PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN

PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN
Kepanikan


__ADS_3

"A-apa yang terjadi, An?" tanya Senja saat ia telah berada di kamar perawatan.


"Ada ledakan kecil, Nona. Sepertinya berasal dari tabung oksigen sentral milik rumah sakit."


Senja merenung, ternyata Anda tidak mau jujur dengan apa yang terjadi.


"Lalu kenapa kamu beteriak dan mengatakan 'Ada apa dengan HP-ku?! Kenapa mendadak panas dan mengeluarkan asap?!' Ka5mu tadi bicara seperti itu, 'kan?" Senja mencoba menelisik Anda untuk menjelaskan penyebabnya. Ia ingin menguji kejujuran Anda.


"HP saya baik-baik saja, Nona. Asap yang saya maksudkan berasal dari HP ternyata salah lihat," jelasnya.


"Oh," Senja menghela napas. Ia kecewa karena Anda berbohong.


Kenapa orang yang kukira sangat menyayangiku tega membohongiku?


Senja tertunduk. Kesedihan itu kembali menyeruak. Kebohongan Anda membuatnya semakin yakin untuk menyembunyikan kemampuan matanya. Senja telah membuat keputusan. Ya, langkah pertama yang akan ia lakukan adalah ... menyelidiki Anda.


Aku harus tahu dulu, siapa Anda? Apa hubungan Anda dengan pak Agam? Apa motif Anda menjagaku? Siapakah bos Anda? Apakah pak Agam? Atau, ada orang lain yang tidak aku ketahui?


"Nona tidak apa-apa, 'kan?" Anda membuyarkan lamunannya.


"Tidak apa-apa, An. Oiya, kapan aku bisa pulang? Cepat tanyakan pada dokternya. Aku sudah tidak betah berada di sini," keluhnya.


"Baik, akan saya tanyakan. Sekarang, Nona istirahat ya. Oiya, untuk besok, kuku Nona Senja mau diwarnai dengan warna apa?"


"Apa saja, terserah kamu. Lagi pula, warna apapun yang kamu pakaikan, aku tetap tidak bisa melihatnya, 'kan?"


"Baik, Nona."


Anda membungkukkan badan. Lalu undur diri dari hadapan Senja dengan cara berjalan mundur hingga ke pintu keluar. Senja memerhatikan tingkah laku Anda dengan perasaan yang semakin bingung saja. Kenapa Anda bisa sehormat itu pada dirinya? Bukankah Anda lebih tua? Apa tujuan Anda melakukan itu?


"Bingung," gumamnya.


Lalu merebahkan dirinya. Karena merasa kesepian, selagi menunggu Anda, ia memutuskan untuk menonton televisi. Segera menekan tombol bantuan yang sudah diberitahukan posisinya untuk meminta bantuan pada perawat yang berjaga.


"Ada yang bisa kami bantu?" Seorang suster datang.


"Aku mau menonton televisi? Bisa bantu untuk menyalakan televisinya?" pintanya.


"Menonton?" Suster tersebut sedikit keheranan. Namun ia tetap mengambil remot untuk menyalakan televisi.


"Maksudku, mau mendengarkan televisi."


Senja meralat pernyataannya. Bibir mungilnya yang merah alami itu menyunggingkan senyum. Ia merasa lucu dengan istilah yang tadi ia ucapkan.


Mendengarkan televisi? Hahaha, konyol sekali. Pikirnya.

__ADS_1


"Sudah saya nyalakan, Nona. Mau acara apa?" tanya suster.


"Berita, aku mau menonton berita. Ehm, maksudku, mau mendengarkan program berita."


"Baik."


Chanel tentang berita dunia sedang disiarkan. Membahas tentang kisruh antar negara dan persoalan dunia yang saat ini tengah mengalami pemanasan global, dampak pandemi, dan krisis energi.


"Terima kasih, Sus."


"Sama-sama, Nona. Saya permisi." Suster berlalu.


Setelah suster pergi, mata istimewa itu perlahan menatap layar televisi. Gadis itu menutup mulutnya yang terbuka lebar. Ternyata, seperti itu bentuk televisi. Di sana, ada visualisasi berwarna-warni yang bisa begerak dan menampilkan berbagai peristiwa melalui sebuah tayangan vidio dengan skala tertentu.


Senja sangat senang. Ia adalah pengalaman pertamanya menonton televisi.


"Apa makna teknologi bagi manusia?"


Tanyangan di televisi sedang membahas tentang hubungan teknologi dan manusia. Itu adalah sesi tanya jawab penyiar televisi dan seorang narasumber yang ahli di bidang riset dan teknologi.


"Teknologi mempermudah penerimaan informasi. Mempermudah komunikasi antar manusia. Membuat belajar dan bekerja lebih efektif dan efisien, serta mempermudah diagnosis suatu penyakit."


"Bagaimana hubungan antara perkembangan teknologi dengan perkembangan manusia?"


Senja menyimak dengan seksama.


"Kenapa manusia harus terus mengembangkan teknologi?"


"Tentu saja untuk memudahkan atau meringankan aktivitas manusia yang sulit dilakukan oleh manusia secara manual. Jadi, teknologi terus dikembangkan agar pekerjaan manusia yang rumit dapat terbantu menjadi lebih sederhana."


Bahasan tersebut menarik perhatian Senja. Hingga sampailah pada pertanyaan sang penyiar yang membuatnya penasaran dan tekejut setelah mendengar penjelasan narasumber.


