
Lalu muncul sosok misterius itu. Ya benar, suara perempuan itu berasal dari teknologi kamuflase suara yang dimiliki oleh Mister X.
"Ibu di mana? Sekarang aku ingat. Ibu yang menolongku membuka kotak makanan, 'kan?" Senja bahagia karena bisa dipertemukan kembali dengan wanita baik hati itu.
"Terima kasih sudah menolongku. Ibu baik sekali. Ibu adalah malaikatku. Aku tidak tahu nasibku akan seperti apa andai saja Ibu tidak datang," ucap Senja. Ia berusaha berjalan menuju asal suara wanita itu.
"Kita harus cepat keluar dari tempat ini. Ini tongkatnya."
Mister X segera memapah dan menggiring Senja ke sebuah jalan setapak yang terletak di depan bangunan tua itu. Jalanan itu menuju ke jalan utama yang merupakan jalan raya.
"Bagaimana Ibu bisa menolongku?" Senja penasaran.
"Aku melihat Nona saat dibawa oleh para penjahat itu. Maaf karena aku sedikit terlambat, dalihnya sambil memalingkan wajah dari menatap lekukan tubuh gadis itu.
Ia belum mengenal gadis itu lebih jauh lagi, namun mata indah dan paras Senja, telah berhasil mendesirkan jiwanya yang telah lama membeku. Ada harapan baru untuk menjadi pria normal seperti laki-laki pada umumnya setelah melihat gadis ini.
Ada alasan kuat yang menjadi salah satu penyebab ia tertarik dengan gadis ini. Yaitu, di hadapan gadis ini, ia merasa nyaman karena tidak perlu repot-repot menyembunyikan identitasnya.
"Hati-hati."
Mister X menahan tongkat Senja. Hampir saja tongkat gadis itu memasuki lubang kecil di sisi jalan.
"Terima kasih," katanya.
Tibalah mereka di sisi jalan raya.
"Kita akan menunggu mobil bus, aku akan mengantar Nona pulang," katanya.
"Terima kasih, Bu. Aku tidak bisa membayangkan kalau Ibu tidak menolongku. Oiya, bagaimana nasib penjahat-jahat itu?" tanyanya.
"Mereka baik-baik saja, Nona."
"Mungkin, mereka merasa kasihan padaku. Jadi, aku dibebaskan."
Mister X tersnyum.
"Ya, bisa jadi seperti itu," katanya. Sesekali mencuri pandang.
Kamu seindah Senja. Sesuai dengan namamu. Pujinya dalam hati.
Lalu mobil bus yang dinanti melintas. Mister X menyetopnya. Saat gadis itu hendak naik, ia terpaksa meraih tangannya untuk membantunya memasuki bus agar tidak tersandung.
Ada yang berdegup saat telapak tangan keduanya bersentuhan. Senja mematung sejenak. Entah mengapa, ia merasa tangan ibu-ibu yang menolongnya terasa begitu lebar. Tapi jelas sekali jika wanita ini bukan pekerja keras. Sebab, telapak tangannya terasa lembut. Mungkin seorang pekerja kantoran, pikirnya.
Mister X menuntun Senja sampai ke kursi kosong. Awalnya, ia tidak ingin duduk di samping gadis itu, tapi jika duduk berjauhan, gadis itu pasti akan merasa heran. Mobil itu kebetulan kosong. Jarak Mister X berjauhan dari penumpang lain. Artinya, Mister X aman dari orang-orang yang mungkin mencurigainya karena bersuara perempuan tapi bertubuh laki-laki.
"Oiya, kita belum berkenalan."
Gadis itu mengulurkan tangan. Dengan sedikit ragu, tangan Mister X meraihnya. Merekapun bersalaman.
"Namaku Zora," katanya. Sambil tersenyum dan menatap hampa.
Aku ingin memanggilmu Senja. Batin Mister X.
"Nama Ibu siapa?"
Gadis itu bertanya karena pemilik tangan lebar namun lembut ini tidak menjawab Pertanyaannya.
"Aku ---."
Bingung, Mister X berpikir keras. Menyebutkan nama atau identitas adalah hal terlarang.
"Aku Miss, ya panggil saja aku Miss. Cara menulisnya double S."
"Miss? Miss apa?" tanyanya lagi.
