PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN

PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN
Kenangan Indah


__ADS_3

~Flash Back On~


Satu Tahun yang Lalu Di Negara Kepulauan


Setelah tiga jam perjalanan, mobil bus yang ditumpangi Mister X dan Senja tiba-tiba mogok di tengah jalan. Penumpang diperintahkan untuk turun dan beralih ke kendaraan lain. Lucunya, yang menjadi penumpang hanya tersisa Senja dan Mister X.


"Kak, bagaimana ini?" Senja kebingungan.


Ternyata, kebingungan Senja tak seberapa jika dibanding dengan kebingungan Mister X. Ya, Mister X bingung karena hari mulai petang dan kendaraan umum yang melintasi daerah ini sangat terbatas dan jarang.


Mister X sudah bertanya pada supir untuk meminta solusi. Namun, pak supir menyarankan agar Senja dan Mister X menginap dulu di penginapan dan baru melanjutkan perjalanan pada esok harinya.


"Ini bus terakhir, Tuan. Setelah ini, tak ada bus lagi. Ada lagi bus ke utara besok pagi sekitar jam lima," terang pak supir.


"Oh, begitu ya. Terima kasih infonya, Pak." Mister X lantas kembali mendekati Senja yang duduk di sana. Tepatnya di seberang jalan.


"Senja, kita harus ke penginapan. Kita akan melanjutkan perjalan besok pagi. Kita berada di daerah pinggiran. Jadi, di daerah ini tidak bisa memesan taksi online," terang Mister X.


"Tak masalah, Kak. Tapi, daerah ini ramai, kan?" tanya Senja sambil menajamkan pendengarannya karena merasa sepi.


"Emm, lumayan ramai," jawab Mister X. Ia terpaksa berbohong. Tujuannya tentu saja agar Senja tidak merasa khawatir.


Padahal, saat ini mereka tengah berada di sisi jalan raya yang diapit oleh perkebunan luas kelapa sawit di sini kanan, dan perkebunan karet di sisi kiri.


"Pegang tanganku," kata Mister X.


"Mau ke penginapan sekarang?"


"Ya. Oiya Senja, apa kamu lelah?"


"Tidak," jawab Senja, berbohong.


Sebab faktanya, kakinya mulai lelah. Iapun heran sebab dari pendengerannya, tempat ini sangat sepi. Tidak terdengar kendaraan melintas ataupun suara manusia yang sedang bercengkrama. Yang terdengar justru suara kicauan burung.


"Kak, sebenarnya kita akan ke mana? Apa kita sudah pergi jauh dari kota?"


"Benar," kata Mister X.


"Apa?! Ki-kita mau kemana memangnya, Kak?" Langkah kaki Senja berhenti sejenak.


"Rencananya, kita akan pergi ke Waroulaut. Apa kamu pernah mendengar nama daerah itu?"


"I-iya, aku pernah dengar."


...***...


"Itu dia penginapannya," seru Mister X.


Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya tiba juga ke tempat yang dituju. Sebuah penginapan sangat sederhana yang entahlah di dalamnya seperti apa.


"Masih ada satu kamar kosong. Mau berapa malam?" Belum juga Mister X bertanya, pelayan penginapan itu sudah mendahuluinya.


"Hanya sisa satu kamar?" Mister X kebingungan. Masa ya, ia dan Senja satu kamar?


"Ya Tuan, kalau mau pesan silahkan. Kalau tidak mau, silahkan pergi dan tidur di jalanan karena di daerah ini tidak ada penginapan lagi selain penginapan ini."


Ya ampun, penginapan macam apa ini? Mister X heran. 'Kok ada pikirnya trik marketing semacam ini. Sangat tidak masuk akal!


"Oiya, kalau malam di daerah ini banyak binatang buas. Ada ba-bi hutan, serigala, dan harimau. Jadi hati-hati saja ya, Tuan. Takutnya, saat Anda memutuskan tidak mau menginap dan memilih tidur di pinggir jalan, Anda atau istri cantik Anda diterkam oleh salah satu dari binatang yang saya sebutkan tadi," lanjut pelayan tersebut.


"Apa?!" seru Mister X dan Senja. Senja bahkan langsung memeluk lengan Mister X karena ketakutan.


"Kak, a-aku takut diterkam serigala atau harimau. Aku juga takut diinjak-injak ba-b i hutan. Tidak apa-apa kita satu kamar saja ya, Kak. Yang penting kita selamat."


Pemilik penginapan tersenyum mendengar ocehan Senja. Sementara Mister X langsung garuk-garuk kepala. Justru, dengan mereka sekamar, Mister X tak bisa menjamin keselamatan Senja dari terkamannya.


