
Chapter 9
Bagaikan kisah-kisah kuno dimana selusin pahlawan bekerja sama untuk menjatuhkan tirani sang Naga. Begitu jugalah yang dirasakan Daedalus dalam dirinya saat dia, Yogot, Lupan dan adiknya Tael mengepung Rouf dari empat arah. Dan dalam kisah-kisah kuno itu pahlawannya yang menang. Mereka mulai menyerang.
Daedalus percaya diri memimpin penyerangan. Dengan sebilah belati di tangan dan tubuhnya yang diselimuti kekuatan pinjaman dari Iblis—yang membuat gerakannya menjadi cepat dan lebih presisi—dia menusuk Rouf. Rouf menyambutnya dengan tebasan tinggi pedang besar, di mata Daedalus tebasan itu cukup lambat. Cukup untuk dia mengelak ke samping dan segera memberikan tusukan ke dada Rouf.
Denting besi menabrak besi terdengar. Belati Daedalus terhenti di tempat, tak mampu menembus zirah Iblis Beku milik Rouf. Rouf tergelak. “Hah!” serunya. Dia meninju Daedalus, memaksa Daedalus menjauh dan memberi jarak. “Bahkan jika aku tangan kosong-pun, kalian takkan bisa menembus zirah Iblis Beku-ku ini dengan pisau karatan kalian.”
Dia benar. Zirah Iblis Beku milik Rouf kasar dan berat, Daedalus mengetahuinya saat dia menusuk. Dia membutuhkan sesuatu yang lebih tajam atau lebih berat untuk menembusnya. Tapi apa?
Namun Rouf tak membiarkan Daedalus untuk berpikir panjang. Dia menebas lebar pedang besarnya.
“Menunduk!” Daedalus berseru.
Tebasan pedang menebas apapun yang ada di hadapannya. Tael dan Lupan lihai menunduk menghindar, namun Yogot dengan tubuh gempalnya tak memiliki cukup waktu. Nyaris bilah pedang membelah dirinya, Daedalus menabrak Yogot dan membuat mereka berdua terbaring di lantai. Menyelamatkan nyawanya.
“Ngeri!” seru Yogot. “Terimakasih Daedalus, kalau kau tidak ada bisa saja aku terbelah.”
“Terimakasihnya belakangan,” kata Daedalus. Dia menarik Yogot bangkit. Di hadapan mereka masih berdiri tangguh Rouf. Dia berjalan, secara menakutkan, ke arah Daedalus. “tumbangkan dulu orang ini baru kita saling mengucapkan terimakasih.” Rouf menebas ke arahnya, Daedalus menghindar. “Untuk sekarang kita harus fokus!”
Rouf lagi-lagi menyerang Daedalus. Menebas ke atas, menusuk, menebas lebar bahkan menendang kepadanya. Serangan Rouf berbahaya dan fatal apabila Rouf dapat melandaskan satu serangan saja kepadanya. Namun zirah Iblis Beku Rouf memperlambat gerakannya, tak membantunya melawan Daedalus dengan Iblis Slimonoid yang membuat gerakannya lentur dan lincah.
Melihat Rouf yang fokus ke Daedalus, Tael menikamnya dari belakang. Lupan juga melakukan hal yang sama, tapi hasilnya tak ada bedanya dengan tusukan yang dilakukan Daedalus.
__ADS_1
“Pisau karatan kalian takkan bisa menembusku!” seru Rouf. Dia menebas ke arah Tael dan Lupan, memaksa mereka menjauh.
Daedalus melihat situasi. Mencari cara, ya, dia harus mencari cara untuk menembus Zirah Iblis Beku Rouf. Tapi apa? Daedalus menengok ke Permata Delimanya, menengok alam bawah sadarnya dimana Iblis Slimonoid bersujud kepadanya. Apa yang bisa dilakukan slime yang lentur melawan zirah keras Iblis Beku? Dia tak dapat memikirkan sesuatu.
Baru Daedalus melihat sekitar dimana budak-budak yang lain bertempur melawan beberapa prajurit. Jumlah mereka 5:2, budak menang jumlah. Dua orang budak setara dengan satu prajurit yang terkejut akan penyerangan. Namun ada yang mengambil perhatian Daedalus, yakni seorang prajurit yang melindungi seorang bangsawan dari serbuan para budak.
Dengan Paluperangnya seorang diri dia menghalau dan menghancurkan budak-budak yang menyerang. Dia berhasil melindungi bangsawannya, Daedalus menyimpulkan prajurit tersebut adalah pengawal pribadinya. Dia dengan enteng menghancurkan budak yang datang dengan Paluperangnya, memukul kuat seperti sedang menghancurkan tembok-tembok rumah batu.
Paluperang.... Ya! Itu dia! Daedalus mengetahui satu hal, selalu benda tajam untuk menembus sesuatu yang tipis dan selalu benda tumpul untuk menembus sesuatu yang tebal. Dia mempunyai ide. Tapi Rouf yang mengejar Tael dan Lupan membuatnya khawatir. Mereka tak secepat dirinya.
