Perang Pengendali Iblis

Perang Pengendali Iblis
Pre-Arc Permata Delima


__ADS_3

Chapter 20


Sebelum kereta kuda berangkat, Skard menyuruh yang lainnya untuk menguburkan mayat-mayat. Awalnya Skard mengatakan hanya menguburkan mayat para pelayan saja dan membiarkan mayat suku barbar membusuk dan dimakan hewan liar. Tapi Daedalus menolak dan menguburkan suku barbar tersebut sendirian. Toras menatap semua jasad yang dikuburkan seksama.


Mereka menghabiskan waktu sampai siang hari untuk menguburkan sebelum melanjutkan perjalanan. Sebelum mereka berangkat, Skard memberikan mereka semua topi ala koboi miliknya.


"Untuk penyamaran," kata Skard. "jika kalian tidak ingin dikira sebagai budak, sebaiknya pakai saja."


Semuanya menuruti dan mereka naik ke kereta kuda. Kereta kuda yang panjang dengan tenda putih berkilau ditarik oleh dua ekor kuda. Yvonne menawarkan diri untuk menjadi kusir namun Tael menawarkan untuk menemani. Awalnya Yvonne menolak mengatakan bisa sendiri, namun menyerah karena keras kepala Tael.


"Jadi bisa kita bicarakan tindakan bunuh dirimu tadi, Tael?" tanya Yvonne memecah hening.


"Ya ...." Tael menggaruk kepala, bingung merespon. Ditambah lagi Yvonne menatap Tael dalam-dalam.


Yvonne menghela napas. "Tapi terimakasih, Tael. Mungkin jika posisiku yang ditabrak dari belakang, orang barbar itu pasti mematahkan punggung belakangku. Kau penyelamat."


Tael terkekeh, wajahnya memerah. "Hehe, bukan apa-apa!"


"Tapi aku salut dengan Daedalus, dia begitu spontan bergerak turun membantu melawan orang barbar, berani sekali," lanjut Yvonne. Matanya berbinar membicarakan Daedalus. Tael yang tadinya terkekeh, sekarang diam. "dia begitu hebat, mengejar-ngejar orang barbar itu ke dalam hutan dan menebas mereka satu persatu. Kau lihat, 'kan abangmu seperti memotong rumput membunuh semua orang barbar itu?!"


"Kau menyukainya?" tanya Tael frontal. Entah kenapa hatinya sakit.


Yvonne terkejut, dia tertawa canggung sebelum menjawab. "Jika kau tanya wanita dari ujung utara Hervarar hingga ke selatan perbatasan Libion, wanita mana yang tidak mengagumi sosok abangmu, Tael!"


Tael bergerak masuk ke dalam kereta kuda, Yvonne bertanya dia mau kemana. "Dadaku sakit," kata Tael dingin. "lukaku, mungkin."


Tael bergabung bersama yang lain dan kereta kuda melanjutkan perjalanan dengan hanya seorang kusir kuda saja.

__ADS_1


Kereta kuda berjalan menyusuri hutan dengan pepohonan yang tinggi. Di dalam kereta ada Lagertha yang duduknya anggun dan tangguh--tak ada satupun dari kawanan Daedalus berani menyapanya--berbeda dengan Yogot yang duduknya berantakan maupun Toras dan anak-anak yang bermain di lantai kereta kuda.


Daedalus tersenyum melihatnya, dia tak menyangka Toras begitu akrab dengan anak-anak. Dia menengok Tael yang masuk ke dalam kereta kuda yang disambut hangat oleh Skard. Isolde juga menanyai tentang lukanya.


Yang paling menarik perhatian Daedalus adalah Lupan. Dia tak setuju dengan tindakan Lupan yang dingin untuk tak membantu kereta kuda, tapi dia juga tak bisa memungkiri bahwa Lupan adalah sosok berkharisma yang bisa membuat mereka berada di kereta kuda ini dan mengarah ke kota Goldgate, untuk menjadi bagian dari Garda Valaan. Jika negosiasi itu diserahkan pada Daedalus, dia mungkin hanya menerima sekantong emas dan hanya menumpang kereta kuda ke persinggahan terdekat. Dia harus belajar banyak darinya.


Toras berubah menjadi sosok monster menyeramkan, dia mengunyah—menggelitik—perut Riel dan dua anak yang lain tertawa ketakutan. Tael menghampirinya.


"Bagaimana menjadi Peminjam?" tanya Tael.


"Peminjam?" Toras kebingungan.


Tael menunjuk Daedalus. "Aku ingin mempunyai Permata Delima dan bisa menggunakan kekuatan yang sama seperti Daedalus."


Daedalus terkejut Tael tak memanggilnya abang.


