
Chapter 12
Sosok yang sama seperti sosok yang dilihat Daedalus dalam pikirannya. Sebuah makhluk mewujud manusia, namun seluruh tubuhnya terbentuk dari slime merah. Iblis Slimonoid menunduk di hadapan Daedalus, tak berbicara, tapi terasa menunggu sesuatu.
"Tolong Toras!" perintah Daedalus. Dia menyadari tubuhnya masih tetap diselimuti oleh slime dari Iblis Slimonoid di hadapannya.
Iblis Slimonoid mengangguk. Dia merebut Paluperang dari Toras kemudian berlari menyusul Rouf. Gerakannya lebih cepat daripada saat Daedalus meminjam kekuatannya. Tak lama, jarak antara Rouf dan Iblis Slimonoid semakin terkejar.
"Kau juga Pengendali Iblis!" maki Rouf, saat dia menyadari Iblis Slimonoid datang kepadanya. Rouf menghentikan langkah kemudian meladeni serangan Iblis Slimonoid.
Iblis Slimonoid menyerang dari depan yang kemudian Rouf bersiap menangkis, namun itu tipuan. Dengan tubuh lenturnya, Iblis Slimonoid memanjangkan tangan dan membuat pukulan Paluperang menabrak Rouf dari samping.
"Tidak, tidak!" keluh Rouf. Dia tampak terhuyung, Zirah Iblis Beku tempat terkena Paluperang menimbulkan retak. Dia mencoba melawan dan membelah Iblis Slimonoid, namun Iblis Slimonoid menyusut menghindar. Kemudian dia kembali melayangkan pukulan Paluperang dari depan, yang lagi-lagi dicoba untuk ditangkis oleh Rouf dan kemudian serangannya berpindah arah dan menabrak kembali Rouf di titik yang sama seperti sebelumnya.
Zirah Iblis Beku di titik itu telah pecah dan Rouf memuntahkan darah. Iblis Slimonoid mendatanginya dan dia mengirimkan pukulan ke titik yang sama lagi kepada Rouf yang tak berdaya. Rouf terhempas berguling-guling, kali ini organ dalamnya pasti hancur. Zirah Iblis Beku-nya pun telah hilang sempurna dari tubuhnya seiring hilangnya kesadaran.
Iblis Slimonoid mengangkat Paluperang tinggi-tinggi, bersiap mengirimkan pukulan terakhir mencabut nyawa Rouf. Tapi Daedalus menghentikannya. "Hentikan!"
Daedalus tak ingin merebut hak untuk hidup orang lain apabila tidak terpaksa. Rouf telah pingsan, jalan menyelamatkan Riel telah terbuka lebar. Iblis Slimonoid menuruti Daedalus dan dia mendatangi Lord Puqress yang bersama Riel.
"Iiihh!" Lord Puqress terperanjat takut.
Iblis Slimonoid memisahkan Lord Puqress dari Riel dan kemudian melemparnya ke dinding. Lord Puqress terhempas keras dan dia tak sadarkan diri.
"Riel!" Daedalus datang memeluk adiknya. Dia mengangguk berterimakasih pada Iblis Slimonoid yang kini telah berlutut kembali di hadapannya.
Riel membalas pelukan dan mulai menangis. "Huhu, abang, aku takut!"
"Riel aman, ada abang disini," kata Daedalus menenangkan.
__ADS_1
Tael juga datang tak berapa lama kemudian bergabung memeluk. "Syukurlah kau tak apa, Riel," katanya.
Kedua gadis yang lain—adik dari Yvonne dan anak dari Lupan—juga ada disana. Mereka tampak ketakutan. Tael memutuskan untuk menenangkan dengan memeluk mereka berdua. Mereka mulai menangis di pelukannya.
"Tak apa, Abel," katanya pada Adik Yvonne. "kakakmu menunggu kita di luar. Dan lihatlah, Hella, ayahmu juga hadir disini." Tael menunjuk pada Lupan, ayah dari Hella yang tengah bertarung melindungi Yogot dari prajurit yang lain.
Lupan mengangkat tangan pada Tael, seolah mengucapkan "Kerja bagus." Disisi pengawal yang mereka lawan tadi pertempuran tak kunjung usai juga, namun mereka tak harus melakukannya. Tael berpikir untuk menyuruh Daedalus memerintahkan mereka untuk berhenti dan mulai melakukan pelarian. Mereka telah menang.
Tiba-tiba pintu Lord Terbuka. Seekor kuda menabrak pintu itu keras dan ambruk, penunggangnya kesulitan mengendalikan namun dia tak tumbang dan terus melaju ke depan. Daedalus mengenali penumpang itu.
Abel berseru. "Kakak!" Wajah gadis itu meriah saat dia melihat kakaknya datang.
Yvonne masuk kemudian diikuti oleh beberapa penunggang kuda lain. Total ada lima penunggang termasuk Yvonne. Mereka berhenti dan berbaris tepat di hadapan Daedalus, Iblis Slimonoid berubah menjadi posisi siaga.
"Tak apa," kata Daedalus. Iblis Slimonoid menurunkan kewaspadaannya dan kembali berlutut. "Kita menang, Yvonne," beritahu Daedalus. Tapi Yvonne hanya melempar senyum kecil dan kemudian wajahnya berubah panik.
"Dia teman," beritahu Daedalus. Dia bingung dengan perkataan Yvonne. "apa maksudmu dengan Gallam lepas?"
