
Setelah tahu mahkotanya baik-baik saja, Senjapun merasa lega. Ia kemudian memanggil Anda agar segera masuk ke kamar untuk menemaninya.
"An, kapan kita pulang?" Belum juga Nadjiba duduk, ia sudah menanyakan kepulangannya.
"Besok, Nona. Sabar ya."
"Aku mau pulang hari ini, An. Bisakah kamu meminta izin pada dokter agar aku bisa pulang lebih cepat?" pintanya.
"Apa Nona sangat ingin pulang?"
"Ya, betul."
"Baiklah, saya akan bertanya pada dokter yang menangani Nona."
Nadjiba beranjak. Sebenarnya, ia juga sudah bosan berada di rumah sakit. Ia berharap semoga permintaan nonanya dipertimbangkan oleh dokter.
"Saya harus konfirmasi pada Prof Alvin dulu," jawab dokter penanggung jawab setelah Nadjiba menyampaikan permintaan Senja.
"Baik, jangan lama-lama ya, Dok." Nadjibapun kembali ke kamar perawatan.
Sementara itu, dokter penanggung jawab segera menelepon Prof Alvin.
"Aku harus mengkonfimasi dulu pada seseorang."
Seperti itulah jawaban yang diberikan Profesor Alvin. Dokter penanggung jawab tidak bisa berbuat banyak. Ini memang pasien spesial. Ia tidak bisa mengambil keputusan seorang diri.
Sementara itu, di tempat lain, Profesor Alvin bergegas untuk melaporkan permintaan dokter penanggung jawab pada seseorang. Siapakah seseorang itu? Sebab, sekelas Profesor Alvin saja bisa gugup saat hendak meneleponnya.
"Salam hormat saya pada Pangeran Enver," ucapnya. Memulai pembicaraan dengan suara pelan yang nyaris tidak terdengar.
"Ada apa? Katakan, apa ada sesuatu yang terjadi pada gadisku?" Suara Sang Pangeran. Terdengar begitu gagah dan berwibawa.
"Mohon maaf Pangeran, gadis itu ingin segera pulang dari rumah sakit, bagaimana?"
"Pulang? Apa kondisinya sudah pulih?"
"Keadaan umumnya baik, Pangeran."
"Apa yang dikatakan dokter penanggung jawab? Kapan seharusnya gadisku pulang?"
"Menurut dokter penanggung jawab, Nona Senja harusnya pulang besok sore."
"Emm, baiklah, kalau memang dokter penanggung jawabnya merencanakan untuknya pulang besok, aku juga akan menyetujuinya pulang besok. Intinya, gadisku tidak boleh pulang hari ini."
"Baik, perintahmu adalah titah. Saya akan melakukan sesuai perintah Pangeran. Saya mohon izin untuk mengakhiri panggilan. Sampaikan salam saya untuk Paduka Raja dan Permaisuri."
Profesor Alvin akhirnya bisa bernapas lega. Ia menghela napas sambil mengusap dadanya saat panggilan tersebut berakhir. Lantas menghubungi dokter penanggung jawab untuk memberikan keputusan.
...***...
"Kenapa aku tidak boleh pulang? An, aku sudah bosan di rawat di ruangan ini. Lihat, An. Aku baik-baik saja," protes Senja saat ia dikabari jika dirinya tidak diizinkan pulang hari ini.
"Sabar, Nona."
__ADS_1
Hanya kalimat itu yang ia bisa katakan pada Senja. Senjapun merajuk. Ia cemberut dan mengurung diri. Ia bahkan menolak saat Nadjiba hendak menyuapinya.
"Nona yang cantik jelita, makan ya," bujuknya.
"Tidak mau!" sentaknya.
Senja tetap bersembunyi di balik selimut. Hal ini membuat Nadjiba panik. Haruskah ia melapor masalah ini pada Pangeran Enver? Bingung. Nadjiba juga belum melaporkan keanehan yang ia temukan pada mata gadis itu.
"An," panggil Senja. Ia tahu jika pengasuhnya itu sedang melamun.
"Ya, Nona. Apa Anda mau makan sesuatu?"
