Perang Pengendali Iblis

Perang Pengendali Iblis
Arc 1 Menyelamatkan Riel


__ADS_3

Chapter 13


Matahari pagi masih menyengat lembut di kulit. Puluhan Prajurit dan Penjaga Kota berbaris sebaris menatap pelarian. Para budak-budak dengan kepala plontos serta kelima kuda berhenti menengok ke arah para prajurit.


Nadi Daedalus tak kunjung berhenti mengeluarkan darah, dia mulai merasakan efek samping dari pemanggilan iblisnya. Pusing dan kekurangan darah serta lemas mulai terasa. Dia harus berhenti memanggil Iblis Slimonoid agar darahnya berhenti keluar—seperti darah Toras yang berhenti keluar saat dia jatuh pingsan. Namun, berhenti memanggil Iblis Slimonoid dalam kondisi mereka seperti ini adalah pilihan yang tak mungkin dapat dia ambil.


Kepala Daep berhenti di hadapan kuda mereka. Tael terperanjat, dia turun dari kuda dan mengerang. "Ayah!" teriaknya.


"Kita harus pergi, Tael," kata Yvonne. Dia mulai menggerakkan kudanya. "tak bijak melawan mereka semua, kita bisa mati."


Lupan menolak. "Dan bagaimana dengan istri dan anakku?" katanya. Dia menatap puluhan Prajurit dan Penjaga Kota yang menyandera masing-masing dari anggota keluarga para budak. "Kita meninggalkan mereka begitu saja?"


"Kita tak bisa tinggalkan Ibu, bang!" teriak Tael peduli. Aurie gelisah di genggaman tangan Prajurit Gallam. "Kita harus melawan!"


Melawan puluhan Prajurit yang segar bugar dengan mereka para budak yang banyak terluka juga persenjataan yang kurang bukanlah jalan yang terbaik. Tapi Daedalus mengerti, mereka juga tak dapat membalikkan punggung dan meninggalkan yang lain.


"Kalian tidak usah repot-repot diskusi disana," beritahu Prajurit Gallam mengeraskan suara. "yang perlu kalian tahu jika kalian kabur, maka kami akan mengeksekusi satu persatu budak yang kalian tinggalkan."


"Tidak, ayah!" Seorang anak laki-laki dari para budak berteriak di kumpulan sandera. "Aku takut!"


Prajurit Gallam menengok si anak, Ser Gholam membawakan anak itu ke depan. "Lihatlah budak menyedihkan ini," kata Prajurit Gallam. Dia menyapu wajah anak itu dengan darah segar dari kepala Daep. Si anak menangis. "katakan, ayahmu yang mana?"


Lupan melompat dari kuda, tangannya meremas keras pedang. "Singkirkan tangan kotormu dari dia!"


"Oh, itu ayahmu?" tanya Prajurit Gallam pada anak itu. Dia mengangguk. Prajurit Gallam berbicara pada Ser Gholam dan Ser Corvark. "Ser, ayo bariskan keluarga dari budak itu dan buat mereka berlutut."


Ser Gholam dan Ser Corvark menuruti. Mereka menyusuri kerumunan sandera dan mencari tahu keluarga dari Lupan. Setelah mereka mendapatkannya, kedua Kesatria memaksa satu keluarga tersebut berlutut di hadapan. Pedang kedua Kesatria dekat ke kepala keluarga Lupan, seolah hendak mengeksekusi.


"Jangan coba-coba!" seru Lupan. Dia maju dengan langkah penuh marah.


"Berhenti di tempat!" seru Prajurit Gallam. Dia menendang istri Lupan. "Bukan hanya kabur, jika kalian melawan, maka semua sandera akan dieksekusi. Dimulai dari budak wanita ini."

__ADS_1


Lupan terdiam di tempat melihat Prajurit Gallam mempermainkan emosinya. Dia merasa terperangkap pada situasi yang tak ada jalan keluarnya. Kabur adalah jalan terbaik daripada melawan walau keluarganya dieksekusi semua. Namun jika melawan-pun dan berharap menang, dia tak yakin dengan jumlah mereka. Itu jika tidak dihitung harus berhadapan dengan ahli pedang serta Kesatria Peminjam Iblis kerajaan, Ser Gholam—sosok yang dulu dia kenal sebelum dirinya menjadi budak.


Yvonne berseru dari atas kuda. "Ayo kabur, pak Lupan. Kita tak punya kesempatan untuk menang."


Prajurit Gallam kembali berteriak. "Kalian para budak yang memberontak, turunkan senjata kalian dan segera menyerah!" Dia mengeluarkan pedangnya. "atau kami akan mulai mengeksekusi!"


Budak-budak yang memberontak saling menatap satu sama lain menukar kekhawatiran mereka, namun pada akhirnya mereka membuang senjata dan menyerahkan diri. Para budak yang menunggang kuda juga melakukan sama.


"Jangan lakukan itu, kalian akan dibunuh," kata Yvonne khawatir.


