Perang Pengendali Iblis

Perang Pengendali Iblis
Pre-Arc Keluarga Valaan


__ADS_3

Chapter 19


Tubuh Tael sakit dan terbakar oleh api Anglar yang menimpanya.


"Singkirkan dia!" seru Tael.


"Tolong Tael!" Yvonne panik.


Yogot menusuk-nusuk Anglar tapi pria itu terlalu tangguh untuk ditumbangkan dengan tusukan kecil. Yvonne mencoba mendorong Anglar namun tenaganya tak cukup kuat menyingkirkannya. Mereka berdua bingung harus bagaimana. Saat Lupan datang dan menebas kepala Anglar, barulah tubuh pria barbar itu dapat disingkirkan dari Lupan.


Tael meronta-ronta di tanah, pakaiannya terbakar. "Panas! Panas!"


"Berguling-guling di tanah!" seru Skard.


Tael mengikuti dan dia berguling-guling mencoba memadamkan api. Tak berapa lama api telah padam, tapi dadanya terasa panas dan perih. Yvonne segera memeriksanya.


"Tindakan bodoh macam apa itu!" seru Yvonne.


Tael menjawab pelan. "Tubuhku bergerak sendiri."


Daedalus keluar bersama Isolde dari dalam hutan. Dia melihat kondisi Tael dan bertanya apa yang terjadi.


"Anglar Saxo menabraknya dan membuat dirinya terbakar," jelas Skard. "Isolde! Syukur kau baik baik saja."


Gadis yang diselamatkan Daedalus, Isolde berlari memeluk pria bertopi koboi dari Garda Valaan. Tubuh gadis itu berisi dan larinya lambat.


"Aku dibantu oleh pria itu," kata Isolde. Dia melepas pelukannya.


Skard datang dan menjabat tangan Daedalus—kini Daedalus telah menghilangkan zirah slimenya. "Terimakasih telah menyelamatkan anakku," ucap Skard. Daedalus mengangguk kecil tak mempedulikan. Mereka memeriksa luka bakar yang besar di dada Tael. "Dimana tata krama kami? Isolde, bawakan salep dan obati penyelamat kita!"


Isolde mengangguk dan bergegas.


Toras, Riel dan Abel keluar dari hutan. Riel segera berlari ke sisi Tael dengan ekspresi murung khawatir. Lupan berdiri bersama Hella, tak terpisahkan.


"Ini adalah resiko tak mendengarkan perkataanku," ketus Lupan.


"Dan membiarkan orang-orang ini mati begitu saja?" tanya Yvonne. "Dimana hati nuranimu?"


"Kembali padaku saat bertindak atas hati nurani membuat kita semua baik-baik saja. Kali ini hanya Tael yang terluka, mungkin tindakan atas hati nurani berikutnya bukan hanya luka saja." Lupan menatap Daedalus geram. "Mungkin jika selanjutnya kalian mendengarkan perkataannya akan ada yang mati diantara kita."

__ADS_1


Daedalus risih, tapi dia tak menambah masalah. Dia mengacuhkan Lupan, begitu juga dengan yang lain.


Tak berapa lama Isolde berteriak dari kereta kuda. "Bawa dia kemari!" seru Isolde.


Daedalus menggendong adiknya seperti menggendong tuan putri dan pergi membawanya ke kereta kuda.


"Letakkan di dalam."


Daedalus meletakkan Tael dan Isolde mulai melakukan tugasnya. Dia membersihkan bekas luka bakar Tael dan menaruh salep di atasnya. Tael meringis tapi tak berkata apa-apa.


Kemudian Daedalus keluar dari kereta kuda dan bergabung dengan yang lainnya. Semua telah berkumpul menghadap Skard beserta dengan seorang gadis muda dengan pakaian berkemilaunya.


"Perkenalkan, aku Lagertha Valaan dari keluarga Valaan." Gadis itu, Lagertha memperkenalkan diri ramah, tapi wajahnya menampakkan ketidaksenangan.


"Aku Skard, kepala divisi Garda Valaan," tambah Skard.


"Keluarga Valaan secara pribadi berterimakasih atas bantuan kalian." Lagertha melanjutkan. "Jika tanpa kalian, mungkin saja kami semua terbunuh di perampokan ini. Untuk itu, kami berterimakasih dan akan menghadiahkan kalian sekantung koin emas."


Yogot dan Yvonne menengok satu sama lain mendengar koin emas itu. Bahkan Tael yang sedang diobati, melompat keluar dari kereta kuda.


"Sekantung koin emas?!" Tael berteriak.


Tael tak mendengarkan dan berdiri diluar memperhatikan perbincangan.


Wajar saja Tael bersikap seperti itu, sekantong koin emas. Jangankan seorang budak, bahkan sepertinya seorang prajurit seperti Gallam juga tak pernah memegang sekantung koin emas dalam hidup mereka. Itu adalah kesempatan emas untuk memulai hidup baru. Mereka bisa membeli apa saja yang mereka inginkan!


"Uang yang banyak sekali, sekantung koin emas," kata Lupan.


"Ya kan?! Ya kan?!" Mata Tael berbinar-binar keemasan.


