
Ruang ICU
Seluruh staf medis melongo tak percaya. Bahkan, ada yang pingsan dan belum sadarkan diri. Apa yang mereka lihat bukanlah halusinasi. Tadi, mereka sudah melakukan aksi saling cubit-mencubit untuk memastikan jika kejadian hari ini adalah kenyataan.
Pasien yang hilang itu benar-benar telah kembali. Kapan pasien itu kembali? Bagaimana caranya ia kembali? Lalu, apa yang telah terjadi pada pasien tersebut selama ia menghilang? Siapa pelakunya? Semua pertanyaan itu berkecamuk di hati mereka.
"Ini pasti ulah makhluk halus," gumam seorang suster beberapa detik sebelum ia beteriak-teriak layaknya orang yang tengah kesurupan.
Suasana di ruang ICU-pun bertambah tegang gara-gara suster tersebut.
Sementara itu, pasien yang beberapa hari ini menjadi trending topik, ternyata masih mengalami efek sedatif akibat berbagai prosedur medis yang dilewatinya.
"Kalian siapa?"
Seorang gadis bertanya pada dua orang laki-laki dan perempuan yang ada di hadapannya.
"Kamu sangat cantik," jawab yang berjenis kelamin perempuan. Ia mengusap rambut gadis itu seraya tersnyum.
"Kalian siapa?"
Gadis itu bertanya lagi. Ia begitu gugup karena penampilan kedua orang tersebut sangat menyilaukan mata dan membuatnya terkesan. Ia bahkan merasa jika baju yang digunakan mereka adalah baju terbaik yang pernah dilihatnya.
"Kami merindukanmu," ucap yang berjenis kelamin pria. Ia memegang tangan gadis itu dan menatapnya dalam-dalam.
"Kalian siapa? Tolong jawab pertanyaanku?"
Mata gadis itu mengitari tempat yang terasa asing baginya. Di tempat ini terasa sejuk, angin bertiup sepoi-sepoi, lalu sejauh mata memandang terhampar rumput yang menghijau dan bunga-bunga cantik yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Kami adalah orang yang akan selalu menyayangimu sampai kapanpun. Walaupun kami tidak ada di sisimu, tapi ... kami selalu mencintaimu." Wanita itu lantas memeluknya.
"Tunggu, a-apa aku sudah mati? Ma-mataku? Ke-kenapa aku bisa melihat?"
Gadis itu menangis tersedu. Ia mengerjapkan matanya berulang kali. Ia yakin jika yang dialaminya saat ini adalah mimpi. Sebab, hanya di dalam mimpi ia bisa melihat.
"Sekarang, kamu sudah bisa melihat dunia. Mari sayang, akan kami tunjukkan bagaiamana indahnya alam ini."
Keduanya lantas menuntun gadis itu. Mereka berjalan bersama menuju tempat yang tempak terang-benderang.
"Yang berwarna-warni ini namanya bunga. Yang terhampar hijau itu namanya rumput, yang di atas sana adalah langit. Yang putih dan melayang itu namanya awan," jelas wanita cantik tersebut.
Gadis itu melongo kebingungan, dan bibir indahnya tampak berkamit-kamit memuji ciptaan-Nya. Lantas berdecak kagum dengan lelehan air mata yang terus membasahi pipinya.
__ADS_1
"Masih banyak keindahan dunia yang belum kamu lihat. Tapi sayang, walaupun indah, dunia itu hanyalah persinggahan sementara. Kamu jangan terlena dengan keindahan dunia ya, kamu harus tetap menjaga jati diri kamu sebagai khalifah di muka bumi," tutur si pria. Dia dan wanita itu sangat serasi, tampan rupawan.
"Ya sayang, karena manusia memiliki keunggulan dari makhluk lainnya. Kenapa disebut sebagai khalifah di muka bumi, karena manusia adalah wakil atau pemimpin di muka bumi. Tentunya, tugas ini sangat berat. Sebab, itu berarti, setiap manusia harus memiliki kemampuan mengelola dan menjaga alam semesta," tambahnya.
"Gunakan penglihatanmu untuk kebaikan ya sayang. Tolong, jangan menggunakan matamu ini untuk menyakiti orang lain. Kelak, kamu akan menyadari seberapa penting dan seberapa berbahayanya matamu yang cantik ini," ucap wanita itu. Ia mengusap kelopak mata gadis itu dengan lembut dan hati-hati
"Berbahaya? Ke-kenapa mataku bisa berbahaya? Tu-tunggu, ke-kenapa kalian memanggilku 'sayang?' A-aku tahu ini hanyalah mimpi, tapi ... apakah aku boleh bertanya sesuatu?" Gadis itu menatap kedua orang tersebut secara bergantian.
