar-benar jatuh ke jalan iblis, budak," erang Prajurit Gallam.


Iblis Slimonoid tak menjawab dan dia segera melemparkan pukulan lagi. Kali ini tebasan perlawanan Prajurit Gallam hanya mengenai angin. Dia terkena pukulan berkali-kali, serta tendangan. Tubuhnya mencoba lari, menghindar ataupun melawan. Tapi Iblis Slimonoid tak membiarkannya pergi.


Wajah Prajurit Gallam bengkak-bengkak, rasa sakit menyeluruh pada tubuhnya. Dia merangkak kabur saat Iblis Slimonoid menendangnya seperti menendang bola.


"Tolong aku ...!" erang Prajurit Gallam. Tapi Iblis Slimonoid tetap menendangnya berulang kali hingga pada titik Prajurit Gallam terlentang dan Iblis Slimonoid memelintir kakinya keras-keras. "Aargh!"


Ser Corvark dengan pinjaman Iblis Air-nya datang membantu, tapi Daedalus menghentikan langkahnya. Tubuh Daedalus telah diselimuti kekuatan pinjaman Iblis Slimonoidnya dan di tangannya ada pedang prajurit.


"Dia akan mati dan dia akan mati hari ini," kata Daedalus dingin. Matanya merah menahan tangis dan amarah. Dia menodongkan pedang pada Ser Corvark. "Kau juga akan mati jika menolongnya!"


Ser Corvark berdecih lalu menebas Daedalus dengan pedang buih airnya. Daedalus enteng menangkis, dia mengaliri pedangnya dengan kekuatan Iblis Slimonoid, membuat pedangnya seolah diselimuti slime.

__ADS_1


Pedang mereka beradu. Buih air pada pedang Ser Corvark seolah terserap dan lengket pada slime Daedalus.


"Kau senang karena kau bisa meng-counter elemenku, Pengendali Iblis?" Ser Corvark berkata. "Coba tangkis ini!"


Air pada pedang Ser Corvark mewujud menjadi tentakel dan tentakel air menampar wajah Daedalus. Daedalus terpaksa mundur menerimanya, dia merasakan panas pada wajahnya. Saat dia memeriksa, wajahnya teriris mengeluarkan darah seolah dia baru saja ditebas oleh pisau.


Ser Corvark berdiri di hadapannya dengan pedangnya mengeluarkan beberapa tentakel air. "Ha! Rasakan."


Daedalus mengilap darah dan bersiap menerima serangan Ser Corvark berikutnya. Walau dalam posisi kalah, dia begitu puas mendengar erangan Prajurit Gallam di belakangnya. Iblis Slimonoid menjadikan kaki dan tangan Prajurit Gallam seolah mainan yang bisa diputar-putar.


"Tolong!" Prajurit Gallam berteriak meminta tolong, tapi tak ada yang dapat menolongnya.


Di sisi lain, para budak yang disandera maupun budak yang melakukan penyerangan di Kediaman Lord telah bertempur dengan Prajurit serta Penjaga Kota. Setelah kematian Aurie dan penyerangan Daedalus, mereka mengambil pedang yang telah mereka jatuhkan dan menyerang para Prajurit dan Penjaga Kota. Tapi itu tak menghasilkan hasil yang memuaskan.


Walaupun kedua pihak berjumlah sama, tapi hanya belasan dari budak yang mengangkat pedang melawan seluruh Prajurit dan Penjaga Kota. Prajurit yang disandera mencoba melawan dengan tangan kosong maupun mencoba kabur, namun ditebas mati begitu saja oleh para Prajurit Kota.


"Selamatkan keluarga kita!" seru Lupan.


Tael dibelakang panik harus melakukan apa. Hatinya remuk saat melihat ibunya dibunuh oleh Prajurit Gallam dan dia begitu ingin balas dendam, tapi jika dia maju begitu saja, maka dia akan meninggalkan Riel dan Hella, dua gadis kecil yang akan begitu empuk dijadikan sasaran. Jadi dia memutuskan untuk membawa kedua gadis itu naik ke atas kuda sementara dia mencoba melindungi mereka.


Seorang Penjaga Kota seorang diri menyerang ke arahnya, dia dengan sebilah pedang kaku menyambut kedatangan lawannya. Dia tak pernah berhadapan satu lawan satu dengan Penjaga Kota sebelumnya.


"Matilah budak!" seru Penjaga Kota tersebut.


Tael juga berseru balik meredam takutnya. "Matilah!"


