
Chapter 17
Matahari bangkit diangkasa sana, namun sinarnya tak dapat menembus rimbunnya pepohonan. Sepi, sunyi dan menyeramkan. Hanya menyisakan desir air sungai tempat kawanan beristirahat, berjarak dari jalanan utama.
Seekor kuda terbaring jatuh di tanah lumpur. Kawanan memperhatikan. Lupan yang telah bergabung bersama kawanan membawa pedang dan menyembelih kuda yang malang.
"Ini kuda terakhir kita," kata Lupan.
Kuda yang malang disembelih. Setelah itu, Yvonne dan Yogot membantu menguliti kuda agar dapat dinikmati dagingnya. Sedangkan Daedalus dan Tael mencari kayu hutan menyisakan Toras dan anak-anak yang beristirahat menyaksikan yang lain bekerja.
Telah lewat beberapa hari setelah mereka kabur dari Kota Libbam. Setelah pelarian mereka, mereka terus menerus masuk ke dalam hutan dengan keempat kuda. Namun, tak lama perut mereka keroncongan dan mereka butuh makan.
Akhirnya mereka menyembelih kuda pertama dan menjadikannya bahan makanan, menyisakan kuda yang lain. Mereka awalnya sudah mencari hewan liar untuk diburu atau sekadar burung yang bertengger, namun dengan membawa pedang prajurit saja mereka tak dapat mengejar rusa yang berlari atau melempar burung yang bertengger di ranting-ranting pohon nan tinggi.
Sisa tiga kuda mereka paksakan untuk membawa seluruh kawanan, mereka sampai sejauh mungkin hingga saat mereka disergap oleh sekelompok bandit. Mereka dapat memenangkan pertempuran namun sayangnya, dua kuda mereka terkena lemparan tombak para bandit dan tak dapat melanjutkan perjalanan. Mereka mengubah dua kuda menjadi bahan makanan, sisa satu kuda lagi. Mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan.
Satu kuda yang tersisa akhirnya mereka sembelih juga hari ini. Bukan karena bahan makanan dari tiga kuda sebelumnya telah habis, melainkan daging kuda tersebut sudah membusuk dan bau. Tak layak dimakan.
Daedalus dan Tael telah selesai mengambil kayu bakar. Mereka menyusunnya rapi. Toras kemudian datang dan meminjam kekuatan Iblis Apinya untuk membakar kayu tersebut. Api menyala.
Kondisi Toras kian membaik, tapi membaiknya hanya sebatas dia saat pertama kali bertemu dengan Daedalus. Dirinya masih pucat dan lemas, tapi dia sudah bisa berbicara.
Kemudian Lupan, Yvonne dan Yogot membawa daging kuda segar dan memanggangnya dengan menusukkan ranting kayu ke dalam daging. Tak lama, daging telah matang dan mereka melahapnya.
"Awalnya aku mual dan jijik memakan ini," kata Tael. "tapi ternyata enak juga."
"Mungkin kuda enak tapi tetap saja ayam menjadi makanan favoritku!" Yogot menyangkal.
__ADS_1
Yang lain setuju. Daging kuda begitu unik dan aneh, tapi mereka yang tak punya banyak pilihan tentang menu makanan tak pantas berkomentar. Semuanya menikmati makanan masing-masing, Daedalus membantu Riel memotong daging dan Lupan serta Yvonne melakukan hal sama pada anak dan adik mereka. Tael bercanda membantu Yvonne sedangkan Yogot dan Toras menikmati seorang diri. Tapi kemudian hening. Hanya bunyi api membakar ranting yang terdengar.
"Jadi kemana kita selanjutnya?" Yvonne memulai topik pembicaraan. "Apa kita terus ke selatan dan pergi ke negeri tetangga?"
"Libion," tukas Toras. "mungkin kalian tak pernah kesana, namun ada alasan penting mengapa kerajaan Hervarar tak pernah berhubungan dengan Libion."
"Kudengar negeri itu berbataskan dengan bukit-bukit terjal dan pegunungan, hanya ada satu jalan kesana," tambah Lupan.
"Dan satu jalan itu dijaga ketat oleh Prajurit Hervarar dan Libion, dan melihat kita yang seperti pengungsi mencoba melewati perbatasan, tak mungkin mereka membiarkan kita lewat."
"Bagaimana dengan tempat yang kau janjikan, Toras?" Daedalus bertanya. "Kau mengatakan ada mereka yang mendukung penghapusan perbudakan."
"Aku berbohong." Toras menjawab dengan entengnya.
"Apa?!" Kawanan serentak terkejut. Lupan tergelak. "Untuk apa kau berbohong? Lupakan, kami bahkan tak mengenalmu. Untuk apa kau datang menolong kami memberontak pada Lord Puqress? Siapa dirimu?"
"Aku teman," jawab Toras. "dan aku tetap akan menolong kalian melawan Lord Puqress. Sebagai fakta, aku berpikir ada baiknya kita kembali ke kota dan menyusup, kemudian membujuk budak lain melakukan pemberontakan."
