PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN

PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN
Menemukan Inisiator Kelinci Percobaan


__ADS_3

Flash Back


"Bu Lela, Bu ... Ibu ada di mana?" gumam Senja seraya meraba-raba tempat tidurnya.


Maksud hati ingin membangunkan bu Lela lantaran ia tiba-tiba ingin pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah Exam pergi, Senja diurus oleh seorang wanita suruhan Mister X bernama bu Lela.


Entah ini jam berapa, Senja tentu saja tidak mengetahuinya. Yang jelas, ia merasa sudah tidur cukup lama. Deburan ombak terdengar jelas karena rumah yang ia tempati saat ini terletak di pesisir pantai.


Senja ingat benar jika beberapa jam yang lalu ia tidur bersama bu Lela. Namun saat ia terbangun, bu Lela sudah tidak ada di sampingnya. Untungnya, letak kamar mandi berada di dalam kamar. Jadi, Senja tak kesulitan menemukannya.


Setibanya dari kamar mandi, ia kembali memanggil bu Lela.


"Bu Lela, Bu."


Ia kembali meraba tempat tidur dan seluruh sudut kamar, namun tetap tak mendengar sahutan. Senja kebingungan, ini adalah kali pertama bu Lela tak mengindahkan panggilannya.


Karena bu Lela tak jelas rimbanya, Senja keluar dari kamar. Ia memutuskan untuk mencari bu Lela. Saat ia merasakan lututnya menyentuh ujung sofa, Senja menyadari jika dirinya sudah berada di ruang tamu.


"Bu Lela." Memanggil lagi.


Tapi tetap sama, bu Lela tidak menyahut. Senja akhirnya duduk merenung di sofa. Kini, ia tak tahu harus melakukan apa dan berbicara pada siapa.


"Biasanya, kalaupun mau meninggalkanku, bu Lela selalu izin dulu," gumamnya.


Sambil menunggu, Senja terkantuk-kantuk. Hingga akhirnya, gadis itupun kembali tertidur dalam posisi duduk. Kepalanya menengadah dan bersandar pada sandaran sofa. Gadis itu tertidur pulas.


...***...


Lalu, saat ia terjaga di pagi buta, tangannya yang tengah meraba-raba, tak sengaja menyentuh sesuatu yang dingin. Senja tak tahu itu benda apa. Karena penasaran, Senjapun bersimpuh dan meraba benda tersebut.


'Tap.' Tangannya menggenggam benda itu.


Jantung Senja seolah akan melompat dari serambinya. Senja mematung, tangannya gemetar. Senja tahu jika dirinya tengah memegang sebuah kaki yang terasa dingin dan kaku. Ia yakin jika benda yang tadi sempat tersentuh itu adalah benda ini.


Bibir Senja berkomat-kamit melantunkan doa. Walau ia gemetaran dan ketakutan, tangannya lanjut meraba seluruh tubuh pemilik kaki dingin tersebut.


"Bu-Bu Lela? Ke-kenapa Ibu tidur di sini?" tanyanya. Napasnya naik-turun karena panik.


"Bangun Bu." Senja mengguncang bahu bu Lela. Tapi, bu Lela bergeming, seluruh tubuhnya terguncang semua.


"Bu, ja-jangan bercanda, Bu. Jangan membuatku panik. Kumohon bangunlah."


Gadis itu gemetaran. Wajahnya memucat dan bekeringat karena memikirkan hal yang bukan-bukan. Lalu ia memberanikan diri meraba nadi di pergelangan tangan bu Lela. Hasilnya ... sepi. Tak ada denyutan sedikitpun.


"Ti-tidak mungkin, a-aku pasti salah," elaknya.


Lalu kembali memberanikan diri. Kali ini dengan menempelkan telinganya di bagian dada bu Lela. Bola mata Senja mulai berkaca-kaca. Napasnya kian memburu karena teramat panik dan ketakutan.

__ADS_1


"Ti-tidak mungkin. I-ini tidak mungkin! Huwaa, Bu Lelaaa," jeritnya.


Senja meraung-raung sambil memeluk tubuh bu Lela. Ia baru saja yakin sepenuhnya jika bu Lela telah tiada. Saat Senja mendengarkan detak jantung bu Lela, telinga Senja tak mendengar apapun. Senja bahkan melakukan pengecekan berulang-ulang untuk meyakinkan dirinya.


