Perang Pengendali Iblis

Perang Pengendali Iblis
Pre-Arc Suku Barbar


__ADS_3

Chapter 18


Setelah suku barbar perkasa menabrak formasi, semua dari mereka terpencar ke segala arah. Garda Valaan berusaha melindungi pelayan yang terpisah, namun celah itu dimanfaatkan oleh para suku barbar untuk mengepung dan menghabisi seorang Garda Valaan.


Tersisa empat lagi.


"Mundur dan fokus melindungi nona Lagertha!" seru Skard, dia mengangkat pedang tinggi-tinggi dan menghalau suku barbar yang mencoba menyerangnya.


Garda Valaan yang mendengarnya segera kembali ke posisi dan mereka empat melawan lima belas, berhasil melindungi nona Lagertha begitu sempurna.


Tapi, pria perkasa dari suku barbar dengan tubuh diselimuti api membara bak zirah perang mengubah strategi mereka.


"Lupakan nona muda Valaan ini!" teriak pria perkasa. "Aku Anglar Saxo memerintahkan kalian membantai semua pelayan yang ada!"


"Ya! BANTAI!"


Seluruh pengikutnya berseru dan seluruh suku barbar memburu pelayan yang lain. Pelayan yang mengetahui nyawanya terancam, berteriak takut dan berlari ke segala arah.


"Tolong—argh!" Seorang pelayan tua ditebas kapak saat tengah berteriak.


"Yea! Bantai bantai!"


Skard terkejut dengan perubahan strategi suku barbar ini. Jika mereka menghadapi Skard dan sisa Garda Valaan yang lain, maka pertempuran akan sengit dan seimbang, tapi jika mereka memaksa Garda Valaan untuk melindungi pelayan sambil bertarung, ditambah jumlah suku barbar yang lebih banyak dari mereka, maka pertarungan akan mengikuti momentum suku barbar dan merugikan Garda Valaan.


Tapi resiko harus diambil serta Skard juga cemas pada anaknya yang merupakan salah satu dari pelayan, Isolde.


"Garda Valaan!" seru Skard. "Selamatkan pelayan dan beri neraka pada suku barbar ini!"


"Ho!" Garda Valaan berseru dan menyerang.


Sementara Garda Valaan menyerang yang lain, Skard mempertahankan posisinya melindungi nona Lagertha Valaan. Sementara semua suku barbar dan Garda Valaan berlarian kesana kemari, si pria perkasa, Anglar Saxo tak berpindah dari tempatnya.


Anglar mengangkat gada besarnya dan menantang Skard berduel.


"Skard dari Garda Valaan! Si Api Tenang! Aku menantangmu berduel sampai mati!"


Skard menengok Lagertha, nonanya, dan Lagertha mengangguk.


"Habisi dia, pak Skard."


Skard mengangguk. Walau umurnya tak muda lagi, walau rambutnya telah memutih, tapi keterampilannya masih tetap sama seperti dia dimasa muda. Dia maju dan api tenang menyelimuti pedang dan tubuhnya.


"Skard dari Garda Valaan menerima duelmu!"


Ketenangan sebelum badai. Mereka berdua menatap lawan secara seksama sebelum menyerang. Namun tiba-tiba Daedalus datang menebas Anglar dari arah mengejutkan.

__ADS_1


Anglar Saxo menangkis dengan gada, lalu mendorong Daedalus menjauh. Daedalus terbang dan mendarat sempurna.


"Siapa?" tanya Skard.


"Teman! Aku datang membantu," jelas Daedalus.


Skard memperhatikan seorang pria diumur kedua puluhannya, botak dan memiliki kekuatan Peminjam Iblis. Skard menyimpulkan Daedalus berkemungkinan pelaku penyerangan Kediaman Lord Puqress. Tapi itu tidak penting sekarang.


"Serahkan Anglar Saxo padaku!" Skard berseru. Dia menunjuk kekacauan di sekitar. "Pergi dan bantulah yang lain!"


Daedalus mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka.


Dia mendatangi seorang Garda Valaan yang tengah melindungi satu pelayan. Garda Valaan itu kesulitan melawan tiga orang suku barbar yang menyerangnya dari berbagai arah. Seorang suku barbar berhasil menusuknya dari punggung, Daedalus terlambat datang.


Daedalus menebas satu suku barbar dan mencoba menolong pelayan, namun pelayan tersebut telah ditusuk oleh suku barbar yang lain.


"Apa-apaan!" maki Daedalus.


"Serang dia!" Suku barbar berseru.


Daedalus menerima serangan dari dua arah, namun gerakannya lihai dan dia dapat menebas satu yang kemudian dia menebas satu lagi. Tiga suku barbar tewas ditangannya, namun dia gagal menyelamatkan seorang Garda Valaan dan pelayan.


Dia menengok sekitar dan mendapati dua garda Valaan yang melindungi beberapa pelayan melawan delapan suku barbar. Dia hendak bergerak menolong, tapi dari dalam hutan telah turun Yvonne dan yang lainnya.


