PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN

PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN
Kritis


__ADS_3

Negara Tepi Barat


"Maaf Paduka, Pangeran belum bangun," ucap seorang pengawal kerajaan dengan lencana terbanyak di bajunya.


"Cepat bangunkan lagi! Apakah dia terus-menerus ingin menjadi anak durhaka? Apa penurunan statusnya dari seorang Putra Mahkota menjadi pangeran belum cukup? Gara-gara melanglang buana di negara Kepulauan, anak itu jadi tak berguna!" ungkap sang raja. Ia tampak geram. Berucap sambil mengelus dadanya yang berbalut busana megah khas kerajaan.


Negara Tepi Barat adalah sebuah kerajaan kecil yang terletak di Timur Tengah tepatnya di benua Asia bagian barat. Walaupun termasuk negara kecil, namun negara Tepi Barat terkenal dengan keberaniannya karna tidak tergiur oleh tawaran persemakmuran dan berani melepas diri dari perlindungan negara adikuasa. Negara ini dipimpin oleh seorang raja yang tersohor dengan keberanian dan kebijaksanaanya.


"Sabar Paduka, biar bagaimanapun, Pangeran Enver tetaplah putra kita," ucap sang Permasuri dengan suaranya yang terdengar begitu lembut.


"Tapi, dia selalu saja membuatku naik pitam. Dari tiga orang putra kita, hanya dia yang paling mencolok. Padahal, dia anak pertama, namun sikapnya sama sekali tak bisa jadi tauladan adik-adiknya."


"Sabar, Paduka dan aku telah berulang kali menipunya. Mungkin, ini balasan Pangeran atas perbuatan kita."


Permaisuri mengulum senyum. Jika bicara tentang putra sulungnya, ia selalu teringat masa-masa paling berkesan saat mengandung putranya itu. Ya, Pangeran Enver adalah putra pertamanya. Jadi, wajar kalau sang permaisuri memiliki pengalaman paling berkesan saat mengandung dan melahirkan Pangeran Enver ke dunia ini.


"Kamu terlalu memanjakan Enver, kamu bahkan menjadi orang pertama yang menyetujui keinginan Enver untuk tak menjadi kandidat Putra Mahkota. Jika saja keinginan Enver tak disetujui oleh wanita yang aku cintai, aku tak mungkin menyetujui keingian tak masuk akal anak itu."


"Apa Paduka menyesali keputusan itu?"


"Emm, aku bingung. Antara ya dan tidak memiliki nilai yang sama. Intinya, selagi tak menyalahi aturan agama, aku bisa mengabulkannya." Seraya mengecup tangan sang permaisuri dengan tatapan yang begitu dipenuhi cinta.


Hal ini membuat para pengawal dan dayang istana serempak menunduk untuk menahan tawa, atau sekadar menahan senyuman yang disinyalir bisa menyinggung perasaan Paduka Raja atau Permaisuri.


...***...


Sementara itu, di bagian lain istana, yaitu di salah satu kamar, terlihat seorang pria tampan nan rupawan masih bergelung di balik selimut hangatnya. Padahal, mentari di ufuk timur telah beranjak naik. Sinarnya, bahkan telah menelusup melalui celah tirai megah kamar tersebut.


Di depan kamarnya, berdiri tegak empat orang pengawal. Dua di sisi kanan, dua lagi di sisi kiri.


Interior kamar ini begitu unik. Luas dan tak biasa. Jika biasanya kamar seorang pangeran berisi perhisan, dan barang antik, lain halnya dengan kamar ini. Kamar ini justru didominasi oleh layar komputer, buku-buku, dan miniatur karakter robot dalam film-film bertema super hero.


"A ---."


Terdengar suara dari tempat tidur. Rupanya, itu merupakan suara si pemilik kamar ini. Benar, dialah pangeran. Nama Lengkapnya Pangeran Enver Xzavier Jayden. Jayden diambil dari nama ayahandanya. Raja Eyad Akash Jayden.


Selimut seputih salju yang berbahan wol domba itu begerak tiba-tiba begerak. Lalu terdengar suara d e s a h a n dari sana. Jelas sekali, itu mirip dengan erangan seorang pria yang tengah mencapai puncak hasratnya.


Lalu, selimut itu terbuka. Pangeran lantas terbangun dengan peluh halus di sekitar pelipisnya. Dada indahnya yang dibiarkan polos, jelas tengah mengatur napasnya yang memburu. Telinga yang tersorot matahari tampak memerah. Ia memasygul kuat rambut lebatnya yang berwarna kecoklatan.


"Aaarrgh," teriaknya sambil menutupi wajah dan menggelengkan kepalanya berulang-ulang.

__ADS_1


Ia menyesali kejadian yang baru saja terjadi. Baginya, itu sesuatu yang memalukan. Namun, ia sadar tak memiliki kekuatan untuk mencegahnya.


"Mimpi itu terasa nyata. Ini pasti karena aku terlalu merindukan kamu," gumamnya. Segera bangun dan beranjak ke kamar mandi.


Sebelum masuk ke kamar mandi, ia berkata melalui alat berbentuk HT namum berukuran kecil.


"Katakan pada Ayahanda dan Ibunda kalau aku sudah bangun. Aku akan mandi sendiri dan makan siang bersama. Untuk sarapan, aku minta dibawakan buah-buahan saja."


"Baik Pangeran," sahut suara dari alat tersebut.


.


Beberapa saat kemudian, pangeran Enver keluar dari kamar mandinya. Ia hanya berbalut handuk. Rambut dan bulu halus di dadanya terlihat basah. Bahkan masih meneteskan air. Siapapun yang melihatnya, niscaya tak akan bisa berpaling. Tubuhnya yang nyaris sempurna benar-benar bersinergi dengan ketampanannya.