"Huuu, Bu Lelaaa, jangan meninggalkan aku, Bu. Kenapa? Kenapa Engkau selalu mengambil dan memisahkan aku dari orang-orang yang kucintai dan mencintaiku? Huks ...," ratapnya.


Karena tak kuasa membendung duka dan nestapa, tubuh Senjapun ambruk di sisi tubuh bu Lela yang terbujur kaku. Senja pingsan seorang diri. Kini, dua tubuh wanita berbeda usia itu sama-sama tergeletak tanpa ada seorangpun yang mengetahui.


Rumah tersebut letaknya memang terpencil. Dari rumah ini harus menempuh jarak kurang lebih dua kilometer untuk mencapai dusun warga atau tiga kilometer lagi untuk sampai ke jalan raya


Sebenarnya, sekitar 300 meter dari bibir pantai, ada kerumunan nelayan yang baru pulang melaut. Jika saja Senja tak pingsan, ia bisa berjalan ke sana dan meminta tolong pada mereka.


Entah berapa lama Senja pingsan, ia tersadar dari pingsannya ketika ponsel milik bu Lela bedering. Senjapun bangun, lalu ia beranjak mencari asal suara. Senja merangkak seraya berurai air mata. Hatinya hancur lebur berkeping-keping.


"Kumohon, teruslah bedering," harapnya.


Sayang seribu sayang, sebelum Senja berhasil menemukan ponsel itu, dering ponsel telah terhenti. Senja lantas menggusur kakinya menuju pintu keluar. Setelah berhasil membuka pintu, ia berjalan menuju teras dan beteriak sekuat tenaga.


"Tolooong, tolooong." Hingga ia mengusap lehernya karena kerongkongannya terasa sakit.


Karena tidak ada yang merespon, Senjapun berjalan menuju bibir pantai. Kenapa ia ke bibir pantai? Karena hanya daerah bibir pantai inilah yang ia kenali arahnya. Padahal, hari masih gelap, namun gadis itu tak patah semangat. Senja yakin di tepi pantai sana akan ada orang yang bisa menolongnya.


"Tolong, huuu ...." Ia terus meminta tolong sambil menangis. Dunianya yang gelap, kini ... semakin gelap-gulita.


Pikirnya, andai ia bisa melihat, mungkin, ia bisa menolong bu Lela lebih cepat. Namun, hal itu bukan berarti ia tidak bersyukur. Senja tetap bersyukur dengan keadaannya saat itu.


...***...


"Bu Lela ...."


Mengingat kematian bu Lela membuatnya kembali terluka. Lantas teringat pada neneknya yang menjadi korban kebakaran dan meninggal dunia. Lanjut teringat pada kedua orang tuanya yang meninggal dunia saat dirinya masih bayi.


Matanya kemudian menatap pada pintu perawatan yang sedikit terbuka. Di sana, ia melihat Anda sedang berdiri membelakanginya. Senja segera merebahkan diri saat Anda memasuki kamar. Anda alias Nadjiba Alia, mendudukan diri di sisi tempat tidur. Setelah menelepon sang pangeran, kegusarannya sedikit berkurang.


Namun, pada Pangeran ia tidak menjelaskan jika mata gadis itu menyala. Ia hanya mengatakan kalau Senja sering menangis dan murung. Nadjiba berpikir, ia harus mendapatkan bukti lebih banyak lagi, barulah bisa melaporkan keanehan tersebut pada Pangeran Enver. Jika perlu, ia harus mengirimkan bukti berbentuk vidio pada Pangeran Enver.


"Nona, saya tahu Anda pura-pura tidur," duga Nadjiba.


"Ya, aku memang pura-pura tidur."


"Maaf Nona, kalau saya boleh tahu, apa yang membuat Nona Senja bersedih?"


"An ...." Senja menoleh. Gadis itu sedang berpikir, haruskah ia mengatakan kecurigaanya pada Anda? Tapi, ia malu.


Masa ya aku harus mengatakan pada Anda ingin dites keperawanan?


Memikirkannya saja sudah cukup membuat gadis itu merasa malu. Berpikir-berpikir, munculah sebuah ide yang datang secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa Nona lapar?" tanya Nadjiba.


"Tidak, An. Aku tidak lapar. Tapi, tadi saat kamu tidak ada, aku tidak sengaja jatuh di kamar mandi. Kakiku terbuka lebar dan mengenai pinggiran ember. Rasanya sakit sekali, An."