"Tapi untuk budak seperti kami, kekayaan seperti itu tak ada gunanya." Lupan menambahkan.


Semua bingung mendengar perkataan Lupan, hanya beberapa yang mengangguk paham seperti Toras dan Skard.


"Melihat arah datangnya kereta kuda kalian, kalian pasti berasal ataupun melewati kota Libbam, yang dimana kalian pasti sudah mendengar pemberontakan budak disana." Lupan menjelaskan. Skard dan Lagertha terdiam. "Aku benar, 'kan?"


Lagertha mengambil napas pelan sebelum berbicara. "Apa yang kalian lakukan di Kota Libbam adalah apa yang kalian lakukan di Kota Libbam. Tak ada hubungannya sama sekali dengan Keluarga Valaan. Kami disini tidak untuk menangkap atau mengadukan kalian kepada pihak berwajib."


"Senang mendengarnya. Tapi orang-orang dari kota lain mungkin takkan berpikiran serupa. Kami adalah budak pelarian dan saat kami menginjakkan kaki ke kota baru, keberadaan kami akan langsung diketahui para warga dan prajurit kota. Dan sekantung koin emas itu tak akan berguna."

__ADS_1


"Apa yang kau coba katakan, Lupan?" tanya Daedalus.


"Kami menolak sekantung emas sebagai tanda terimakasih kalian. Melainkan kami meminta untuk bergabung ke Garda Valaan, bekerja dibawah keluarga Valaan dengan identitas dan masa lalu kami sebagai budak dirahasiakan dan kami dapat memulai hidup baru."


Semua tak percaya saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Lupan. Terkhususnya Toras yang telah mengajak untuk membalas dendam ke Lord Puqress, yang sekarang keinginannya semakin jauh untuk digapai.


"Kau bahkan tak membantu sama sekali." Lagertha menjawab, raut wajahnya tak senang. "Jadi jangan lancang, budak."


"Hei, apa-apaan!" keluh Tael tak senang direndahkan.


Lupan memainkan pedangnya mantap. "Kuyakinkan dirimu, nona Lagertha, bahwa aku petarung paling mahir di kawanan ini." Lupan menengok Skard. "Termasuk lebih dari pengawal pribadimu."


"Ha! Coba saja!" Skard terpancing dan mengeluarkan pedang.


"Hentikan, ayah!" Isolde berseru. "Kita baru lepas dari maut dan sekarang ingin bermain dengan maut lagi? Lihat sekeliling kalian! Semuanya sudah mati."


Skard menengok sekitar. Rekan-rekan Garda Valaan yang telah dia latih, pelayan-pelayan tua yang menjadi teman berbicaranya maupun pelayan muda yang selalu menyuguhkan dia teh di pagi hari telah terbujur dingin di tanah. Mati. Dia menurunkan pedang.


"Kami lebih dari mampu untuk menjadi bagian dari Garda Valaan," kata Lupan melanjutkan.


Lagertha menarik napas dan dia mengajak Skard berdiskusi menjauh dari kawanan.


"Aku tak menyukai orang itu, nona Lagertha, dia arogan dan wajahnya bengis," kata Skard. "tapi dalam sepengalamanku seluruh perkataannya tentang dia petarung paling mahir entah kenapa bukan sekadar kepercayaan diri saja. Dan satu hal pasti yang kutahu, orang bengis seperti dia adalah rekan terbaik di medan perang."


"Tapi apa kita butuh mereka?"


"Jika bergegas, seminggu lagi kita akan sampai ke kota Goldgate, dan hanya tuhan yang tahu apa yang akan terjadi dalam seminggu perjalanan itu," kata Skard. "jika terjadi perampokan lagi seperti saat ini, aku seorang takkan bisa melindungi nona Lagertha."


Lagertha tak senang. Dia menatap Skard dalam-dalam, menanti apakah ada pilihan alternatif yang lain. Namun Skard menjawab dengan mengangkat bahu.


Lagertha dan Skard menghadap kawanan kembali. Dia mengangkat napas begitu dalam sampai terdengar oleh yang lain saat dia menghembuskannya.


"Baiklah, kalian akan kubawa bersamaku ke kota Goldgate tapi untuk bergabung dengan Garda Valaan, kalian harus bertanya pada ayahku." Lagertha menjelaskan dengan tegas. Lupan hendak protes, tapi Lagertha melanjutkan. "Jangan khawatir, keluarga Valaan sangat membenci perbudakan. Kalian bisa menganggap Valaan adalah sahabat dari semua budak, bahwa budak dan yang lain adalah manusia sederajat." Lalu Lagertha berbisik pelan. "Tapi aku tidak."


Yang lain mengangguk mantap. Semua tersenyum senang. Mereka akhirnya punya tujuan yang jelas. Menjadi bagian dari Garda Valaan dan memulai kehidupan baru. Daedalus juga dapat menuruti perkataan terakkhir ibunya; pergilah dan memulai kehidupan baru.


Tael mendengar bisikan pelan Lagertha dan mulai bertanya. "Apa maksudmu tidak? Kau menganggap kami rendah?"


Lagertha menjawab mantap. "Ketahui tempatmu, budak dan orang seperti diriku tidak sekasta."

__ADS_1


__ADS_2