Rouf mengalihkan perhatiannya pada Yogot yang gempal. Dia menyerang, tapi Yogot terlebih dahulu menerjang Rouf dan membawa pertempuran mereka ke tanah. “Aaah!”
Yogot berada di atas Rouf. Dia melayangkan pukulan ke lawannya namun zirah Iblis Beku mengalir dan menyelimuti wajah Rouf. Tangan Yogot patah dan dia mengerang kesakitan. Rouf tersenyum puas dan membanting Yogot, mereka beralih posisi.
Daedalus datang menendang Rouf, melepasnya dari menghimpit Yogot. Jika bukan karena Iblis Slimonoidnya, kaki Daedalus sudah pasti patah. “Berbahaya bagi kalian menghadapinya,” kata Daedalus. “kita butuh Paluperang milik salah satu pengawal bangsawan untuk menembus zirahnya. Aku akan mengulur waktu, sekarang pergilah!”
Yogot mengerang kesakitan dan pergi menghampiri Lupan dan Tael. Mereka memantau sekitar terlebih dahulu sebelum Tael menunjuk seorang individu. “Dia punya Paluperang!” Kemudian mereka pergi. “Bertahanlah, bang! Kami akan cepat!”
Daedalus memandang Rouf yang bangkit dari tumbangnya. Rouf meludah ke tanah. “Kau membuatku kesal!” serunya. Rouf datang kepadanya dan Daedalus bersiap-siap. “Aku akan meremukkanmu!”
Selagi Daedalus berdansa-kematian dengan Rouf, kawanan Tael menghampiri pengawal bangsawan yang dimaksud. Mereka datang ke sisi bangunan Kediaman Lord, dekat ke pintu keluar. Disana belasan budak mengerumuni si pengawal dan bangsawannya bak serigala mengerumuni mangsanya. Namun sayang sekali mangsa mereka perkasa bak banteng, tak dapat ditumbangkan, tak gentar, tak takut walau telah terkepung membelakangi tembok tak ada jalan lari.
Satu budak dihancurkan kepalanya, Lupan bergidik ngeri. “Kita disuruh mengambil Paluperangnya? Dia?”
__ADS_1
Yogot menelan ludah, tangan kanannya yang patah dia pegang sejak tadi. “Badannya sebesarku, tapi bandingkan aku dan dia. Aku penuh lemak sedangkan dia otot semua!”
Tael setuju. Setinggi sama dengan Rouf dan Touf, namun tubuhnya selebar Yogot. Tael percaya bahkan jika seekor banteng mengajak orang itu berduel, dia akan tetap bertaruh pada kemenangan orang itu. Tapi dia tak bisa mundur sekarang.
“Keberhasilan kita merebut Paluperang berarti keberhasilan kita menyelamatkan abangku dan adikku,” kata Tael. Dia menatap Lupan dalam-dalam. “juga keberhasilan menyelamatkan anakmu, pak Lupan.”
Setelah mendengar perkataan Tael, Lupan menampar kedua pipinya. Dia memungut satu pedang dari seorang prajurit yang telah tumbang. “Kau benar, Tael, kau benar! Demi anakku.” Dia maju terlebih dahulu, tapi saat dia mengikuti kerumunan budak dalam penyerangan, seorang budak—yang terkena Paluperang pengawal itu—terlempar kearahnya. Lupan menangkap budak itu yang telah patah lehernya.
“Tolong ....” seru budak itu, suaranya serak menahan sakit.
Lupan melepaskan budak itu dan kembali ke Tael. “Tapi caranya bagaimana!”
Tael mengambil satu pedang milik prajurit yang lain dan dia menatap sosok pengawal itu dalam-dalam. Dia begitu perkasa, bak untuk menumbangkannya tak muncul satu kemungkinan di kepala Tael. Tapi dia tak harus membunuhnya. “Kita hanya membutuhkan Paluperangnya, kita tidak perlu membunuhnya,” kata Tael.
“Mengambil harta milik orang mati sepertinya lebih mudah daripada mengambil harta milik orang hidup, Tael. Lihat pedang ini? Ini milik prajurit yang telah mati,” beritahu Lupan.
Tael menggeleng, dia menatap kedua rekannya. “Tapi bagaimana kalau orang itu kita buat memilih antara dua hartanya? Kira-kira harta mana yang akan dia pilih?”
“Kau bicara apa?” tanya Lupan kebingungan. Yogot juga sama bingungnya.
Kemudian Tael membisikkan rencana pada telinga mereka. Dan mereka mengangguk setuju. “Kesuksesan rencana ini ada pada Yogot.” Tael menunduk lesu. “Dan rencana ini sangat berbahaya untukmu.”
Yogot menepuk-nepuk pundak Tael. “Tak ada bahaya yang tak pantas dilalui untuk seorang teman!” Dia mengumpulkan nyali. “Sekarang mari kita lakukan!”
__ADS_1