"Apa?! Kenapa Nona baru cerita? Kapan kejadiannya?! Kira-kira berapa jam atau berapa menit yang lalu, Nona?!" Nadjiba teramat panik. Ia segera memeriksa kaki Senja. Senja mengulum senyum. Ia tidak mengira jika Anda akan sepanik itu.


"An ... uhh .... Sebenarnya, aku sakit di bagian ini. Sambil memegangnya.


"Apa?! Benarkah?! Yuk, kita cepat periksa, Nona! Nona tunggu di sini. Saya akan memanggil dokter wanita untuk memeriksa Nona di bagian itu."


Nadjiba ternyata berpikir ke arah sana. Ia khawatir jatuhnya Senja membuat gadis itu benar-benar terluka. Pikirnya, apa jadinya kalau sampai Pangeran tahu? Ia bisa dipecat dari pekerjaan ini. Senja hanya bisa melongo melihat Nadjiba yang berlari.


"Satu masalah akan terkuak," gumamnya.


Ia harus tahu apa yang terjadi pada inti tubuhnya. Kenapa bisa kasa medis terletak di sana? Sebentar lagi, ia akan segera menemukan jawabannya.


Tak lama kemudian, dokter yang dimaksud Nadjibapun tiba. Dia seorang dokter perempuan. Datang tergesa bersama Nadjiba. Senja dengan mata yang pura-pura buta segera mengatur napasnya. Ia tiba-tiba khawatir dengan apa yang dilakukan dokter terhadapnya. Terlebih, khawatir dengan hasilnya. Bagaimana kalau dokter itu mengatakan se la put da ra nya rusak? Atau lebih parahnya, ia takut dokter mengatakan jika dirinya sudah tidak perawan lagi.


Tidaaak, teriak Senja dalam batinnya.


"Segera lakukan pemeriksaan, Dok. Saya akan menunggu di luar. Lakukan pemeriksaan seperti yang saya jelaskan," titah Nadjiba.


"Baik, Ibu tenang saja." Dokter tersebut mengangguk sambil mempersiapkan diri.


Setelah Nadjiba pergi, dokter kemudian meminta persetujuan pada Senja untuk melakukan pemeriksaan.


"Dok, a-aku malu." Gadis itu memegang pipinya karena teramat malu.


"Tidak perlu malu, Nona. Saya dokter, saya bertanggung jawab terhadap profesi saya," jelasnya. Senja kemudian mencuri pandang pada dokter tersebut. Dokter tersebut terlihat baik dan ramah. Akhirnya, iapun memberanikan diri mengikuti instruksi dokter. Saat lampu periksa dinyalakan, pipi gadis itu memerah. Walaupun dia dokter wanita. Ia tetap saja malu. Namun, demi masa depannya, ia harus melakukan pemeriksaan memalukan ini.


Dokter lantas mengamati dengan seksama sambil menautkan alisnya. Jantung Senja berdegup. Tangannya bahkan gemetaran dan dingin karena gugup dan ketakutan dengan hasilnya. Lalu dokter menyelesaikan tugasnya. Saat ini dokter tersebut sedang mencuci tangan.


"Ba-bagaimana, Dok? A-apa ada yang salah?" Senja bertanya dengan gelagapan.


"Hmm, sempurna," jawabnya sambil tersenyum.


"Maksud Dokter?"


"Mahkota milik Nona baik-baik saja, tidak ada masalah sedikitpun."


"A-aku masih perawan, 'kan?" Akhirnya, pertanyaan itu terucap jua karena terdorong oleh rasa penasaran yang menggebu.


"Hahaha, saya tidak tahu alasan Nona kenapa bertanya demikian. Ya, Nona masih virgin, dan bentuk mahkota Nona sangat indah dan cantik. Maka dari itu saya mengatakan sempurna," jelasnya.


"Hufth."


Senja menghela napas. Kecurigaannya ternyata salah. Tapi, kenapa ada kasa medis di bagian itu? Ya sudahlah, Ia tidak ingin memikirkannya lagi. Yang terpenting adalah, ia telah menemukan jawabannya. Langkah selanjutnya adalah ... menemukan dalang atau inisiator yang telah menjadikannya sebagai kelinci percobaan.

__ADS_1


...~Next~...


__ADS_2