Yvonne terkejut melihat Abel, adiknya, melompat memeluknya. Dia sejak masuk tadi tak sempat melihat sekitar. Hatinya begitu meriah dan bahagia saat merasakan kehangatan peluk Abel. Abel menangis di pelukannya.
"Tak apa, tak apa," ucap Yvonne singkat. Dia kembali berbicara pada Daedalus. "Kita harus segera pergi dari sini sebelum seisi prajurit dan penjaga kota datang mengepung kita. Aku yakin Gallam pasti melakukannya."
Lupan—bersama dengan Yogot ditatihnya—datang. "Aku sudah tahu Prajurit Sipit itu akan membawa masalah lagi! Kau harusnya membunuhnya saat kau bisa!"
Yogot mengerang. "Sudahlah, semua sudah terlanjur." Dia melepaskan bantuan berdiri dari Lupan. Tubuh gempalnya terhuyung dan jatuh. Tael segera datang ke sisinya dan membantunya berdiri.
Membiarkan Prajurit dan Penjaga Kota mengepung mereka di Kediaman Lord bukanlah hal yang baik. Ada beberapa jalan keluar dari Kediaman Lord, namun hanya ada satu jalan keluar yang bisa dilalui kuda—yaitu Pintu Masuk—pergi kabur tanpa kuda hanya akan membuat mereka terekspos ke jalanan dan terperangkap di kota. Kemudian eksekusi menanti mereka.
Yvonne tengah mengatur formasi naik kuda mereka. Dia menaiki kudanya dan segera membawa adiknya bersamanya, mengamankan upaya penyelamatan mereka berdua terlebih dahulu. "Hanya ada lima kuda, perkuda-nya bisa menampung dua hingga tiga orang. Naiklah sebisa mungkin," kata Yvonne.
__ADS_1
Daedalus menengok pada satu kuda dan seorang budak, dia memanggil Iblis Slimonoid dan Riel untuk naik. Awalnya Riel khawatir dan canggung, namun Iblis Slimonoid menepuk-nepuk pundak Riel dan menunjuk ke mulutnya yang tak ada, mengatakan seolah, "Ga gigit."
Kemudian sisa kuda lain dinaiki oleh Lupan, Hella—anaknya—dan seorang budak. Kemudian kuda terakhir di bawakan Daedalus kepada Yogot. "Kau naiklah." Yogot mengikuti perintahnya. Kemudian Tael ikut naik menjaga Yogot.
Kuda terakhir dinaiki oleh dirinya, seorang budak dan Toras yang telah Daedalus bantu naik—detak nadinya menipis, darahnya telah berhenti, tapi yang terpenting dia masih hidup.
"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Tael. Dia melihat budak-budak lain yang masih bertempur sana sini demi hidup mereka melawan prajurit dan juga beberapa budak yang tak kunjung bisa menumbangkan Bedivere walau sosok itu tak membawa Paluperang lagi—pertempuran mereka terlihat sebentar lagi selesai. Belum lagi budak-budak yang mereka tinggalkan. "Bagaimana dengan ayah dan ibu?"
Yvonne menghela napas. "Rencananya tak sesuai dan kita harus improvisasi, mereka yang tertinggal harus mengikuti dengan jalan kaki. Soal orang tuamu, itu sedikit sulit. Yang penting kita pertama-tama harus pergi dari kota ini."
Daedalus menyetujui Yvonne, Tael walau ragu tak protes pada keputusan. Kelima kuda telah bersiap.
Yvonne melibas kudanya. "Semuanya! Kita telah menang dan kita harus segera pergi dari sini! Menuju gerbang utara!"
Budak yang mengeroyok Bedivere menengok ke arah suara dan mundur, meninggalkan Bedivere yang masih penuh tenaga siap meladeni mereka semua. Kuda-kuda menapak maju, budak-budak yang lain mengikuti dengan jalan kaki.
"Ayo, kabur!"
"Kita menang!"
Para budak berseru senang mengikuti kuda. Mereka melesat maju, pintu masuk mereka lewati dan mereka telah sampai ke lapangan. Keselamatan dan kebebasan telah terhirup di rongga pernapasan. Tapi aroma kebebasan tersebut berubah menjadi aroma dendam dan amarah.
Di lapangan yang luas, dari arah permukiman budak, Prajurit Gallam dengan congkaknya berseru. "Mau pergi kemana? Kalian melupakan sesuatu!"
Kelima kuda berhenti, para budak yang berlari juga melakukan sama. Semua pasang mata tertuju padanya. Semua pasang mata menyipit geram.Terutama Daedalus, Tael dan Riel murka menyelimuti mereka.
Prajurit Gallam berbaris diikuti puluhan Prajurit dan Penjaga Kota bersamanya. Beberapa juga tampak kelas kesatria seperti Ser Gholam dan Ser Corvark dan masing-masing diantara mereka menyandera para budak yang tak ikut dalam penyerangan. Keluarga-keluarga para budak—para istri dan anak-anak. Keluarga Lupan dan Hella. Termasuk ibu Daedalus, Aurie.
Prajurit Gallam mulai berbicara angkuh. "Kau mengenali siapa ini, budak?" Prajurit Gallam melemparkan seonggok kepala. Kepala itu berguling dan mendarat di bawah kaki kuda Daedalus. Itu adalah kepala Daep, ayahnya. "Selanjutnya ibumu."
__ADS_1