Dia menebas asal-asalan pedangnya namun beruntungnya Penjaga Kota tersebut tertebas dan jatuh menimpa Tael. Penjaga Kota itu masih hidup, dia berteriak kesakitan sambil mencekik Tael. Perbedaan besar badan membuat Tael tak bisa keluar dari cekikan. Dia memberontak, tatapan matanya hanya menyaksikan mata dan ludah-ludah berjatuhan dari Penjaga Kota. Dia tak bisa lepas dari cekikan.


Sebilah pedang menembus leher si Penjaga Kota dan dia tumbang. Tael terbatuk berhasil melepaskan diri dan menengok sosok penyelamatnya. Itu Riel, dengan terengah-engah dan tengah menangis dia memegang pedang yang membunuh seorang pria dewasa sekaligus menyelamatkan abangnya.

__ADS_1


"Aku ... aku ...." Riel mencoba berkata-kata sambil melihat pembunuhan pertamanya.


Tael segera mendekapnya erat dan membiarkan adiknya itu menangis di pelukannya. "Kau menyelamatkan abang, Riel, kau menyelamatkan abang. Terimakasih." Tael menenangkannya, dia merasa gagal menjadi abang karena telah membiarkan adiknya melakukan tindakan yang mengerikan.


Dia menyaksikan pertempuran budak dan menyaksikan itu telah menjadi pertempuran sepihak. Hanya Daedalus dan Lupan saja yang berhasil melakukan perlawanan, sisanya adalah pembantaian. Sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan lagi, mereka harus pergi dari sini. Jadi Tael berteriak pada yang lain. "Abang! Pak Lupan! Semuanya! Kita harus pergi! Kita harus selamat! Ingat ada Riel dan Hella!"


Daedalus dan Lupan menengok ke arah Tael dan mereka tersadar. Daedalus beranjak pergi dari Ser Corvark, Iblis Slimonoidnya juga telah berhenti bermain-main dengan Prajurit Gallam. Dia meninggalkan Prajurit Gallam dengan mulut berbusa dan mata sipit yang terbelalak serta seluruh sendi pada tubuh yang berganti arah.


Tapi bagi Lupan, pergi berarti meninggalkan istri dan beberapa anaknya. Dia tak bisa pergi, juga dia tak bisa menyelamatkan mereka. Dihadapannya adalah Ser Gholam, Kesatria dengan Iblis Angin pada Permata Delima miliknya. Sosok petarung yang dulu pernah bertarung disisinya sebelum Gholam menjadi Kesatria dan dirinya menjadi budak.


"Gholam, demi pertemanan kita yang telah lama, kumohon biarkan aku membawa pergi keluargaku," bujuk Lupan.


Ser Gholam membalasnya dengan gelengan kepala. "Demi pertemanan kita yang telah habis, aku tak bisa membiarkan itu. Dan demi sisa-sisa pertemanan kita, aku akan membiarkanmu berbalik dan pergi dari kota ini untuk tak pernah kembali lagi. Penjahat Perang sepertimu harusnya bersyukur aku telah memberimu kesempatan pergi."


Lupan meludah. Wajahnya merah. "Kau termakan bualan mereka! Kau kira aku orang yang tega melakukan pembantaian itu? Sekeji itukah aku dimatamu, Gholam?"


"Kau orang paling keji yang pernah kukenal, Lupan," kata Ser Gholam. Dia mempersiapkan kuda-kuda. "mulai detik ini aku akan menyerang dengan niat membunuh dan panggil aku Ser Gholam!"


Ser Gholam melesat kencang, tebasannya nyaris saja tak dapat di tangkis Lupan. Dengan gerakan bersih, Ser Gholam memberi tebasan bertubi-tubi pada Lupan. Lupan disisi lain tak dapat melakukan apa-apa dan hanya bisa terdorong mundur setiap tebasan dilayangkan Ser Gholam.


"Berhenti bermain-main, Gholam!" Ser Corvark berteriak, dia dengan pedang Iblis Air Tentakelnya berdiri di hadapan keluarga Lupan. "Habisi dia!"


Ser Gholam memberhentikan tebasannya dan membiarkan Lupan mengambil napas. Lupan menyadari dimana Ser Corvark berdiri dan apa niatnya.


"Jangan coba-coba!" ancam Lupan.


Ser Gholam hendak berbicara, tapi dia mengurungkan niat. Dia berkata pada Lupan. "Berpaling dan pergilah."


Ser Corvark tersenyum senang melihat wajah panik Lupan. Dengan tentakel Iblis Air yang keluar dari pedangnya, dia menebaskan sekali dan seluruh keluarga Lupan yang disandera tewas serentak. 

__ADS_1


__ADS_2