Miss you, batin Mister X.
"Missalnya, hahaha."
"Oh, aku kira Missteri," canda gadis itu.
Keduanya tergelak.
"Karena Ibu tidak menyebut nama panjang Ibu, berarti aku juga tidak akan memberitahu nama panjangku," katanya.
Quitta Senja Izora, aku sudah tahu nama panjangmu.
"Kalau aku mau tahu, bagaimana?" tanya Mister X.
"Mau tahu nama panjangku?"
__ADS_1
"Ya," Mister X menganggkuk.
"Nama panjangku Zoraaaaa," jawabnya.
"Hahaha."
Keduanya kembali tergelak. Dunia Mister X cerah seketika. Padahal, cuaca di luar sedang mendung.
"Oiya Nona, ini tas Anda." Ia mengalungkas tas milik gadis itu.
"Ya ampun, senangnya, terima kasih, Bu." Ia lantas meraba, dan meraih tangan Mister X. Lalu diciumnya, seperti cium tangannya seorang adik pada kakaknya.
Mister X terhenyak, bibir lembut gadis ini sempat melintas di punggung tangannya. Mister X merinding. Ia tidak mungkin terus berpura-pura. Cepat atau lambat, ia harus menemui gadis ini sebagai seorang pria sejati.
Perjalanan yang ditempuh lumayan jauh, langit yang mendung mulai menumpahkan airnya. Hujan mulai melebat, mobil bus melaju lambat. Cuaca yang semakin dingin. Ditambah suhu di dalam mobil yang terpengaruhi AC, membuat gadis itu memeluk tubuhnya. Mister X segera membuka hoodie yang menjadi pakaian ciri khasnya untuk menutupi tubuh Senja yang mulai menggigil.
"Jaket Ibu seperti jaket pria, terima kasih Bu," ucapnya.
"Sama-sama."
Kini, tampaklah sudah lengan kokoh milik si pria misterius itu. Dia menggunakan kaus panjang berwarna hitam. Saat ia melipat kedua tangannya di dada, otot biceps dan tricepsnya tercetak dengan sempurna. Indah sekali, Mister X pasti rajin mengolah tubuhnya.
"Ibu tidak kedinginan?" tanya Senja.
"Tidak, Nona. Badanku besar, cadangan lemaknya lebih banyak daripada Anda, hehehe."
Lagi, Mister X tertawa lepas. Untung saja data manipulasi suaranya selalu dalam keadaan on. Jika tidak, Senja bisa ketakutan.
Satu jam berlalu, senja meredup menjadi malam, dan Senja yang cantik meredupkan matanya. Netra gelapnya menyelami kegelapan lebih dalam lagi. Ya, Senja tertidur. Dan gadis itu tidak menyadari jika kepalanya telah bersandar nyaman di bahu Mister X.
Mister X mematung. Baru pertama kali ini ada lawan jenis yang bersandar di pundaknya. Bahkan kekasihnya yang telah tiadapun tidak pernah besandar seperti ini. Mister X menghela napas. Posisi tubuhnya tegap siaga. Ia tidak ingin mengganggu sang Senja dari tidur lelapnya.
Flash back off
______________
...***...
Saat Ini di Negara Kepulauan
"Apa gadis itu sudah sadar?" Seorang pria dengan seragam dokter bertanya pada asistennya.
"Belum, Prof."
"Apa yang harus aku lakukan, Prof?"
"Cepat kamu hubungi dokter Fatimah! Sepertinya, kita harus membawa gadis itu ke Laboro (Laboratorium Robotik)."
"Ke-kenapa menghubungi dokter Fatimah, Prof? Bukankah Laboro itu milik Agam Ben Buana?"
"Jangan membantah! Cepat lakukan saja! Jika sudah terhubung, aku yang akan bicara!" sentaknya.
"Ba-baik, Prof."
Pria itu bergegas cepat. Dalam hatinya menyimpan rasa kepenasaranan yang menggunung. Siapakah gerangan gadis itu? Apa hubungannya dengan Pangeran? Bukankah ia hanya gadis buta sebatang kara yang baru saja mendapatkan donor mata.
Beruntung, dokter Fatimah tidak ada jadwal operasi. Jadi, panggilannya segera diterima.