"Tidak, aku tidak mau apapun, aku hanya ingin pulang."
Karena takut gadis itu sakit akibat tidak mau makan, Nadjiba akhirnya memberanikan diri menelepon Pangeran Enver. Ia beranjak seraya menundukkan dirinya. Lalu menutup pintu dengan perlahan. Senja mengintip dari balik selimut. Tiba-tiba muncul rasa kepenasaranan di benak Senja.
Siapakah sosok yang selama ini sering ditelepon oleh Anda? Sebelum bisa melihat, ia tidak mengetahui fakta itu, namun setelah penglihatannya berfungsi, ia sering memergoki jika Anda sering menelepon seseorang sambil mengawasinya.
...***...
"Begitu Pangeran, apa yang harus saya lalukan?" tanya Nadjiba. Wanita itu sedang melakukan panggilan di lorong rumah sakit.
"Tidak, aku tidak bisa mengizinkannya pulang."
"Maaf, tapi Nona Senja tidak mau makan."
"Sudah kamu bujuk?"
"Baiklah, kamu lapor lagi sama dokter penanggung jawabnya agar gadisku diperbolehkan pulang. Syaratnya, dokter itu harus mau mendampinginya sampai di rumah. Kamu harus memastikan ia tidak kelaparan. Kalau sampai ia sakit, kamu akan kuhukum."
"Baik Pangeran, perintah Anda adalah titah." Panggilan berakhir.
...***...
Kabar diperbolehkan pulang yang tiba-tiba, membuat Senja terkejut sekaligus bahagia. Andai ia tidak pura-pura buta, ia pasti sudah memeluk Nadjiba untuk merayakan kebahagiannya.
Kabar itu membuatnya tersenyum lebar. Iapun menjadi lahap saat disuapi oleh Nadjiba. Nadjibapun bahagia. Ia menyuapi Senja sambil tersenyum. Saat Nadjiba lengah, Senja menatap wajah Nadjiba.
Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu baik sekali? Senyummu begitu tulus saat melihatku mengunyah dengan lahapnya. Batin Senja.
Di satu sisi, ia menyadari jika Anda tulus menyayanginya. Namun di sisi lain, ia juga menemukan fakta bahwa Anda sering membohonginya. Anda sering mengatakan akan pergi, namun ternyata, Anda malah berdiri berlama-lama untuk mengawasinya di sudut kamar.
Seusai administrasi perawatan diurus oleh seseorang, Nadjiba membantu Senja untuk menaiki kursi roda.
"Aku bisa jalan, An. Kamu hanya perlu memapahku." Ia menolak duduk di kursi roda.
"Tidak, Nona. Anda harus naik kursi roda. Jangan menolak, tegas Nadjiba.
"Hmm, baiklah-baiklah." Gadis itu akhirnya patuh.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Senja menahan diri agar ia tidak terkejut dengan apa yang ia lihat untuk pertama kalinya. Karena takut kebohongannya ketahuan, Senja memanipulasinya dengan cara memejamkan mata. Padahal, ia sangat ingin melihat seperti apa lingkungan rumah sakit? Seperti apa selasar rumah sakit?
"Nona, pelan-pelan."
__ADS_1
Saat ini, Senja tengah dipapah menaiki sebuah mobil yang sangat mewah. Sayangnya, Senja tidak tahu jika yang dinaikinya saat ini adalah mobil mewah yang sangat langka.
Ingin rasanya ia melihat keluar dari balik kaca mobil, namun Senja khawatir akan beteriak saking terpesonanya dan tentu saja akan membuat Anda curiga. Untuk sementara waktu, gadis itu hanya bisa menahan diri dan bersabar. Ia bertekad akan mengatakan rahasianya pada orang yang ia percayai. Apakah Anda bisa ia percaya? Jujur, ia masih ragu pada Anda.
...***...
Alangkah terkejutnya Senja saat ia melihat rumah yang selama ini ia tinggali. Ia berusaha menyembunyikan keterkejutan itu dengan menggigit bibirnya kuat-kuat.