"Silahkan sayang, bertanya saja."
"A-apa kalian ayah dan ibuku?" Dengan bibir gemetar, ia bertanya. Yang ditanya malah tersenyum. Tidak menolak, pun tidak mengiyakan.
"Cepat ja-jawab. A-apa kamu ibuku? A-apa kamu ayahku?" Lagi, ia bertanya. Namun kedua orang itu memberikan jawaban yang sama. Hanya tersenyum, lalu keduanya memeluk gadis itu.
Saat gadis itu masih terisak, keduanya lantas pergi meninggalkan gadis itu seraya melambaikan tangan. Gadis itu berusaha mengejar, namun kakinya terasa berat dan tak bisa digerakkan.
"Tungguuu, Ayaaah, Ibuuu," teriaknya.
Tangannya berusaha meraih kedua orang tersebut. Terlambat, mereka telah menghilang. Hanya dekapan hangat mereka yang seolah masih terasa di tubuhnya.
"A-Ayah, Ibuuu ... ja-jangan pergi, gumamnya. Tangannya mengulur ke udara.
"Ibuu ... Ayah ... a-ajak aku bersama kalian, huuu ...." Gadis itu terus bergumam sambil menangis.
"Cepat rekam ulang tanda-tanda vitalnya!" teriak dokter jaga.
"Semuanya dalam batas normal, Dok."
"Cepat hubungi Profesor dan beritahu Direktur!"
"Baik, Dok."
Mereka tampak sibuk. Dan gadis itu, terus menangisi mimpi indahnya yang telah berakhir.
...***...
Negara Tepi Barat
"Tepat sasaran!" teriak pengawal. Ia mengibarkan bendera sanjungan untuk para Pangeran karena panah yang dilesatkannya tepat sasaran.
Dua Pangeran kerajaan negara Tepi Barat dan satu Putra Mahkota, saat ini tengah melakukan latihan memanah yang rutin dilaksanakan setiap akhir pekan.
__ADS_1
Pangeran Essam Nawroz Jayden dan Pangeran Erland Hackett Jayden mendapatkan nilai imbang. Hanya Pangeran Enver Xzavier Jayden yang memiliki nilai paling kecil. Sejak latihan dimulai, ia memang tidak semangat. Pangeran Enver asal-asalan dan malas-malasan.
"Kenapa? Apa Pangeran ada masalah?" tanya Panglima. Ia tentu saja tahu seberapa hebat keahlian Pangeran Enver dalam hal memanah.
"Tidak ada," jawabnya pelan. Matanya sembab. Ya, dua hari dua malam, ia nyaris tidak tidur karena memikirkan pujaan hati yang berada nun jauh di sana.
Lalu, Pangeran Esaam dan Pengeran Erland mendekat. Maka berjajarlah ketiga Pangeran tampan nan gagah tersebut dan sontak menjadi buah bibir dan pusat perhatian para dayang dan pengawal.
"Mereka berkilau."
"Satu saja sudah cukup membuat kita terpesona. Apa lagi tiga."
"Menurut kalian, siapa yang paling tampan?"
"Aku tidak bisa memilih."
"Ya, aku juga tidak bisa memilih."
"Pangeran Enver adalah yang paling pintar. Aku memilih Pangeran Enver."
"Tapi, Pangeran Enver tidak terpilih jadi Putra Mahkota, berarti ia tidak lebih baik daripada Pangeran Essam."
"Ssst, diam. Panglima menatap kita."
Lalu, Pangeran Enver menerima pesan dari pengawal pribadinya.
"Pangeran, ada telepon dari Profesor. Kata Profesor, gadis itu sudah siuman. Tapi ia belum berani membuka matanya," bisik pengawal tersebut.
"Benarkah?" Wajah Pangeran Enver langsung sumringah.
'Swing.'
Anak panah yang dibidikkannya langsung melesat, tepat sasaran, dan menempati nilai paling sempurna. Suara tepuk tanganpun tidak bisa dielakan lagi. Informasi dari pengawal pribadinya ternyata membuat Pangeran Enver jadi bersemangat.
Pangeran Essam dan Pangeran Erland saling menatap, mereka jadi penasaran. Apakah yang dikatakan pengawal pribadi itu hingga membuat kakak mereka berubah?
"Mencurigakan?" bisik Pangeran Essam.
"Benar, mari kita selidiki," sahut Pangeran Erland.
...~Next~...
__ADS_1