
Beruntung, kejadian itu tidak berlangsung lama. Saluran listrik yang konslet telah berhasil diperbaiki. Asap yang mengepul dari ruangan VVIP nomor 4 sudah tidak tampak lagi. Sirine emergencypun telah berhenti berbunyi. Lalu bagian informasi mengumumkan jika kondisi saat ini sudah aman dan terkendali.
Semuanya bisa bernapas lega dan tenang. Senyum kebahagiaan tersungging dari tenaga medis, pasien, dan keluarga pasien. Kepanikan itu telah berlalu. Merekapun mengucapkan terima kasih pada regu penyelamat yang telah berhasil mengembalikan keadaan ke posisi sebelumnya.
Seperti halnya yang lain, Andapun merasa bahagi. Ia memeluk Senja yang hingga saat ini masih melamun dan murung.
"Anda tenang ya, Nona. Masalahnya telah selesai." Lalu memegang tangan Senja yang gemetar.
"Nona, kenapa?" Bertanya lagi
"Tidak apa-apa, aku mau tidur," jawab Senja.
Lalu Anda memapah Senja ke bed pasien. Kamar perawatan Senja telah dipindahkan ke unit lain. Sebab, unit sebelumnya telah dipasang garis polisi guna menyelidiki penyebab korsleting listrik yang terjadi di ruangan tersebut.
"Bisa tinggalkan aku sendiri," pinta Senja.
"Baik, Nona."
Anda undur diri. Namun lagi-lagi, Anda membuat Senja kecewa. Sebab faktanya, Anda tidak keluar dari rungan tersebut. Melainkan hanya berdiri di ujung ruangan dan terus mengawasinya.
Anda, kamu membohongiku, sesalnya.
Lalu ia merebahkan diri dan mengingat kembali kejadian yang baru saja ia lewati. Kemudian, merunut kejadian itu dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Senja tengah mengingat-ingat lagi pertemuannya dengan Agam Ben Buana beberapa bulan yang lalu.
Saat itu, ia dan Anda menemui Agam Ben Buana.
...***...
[Flash Back ]
Pertemuan Senja dan Agam Ben Buana
Anda menuntun tangan Senja agar bisa bersalaman dengan Agam. Lalu mereka duduk dan siap memulai perbincangan.
"An, tetap di dekatku," pinta Senja. Seusai menyentuh tangan Agam, entah kenapa, ia tiba-tiba merasa ketakutan.
"Baik, Nona. Aku akan tetap di sisimu." Anda bahkan memeluk bahu Senja agar gadis itu lebih tenang.
"Tak perlu takut, saya bukan pemangsa," kata Agam.
"Langsung saja ya, Pak. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada Bapak." Senja memberanikan diri memulai pembicaraan.
"Silahkan."
"Apa Bapak yang menyelamatkanku dari penculikan? Apa Pak Agam yang menyediakan tempat tinggal untukku? Jika ya, kenapa? Jika bukan, tolong beri tahu aku siapa orangnya? Lalu, apa Bapak bisa membantuku bertemu atau minimal berkomunikasi dengan kak Exam? Kata kak Exam, jika ingin bertanya tentangnya, aku harus menghubungi Anda."
"Oh, jadi kamu datang jauh-jauh karena ingin menanyakan masalah itu?"
"Ya, Pak."
"Sayangnya, saya tidak bisa menjawab."
"A-apa?! Kenapa?" Senja heran. Lensa matanya bergulir.
__ADS_1
"Saya tidak kenal dengan seseorang yang kamu sebut sebagai Exam. Selain itu, saya juga punya hak untuk tak menjawab pertanyaan kamu."
"Pak, aku menunggu lama untuk bertemu Bapak. An, tolong katakan sesuatu." Senja meminta bantuan pada Anda.
"Maaf Nona, saya juga tak bisa membantu. Jika faktanya Pak Agam tidak mau menjawab, kita tak boleh memaksanya."
"An? Kamu?"
Air mata Senja spontan meleleh. Ia kebingungan. Pikirnya, 'kok bisa Agam tidak mengenal Exam?Padahal jelas sekali seseorang menyuruhnya untuk menemui Agam jika ingin mengetahui tentang keberadaan Exam.
