
Chapter 16
Lantai putih yang megah dikotori oleh lumpur dan darah. Gerbang besar yang kokoh sedikit goyang dan sedang diperbaiki oleh tukang. Puluhan mayat dari prajurit dan budak diangkut pergi keluar oleh prajurit dan relawan. Lusinan orang penting Kota Libbam berkumpul di Kediaman Lord Puqress.
Mereka membantu membersihkan tempat itu dan meningkatkan pengamanan jikalau terjadi penyerangan ulang oleh budak-budak yang kabur.
"Apa yang terjadi di tempat ini?"
Dari luar Kediaman Lord, seorang gadis muda menengok penasaran. Prajurit Kota menahan mereka masuk, namun sedikit sopan melihat bahwa gadis ini dijaga ketat oleh empat petarung elit dari Garda Valaan, kelompok merkenari binaan keluarga Valaan.
Gadis muda tersebut adalah Lagertha Valaan, anak perempuan termuda dari keluarga saudagar Valaan. Rambutnya merah gelap dengan wajah putih dihiasi bintik-bintik merah dari mata kiri ke mata kanan.
"Skard, tempat siapa ini?" tanya Lagertha.
Seorang pria tua dengan topi ala koboi, memasuki umur limapuluhnya menjawab. "Ini adalah Kediaman dari Lord Ronald Puqress, nona," jawabnya. Dia memakai pakaian hitam keunguan ciri khas pakaian Garda Valaan dan berdiri paling dekat dengan Lagertha, menandakan posisinya yang memimpin penjagaan dari nona mudanya.
"Apa yang terjadi disini, prajurit?" tanya Lagertha pada prajurit yang menjaga.
Prajurit itu diam sekejap sebelum menjawab. "Kami tak berkewajiban menjawab itu, Lady Valaan," jawab prajurit itu sopan.
"Lady?" Lagertha tergelak mendengarnya. Mereka bukan keluarga bangsawan. "Kami keluarga saudagar, prajurit-prajurit, tapi tambahan 'Lady' pada nama pertamaku terdengar bagus. Aku tak sabar saat dimana keluarga Valaan diangkat menjadi salah satu bangsawan Hervarar."
"Itu akan terjadi dimasamu, nona Lagertha, kau yang akan mewujudkannya." Seorang pelayan perempuan menjawab. Itu Isolde, anak perempuan dari Skard yang berteman akrab dengan Lagertha.
"Tentu saja!" jawab Lagertha mantap. Dia lupa tujuannya kemari dan kembali bertanya pada prajurit. "Dengar prajurit, keluarga Valaan mungkin belum menjadi keluarga bangsawan, tapi pengaruh dan kekayaan kami dapat dibandingkan dengan bahkan mereka yang berasal dari keluarga besar! Bukankah bijak jika kalian menyenangkanku dan memberi tahu apa yang terjadi?"
"Apalagi jika kalian memberi tur pada nona ini ke dalam Kediaman Lord, nona berhati mulia ini takkan melupakan jasa kalian." Skard berinisiatif menambahkan. Dia dan Lagertha saling tatap dan saling melempar senyum singkat.
Prajurit itu berpikir namun salah satu dari mereka mengangguk kencang. "Baiklah, nona Valaan, kuharap kalian mengingat namaku. Namaku adalah, ****."
Lagertha mengangguk cepat. "Ya, ya, aku mengingatnya," katanya sembarangan. "silahkan mulai tur-nya tuan-tuan."
Prajurit itu mempersilahkan nona Lagertha masuk. Skard menyuruh keempat Garda Valaan untuk berjaga diluar bersama beberapa pelayan yang lain, sedangkan dia dan Isolde mengikuti masuk.
Lagertha melangkah kaki dan merasakan aura bau dan kotor dari Kediaman Lord Puqress. Darah dimana-mana, potongan tubuh serta mayat masih tampak.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa terjadi penyerangan dari keluarga bangsawan lain?" tanya Lagertha.
__ADS_1
"Bukan, nona." Prajurit itu menjawab. "Pagi tadi baru saja terjadi pemberontakan budak yang dipimpin oleh orang-orang Pengendali Iblis. Diduga, mereka berasal dari Perserikatan Iblis dan mencoba menargetkan nyawa Lord kita, Lord Puqress tercinta."
"Apa Lord baik-baik saja?" tanya Skard.
"Lord Puqress terluka, tulang rusuknya dikabarkan remuk namun dia akan bertahan. Namun, bagi prajurit dan pengawal Lord Puqress, keadaannya tak begitu baik."
Lagertha melangkah lebih dalam, menuju ke tempat dimana ada singgasana dan ranjang. Dia hendak bertanya kenapa ada ranjang disana, namun perhatiannya segera teralihkan kepada sosok Kesatria yang membeku. Isolde disebelahnya bergidik ngeri.
"Ser Touf si Air Bah," ujar Skard.
"Iya, Anda benar, tuan. Ser Touf adalah pengawal pribadi dari Lord Puqress dan melihat kondisinya, para Kesatria dan penyidik yang datang memeriksa menyatakan dia tak terselamatkan."
"Bagaimana dengan saudara kembarnya, siapa namanya, Kouf, Youf?"
