
Chapter 6
Empat prajurit yang berjaga di Menara Tua, sisa satu yang masih menghembuskan napasnya. Tiga yang telah tewas dibuang satu persatu ke bawah menara, menukik tajam ke pesisir tebing menghadap laut luas.
Daedalus sudah membulatkan tekadnya, apapun yang dikatakan yang lain tak membuatnya berubah pikiran. Sekarang tinggal cara bagaimana Gallam disekap agar dapat dibawa dengan diam. Yogot mengusulkan untuk membuat Gallam pingsan, dan mereka menyetujuinya.
Yogot mengangkat tangan besarnya tinggi-tinggi. Gallam menggeleng panik. “Oh, sial—” Satu kali pukulan ke pundak, Gallam pingsan dan Yogot menggendongnya di pundak gempalnya.
Segera mereka pergi dari Menara Tua sebelumprajurit lain datang untuk ganti jaga. Yogot dengan tubuh gempalnya menggendong Gallam seorang diri. Disisi lain Toras tampak lebih lesu dari awal Daedalus bertemu dengannya.
“Kondisinya buruk sekali,” ujar Tael.
Toras menggeleng. “Lupakan aku. Kita harus mempercepat langkah agar sampai ke Istal dan mengikat Gallam.”
Mereka semua setuju dan mempercepat langkah. Tak lama kemudian, saat hari menjelang senja mereka sampai ke Istal. Yvonne memastikan tak ada budak atau prajurit disekitar sebelum dia memberi kode kepada yang lainnya untuk semuanya masuk.
Daedalus membawa Yogot ke ujung paling dalam di Istal. Ada terdapat satu bukaan kecil, tempat penyimpanan rumput kering serta pupuk dari kotoran kuda. “Disini sepertinya bisa, tak ada prajurit yang pernah mau mendekati ini.”
Yogot meletakkan Gallam ke sudut. “Kita butuh mengikat dan menutup mulutnya agar dia tak berteriak minta tolong saat sadar.”
“Aku akan mengambil tali,” beritahu Lupan sebelum dia pergi mengambil apa yang mereka butuhkan. Pekerjaan Lupan yang sering menjadi budak pengiriman kargo dan bahan pangan membuatnya dapat mengakses pengikat, tali dan sejenisnya.
Toras tersandar duduk. “Kau yakin ini aman, Daedalus?”
Daedalus mengangguk. “Hanya budak yang sudi pergi sejauh ini ke dalam Istal. Kau bisa mencium baunya seperti apa.”
__ADS_1
“Budak ...,” gumam Toras. “ibu dan ayahmu?”
Benar sekali. Pikiran itu tak lewat di kepala Daedalus saat dia memutuskan menyekap Gallam di Istal. Sebelum sempat dia menjawab pertanyaan Toras, Lupan hadir. Dibelakangnya mengikuti Daep dan Aurie, kedua orang tua Daedalus.
“Hei, hei!” seru Lupan mencoba menghentikan.
Daep dan Aurie menerobos masuk jauh ke dalam Istal dan menghadap Daedalus. Dia menengok Gallam yang terbaring di sudut dan menggeleng. “Demi Tuhan, Daedalus, kau benar-benar melakukannya.” Mereka berdua melihat Tael bersama Daedalus dan mendesah kecewa. “Kau bahkan menghasut adikmu untuk membantu?!”
“Aku sukarela menolong, Ayah!” jawab Tael. “Abang Daedalus benar disini, kita tak bisa biarkan Lord menaruh tangannya pada Riel.”
“Tunggu sampai Lord tahu kalau kita menaruh tangan pada salah satu orangnya dan dia akan membuat semua kepala kita berguling di tanah,” kata Daep. Dia berpikir sekejap sebelum melanjutkan. “Mungkin saja kita bisa lepaskan dia dan kita meminta maaf pada Lord? Dia mungkin akan memberikan kita hukuman tapi kita pasti akan hidup!”
“Itu tidak mungkin.” Toras membalas. Seluruh perhatian tertaruh pada pria beruban yang tersandar lemas itu. “Walau aku tidak setuju dengan pilihan Daedalus menyekap Prajurit ini disini, tapi melepaskannya juga adalah pilihan yang mustahil. Kami telah membunuh tiga dari mereka.”
Aurie menjerit terkejut. “Tidak ....” Daep memeluknya dan menenangkannya.
“Sekarang yang paling penting adalah bagaimana cara kita menyelamatkan mereka yang disekap.” Yvonne memulai topik penting mereka. “Kita sudah mengetahui mereka disekap di bawah tanah Lord Puqress, tapi bukan berarti kita bisa langsung pergi kesana dan menyelamatkan mereka. Kita bicara lusinan prajurit yang menanti dan jika ketahuan sebelum bisa kabur dari penjara itu, seluruh penjaga kota terdekat akan datang dan kita selesai.”