Seorang budak menjawab. "Adikmu, segalanya bagi hidupmu sudah aman di tanganmu, Yvonne. Tapi keluarga kami ada disana. Jika nyawa kami yang harus kami tukarkan demi nyawa mereka, kami akan melakukannya. Kau juga pasti sama, Yvonne."


Yvonne terdiam dan membiarkan mereka pergi.


Daedalus merasakan Tael menanti keputusannya. Setelah semua perjuangan yang dia lakukan apakah dia harus menyerah begitu saja? Dan dia juga khawatir jika dia menyerahkan diri demi menyelamatkan ibunya, Tael dan Riel akan dieksekusi bersamaan dengan dirinya, itu berarti meninggalkan ibunya seorang diri di dunia ini. Itu juga bukan pilihan.


Daedalus memutuskan sesuatu. "Prajurit dan Kesatria!" teriak Daedalus. Prajurit dan kedua Kesatria mendengarkan. "Aku akan menyerahkan diri tapi aku butuh kalian berjanji untuk mengampuni nyawa kedua adikku, mereka tidak bersalah!"


Tael memberinya tatapan terkejut, tapi dia memilih diam karena dirinya tak bisa berbuat apa-apa.


Prajurit Gallam segera menjawab. "Aku berjanji akan mengampuni nyawa kedua adikmu!" "Sekarang, menyerahlah."


Daedalus turun dari kuda dan menepuk kedua pundak adiknya. "Kita tidak pantas meninggalkan ibu kita demi keselamatan pribadi kita. Apapun yang terjadi, kita harus rela berkorban demi keluarga."


Tael dan Riel mengangguk.


Daedalus mengalihkan tatapan pada Yvonne dan Yogot yang menunggang kuda. "Kalian berdua bawa Toras dan pergilah. Jangan melihat ke belakang lagi."


Yvonne mengangguk sedih. "Ini tidak benar ...."


Yogot berkata lemas. "Aku akan menjaga Toras."

__ADS_1


Kemudian Yvonne membantu turun Hella, anak perempuan dari Lupan agar bergabung ke ayahnya. Namun, Iblis Slimonoid Daedalus tetap di kuda bersama mereka.


"Dia akan melindungi kalian sampai kalian keluar dari kota," kata Daedalus. Iblis Slimonoid mengangguk patuh sambil menggendong Paluperang.


Kemudian Yvonne, Abel, Yogot, Toras dan Iblis Slimonoid menunggang pergi dari sana—membawa tiga kuda.


Para Budak yang menyerah termasuk Daedalus dan Lupan—yang bergabung—menyerahkan diri. Mereka berbaris menghadap Prajurit Gallam. Mereka telah selesai. Mereka kalah. Dia berlutut, tubuhnya tak lagi diselimuti kekuatan Iblis Slime karena dia sudah menyerah. Sebentar lagi kepala Daedalus akan terguling ke lantai jalan. Tapi ini adalah jalan yang dia pilih demi menyelamatkan ibunya.


Prajurit Gallam melepas pegangannya dari Aurie dan berjalan ke arah Daedalus. Dia bermain dengan pedangnya. "Aku menunggu saat-saat aku membalas dendam ini, budak!"


Daedalus siap menerima ganjarannya. Namun teriakan ibunya menyadarkan dirinya.


"Dia tak akan memegang janjinya!" Aurie berteriak. Prajurit Gallam memandangnya marah. "Larilah kalian semua, pergilah dari sini dan selamatkan diri. Prajurit itu orang yang mengingkari janji. Pak Daep juga dijanjikan sama saat dia melepaskan prajurit itu tapi lihat, Pak Daep hanya tinggal kepala!"


Para budak yang menyerah berbisik-bisik ricuh, beberapa mulai berpikir untuk melawan.


"Wanita berisik!" Prajurit Gallam geram. Dia mencengkram Aurie. "Kau bisa diam?"


Aurie dalam posisi tercengkram menendang ******** Prajurit Gallam. Pria itu terhentak sakit dan itu memberikan Aurie waktu.


"Daedalus, bawa Tael dan Riel pergi! Lindungi mereka! Dan jangan pernah kembali ke kota ini! Hiduplah di kehidupan baru!"


Perkataan Aurie membuka pandangan baru kepada Daedalus, seolah dia baru diberi pencerahan.


Prajurit Gallam dalam keadaan terperanjat sakit menebas Aurie. Ibu dari Daedalus tertebas dan tumbang. Dalam momen terakhirnya Aurie memberikan tatapan penuh makna pada Daedalus, seolah menyuruhnya kabur dan pergi. Tapi dia tak akan pergi!


Daedalus berhenti memanggil Iblis Slimonoidnya, darah pada nadi di tangannya berhenti. Kemudian dia menggigit kembali nadi-nya dan darah membasahi Permata Delima. Dia membaca mantera yang sama.


"Kupersembahkan nadi dan darahku, kuminta kau bertarung disisiku! Penuhi sumpahmu kepadaku, datanglah, Iblis Slimonoid!"


Iblis Slimonoid muncul perkasa.

__ADS_1


__ADS_2