Kalau kita sekamar, aku bisa menerkam kamu, Senja. Batin Mister X.


"Selain ada harimau, ba-bi hutan dan serigala, di daerah ini juga ada anjing hutan. Daerah ini memang terkenal keangkerannya. Di kebun sawit itu pernah ditemukan kerangka manusia. Pernah juga ditemukan tubuh manusia yang tak lagi utuh alias sudah terkoya-koyak. Ihhh, menyeramkan," terang pelayan itu sambil bergidik ngeri.


"Kak, takut." Senja kian panik. Padahal, apa yang diceritakan pemilik penginapan tersebut belum tentu kebenarannya.


"Tenang, aku sedang cari ide. Bu, kami belum jadi pasangan. Kami baru pacaran. Jadi, kami tidak bisa menginap di satu kamar," jelas Mister X.


"Satu atau dua kamar sama saja, karena yang beperan penting adalah manusianya. Bukan jumlah kamarnya. Kamarnya dua juga percuma saja kalau manusianya tidak benar. Namanya juga se-ks bebas, itu berarti bebas dilakukan di manapun. Di luar kamar penginapan ini, kalian juga bisa saja melakukannya, bukan?"


Pendapat pelayan tersebut begitu frontal. Mister X melongo. Senja apalagi. Gadis itu tertegun sambil membelalakan matanya.


"Pacarku pria baik, Bu!" teriak Senja. Membela Mister X.


"Hahaha, ya saya percaya. Ya sudah, kalian mau menginap atau tidak? Kalau tidak, silahkan pergi," usirnya.


Mister X sampai mengepalkan tangan saking kesalnya pada pelayan itu. Padahal, di penginapan lain, seorang resepsionis biasanya diharuskan bersikap ramah-tamah. Tapi, di sini malah sebaliknya.


"Kak, kita menginap di sini saja. Tidak apa-apa satu kamar. Nanti, aku tidur di kasur, Kakak tidur di kamar mandi," kata Senja dengan polosnya.


"Apa?!"

__ADS_1


Mister X kaget. Andai saja Senja tahu identitasnya, Senja pasti akan menyesali ucapan tersebut seumur hidupnya.


"Hahaha." Bu pelayan jutek terbahak-bahak mendengar penuturan Senja.


"Baiklah, kita akan menginap di sini." Akhirnya, Mister X terpaksa menyetujui karena tidak ada pilihan lain.


"Nah, begitu dong. Ini kuncinya. Kamarnya nomor 13. Paling ujung sebelah kanan," jelas pelayan tersebut.


Mister X segera mengambil kuncinya. Lalu ia dan Senja bergegas ke kamar yang dimaksud.


...***...


"Wah, akhirnya aku bisa bertemu dengan kasur juga," seru Senja.


Setelah meraba keberadaan kasur, Senja segera merebahkan diri. Ia terlentang pasrah begitu saja dan seolah melupakan pria di sampingnya yang saat ini sedang menatapnya sambil mengerjapkan mata.


"Senja, kamu harus mandi dulu. Aku tunggu di luar. Kalau kamu sudah selesai, aku juga 'kan mau mandi," kata Mister X sambil mengeluarkan perlengkapan mandi, handuk, bahkan pakaian ganti untuk Senja. Termasuk pakaian dalam gadis tersebut.


"Hmm, aku ngantuk, Kak," keluh Senja.


"Kamu boleh tidur setelah mandi. Cepat, aku simpan sabunnya di kamar mandi ya. Baju gantinya aku simpan di atas tempat tidur." Setelah mengatakan itu Mister X keluar.


"Oiya, aku mau beli makanan untuk kita. Mandinya cepat ya. Jangan lama-lama," tambahnya saat ia berada di ambang pintu.


"Oke. Issh, Kakak cerewet sekali seperti nenekku," protes Senja.


Setelah mengatakan itu, Senja melamun sejenak karena tiba-tiba merindukan sang nenek yang telah pergi ke haribaan-Nya.


Lalu, ia ke kamar mandi sambil menunduk dan meraba-raba. Senja tidak tahu jika Mister X masih berdiri di ambang pintu untuk memastikan ia bisa ke kamar mandi dalam keadaan selamat. Dalam benaknya, Senja sadar jika keberadaan Mister X adalah malaikat penolong yang menggantikan sosok neneknya.


.


Senja sudah mandi dan mengganti pakaiannya. Ia sedang menyisir rambutnya saat Mister X datang. Wangi sabun dari tubuh Senja menguar.


"Kamu wangi. Kalau sudah mandi 'kan enak." Sambil meletakan makanan di meja kayu kamar tersebut.