"Apa benar jika saat ini tengah dikembangkan teknologi tinggi untuk menggabungkan pengaruh sains dan kinerja otak manusia?"


"Hahaha, wah ini pertanyaan yang menarik. Begini ya, menurut saya, sehebat apapun kemajuan teknologi tetap saja tidak akan sebanding dengan kualitas dan kodratnya manusia secara keseluruhan. Manusia adalah sebuah kesempurnaan yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Sementara teknologi hanyalah sebuah program yang dikembangkan oleh otak manusia."


"Jadi, jika ada pihak yang ingin menggabungkan pengaruh sains dan kinerja otak manusia, hal itu hanyalah usaha yang bertujuan untuk meminimalisir kekurangan dari sebuah teknologi. Menurut saya, hal itu sah-sah saja. Dengan syarat, tidak menyalahi atau merendahkan harkat dan martabat manusia, serta dipergunakan manfaatnya untuk kebaikan dan kesejahteraan umat manusia."


"Begini, Prof. Apa program seperti itu benar-benar sudah dikembangkan? Atau mungkin masih wacana? Saya pernah membaca dari sebuah sumber jika saat ini telah dikembangkan sistem robotik yang menggunakan organ manusia sebagai media kendalinya. Bagaimana pendapat Profesor tentang isu tersebut?"


Penyiar tersebut rupanya tidak puas dengan jawaban sebelumnya.


"Hahaha, waktu saya sudah habis, 'kan?"


Narasumber yang merupakan profesor ternama itu, seolah tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut. Senja menautkan alisnya. Jantungnya berdegup kencang.

__ADS_1


Apa mungkin teknologi yang dibahas dan dimaksud oleh penyiar itu telah ditanam di mataku?


Seketika, tubuhnya merasa lemah. Apa yang dikatakan penyiar dan profesor itu seolah tertuju pada dirinya. Lalu Senja merasakan jika matanya panas. Ia mengedipkan matanya kuat-kuat untuk mengurangi rasa perih itu. Namun, apa yang terjadi? Mata gadis itu tiba-tiba menyala dan mengeluarkan cahaya yang berbentuk laser. Cahaya itu tertuju pada layar televisi


'KRAK.'


'BRAK.'


Layar televisi retak, lalu pecah, dan kacanya berhamburan ke lantai. Senja terkesiap. Tubuhnya gemetar. Ia sangat ketakutan. Segera memejamkan matanya dan menangis. Ia tidak sudi matanya menjadi seperti ini. Pikirnya, lebih baik buta selamanya daripada menimbulkan huru-hara. Apa lagi membahayakan orang-orang di sekitarnya.


"Tidaaak," teriaknya.


"Huuwaaa," tangisan gadis itu sungguh memilukan.


Ia sudah terluka akibat hidup sebatang kara dan kebingungan karena diperlakukan spesial oleh orang-orang yang justru tidak memiliki ikatan apapun dengannya. Dan apa yang terjadi saat ini, membuat kebingungannya kian menjadi. Ia bahkan merasakan ketakutan yang teramat mencekam dan lebih mengerikan dari sebelumnya.


"Kembalikan mataku yang dulu, huuu," gumamnya.


Siapakah gerangan yang telah membuatnya jadi seperti ini? Tangannya mengerat pada sprei. Mau tidak mau, ia harus mengatakan rahasia ini pada seseorang yang bisa ia percayai. Ia tidak bisa terus membiarkan kebingungan dan ketakutan ini seorang diri.


Tapi, siapakah orang yang bisa ia percaya itu? Bagaimana cara membuktikan kalau orang tersebut bisa dipercaya? Bagaimana kalau orang tersebut menipunya? Atau, malah memanfaatkan kemampuannya untuk kejahatan?


"Huuwaa." Senja dilema.


"Nona!" teriak Anda.


Ia muncul dan terkejut dengan apa yang terjadi. Segera memeluk Senja untuk menenangkan gadis itu. Lalu meraih tombol darurat untuk meminta bantuan.


Tim medispun berdatangan. Sama dengan Anda, merekapun terkejut. Bahkan, ada yang mundur karena merasa ketakutan. Ada juga yang berlari karena panik. Sebab, ia melihat sambungan listrik yang terhubung dengan televisi menyala-nyala.


"Kebakaraaan!" teriak perawat itu.


"Siapkan APAR (Alat Pemadam Api Ringan)," teriak petugas keamanan.


"Siapkan SOP risiko kebakaran!" teriak dokter.


PANIK!


Ya, suasana saat ini berubah menjadi panik, sibuk dan mencekam. Kenapa demikian? Sebab, sumber nyala api dari sambungan televisi itu, saat ini sedang mengeluarkan asap tebal..


Lalu sirine emergency menyala. Anda dibantu dua orang suster segera mendorong bed pasien yang ditempati Senja agar keluar dari kamar tersebut. Micropon daruratpun berbunyi.


"ADA ARUS LISTRIK BERESIKO KEBAKARAN DI LANTAI LIMA UNIT VVIP NO 4. SEGERA EVAKUASI DAN AMANKAN ALAT."


Seruan itu membuat suasana kian mencekam dan sibuk. Keluarga pasien beteriak, berhamburan dan teramat panik. Petugas keamanan sibuk mengamankan. Tim khusus begerak cepat menghubungi pemadam dan polisi.

__ADS_1


...~Next~...


__ADS_2