"Ya," kata dokter Fatimah.
"Dok, saya asistennya Prof Alvin, Prof Alvin mau bicara dengan Anda."
"Boleh," jawab dokter Fatimah singkat.
"Prof, ini dokter Fatimah." Ia menyodorkan ponselnya.
"Kamu boleh pergi!" usir Profesor.
Sepertinya, ia dan dokter Fatimah akan membicarakan hal yang teramat penting. Setelah asistennya pergi, Profesor Alvin bergegas ke ruang kerjanya. Mengunci pintu rapat-rapat, dan berbicara dengan suara pelan. Pembicaraan itu berlangsung cukup lama. Hingga pada akhirnya, Profesor Alvin berkata ....
"Baik, aku yang akan bertanggung jawab. Jika rencana kita gagal, aku tidak akan membawa-bawa nama dokter," tegasnya.
Lalu mengakhiri panggilan dan mendudukkan dirinya di kursi. Ia memasygul kuat rambut kepalanya yang sebagian besarnya telah beruban. Sesekali, ia menengadah ke langit-langit. Seolah tengah meminta jawaban dari Sang Pencipta.
Kemudian, ia menelepon banyak nomor. Berbicara dengan yang diteleponnya dengan berbagai bahasa. Setelah menyelesaikan panggilannya, ia tetap saja gelisah. Lalu beranjak ke ruang ICU di mana gadis itu berada. Ia menatap gadis itu sembari memerhatikan tampilan tanda-tanda vital di layar monitor.
Saat di ruangan itu hanya ada dirinya seorang, ia bergumam ....
"Aku terpaksa melakukannya, maaf." Lalu membalikan badan dan pergi.
...***...
__ADS_1
'Tiiit.'
Malam itu, salah satu monitor di ICU tiba-tiba menyala kencang. Bunyi itu menunjukkan tanda emergency. Tim medis panik. Segera berlari ke arah suara.
Dan mereka terperangah dengan apa yang dilihat. Ini kejadian luar biasa yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Semua yang melihat bahkan berpikir jika yang dilihat saat ini bukanlah kenyataan.
"Cepat periksa CCTV!" teriak seorang dokter jaga.
"Ini tidak mungkin!" ungkap yang lainnya.
"Ada apa?" tanya seseorang yang baru saja datang.
"A-ada pasien yang menghilang," terang seorang suster dengan tubuh dan tangan gemetaran.
"A-apa?! Menghilang?!"
Ia jelas kaget. Kata menghilang sangat tidak masuk akal. Pikirnya, pasien itu biasanya 'kabur.' Bukan 'menghilang.' Tapi, pasien kabur hanya terjadi di ruang perawatan dan poliklinik. Ia baru mendengar istilah pasien menghilang dari ruang ICU.
Panik!
Kacau!
Tegang!
Kata itulah yang bisa menggambarkan kondisi saat ini di ruang ICU tersebut. Mereka benar-benar bingung bukan kepalang. Sebab, CCTV di ruang instensif mati total. Dan tim keamanan yakin jika CCTV di ruangan itu tidak ada yang bermasalah.
"Pasien atas nama Nona Senja hilang dari ruang ICU."
Pernyataan itu menyebar dari mulut ke mulut. Hingga akhirnya menjadi perbincangan di seluruh unit rumah sakit. Namun, Direktur rumah sakit meminta agar kejadian tak biasa ini dirahasiakan dari publik.
Sungguh, tim manajemen, bagian pelayanan, dan bidang keperawatan rumah sakit, saat ini benar-benar tengah dilanda kebingungan yang teramat sangat luar biasa. Entah harus mulai dari mana mereka menjelaskan kejadian ini jika sampai publik tahu dan polisi melakukan penyelidikan.
"Aaarggh." Direktur rumah sakit nyaris putus asa.
"Apa Profesor sudah tahu?" tanyanya pada stafnya.
"Profesor sedang libur dinas, Pak. Saya ke sini justru ingin meminta bantuan Bapak agar segera melaporkan kasus ini pada Prof Alvin. Usulan ini saya dapat berdasarkan hasil rapat dengan bagian pelayanan dan keperawatan."
"Baik, saya akan menelepon Prof Alvin secepatnya."
...***...