"Dengan kepala plontos kita?" Toras menunjuk semua kawanan. Mereka semua botak cemerlang tak menyisakan sehelai rambutpun. Hanya Toraslah yang memiliki helai janggut putih lebat pada dagunya "Berita pemberontakan budak pasti telah tersebar ke penjuru Hervarar dan saat kalian menampakkan diri di kota lain, apa yang kalian pikir akan terjadi? Kalian akan ditangkap dan dikirim ke hadapan Lord Puqress."
Semuanya terdiam.
"Tapi aku tak habis pikir," tambah Toras. Dia menatap Daedalus. "Mengapa kau tak membunuh Lord Puqress saat kau punya kesempatan, Daedalus?! Kau tak belajar dari kesalahan?"
Daedalus diam. Dia mengira Iblis Slimonoid yang melempar Lord Puqress keras ke dinding akan membuat Lord tewas, tapi setelah berbicara dengan Toras, butuh lebih dari itu untuk membunuh seorang manusia. Hatinya cemas akan konskuensi tindakannya.
"Belajar dari Gallam, Daedalus. Sikapmu yang mengampuni musuh telah menamparmu keras dengan kematian ayah dan ibumu, serta kegagalan dari pemberontakan kita. Semua nyawa budak yang tak berhasil kabur ada di tanganmu."
__ADS_1
Daedalus merenung. Dia salah. Dia menatap tangannya serta Permata Delima miliknya. Tangannya telah kotor akan kematian para budak yang sia-sia. Darah orang tuanya juga. Tapi, setidaknya, dia telah membalaskan dendam dengan membunuh Prajurit Gallam. Tapi Daedalus tidak tahu, bahwa Gallam masih hidup.
"Sudahlah, yang terjadi biar terjadi." Yogot membela. "Lebih baik kita nikmati makan ini."
"Keputusan Daedalus yang salah membuatnya tak pantas menjadi pemimpin kelompok ini." Lupan menegaskan. "Seorang pemimpin butuh hati yang dingin dan kalkulasi yang tinggi demi keberlangsungan kelompok. Mulai sekarang, kalian harus mendengarkan setiap keputusanku."
Lupan bicara layaknya seorang komandan militer. Tegas dan berwibawa, tapi Tael tak senang mendengar nada bicara itu.
Sebuah suara teriakan dan eluan perang terdengar. Itu berasal dari jalanan utama. Daedalus segera bangkit dan bergegas melihat. Yang lain mengikuti.
Kawanan bersembunyi di balik pohon besar, semua pasang mata menatap sekelompok kereta kuda tengah diserang dari berbagai arah. Penyerangnya berpakaian kulit dengan bulu-bulu hewan di pundak dan kepala mereka. Semua membawa pedang, kapak dan tombak.
"Suku barbar," jelas Lupan. "tangguh, perkasa dan brutal. Juga kejam. Jika mereka yang menyerang kita beberapa hari yang lalu, mungkin bukan hanya kuda saja yang menjadi korban."
"Yang diserang siapa? Sepertinya mereka ahli."
Sekelompok Kereta Kuda terdiri dari pelayan pria dan wanita, namun perhatian mereka terfokus pada lima orang berpakaian hitam keunguan. Satunya memakai topi koboi dan tampak tua, seolah menjadi pemimpin diantara mereka. Walau kalah jumlah satu banding tiga dengan suku barbar, mereka seolah dapat membalas balik keadaan.
"Garda Valaan, kelompok Merkenari kuat yang tiap-tiap anggota elitnya sekelas Kesatria. Mereka diciptakan langsung oleh keluarga saudagar kaya raya, keluarga Valaan." Lupan memberitahu. "Kita sebaiknya tak usah ikut campur, berurusan dengan suku barbar adalah hal yang buruk dan berurusan dengan merkenari milik keluarga besar akan membuat kita tertangkap."
Awalnya Daedalus tak ingin menolong mereka. Toh, Garda Valaan begitu mahir dan lihai menghadapi suku barbar yang menyerang mereka. Formasi mereka begitu rapi mengelilingi para pelayan dan menghalau suku barbar yang menyerang. Namun, itu sebelum seorang pria tinggi besar masuk menabrak formasi.
Tubuhnya diselimuti kekuatan iblis, Iblis Api. Dengan gada besarnya dia menabrak formasi dan membuat Garda Valaan dengan topi koboi berseru menyuruh yang lain menghindar.
Setelah itu, formasi rusak dan suku barbar bebas menyerang dari segala arah. Beberapa yang menyerang Garda Valaan dapat terampil dihadapi, namun beberapa yang mengejar pelayan yang terpisah dari formasi begitu brutal dihabisi mereka ditempat. Itu membuat Garda Valaan berusaha melindungi yang lain dan malah membuat mereka terjebak dan dihabisi.
Daedalus berdiri.
__ADS_1
"Jangan!" tegas Lupan. "Ingat konskuensi dari keputusanmu, Daedalus. Kau harus mendengarkan."
Tapi Daedalus tidak mendengarkan. Jika dia diam saja maka dia akan membiarkan Garda Valaan beserta pelayan yang tak berdaya tewas dibantai. Dengan meminta pada Iblis Slimonoid, seluruh tubuhnya diselimuti slime dan dia masuk ke medan pertempuran dengan pedang di tangan.