Daedalus setuju. Mengetahui lokasi Riel disekap adalah satu hal, sedangkan cara menyelamatkan Riel adalah hal lain. Dia memiliki ide untuk menolong Riel sewaktu besok perayaan ulang tahun Lord dimana seluruh budak dikumpulkan dan perayaan dimulai. Tapi itu berarti dia akan berhadapan dengan Rouf dan Touf di tempat yang sama. Dia mengetahui kapasitasnya dan melawan Rouf dan Touf serta seisi pengawal pribadi Lord bukanlah hal yang bijak.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan, Daedalus,” kata Toras. Daedalus menunggu. “revolusi budak adalah caranya.”
“Itu tidak mungkin,” kata Daedalus. “semuanya penakut. Mereka tidak bisa diandalkan. Seperti tadi siang saat aku memberontak melawan, yang lain hanya membiarkanku melawan sendirian. Mengandalkanmu dengan kondisimu yang lemah juga mustahil, Toras.”
“Sekarang berbeda.” Toras berdiri. Dia menunjuk Gallam yang disekap. “Kau yang sebelumnya bahkan tak mampu melawan Gallam satu lawan satu, tapi sekarang kau bisa. Kau akan menginspirasi yang lain untuk bangkit melawan, Daedalus. Besok pagi aku juga akan lebih baik dan aku pasti akan bisa menolongmu.”
__ADS_1
Yvonne menambahi. “Aku setuju.” Yogot dan Lupan mengangguk. “Semua orang mengetahui bahwa mereka membenci Lord. Mereka hanya butuh percikan untuk mengalirkan kebencian mereka. Besok adalah cara kita untuk melepaskan amarah yang ada. Aku akan memberitahu yang lain tentang penyerangan kita ke Menara Tua dan semuanya akan mengikutimu, Daedalus.”
Darah Daedalus menggebu. Apakah ini adalah akhir dia menjadi budak?
“Lalu bagaimana selanjutnya?” Tael bertanya pertanyaan paling penting. “Setelah kita berhasil menyelamatkan adikku, adikmu dan anaknya Pak Lupan, itu berarti kita akan terperangkap di Kediaman Lord serta hanya menanti prajurit dan penjaga kota mengepung kita.”
“Jawaban dari masalah itu ada di sekeliling kita,” kata Toras. Tangannya menunjuk seisi Istal dan kuda-kudanya. “Sebagian akan mengikuti upacara perayaan Lord dan melakukan revolusi, sedangkan beberapa akan tinggal di Istal dan menyiapkan kuda untuk kabur dari kota.”
“Tidak semua dari kita akan berhasil menembus gerbang, tuan.” Lupan menyangkal. “Jikapun berhasil, kita pergi kemana?”
“Itu pengorbanan yang harus dilakukan,” jawab Toras. Yang lain menyadari itu semua. “Aku memiliki tempat. Tempat dimana orang-orang yang juga bertujuan sama sepertiku, orang-orang yang ingin sistem budak di Hervarar dihapuskan.” Toras berhasil meyakinkan mereka semua. “Siapkan belati dan senjata kecil untuk dibawa yang lain dalam penyerangan besok pagi. Mulai besok, akan ada Revolusi!”
“Yeah!” Beberapa orang berseru serentak.
Daep disisi lain tampak khawatir dengan revolusi ini. Tapi Daedalus sangat yakin akan keberhasilan mereka. Akhirnya besok adalah hari dimana dia akan bertemu kembali dengan adiknya, Riel. Tapi dia bertanya dalam hati, Apakah akan semulus itu?
***
Malam telah gelap. Semua orang telah tertidur pulas. Tersisa suara jangkrik dan kodok bersahutan. Di tebing dibawah Menara Tua ombak laut menampar-nampar tiga mayat prajurit. Mayat itu mulai membusuk. Seseorang datang kesana.
Tubuhnya terseok-seok, dirinya kesulitan melompati tebing. Tapi dia tetap sampai juga di hadapan ketiga mayat itu. Dia mengumpulkan mayat itu menjadi satu tumpukan lalu meletakkan tangannya ke atas mereka. Mulutnya berucap Dialek Kuno yang telah lama dilupakan peradaban.
Dialek Kuno itu berarti, “Jiwa dan Nyawa, Darah dan Kulit. Aku perintahkan kalian untuk menjadi makananku.”
Setelah Dialek Kuno itu diucapkan, seberkas cahaya menyambung tangan sosok itu dengan ketiga mayat. Perlahan tapi pasti, sesuatu keluar dari mayat tersebut. Yang pada akhir proses membuat mayat tersebut yang telah mulai membusuk, menjadi kurus kering hanya bersisa kulit dan tulang. Semua telah terserap.
__ADS_1
Sosok tersebut meninggalkan tebing dengan kondisi yang lebih baik.