"Ya sudah, Kakak juga cepat mandi. Oiya, aku sudah mencuci bajuku. Tapi masih di ember. Belum aku gantung," terang Senja.


"Tidak apa-apa, serahkan padaku." Sambil melucuti bajunya.


Andai saja Senja bisa melihat Mister X, gadis itu mungkin akan pingsan. Sungguh, tubuh Mister X sangat memukau dan memesona. Siapapun yang melihatnya, niscaya akan tergila-gila.


"Kita akan makan bersama setelah aku mandi. Tunggu ya," katanya.


"Baik."


Bagaimana tidak?


Ember dan seluruh baju Senja termasuk pakaian dalamnya, terlihat mengambang di dalam bak kamar mandi. Mungkin, maksud gadis itu diletakan di sisi bak. Tapi faktanya, malah ditenggelamkan.


"Ya ampun, Senja."


Mister X meringis dan menghela napasnya saat mengambil underwear dan dalaman milik Senja. Kedua benda tersebut berwarna senada. Merah muda.


"Kak, jangan melakukan apapun pada pakaian dalamku ya, hahaha." Goda Senja dari luar.


"Sorry, ya. Aku tidak beselera!" teriak Mister X. Ia cepat-cepat memasukkan seluruh pakaian Senja ke dalam ember dan menutupnya rapat-rapat.


"Yakin tidak beselera? Hahaha." Senja kembali berulah.


"Bisa diam tidak?!" teriak Mister X sambil memukul pintu kamar mandi.


"Hahaha," di luar, Senja malah terbahak-bahak.


"Awas kamu ya!" ancam Mister X.


"Hahaha, maaf Kak. Cepat ya mandinya, aku sudah kelapar**an."


Ternyata, Senja menggoda Mister X karena gadis itu kelaparan. Walaupun Senja tidak bisa melihat, Mister X tetap memakai pakaiannya di dalam kamar mandi dan baru keluar setelah ia rapi.


Lanjut menghidangkan makanan dan mengajak Senja untuk makan. Mereka makan sambil menunduk. Tidak bicara, dan bersuara. Definisi, makan dalam keheningan.


...***...


Malam beranjak larut. Senja berada di atas tempat tidur. Yaitu sebuah ranjang dengan ukuran kasur 200x180 cm. Lebar kasurnya bahkan lebih kecil dari tinggi Mister X. Senja terlelap sambil memeluk guling dan berselimut.


Sementara Mister X terlihat meringkuk di lantai. Ia beralaskan bedcover milik penginapan. Tubuhnya diselimuti hoodie.


Lalu entah di jam berapa, samar-samar terdengar suara anjing melolong, melengking, hingga menegakkan bulu kuduk siapapun yang mendengarnya. Mata Senja terbuka lebar. Suara itu jelas mengganggunya dan membuat gadis ketakutan. Lalu ....


"Auuuwww, auuuwww."


Yang itu terdengar seperti lolongan serigala. Bulu kuduk Senja merinding. Segera menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Namun suara itu terus terdengar. Bahkan semakin jelas dan seperti mendekat ke penginapan.


"Kak Exam, sst, sst, Kak!" panggilnya.


Tak bisa dibayangkan bagaimana takutnya Senja di dalam dunia gelap gulitanya. Sebenarnya, Senja tentu saja tidak takut dengan kegelapan. Namun, suara-suara itulah yang membuatnya takut. Karena tidak ada sahutan, Senjapun bangun. Ia meraba sekitaran sambil memanggil nama Mister X.

__ADS_1


"Kak Exam, kamu di mana? A-aku takut Kak," katanya. Sayangnya, Mister X tengah benar-benar terlelap.


"Kak Exam! Kak Exim!"


Senja mengeraskan suaranya hingga memanggilnya 'Exim.' Saat itu, suara lolongan anjing terdengar bersahutan dengan suara burung hantu.


"Se-Senja?"


Syukurlah, Mister X akhirnya terjaga. Ia bangun dan meraih tangan Senja yang saat ini berada di depan kamar mandi.


"Apa Kakak tidak mendengar suara-suara itu? Aku takut, Kak. Aku tak bisa tidur."


"Itu hanya suara binatang. Mereka tak mungkin kemari. Tenang, oke? Sambil memapah Senja untuk kembali ke tempat tidur.


"Tapi suaranya semakin dekat, Kak."


"Tidak apa-apa, mungkin sedang mencari mangsa. Lagi pula, kita 'kan ada di kamar. Tidak perlu takut." Sekarang nerebahkan Senja dan menyelimutinya.


"Kak Exam, jangan kemana-mana ya, temani aku." Senja bergelayut di lengan Mister X.


"Se-Senja, ja-jangan begini. Ini bahaya. Biar bagaimanapun aku pria normal. Kalau aku menerkammu, bagaimana?"