Ternyata, selama ini, ia tinggal di rumah yang sangat megah dan mewah. Tepatnya berada di kawasan asri pusat kota. Kawasan ini merupakan satu-satunya kawasan elit yang masih hijau dan rimbun dengan pepohonan. Unitnyapun sangat terbatas. Tentu saja hanya diperuntukkan bagi para pemilik dompet tebal.
"Hati-hati, Nona."
Nadjiba kembali memapahnya, dan wanita itu kebingungan karena Senja malah melamun.
Bukankah Nona ingin pulang? Harusnya Nona bahagia, 'kan? Tapi, kenapa Nona malah melamun? Seperti itulah kata hati Nadjiba saat ini.
"Ba-baik, aku ingin segera ke kamarku," sahut Senja dengan suara pelan.
Saat melewati tengah rumah, Senja mematung. Ia merasakan matanya tiba-tiba hangat. Ada apa gerangan? Senja panik. Dengan gerakan cepat bola matanya mengitar. Seketika itu, ia terpuruk ke lantai.
"Nona!" teriak Nadjiba.
Ia merangkul bahu gadis itu. Senja memejamkan mata. Tangannya mengerat pada rok yang ia gunakan. Di rumah ini ternyata banyak sekali perangkat elektronik yang membuat matanya bereaksi. Komputer di pojok sana, CCTV, televisi, remot, AC, dan robot pembersih, benda-benda itu seolah mengajak matanya untuk berkomunikasi.
"To-tolong, ce-cepat bawa aku ke kamarku, mataku sakit," pintanya pada Nadjiba.
"Baik, Nona. Dokter! Cepat kemari! Mata Nona Senja ada masalah!" teriak Nadjiba pada dokter pendamping yang saat ini sedang mengobrol dengan penjaga rumah ini. Merekapun berlari dan membantu Nadjiba membawa Senja ke kamar pribadinya.
Sementara Senja, ia jadi phobia membuka mata. Gadis itu terus memejamkan matanya karena ketakutan. Ia khawatir jika di kamar ini ada benda elektronik yang akan membuat matanya bereaksi.
Karena wajah Senja terus menunjukkan kepanikan, dokter pendamping akhirnya memutuskan untuk memberikan obat penenang pada Senja. Dua menit kemudian, gadis itupun terlelap dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya.
Lalu, sekitar pukul sebelas malam, Senja terbangun karena mendengar dering ponsel. Ia memberanikan diri membuka mata perlahan-lahan.
Segera menutup bibirnya karena terkejut dengan kondisi kamar ini. Kamarnya ternyata sangat megah. Ia terbaring di sebuah ranjang super besar yang teramat empuk. Kamar ini di kelilingi oleh etalase yang kacanya adalah cermin. Namun, yang paling membuatnya terkejut adalah, saat ia bisa melihat pantulan dirinya pada cermin.
Tangan gadis itu gemetar. Ini adalah kali pertamanya ia melihat pantulan sosoknya sendiri. Matanya langsung berurai dengan air mata. Benarkah gadis di cermin itu adalah dirinya? Saat ia memegang wajahnya, sosok di cermin itupun melakukan gerakan yang sama dengannya.
"A-apakah itu aku?" lirihnya.
Ia bertemu pandang dengan dirinya sendiri. Di sana, ada seorang gadis dengan rambut panjang berwarna hitam legam. Kulitnya kuning langsat, bersih, dan mulus. Bibirnya mungil dan memerah alami. Namun, saat Senja menatap bola matanya, ia terhenyak. Sebab, matanya tiba-tiba mengkilat dan hal itu membuatnya takut.
Karena ketakutan itu, tanpa sadar, ia berjalan terhuyung mendekati ponsel milik Nadjiba yang kembali berdering. Entah itu panggilan dari siapa, Senja tidak peduli. Lagi pula, gadis itu belum bisa membaca huruf latin.
"Halo, help me," ucap Senja, dengan tangan yang masih gemetar.
"Halo, a-aku takut, huuu ...." Menangis. Namun, tidak ada sahutan dari sana.
____
Siapakah yang melakukan panggilan pada Nadjiba? Lalu, kenapa Nadjiba meninggalkan ponselnya di kamar Senja?
...~Next~...
__ADS_1