"Maka berikan aku iblis yang kau punya!" Tael berseru kencang. Seisi kereta kuda terkejut mendengarnya. Tael mengatur napasnya. "Coba saja berikan padaku!"


Toras menghela napas dan memberikan Tael sebuah Permata Delima. "Itu adalah Permata Delima dengan iblis api, coba kau pinjam kekuatannya jika bisa."


Tael menerimanya. Permata Delima itu berwarna Hijau Kemerahan pada batunya. Dia menggenggam Permata Delima dan memejamkan mata. Dia mencoba mencari sebuah perasaan, koneksi atau arah. Dia merasakan sesuatu, tapi sesuatu itu begitu halus, lembut dan jauh.


Dia mencoba berbicara padanya, berteriak sekeras mungkin, namun entah suaranya yang tidak sampai atau sosok itu tak mempedulikannya, tak ada yang berubah.


"Pinjamkan aku kekuatanmu, sialan!" Tael berseru keras.


Daedalus menepuk pundaknya, khawatir akan apa yang terjadi pada adiknya. "Lupakan, Tael."

__ADS_1


"Ya, lupakan," ketus Lupan. "tidak mungkin orang sepertimu didengarkan oleh para iblis. Bahkan abangmu saja hanya menggunakan Iblis paling rendah, Slime, makanya didengarkan."


"Tak perlu berbicara kasar," kata Skard. Dia masuk ke dalam topik pembicaraan. "tapi yang dikatakannya benar, Tael. Menjadi Peminjam Iblis juga memiliki tingkatannya."


Skard mengeluarkan sebuah Permata Delima. Warnanya sama seperti milik Skard. Merah darah dengan bintik hijau di tenganya. "Aku sudah puluhan tahun menjadi Peminjam Iblis, semenjak aku masih aktif berkelana mengelilingi Hervarar. Tapi lihat, iblis yang kupinjam kekuatannya hanya berada pada tingkat Hijau, tingkat menengah."


Daedalus mengeluarkan Permata Delimanya. Itu berwarna merah keseluruhannya. "Bagaimana melihat tingkatan levelnya?"


Skard menengok Toras. "Sepertinya tuan ini mengetahui lebih banyak daripadaku."


Toras mengangguk dan mulai menjelaskan.


"Di dunia ini, Iblis terbagi menjadi tiga elemen. Murni, Gelap dan Elemen Alam." Toras menunjuk Permata Delima Daedalus. "Bagi Iblis yang ada di Permata Delimamu, dia belum memiliki elemen, belum berevolusi. Makanya warnanya hanya merah, menandakan dia berada di tingkatan terendah."


"Dan bicara warna, setiap iblis yang dikontrak pada Permata Delima akan mengubah warna Permata Delima itu tergantung dengan elemen dan tingkatan iblisnya. Ada empat tingkatan perubahan warna Permata Delima. Merah, Hijau, Emas dan Ungu. Pemilik Permata Delima Merah dan Hijau bisa kau temui diantara para Kesatria Hervarar namun untuk Permata Delima Emas, bahkan diantara Kesatria terhebat Hervarar-pun hanya segelintir yang pernah melihatnya langsung. Lalu ada satu tingkatan lagi, Permata Delima Ungu. Namun kabarnya hanya dimiliki oleh orang-orang dari Perserikatan Iblis."


"Perserikatan Iblis?" tanya Daedalus.


"Orang-orang yang mempelajari Permata Delima dan tempat berkumpulnya para Pengendali Iblis." Toras menjelaskan singkat. "Tapi kembali melanjutkan soal tingkatan Permata Delima dan warnanya, Permata Delima juga berubah tergantung elemen."


Isolde menyodorkan minum pada Toras. "Minum, pak."


Toras meminumnya. "Terimakasih." "Ada tiga elemen yang saling menjadi counter satu sama lain, Elemen Murni akan merubah warna Permata Delima menjadi putih mengkilap dan elemen Gelap akan merubah Permata Delima menjadi hitam pekat, lalu ada Elemen Alam. Api, Beku, Air dan Angin yang akan merubah warna Permata Delima menyesuaikan warna Elemen Alam."


"Dan semua Peminjam Iblis harus belajar meminjam dari level terendah terlebih dahulu. Bahkan orang-orang Perserikatan Iblis juga melakukan hal yang sama." Skard mengeluarkan Permata Delima yang lain. Kali ini warnanya Merah Darah, menandakan iblis tingkat terendah dengan elemen api. "Jika kau ingin menjadi Peminjam, maka Permata Delima milik Anglar Saxo ini cocok untukmu."


Mata Tael berbinar melihatnya, tapi Lupan memotong pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Kata siapa keputusan memberikan Permata Delima harus untuknya?" ketus Lupan. "Ditangannya itu takkan berguna. Berikan Permatanya padaku."


__ADS_2