"Serahkan disini pada kami!" seru Yvonne.


Dia melihatnya, ada tiga suku barbar yang mengejar beberapa pelayan ke dalam hutan. Dia bergegas mengejar mereka.


Satu suku barbar berhasil mendapatkan seorang pelayan pria.


"Ampuni aku, aku punya anak."


"Hahahahaha!" Suku barbar itu tertawa sebelum menggorok leher si pelayan.


Daedalus datang terlambat lagi dan dia mengirim si suku barbar ke alam baka. "Aku terlambat lagi!"


Tersisa dua suku barbar di hadapannya yang mengejar dua pelayan yang berbeda. Di kirinya, ada seorang wanita pelayan yang berteriak-teriak meminta tolong. Di kanannya, ada seorang wanita tua—juga pelayan—yang terdengar suara napasnya. Daedalus tak yakin dia bisa menolong mereka beruda serentak, dia bahkan tak yakin dia bisa menolong seorang pun.


Tapi Daedalus harus mencoba. Dia mengiris nadinya, dia merengek sakit kemudian berkata.


"Kupersembahkan nadi dan darahku, kuminta kau bertarung disisiku! Penuhi sumpahmu, bangkitlah dan tolonglah,, Iblis Slimonoid!"


Darah membasahi Permata Delima, Iblis Slimonoid merah mewujud di hadapannya. Iblis Slimonoid segera melesat pada wanita di kiri.


"Kalau begitu aku ambil kanan," gumam Daedalus.

__ADS_1


Dia mengejar si suku barbar dan lagi-lagi dia terlambat menolong. Si pelayan tua sudah dibabat habis oleh suku barbar.


"Terlambat lagi!" keluh Daedalus menebas suku barbar dari belakang. Dia gagal, tapi bagaimana dengan Iblis Slimonoid? Dia menengok.


Si pelayan wanita terjatuh dan suku barbar tergelak hendak mengirimkan tebasan terakhir. Tapi Iblis Slimonoid sampai tepat waktu dan menabraknya.


"Monster!" seru suku barbar.


Dia bersama dengan Iblis Slimonoid bergulat di lantai. Iblis Slimonoid mencoba merebut pedang suku barbar, namun pertahanannya terlalu kuat. Tapi tiba-tiba Iblis Slimonoid melebur masuk memperangkap suku barbar tersebut ke dalam tubuh slimenya.


Daedalus tidak pernah tahu dia bisa melakukan itu. Dia menghampiri suku barbar yang telah terperangkap Iblis Slimonoid. Suku barbar itu menggeleng kencang saat melihat kehadiran Daedalus dengan pedangnya.


"Kembali," perintah Daedalus.


Iblis Slimonoid hilang dan menyisakan si suku barbar.


"Ampuni nyawaku, jangan!" minta si suku barbar.


Tapi Daedalus belajar dari kesalahannya. Dia tak akan menyisakan ancaman yang akan menamparnya seperti sebelumnya. Daedalus menusuk dan memberinya kematian singkat.


"Kau tak apa?" tanya Daedalus pada gadis pelayan. Akhirnya dia berhasil menyelamatkan seorang. Dia mengulurkan tangan. "Aku Daedalus."


Gadis pelayan itu ragu, tapi dia akhirnya menerima tangan Daedalus. "Isolde," ucapnya. Dia dibantu berdiri oleh Daedalus. "terimakasih."


Daedalus tersenyum.


Di sisi lain di pertempuran melawan Anglar, situasi sudah mulai mereda.


Delapan suku barbar yang menghadapi dua Garda Valaan dan kawanan Yvonne berhasil ditumbangkan seluruhnya. Namun berakhir dengan dua Garda Valaan dan seluruh pelayan tewas.


Sekarang tersisa Anglar Saxo. Terbukti Skard adalah lawan yang kuat untuk dihadapi Anglar Saxo seorang diri.


"Butuh seribu tahun lagi untuk kau bisa mengalahkanku, orang barbar!" ejek Skard mengeluarkan lidah.


Anglar Saxo memperhatikan sekitar, tubuhnya penuh dengan tebasan panas pedang Skard. Dia melihat kekalahannya dan dia melihat kematiannya. Tapi dia tak bisa tumbang begitu saja, dia harus membawa sebanyak mungkin musuh mati bersamanya.


Dia melihat Yvonne tertawa bersama Yogot dan Tael. Yvonne membelakanginya.


"Aku Anglar Saxo dari Klan Saxo! Aku akan mati secara terhormat!"


Anglar berseru kencang. Seperti bola api yang perkasa, Anglar berlari kencang menerjang Yvonne.


"Yvonne menghindar!" Tael berseru memperingati. Yvonne menoleh, tapi dia tak sempat menghindar. Tael mendorong Yvonne dan menggantikan tempatnya.


Anglar menabrak keras Tael.

__ADS_1


"TAEL!"


__ADS_2