PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN

PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN
Ledakan Kecil


__ADS_3

Profesor dan beberapa dokter memasuki ruangan. Senja segera memejamkan matanya rapat-rapat. Ada rasa takut di benaknya. Ia takut jika Profesor mengetahui kebohongannya.


"Buka mata Anda, Nona."


Profesor tidak sabaran. Sebab, ia sendiri yakin jika operasi kali ini akan berhasil. Mau tidak mau, Senjapun membuka matanya. Profesor segera memeriksa dengan mengeceknya menggunakan sensor iris dan rentina. Ia menautkan alis. Hasil analisanya, mata itu menunjukkan perubahan yang membahagiakan.


Namun, saat Profesor menggunakan respon cahaya, mata Senja tidak bisa merespon dengan baik. Tidak ada pergerakan yang berarti seperti mata normal lainnya. Faktanya, Senja menggunakan kekuatan matanya untuk menahan efek cahaya.


Normalnya, pupil mata akan bereaksi terhadap cahaya, yaitu dengan membesar ketika berada di tempat gelap, atau mengecil ketika terkena cahaya. Pada orang yang mengalami kelainan pupil mata, refleks cahaya pada pupil mata tidak akan terjadi. Hal itulah yang saat ini terjadi pada mata Senja. Pupil gadis itu tidak memiliki refleks pada cahaya.


"Bagaimana, Prof?" tanya salah satu dokter yang mendampinginya.


"Gagal, kita gagal," jawabnya. Lalu Profesor membalikan badan dan pergi dari ruangan itu dengan wajah tertunduk. Ini adalah hal terbesar yang ia lakukan. Namun hasilnya, ternyata sangat tidak memuaskan.


Maafkan aku Profesor. Batin Senja.


Ia tahu jika Profesor sangat kecewa. Tapi, Senja tidak ingin keanehan yang terjadi pada matanya itu berdampak pada keselamatan Profesor ataupun membahayakan Profesor dan jajarannya di masa mendatang.


Setelah di ruangan perawatan hanya ada Senja, Anda masuk. Ia membawa buah-buahan untuk Senja. Rencananya, ia akan membawa Senja ke balkon rumah sakit untuk mencari angin segar. Ya, Anda mengira jika gadis itu ingin merasakan desiran angin segar di sore. Sebab, tidak mungkin 'kan Senja ingin melihat pemandangan senja?


Tiba di dalam kamar, Senja sedang melamun. Ia memeluk kakinya dan meletakan kepala di antara lututnya. Ada lelehan air mata yang mengalir dari mata indahnya. Senja, ia sedang memikirkan nasib dirinya yang sulit dipahami.


Hingga saat ini, ia masih bertanya-tanya. Kenapa ia diperlalukan seistimewa itu? Kenapa ia tidak diperbolehkan menemui keluarganya? Dan kenapa, orang yang dicintainya, tidak pernah menemuinya lagi.


Kamu di mana kak Exam?! Apa benar aku seperti ini karena ada campur tangan dari kamu? Kalau ya, kenapa kamu tidak pernah muncul? Kenapa kak Exam terus membiarkanku menunggu dan menunggu?


Seperti itulah ungkapan hati gadis itu. Sungguh, ia sangat ingin bertemu dengan Exam. Dulu, sebelum bertemu dengan Agam Ben Buana, Senja merasa bahagia. Sebab, ia berkeyakinan jika Agam Ben Buana bisa mempertemukannya dengan Exam. Namun, harapannya kandas setelah Agam berkata, "Saya tidak mengenal Exam."


Saat itu, dengan mata berkaca-kaca, Senja memohon.


"Pak Agam, seseorang mengatakan padaku, jika kak Exam menitip pesan untukku. Dalam pesannya, ia mengatakan bahwa aku harus bertemu pak Agam jika ingin mengetahui asal-usulnya. Apa benar Pak Agam tidak mengenal kak Exam? Bukankah Pak Agam adalah sahabat dekatnya?"


"Benar, saya tidak mengenalnya.


Sejak saat itu, harapan Senja untuk bertemu Exam hampir pupus. Namun, pada suatu hari, Senja pernah memergoki percakapan Anda dengan seseorang.

__ADS_1


"Paduka Pangeran, Nona Senja ingin bertemu dengan pria bernama Exam. Apa yang harus saya lakukan?"


"Baik, perintah Pangeran adalah titah."


Siapakah Pangeran yang dimaksud oleh Anda? Hingga detik ini, ia tidak pernah tahu. Lalu di suatu kesempatan, saat ia berada di rumah Agam Ben Buana, Senja juga pernah mendengar percakapan Agam dengan asistennya.