"Ish, sebentar saja Kak, sampai anjing-anjing itu berhenti bersuara. Kumohon," ratapnya sembari menguatkan rangkulannya.


"Hmm, ba-baiklah." Karena kasihan, Mister X terpaksa merebahkan kepalanya pada bantal yang digunakan Senja.


"Khrrrmm." Ada sayupan suara lain.


"Hahh, Kak ... i-itu suara apa lagi?!" Senja spontan menelusupkan kepalanya di dada Mister X.


"Se-sepertinya itu suara harimau."


Ulah Senja membuatnya gugup. Namun, ia akhirnya waspada. Segera meraih tas kecil miliknya yang berisi pistol untuk berjaga-jaga. Ternyata, cerita pelayan sombong itu bukan isapan jempol. Di daerah ini memang banyak binatang buas yang berkeliaran.


"Kak, apa kita sedang berada di hutan belantara? Kenapa banyak sekali hewan pemangsa?"


Karena takut, napas Senja tidak beraturan, naik-turun dengan cepat, dan tubuhnya semakin menempel di dada Mister X. Mister X memejamkan matanya. Dari jarak sedekat ini, bibir Senja terlihat seolah sedang menggodanya. Dan di bagian dada itu ....


Tidak.


Mister X ketakutan. Bukannya takut dengan binatang buas. Ia justru takut jika dirinya berubah menjadi binatang buas dan memangsa Senja.


"Kak, huuu ... takut ...."


Senja malah menangis dan memeluk tubuh Mister X. Jedug, jantung Mister X bertingkah. Sentuhan Senja membuat jiwa prianya tergugah secara alamiah dan naluriah.


"Se-Senja, k-kamu yakin mau memelukku seperti ini?"


"Sst, jangan banyak bicara, Kak." Memeluk kian erat lagi hingga membuat Mister X keringat dingin.


"Arrghh ..., Se-Senja, tunggu ya. Aku mau buka baju. Gerah, aku kepanasan."


Mister X duduk sejenak untuk melepas bajunya. Jadilah pria itu bertelanjang dada.


"K-Kak? Eh .... Ma-maaf,"


Senja panik. Ia tak sengaja menyentuh tumpukan pejal yang menghiasi bagian dada dan perut Mister X. Namun, suara geraman harimau membuyarkan fokus Senja pada tubuh Mister X dan kembali memeluk tubuh sang Pangeran.


Deg, Senja tersadar. Kali ini, ia merasa sedang memeluk tubuh seorang pria dewasa yang terpahat indah. Jantungnya berdegupan. Bibirnya terbuka lebar karena kaget. Saat Senja hendak berkata, tiba-tiba, sesuatu yang lembut dan kenyal menempel di bibirnya.


Apa ini?


Batin Senja bergejolak. Dan saat keterkejutannya masih dalam mode on, sesuatu itu telah begerak lembut dan perlahan menelusuri bibirnya. Senja mematung. Tubuhnya mendadak kaku.


Ternyata, sang Pangeran tak kuasa menahan diri. Ia akhirnya memagut bibir nan ranum yang tak pernah terjamah itu dengan tangan gemetaran. Ternyata, Senja adalah gadis pertama yang disentuhnya. Ini ciuman pertama sang Pangeran.


Napas Mister X jadi gaduh. Rasa ini terasa asing untuknya, sedikit aneh, tapi ... candu. Senja meremang, gadis itu seolah kesulitan bernapas. Senja tidak sadar jika tubuhnya sedang berada dalam bahaya. Semoga Pangeran lekas sadar dan tidak tejerembab dalam dosa yang lebih besar lagi.


Saat Senja megap-megap, Mister X menghentikannya. Senja mengambil udara banyak-banyak.


"Kak, a-apa yang dilakukan tadi itu tanda bukti kalau kita sudah pacaran?" tanya Senja dengan polosnya.


"Emm, a-apa? I-iya, be-benar," jawab Mister X sambil menutup wajahnya karena malu.


Mister X sadar diri dan ingin segera meminta maaf pada Senja karena telah melakukan perbuatan tak patut itu.


"Kak, a-ayo lakukan lagi," ajak Senja dengan pipi merona.


"A-APA?!" Mister X, TERKEJUT!!


"Ta-tadi itu rasanya a-aneh, Kak. Ta-tapi, a-aku suka," katanya. Mister X mati kutu.


"A-ayo, Kak. Lakukan lagi," desak Senja.


~Flash Back Off~


Mengingat kejadian itu, membuat bibirnya tersenyum. Kenangan bersama Senja, selalu membuatnya bahagia.

__ADS_1


...~Next~...


__ADS_2