"Jangan bersedih. Saya rasa, tidak begitu penting kamu tahu siapa yang menyelamatkan kamu. Boleh jadi, orang yang selama ini membantu kamu ataupun menyelamatkan kamu, memang sengaja menyembunyikan identitasnya karena ia ingin menolong dengan ikhlas dan tanpa pamrih apapun," jelas Agam.
"Seperti halnya tangan kanan yang bersedekah, namum tangan kiri tak mengetahuinya. Saya harap kamu paham maksudnya," tambahnya.
Senja menunduk, lalu mengusap airmatanya. Ia sebenarnya sudah menduga kalau Agam pasti tidak mau menjelaskan tentang Exam.
"Kamu hanya perlu bersyukur dengan apa yang saat ini kamu dapatkan. Patuh pada Anda, dan tak memikirkan hal-hal yang tidak penting." Agam menasihati Senja. Lalu mengambil sebuah map berisi berkas dari dalam lemari kerjanya.
"Ini ada surat persetujuan operasi transplantasi mata, kamu harus segera tanda tangan. Jika kamu sudah tanda tangan, operasinya akan dilaksanakan."
"Apa?! Operasi?"
Senja terkejut. Operasi mata mengingatkannya pada Exam yang memang pernah berjanji ingin membuatnya bisa melihat dunia.
"Ada orang yang kornea matanya cocok dengan mata kamu. Sebelum meninggal, orang itu sudah bersedia mendonorkan seluruh organ tubuhnya. Dua hari yang lalu, orang tersebut telah meninggal dunia. Jadi, transplantasi matanya bisa segera dilakukan."
"Apa Pak Agam yang mempersiapkan semuanya? Dari mana Bapak menemukan orang yang kornea matanya identik denganku? Sementara aku, aku tidak pernah merasa melakukan pemeriksaan apapun pada mataku."
"Sekali lagi, saya punya hak untuk tidak menjawab pertanyaan kamu. Kamu tanda tangan saja. Formulirnya berisi huruf latin. Nanti, Anda yang akan membacakan isinya. Kamu cukup mendengarkan, lalu menyetujuinya dan tanda tangan."
"Hahaha, saya justru baru akan menjelaskan semuanya setelah kamu melakukan transplantasi mata. Sebelum tanda tangan dan setuju operasi, kamu jangan berharap bisa mendapatkan informasi yang kamu inginkan. Sekarang, pilihan ada di tangan kamu. Oiya, apa kamu tak ingin melihat seperti apa rupa keluargamu dan melihat bagaimana indahnya dunia? Jika saya menjadi kamu, saya yakin akan segera menandatanganinya."
"Ya Nona, Pak Agam benar," sahut Anda.
Senja merenung. Dengan bisa melihat, ia pasti sangat bahagia dan bersyukur. Bisa melihat dunia adalah cita-citanya sejak kecil. Namun, setelah ia memahami sedikit demi sedikit tentang makna kehidupan, lambat laun, ia jadi tidak terobsesi untuk bisa melihat dunia. Ia justru berharap agar di kehidupan akhirat, mata butanya bisa menolongnya. Yaitu, bisa meringankan hisabnya.
"Senja, dengan bisa melihat, kamu bisa melakukan banyak hal yang bermanfaat. Baik bermanfaat untuk kamu, ataupun untuk orang lain. Ya, kita memang harus bersyukur dengan apapun yang didapatkan. Saya yakin kamupun tetap bersyukur dengan keadaanmu saat ini. Tapi, semua orang punya pilihan dan kesempatan untuk berikhtiar agar bisa memperbaiki takdir hidupnya," bujuk Agam.
"Saya yakin, Tuhan telah menyiapkan pendonor mata itu untuk kamu. Boleh jadi, setelah bisa melihat, kamu akan mendapatkan anugerah yang lebih besar lagi. Atau bisa jadi, matamu akan menjadi pelantara untuk kebaikan dan berguna bagi orang-orang di sekitarmu." Agam kembali memberi pencerahan pada Senja.
"Coba bacakan isi formulirnya An," lirih Senja setelah ia merenung cukup lama.
Kemudian, Anda membacakan poin perpoinnya. Awalnya, Senja berpikir tidak ada yang janggal dengan isinya. Namun, tiba-tiba ada poin yang isinya membuat ia kebingungan.
"Ulangi," kata Senja.
"Penerima donor atau pasien, bersedia dilakukan pemasangan sistem robotik pada area mata ataupun daerah lain sesuai dengan indikasi medis dan keputusan operator."
"Sistem robotik? A-apa itu, An?"