"Saya tidak mengenal Exam, yang saya kenal adalah Mister X."


Hal itu, jelas membuat Senja bingung. Siapakah Exam? Siapakah Mister X? Siapakah Pangeran?


Ya, Senja tidak tahu jika Mister X, Exam, dan Pangeran adalah orang yang sama.


"Mari Nona. Bukankah Nona ingin saya membawa Anda ke balkon?" ajak Anda.


"Ya, An, mari," sahutnya.


Sambil mengulurkan tangan ke arah yang berbeda. Anda meraihnya. Lalu memapah tangan nan halus itu untuk naik ke kursi roda. Kemudian Anda mendorong Senja menuju ke balkon rumah sakit.


...***...


Anda tidak menyadari jika gadis itu tengah menangis. Senja terharu dan nyaris tak percaya dengan apa yang dilhatnya. Ternyata, langit itu begitu luas, dan lembayung senja itu sangatlah indah. Bibirnya gemetar hebat. Ia memuji-Nya. Memuji Sang Pencipta atas keindahan itu, dan mengucap syukur dengan keadaannya saat ini.


"Nona, Anda menangis? Kenapa?" Anda kaget. Ia berlutut untuk mengusap air mata gadis itu.


"Aku menangis karena bahagia," jawab Senja.


"Begitu ya. Kebahagiaan Nona adalah kebahagiaan saya." Anda tersenyum. Hatinya senang dan tenang.


"An."


"Ya, Nona."


"Apa kamu pernah mendengar tentang Mister X?"


"A-apa? Mister X? Tidak Nona, tidak pernah." Anda mendadak gugup, dan ia tidak menyadari jika ekpresi kegugupannya terlihat oleh Senja.

__ADS_1


Jika Anda bisa segugup itu, artinya ... ia tahu tentang Mister X, batin Senja.


Saat Anda menatap ke matahari yang hendak terbenam. Mata unik Senja segera melirik ke saku baju milik Anda dan memidai ponsel wanita itu. Setelah menyipitkan matanya, Senja melihat banyak nomor bermunculan. Lalu ada satu nomor yang muncul secara terus-menerus. Hal itu menunjukkan jika nomor tersebut adalah nomor yang sering dihubungi atau menghubung Anda.


Tiba-tiba, "Aaargh!" teriak Anda.


Wanita itu terjatuh ke lantai sambil memegang dadanya. Senja terkejut. Namun ia tak bisa berbuat banyak. Senja dilema. Ia melihat jika Anda berguling-guling dan berusaha meraih ponsel di sakunya yang terlihat mengeluarkan asap.


Senja memegang dadanya. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Syukurlah, Anda berhasil mengeluarkan ponsel dari sakunya dan segera dilempar ke lantai.


"Ada apa dengan HP-ku?! Kenapa mendadak panas dan mengeluarkan asap?!" pekiknya.


Anda menatap ponselnya sambil menautkan alis. Senja menelan saliva sambil memalingkan wajah. Ia yakin jika kejadian aneh yang terjadi pada Anda pasti ada hubungan dengan matanya.


'DAK.'


Ledakan kecil itu membuat Anda meloncat ke arah Senja untuk melindungi gadis itu. Ia memeluk erat tubuh Senja. Senja kembali menelan salivanya. Ia tidak menyangka jika ledakan itu berasal dari ponsel milik Anda.


"Nona baik-baik saja, 'kan? Nona?" Anda mengguncang bahu Senja yang masih melongo.


"A-apa yang terjadi?" tanya Senja. Tentu saja ia harus berpura-pura tidak melihat apapun.


"Nona tidak perlu tahu. Asalkan Nona baik-baik saja," jawabnya.


Anda tidak memedulikan ponselnya. Segera mendorong Senja untuk menjauhi tempat itu. Senja membisu. Ia merasa bersalah dan ketakutan.


Ini pasti gara-gara mataku.


"Kelak, kamu akan menyadari seberapa penting dan seberapa berbahayanya matamu yang cantik ini."


Lagi, kalimat itu terngiang kembali. Lalu ia sadar jika yang dikatakan wanita di dalam mimpinya itu ada kaitannya dengan kejadian yang baru saja terjadi.


...***...


Di kamar perawatan, Senja kembali terisak-isak. Sampai kapan kebingungan dan ketidakmasukakalan ini mengganggu hidupnya? Entahlah. Ia hanya bisa pasrah sembari berusaha memahami, dan mempelajarinya.

__ADS_1


...~Next~...


__ADS_2