PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN

PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN
Pertemuan


__ADS_3

Flash Back On


______________


Satu Tahun yang Lalu di Negara Kepulauan


Sore ini, pusat kota diguyur hujan lebat. Beberapa ruas jalan tergenang air. Laju mobil melambat. Lampu jalan dinyalakan karena suasana menggelap dan berkabut tipis. Banyak pejalan kaki yang memilih berteduh di kafe atau bangunan lain yang sekiranya nyaman.


Begitupun dengan seorang gadis cantik yang saat ini sebagian rok dan bajunya sudah basah. Ia duduk di halte bus jalur khusus. Tangannya tampak terulur. Tengah menikmati titik-titik air hujan seraya tersenyum.


Di pangkuannya ada sebuah tas berbentuk kotak berwarna hitam. Manik gadis itu tampak indah, hitam legam nan menawan. Namun ada yang berbeda darinya. Tatapannya seakan kabur dan nanar, hanya tertuju pada satu titik sembarang.


"Aku mendengar suaramu, wahai hujan. Suaramu beragam, kadang membuatku ingin tidur, kadang jua membuatku tidak tenang. Hujan, aku hanya mengenal namamu, tapi ... aku tidak mengenal rupamu. Yang aku tahu, kamu basah seperti air. Wahai hujan, andai kamu bisa bicara, tolong katakan padaku seperti apa rupamu? Apa kamu berwarna?" gumamnya.


Ternyata, dia adalah seorang gadis tuna netra. Benar, di tangan kanannya ada tongkat kecil. Ia sedang berada di halte jalur khusus penyandang disabilitas.


Gadis itu duduk seorang diri, siapakah dia? Entahlah. Lalu dia bergumam lagi.


"Nenek, maaf ya. Harusnya aku mengikuti saranmu. Tadi, nenek sudah menyuruhku membawa payung. Hmm, kata nenek hari ini mendung. Eh, aku malah menjawab 'Mendung juga belum tentu hujan.' Wahai mendung, aku juga penasaran dengan rupamu. Mendung itu seperti apa ya bentuknya?"


Lalu dari arah yang berlawanan, seorang pria berpenampilan misterius turun dari bus dengan tergesa. Ia memakai masker, dan menutupi kepalanya yang bertopi menggunakan hoodie untuk melindunginya dari hujan. Di balik kaca mata hitam bola matanya berputar. Yakin, pria itu sedang mencari tempat untuk berteduh. Sama dengan gadis itu iapun tidak membawa payung.


Sejurus matanya menyadari jika di arah seberang ada halte. Iapun berlari cepat menuju ke sana. Kemudian duduk berjarak cukup jauh di samping gadis itu sambil mengatur napasnya. Dari bentuk tubuh dan garis matanya, sepertinya pria itu tampan dan gagah.


Lalu ia membuka hoodie yang menutupi kepalanya. Jelas sekali telinganya putih bersih dengan rambut warna hitam kebiruan yang tertata. Sepertinya, baru saja dicukur. Ukiran pada anak rambut di ujung telinganya terlihat rapi dan indah dipandang mata.


Siapakah dia?


Dia adalah pria misterius yang dijuluki sebagai Mister X. Dia merupakan anggota jaringan anonymous yang sangat ditakuti sepak terjangnya. Jaringan ini adalah kumpulan hacker handal yang anggotanya berasal dari berbagai negara.


Anggota anonymous tersebar di seluruh dunia dan terkoneksi satu sama lain. Namun, keberadaan mereka sulit dilacak. Dan Setiap anggota anonymous tentu saja memiliki cara tersendiri untuk melindungi identitasnya.


Satu hal yang sangat ditakuti dari jaringan misterius itu adalah ... mereka dapat membunuh tanpa menyentuh. Mengerikan!


Namun, prinsip jaringan ini sangat istimewa. Saat meretas sebuah situs, mereka akan berkata ....


"Get ready friends, we exist for the truth, we stand for the justice, we hide for the faith, the truth is sure to win. We are anonymous."


"Bersiap kawan, kita ada untuk kebenaran, kita berdiri untuk keadilan, kita bersembunyi demi keyakinan, kebenaran pasti menang. Kita adalah anonymous."


Awalnya, Mister X tidak begitu peduli dengan keberadaan gadis itu. Tapi, gumaman gadis itu membuat alis tegasnya mengernyit.


"Wahai hujan, tolong cepat reda ya, kumohon. Nenekku pasti khawatir kalau aku pulang terlambat."


Dia bilang wahai hujan? Hahaha lucu sekali. Batin Mister X. Di balik masker, bibirnya tersenyum tipis. Matanya tetap fokus menatap hujan tanpa menoleh.


"Hujan, aku lapar. Eh, tunggu. Perasaan, tadi masih ada sisa bekal dari nenek. Benar, aku mau makan lagi ah."


Anak nenek rupanya. Bawa bekal segala. Dasar bocah. Batin Mister X kembali berceloteh.


Ia masih belum ada keinginan untuk menoleh. Di balik masker, kini bibirnya terangkat sedikit. Sedang mencibir gadis itu.

__ADS_1


"Aduh, susah sekali, bagaimana ini?" keluh gadis itu. Ia tampak kesulitan membuka kotak bekal yang baru saja diambil dari tasnya.


"Hujan, apa kamu bisa membantuku? Tapi kata nenek, hujan tidak punya tangan ataupun kaki."


Berkata apasih gadis itu? Sangat aneh dan tidak jelas, dasar anak man ---. Ja. Karena merasa aneh, Mister X meliriknya.


Jedug. Dadanya berdegup kuat. Seketika, mata Mister X terkunci. Ia seolah melihat mutiara yang bersinar untuk pertama kalinya. Hingga ia tidak berkedip. Hatinya berdesir.