Ia mengeringkan sendiri rambutnya. Padahal, ada dayang khusus pangeran yang siap melayaninya. Sejak statusnya sebagai calon pewaris takhta dibatalkan, Pangeran Enver menjadi lebih bersemangat menjalani hari.


Dengan senang hati, ia menyerahkan titah kerajaan ke pundak saudara kandungnya. Yaitu, Pangeran Essam Nawroz Jayden dan Pangeran Erland Hackett Jayden.


Saat ini, kedudukan Putra Mahkota dipegang oleh Pangeran Essam sebagai putra kedua Raja Jayden. Bukan tanpa alasan Pangeran Enver menolak mandat tersebut. Ia melakukannya karena berbagai pertimbangan dan misi rahasia.


"Ya, halo ---."


Ia tergesa menerima panggilan sembari mengancingkan bajunya. Raut wajahnya berubah dingin dan muram setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh si penelepon.


Suara di ujung telepon terdengar gemetar. Sayup, terdengar jua keriuhan yang sepertinya tengah berlangsung di ruang operasi. Teriakan tim dokter yang memberikan intruksi medis membuat Pangeran Enver panik.


"Ti-tidak mungkin! Bagaimanapun caranya kalian harus menyelamatkannya! Aku tidak mau tahu! Jika gagal, kalian semua akan menanggung akibatnya! Syok anafilaktik bisa terjadi karena reaksi alergi obat! Itu artinya kalian telah lalai!" teriak Pangeran Enver sambil mengepalkan tangannya.


Ia tak terima jika gadis yang menjadi pasangannya dalam mimpi yang teramat indah itu saat ini tengah kritis.


"Kami sudah berusaha, Pangeran. Namun ia tak merespon. Detak jantungnya semakin melemah, bahkan hampir tak terdeksi," lanjutnya.


"Cepat hubungi tim dokter robotik Agam Ben Buana!" titah Pangeran.


Ia mondar-mandir mengelilingi kamar luasnya. Lantas menyalakan seluruh monitor setelah sadar sepenuhnya jika ia harus segera melakukan sesuatu.


"Pak Agam Ben Buana bukan orang yang mudah dihubungi. Maaf, bagaimana kalau Pangeran saja yang menghubunginya."


"Baik. Kamu cepat koneksikan kameranya! Aku ingin melihat langsung kondisinya. Cepat!"


"Ba-baik, Pangeran."

__ADS_1


Panggilan terputus. Lalu salah satu monitor segera menampilkan kondisi menegangkan yang terjadi di ruang operasi. Seorang gadis cantik tampak terbujur di meja operasi dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya. Tampak benda berbentuk segita menutupi kedua matanya. Rupanya, ia baru saja menjalani prosedur operasi pada matanya.


"Intubasi saja! Sekarang! Cepat!"


Pangeran memberikan intruksi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia akan menyesal seumur hidupnya jika gadis itu sampai meregang nyawa akibat operasi mata yang sebenarnya telah ia persiapkan jauh-jauh hari.


Terkenang kembali saat ia menemukan gadis itu kala sore hari menjelang senja. Tepatnya saat hujan deras mengguyur Pusat Kota di negara Kepulauan.


"Baik."


Dokter segera melakukan tindakan intubasi. Mata gadis itu terpejam rapat. Monitor terus menyala menambah suasana kepanikan. Asisten dokter hilir-mudik melakukan tindakan.


"Pak Buana, tolong. Senja kritis, Pak!" teriak Pangeran Enver saat panggilannya terhubung dengan nomor milik Agam Ben Buana.


Agam Ben Buana adalah sahabat, rekan bisnis, sekaligus mantan bosnya. Ia mengenal Agam Ben Buana saat meninggalkan negaranya demi berkerja sebagai hacker rahasia di negara Kepulauan.


"Maaf, Buana sibuk. Tidak bisa menerima panggilan." Yang menerima panggilannya adalah mesin.


"Maaf, Buana sibuk. Tidak bisa menerima panggilan." Berulang kali Pangeran Enver menghubungi, jawabannya tetap sama.


"Intubasi berhasil."


Seruan dari monitor yang terhubung dengan meja operasi melegakan kerisauannya.


"Pangeran, sarapan buah-buahan sudah siap." Suara itu berasal dari HT mini.


"Aku tidak mau sarapan! Siapapun itu, tidak boleh masuk ke kamarku! Aku tidak mau diganggu!" jawabnya.


Lalu fokus kembali ke layar. Bibir merahnya berkamit menggumamkan doa. Harapannya, operasi mata gadis itu berhasil.


Mendapatkan pendonor mata untuk kamu tidaklah mudah. Aku mati-matian demi mendapatkannya. Semua itu kulakukan demi kamu, Senja ... batinnya.


"Pasien memerlukan ICU, Pangeran. Kami akan segera memindahkannya."


"Lakukan yang terbaik," jawab Pangeran.


Andai jarak negara Tepi Barat dan negara Kepulauan tidak jauh, ia pasti sudah kabur dan terbang ke sana. Koneksi terputus setelah gadis itu berada di ruang ICU.


Pangeran Enver menghela napas. Ia harus memutar otak agar bisa kembali ke negara Kepulauan dan menjalankan misi rahasianya. Lalu, ia mengirim pesan suara pada seseorang.


"Gadis itu ada di ruang ICU. Dia mengalami syok anafilaktik pasca operasi. Terus pantau kondisinya dan laporkan padaku! Ingat, jika terjadi sesuatu pada gadis itu, terburuknya jika gadis itu sampai meninggal, maka seluruh kerja sama kita akan berakhir dan kamu ... kamu akan kubunuh," ancamnya dengan gigi gemeretak.

__ADS_1


...~Next~...


__ADS_2