Laboro (Laboratorium Robotik)
Bangunan ini berada di ruang bawah tanah. Memiliki luas kurang-lebih 20.000 meter persegi. Sangat megah, unik, canggih, dan rumit. Desainnya didominasi oleh kaca. Terdiri dari banyak pintu dan tombol-tombol. Aktivitas di dalamnya sibuk, namum 75 persen kegiatan di Laboro, dilakukan oleh robot.
Pun dengan malam ini, beberapa jam yang lalu, ke Laboro, datang sekelompok orang menggunakan helikopter. Helikopter itu, bahkan masih terparkir di hilipad milik Laboro. Mereka masuk ke Laboro melalui jalur rahasia. Yaitu, sebuah pintu yang tak kasat mata, dan hanya bisa dimasuki oleh orang-orang atau robot tertentu saja.
Mari masuk ke sana, dan siap-siap terkejut dengan keadaan di dalamnya. Begitu memasuki pintu pertama, yang terdengar adalah suara keyboard. Lurus ke depan, pengunjung akan menemukan ratusan laser dengan warna yang berbeda. Konon, ada laser tak kasat mata yang sangat berbahaya. Bisa memutilasi yang melewatinya hanya dengan satu kali kejutan.
Laser pembunuh itu hanya diaktifkan saat Laboro dalam keadaan terancam. Efek laser pada umumnya, hanya bersifat kejut jantung sementara. Ya, memang tidak mematikan, namun ... menyakitkan.
"Selamat datang di Laboro."
"Selamat datang di Laboro."
"Selamat datang di Laboro."
Terdengar suara robot yang menyambut dengan menggunakan berbagai bahasa. Siapakah yang datang? Sebab, tidak ada sosok terpantau berada di sekitar sini. Namun, di layar utama monitor tertera sebuah sandi rahasia yang artinya. "Selamat Datang Sang Pengintai." Pengintai? Siapakah dia? Entahlah.
Mari lanjut ke sana. Ke ruangan yang terpantau paling sibuk. Robot berbagai ukuran lalu-lalang di sana. Ada hal unik, dua buah robot kecil dengan bentuk lucu sedang bertengkar karena mereka selalu bertabrakan.
"Kamu ke kiri," kata robot di hadapannya. Tentu saja dengan nada bicara khas robot. Datar, tak berintonasi dan sember.
"Kamu ke kanan," jawab robot yang ada di hadapannya. Namun saat mereka begerak dan maju, keduanya langsung beradu dan terjatuh.
Begitu seterusnya, berulang-ulang dan tidak selesai. Hingga, robot penjaga geleng-geleng kepala dengan gerakan kaku dan berbunyi.
"Oh, my God. Oh my God. Oh, my God."
Mengerikan! Terdengar juga suara teriakan dari salah satu ruangan. Mari ke sana. Ternyata, suara itu berasalah dari teriakan robot-robot yang sedang diperbaiki. Siapa yang memperbaikinya? Tentu saja manusia. Namun, istilah manusia di Laboro disebut dengan human device.
Human device di Laboro bekerja dengan busana khasnya, berwarna putih dan sangat tertutup. Jadi, wajah mereka sulit dikenali, sebab yang tampak hanya bagian mata.
Di Laboro juga ada ruangan yang disebut sebagai Science and Education Class.
"Laboro memanfaatkan pengaruh sains dan teknologi terhadap masyarakat dan para individual. Laboro dikembangkan untuk memadukan teknologi dan manusia dalam kehidupan sehari-hari dan di bidang kesehatan," jelas seorang Profesor pada sekumpulan pelajar yang berada di ruangan tersebut.
Pelajar yang bisa belajar di Laboro pastilah bukan sembarang orang. Sebab, Laboro melakukan seleksi super ketat yang pesertanya adalah pelajar-pelajar jenius dari berbagai belahan dunia.
Mari ke bagian sana. Yaitu, sebuah bangunan besar yang dinamai sebagai Laboro Clinic Operation and Pilot Project. Namun, saat ingin memasukinya, pintu berbentuk monitor yang terletak di pintu masuk menuliskan sebuah keterangan yang berbunyi ....
__ADS_1
"A covert operation is in progress. Human device and robot No entry (sedang berlangsung operasi rahasia. Manusia dan robot dilarang masuk)."
...~Next~...