"Saya juga tidak tahu, Nona," kata Anda sambil melirik pada Agam. Yang berarti, wanita itupun sama sekali tak paham maksudnya.
"Saya sebenarnya paham tentang sistem robotik, namun untuk sistem robotik yang akan digunakan pada prosedur operasi mata, saya rasa tidak memiliki kapasitas untuk menjelaskannya. Prosedur ini harus dijelaskan oleh dokter atau profesor yang memang ahli di bidangnya," jelas Agam.
__ADS_1
Saat mengatakan kalimat itu, alis Agampun mengernyit. Ternyata, ia juga baru mengetahui isinya. Berkas itu adalah amanat dari pangeran Enver Xzavier. Ia tentu saja tidak akan sembarangan membukanya.
"Pak Agam, apa prosedur sistem robotik itu berbahaya?" tanya Senja. Gadis itu tampak ketakutan.
"Seluruh tindakan medis, baik yang manual maupun menggunakan sistem robotik, pasti akan ada efek sampingnya bagi tubuh. Entah itu efek samping jangka pendek, ataupun jangka panjang. Namun, prosedur itu pastinya sudah dipertimbangkan oleh para ahli dengan meminimalisir risikonya. Jadi, kamu tak perlu khawatir," jelas Agam.
"Begitu ya. Ya sudah, aku setuju. Tapi, aku hanya ingin dilakukan transplantasi pada satu mata saja." Lalu, dengan bantuan Anda, Senjapun menandatanganinya.
[Flash back selesai]
...****...
"Huuu."
Senja kembali menangis, ingatannya tentang pertemuan dengan Agam membuatnya sadar akan sesuatu. Anda yang menatap dari kejauhan hanya bisa menghela napas. Ingin rasanya ia segera mempertemukan Senja dengan Pangeran Enver. Namun, kondisinya tidak semudah itu.
Ternyata, apa yang terjadi pada mataku, adalah kesalahanku sendiri. Harusnya, saat itu ... aku menolak dan tidak menandatanganinya, sesalnya dalam hati.
Namun, nasi telah menjadi bubur. Senja hanya bisa mengikuti alurnya.
"Huks, huks," isakannya terus berlanjut. Ia baru saja menyadari sesuatu. Seketika tubuhnya gemetar.
Jika hanya matanya saja yang dilakukan operasi, lantas, kenapa di bagian luar organ intimnya terpasang kasa medis?
"Ti-tidak."
Tubuhnya gemetar. Pikirannya melanglang buana pada hal-hal menakutkan yang bisa saja telah terjadi pada tubuhnya. Mungkinkah ia adalah 'kelinci percobaan?' Atau, apakah ia adalah korban malpraktik? Atau ... apa mungkin tubuhnya telah dinodai oleh oknum yang tidak bertanggung jawab?
"Aaargghh!" teriaknya seraya memasygul kuat rambutnya.
"Nona!" Anda tidak bisa menahan diri lagi. Ia berlari untuk menghampiri Senja.
"Pergi, An! Pergiii!" usirnya.
"No-Nona?!"
Anda mundur beberapa langkah sambil mengucek kelopak matanya. Mata Anda membelalak. Ia baru saja melihat hal mengejutkan. Ya, Anda melihat jika mata Senja tiba-tiba bersinar bak mata binatang pemangsa yang menyala di kegelapan.
Dengan tangan gemetar, Anda merogoh saku baju untuk mengambil ponsel barunya. Pikirnya, ia harus segera melaporkan apa yang dilihatnya pada Pangeran Enver.
"Huuu."
Sementara itu, Senja masih menangis. Lalu mata menyalanya meredup dan kembali ke keadaan sebelumnya.
Anda berjalan mengendap meninggalkan Senja. Panggilannya telah terhubung pada Pangeran Enver. Anda bingung harus memulai dari mana untuk menjelaskan semuanya.
"Hallo," suara Pangeran nun jauh di sana.
Namun, Anda malah membisu. Tangan dan bibirnya gemetar. Ia takut jika Pangeran akan menghukum dan menyalahkannya.
"Nadjiba Alia? Hallo." Lagi, Pangeran memanggilnya. Fakta kecil terungkap. Ternyata, nama asli Anda adalah Nadjiba Alia.
"Sa-salam hormat saya untuk Pangeran Enver." Sa-saya ...."
__ADS_1
...~Next~...