Dia ternyata teramat cantik, rambut gadis itu melambai tersibak angin. Ia memakai rok panjang dengan belahan samping sebatas lutut. Fokus Mister X segera berpindah pada jemari yang tengah sibuk membuka kotak makanan.


Jantung Mister X kembali meronta kala ia menyadari jika gadis itu menatap hampa ke depan dengan tongkat tuna netra di sisinya. Seketika, ia menyesal karena telah merutuki dan menyepelekan gadis itu.


Perlahan, Mister X begeser, lalu berkata pelan dan menawarkan bantuan. Namun sebelum berbicara, Mister X terlihat menekan lehernya. Kemudian ada yang menyala di balik telinganya.


"Boleh aku bantu?" tanyanya.


Ajaib, yang keluar dari mulut Mister X bukanlah suara pria, melainkan suara wanita dewasa. Ia menggunakan trik kamuflase suara untuk membantu gadis itu.


"Eh, a-ada orang?" Gadis itu terkaget.


"Ya, ada aku."


"Maaf ya Bu, aku tidak tahu kalau ada Ibu di sampingku. Salam kenal," ujar gadis itu sambil menundukkan kepala dan mengulurkan tangan ke arah yang salah.


Dia sangat sopan. Mister X terpana.


"Tidak apa-apa."


Segera mengambil kotak bekal milik gadis itu dan membukanya. Ada wortel rebus, ketang, dan pisang rebus di dalamnya.


"Ini, sudah aku bukakan, makanlah," kata Mister X.


"Terima kasih Bu. Emm ...." Gadis itu sedikit mengendus.


"Kenapa?" tanya Mister X. Matanya fokus pada wajah gadis itu yang menurutnya sangat cantik.


"Parfum milik Ibu wanginya unik, tidak seperti wangi parfum yang biasa diberikan oleh nenek untukku."


Tentu saja beda, ini parfum pria.


"Kamu tidak suka?"


"Suka 'kok Bu. Oiya, maaf ya Bu, aku makan sendirian. Lagi pula, Ibu pasti tidak mau memakan makanan sisaku," ungkapnya sambil tersenyum.


Setelah bibirnya berkomat-kamit membaca doa, gadis itu mulai menusuk potongan kentang rebus dengan sendok garbu dan memakannya. Sementara Mister X terus menatapnya.


Ada apa ini?


Mister X memegang dada kirinya. Gadis itu benar-benar mampu mendebarkan jantungnya. Melihat gadis ini, muncul ketenangan di hatinya.


Kenapa?

__ADS_1


Karena di hadapan gadis ini, ia tidak perlu bersusah payah menyembunyikan identitasnya. Bahkan, ia bisa leluasa menikmati kecantikannya tanpa diprotes ataupun ditolak.


"Bu, Bu, apa Ibu sudah pergi?"


Gadis itu merabakan tangan ke sisinya. Mister X begeser. Ia belum siap tubuhnya tersentuh.


"Aku masih di sini, setelah hujan reda baru mau pergi."


"Kenapa tidak pesan taksi saja?" Gadis itu bertanya lagi.


"Kamu juga, kenapa tidak pesan taksi saja?"


"Hehehe, rumah nenekku dekat, Bu. Hanya dua kilometer dari halte ini. Dari sini sampai rumah nenek sudah ada jalur khususnya. Setiap hari aku selalu berjalan kaki," jawabnya sambil melemparkan senyuman. Lagi-lagi ke arah yang salah.


"Kamu pemberani, harusnya kamu didampingi. Bagaimana kalau ada yang menjahatimu?"


"Emm, sebenarnya aku juga takut 'sih, Bu. Tapi, aku yakin jika Tuhan selalu menjagaku. Saat aku kesulitan, Tuhan pasti menolongku. Terbukti, 'kan? Tadi, saat aku sulit membuka kotak makanan, Ibu membantuku. Walaupun aku terlahir istimewa, aku harus tetap produktif. Aku ingin membanggakan dan membahagiakan nenekku."


"Kamu bekerja?"


"Ya."


"Di ---?"


Mister X penasaran.


"Di toko bunga," jawabnya.


"Apa yang kamu kerjakan?"


Ia semakin penasaran, hatinya yang bertahun-tahun membeku mendadak hangat setelah berkomunikasi dengan gadis ini.


"Aku hanya berdiri di depan toko dan beteriak menawarkan bunga. Hehehe, kata bosku, aku sering beteriak saat tidak ada siapapun yang melintas. Hanya itu yang bisa kulakukan," jelasnya.


"Kamu hebat," puji Mister X. Dan cantik. Lanjutnya dalam hati.


"Terima kasih, Bu. Oiya, hujannya sudah reda. Aku permisi, terima kasih karena telah membantuku." Gadis itu beranjak dan mengarahkan tongkatnya.


"Baiklah, hati-hati," kata Mister X. Iapun beranjak.


"Sampai jumpa, Bu."


Gadis itu melambaikan tangan ke arah yang salah tentunya. Dan tanpa sepengetahuan gadis itu, Mister X mengikutinya dari jarak sekitar lima meter.


Hujan adalah berkah, semoga ... kamu juga adalah berkah yang diturunkan Tuhan untukku, harap Mister X dalam hatinya.


.


Sejak pertemuan itu, Mister X selalu meluangkan waktu untuk melihat dan memerhatikan gadis itu secara diam-diam. Tanpa diketahui siapapun, ia bahkan sering mengantar gadis itu hingga sampai di rumah nenek atau di tempat kerjanya. Lalu ia menggunakan kemampuannya sebagai anggota anonymous untuk mengetahui asal-usul gadis tersebut.


...~Next~...

__ADS_1


__ADS_2