"Ser Rouf si Tembok Beku." Prajurit itu meluruskan. "Ser Rouf tidak dinyatakan meninggal, namun dirinya juga tak kalah parahnya dari prajurit yang lain terluka. Rusuk Ser Rouf hancur dan organ dalamnya mengalami pendarahan internal, dia mungkin mati atau mungkin selamat. Tapi yang pasti, setelah pulih, Ser Rouf tak akan setangguh seperti biasanya."
"Sayang sekali." Skard menggeleng sedih. "Monster macam apa yang dapat mengalahkan si Tembok Beku sebegitunya?"
"Aku bisa membawa nona Valaan melihat kondisi Ser Rouf jika nona mengkehendakinya."
"Aku mengkehendakinya," jawab Lagertha Valaan mantap.
Di dalam mereka melihat lusinan prajurit yang terluka parah. Mulai dari kehilangan jari, tangan, hingga kehilangan kaki dan anggota tubuh. Namun perhatian mereka terfokus pada sosok tinggi dan perkasa yang tengah diobati oleh tabib kerajaan.
"Disana Ser Rouf," kata Prajurit menunjuk. Namun dia kemudian menunjuk sosok disebelah Ser Rouf. Sosok itu lebih mirip seekor gurita daripada manusia dengan sendi-sendinya yang mengarah ke segala arah. "Dan prajurit disebalahnya adalah korban dari monster yang sama yang berhasil mengalahkan Ser Rouf. Iblis Manusia Slime Merah"
Lagertha memperhatikan prajurit tersebut. Seluruh tangannya—dari bahu hingga pergelangan tangan—patah beberapa bagian. Begitu juga dengan kakinya yang bahkan Lagertha kesulitan untuk membedakan mana letak lututnya dan mana tulang-tulangnya yang patah.
"Dia akan cacat," kata Lagertha. Seorang prajurit yang mulia dibuat seperti ini. Dia tak bisa menerimanya. "dan budak membuat mereka seperti ini!"
Isolde mencengkram tangan Lagertha pelan. Dia menggeleng.
"Dia pasti akan cacat, tak diragukan lagi." Skard menyetujui. "Tapi menyalahkan budak dari penyerangan ini hal yang salah, nona Valaan. Nona Valaan juga sudah mendengar Perserikatan Iblis terlibat."
"Itu tak menghilangkan andil para budak di penyerangan ini, Skard." Lagertha menegaskan. "Dan saat dimana aku memimpin keluarga Valaan dibawah kakiku, aku tak akan mengikuti minat keluargaku membuang sistem perbudakan."
Skard hanya diam, begitu juga dengan Isolde. Mereka berdua tidak tahu alasan mengapa nona Lagertha mereka begitu membenci budak.
__ADS_1
"Ayo kita pergi!" Lagertha memerintah, kedua pengikutnya menyanggupi dan mereka keluar tenda.
***
Disisi lain, di kamar pribadi Lord Puqress.
Lord Puqress tengah diobati oleh tabib khusus miliknya. Tabib itu mengolesi salep herbal dan membuatnya berbaring di ranjang.
"Lord butuh waktu yang lama untuk sembuh, tapi dengan pengobatan ini, Lord akan sehat secepat mungkin."
"Ya, terserah!" seru Lord Puqress. "Sekarang pergilah, tabib! Enyahlah."
Tabib mengundurkan diri. Lord Puqress menatap keluar jendela dimana ada langit biru dan burung beterbangan, namun itu semua tak nampak oleh matanya. Yang terlihat pada dirinya adalah seorang budak yang memanggil Iblis dan membuat Iblis itu menyerangnya. Dia membayangkan hari dimana dia berhasil menangkap budak itu dan meremukkan tiap-tiap tulangnya.
Tak berapa lama, seorang pria masuk.
"Gallahad hadir, Lord." Pria itu berlutut.
"Kemana saja kau, dasar bodoh! Apa kau mau aku berhenti mendukung Perserikatan Iblis dan membongkar identitas kalian di kota ini?!"
Lord Puqress mencoba melempar gelas minumnya, tapi saat dia mencoba bergerak sedikit tubuhnya langsung diselimuti sakit.
"Maafkan aku, Lord," jawab Gallahad tenang. "aku akan menebus kesalahanku."
"Jika kau memotong kepalamu sekarang juga, kau bisa menebus kesalahanmu!"
Gallahad menggeleng. "Bagaimana dengan kepala Pengendali Iblis yang menyerangmu, Lord?"
Lord Puqress tertarik. "Bawakan dia hidup-hidup agar aku penggal sendiri kepalanya, baru kau bisa menebus kesalahanmu!"
"Baik, diterima," jawab Gallahad percaya diri.
Lord Puqress ragu. "Bagaimana kau menangkap dia? Aku mendengar mereka sudah jauh pergi ke selatan, kau jangan mempermainkan harapanku, Gallahad atau seluruh operasi kalian akan kubongkar habis!"
"Sejujurnya jika seluruh prajurit Kota Libbam dikerahkan ke Selatan dimana mereka kabur, maka mereka akan berhasil menangkap orang yang kau inginkan, Lord Puqress." Gallahad menjelaskan. "Mengikuti jejak seorang budak yang kabur bagiku semudah membalikkan telapak tangan. Dalam seminggu aku akan membawakan budak itu kehadapanmu, Lord."
"Harus!" kata Lord Puqress mantap. "Masa masa terakhir hidupnya akan kubuat seperti neraka!"
__ADS_1
"Seperti yang kau minta."