
Di ruangan itu tampak sibuk, nyaris sulit begerak karena keberadaan robot-robot yang sedang menjalankan tugasnya. Selain robot, ada juga human device yang bekerja di depan layar komputer. Usut punya usut, mereka sedang melakukan operasi besar pada seorang pasien. Identitas pasien tersebut dilabeli sebagai Special Human.
Berdasarkan aktivitas yang ditampilkan pada monitor, saat ini tengah dilakukan pembedahan pada bagian kepala Spesial Human. Pembedahan itu terletak di kepala bagian depan dan wajah. Saat diperhatikan lebih detail, layar di ruang operasi menunjukkan jika dokter operator bedah tengah memasang sebuah alat di kulit kepala dan kelopak mata pasien tersebut.
Setelah prosedur itu tuntas, dilanjutkan dengan pembedahan di bagian leher. Kegiatan ini dilakukan oleh robot. Prosedur lainnya dilakukan cukup lama dan rumit. Baru selesai setelah jam di ruangan tersebut menunjukkan pukul 17.00 sore hari.
Spesial Human kemudian dibawa ke ruangan observasi.
Di sisi kanan ruang operasi terdapat ruang pemulihan atau dikenal dengan istilah recovery room. Tampak beberapa orang dengan memakai busana alat pelindung diri level tiga tengah berbincang.
"Siapa penanggung jawab operasinya? Kenapa surat persetujuan operasinya tidak tercantum nama anggota keluarga?" tanya seseorang dari mereka sembari melihat cacatan medis.
"Ini fotocopy kartu kependudukannya, Spesial Human sebatang kara. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia saat ia masih kecil. Semenjak itu, ia kemudian diurus oleh neneknya. Sekitar setahun yang lalu, neneknya juga dinyatakan telah meninggal dunia. Neneknya wafat karena menjadi korban kebakaran pemukiman warga akibat korsleting listrik," jelas seseorang.
"Baik. Lantas, apa hubungannya dokter Fatimah dengan Spesial Human? Di surat ini menyatakan jika dokter Fatimah adalah wali Spesial Human. Hmm, saya merasa janggal. Sejak kapan dokter Fatimah jadi wali pasien?"
"Dokter Fatimah adalah operator bedah robotik yang paling berpengaruh di Laboro. Dia juga orang kepercayaannya Bos Besar kita. Aku menduga jika Special Human adalah pasien titipan seseorang yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Bos Besar. Atau, titipan pihak lain yang dirahasiakan."
"Ssstt .... Bisa jadi, Spesial Human adalah human device yang sengaja diprogram untuk misi rahasia kenegaraan," duga yang lainnya. Ia bicara dengan suara pelan seraya memerhatikan sekitaran. Seolah khawatir jika dugaannya itu akan terekam oleh sistem.
"Saya juga sependapat dengan kamu. Kalian sempat lihat, 'kan? Special Human sangat cantik dan terawat. Tidak mungkin gadis sebatang kara bisa terawat sebaik itu jika melihat latar belakangnya yang berasal dari keluarga menengah ke bawah. Apa lagi, di data perioperatif dijelaskan jika gadis itu adalah penderita blind total sejak lahir."
"Ada yang mengatakan jika Special Human adalah saudari angkatnya tuan Deanka. Ada juga yang mengatakan kalau Special Human merupakan gadis simpanan milik seorang Pangeran. Tapi ---."
"Ssst, ada Profesor," ucap yang sedari tadi hanya terdiam. Mereka segera fokus pada berkas masing-masing.
"Cepat hapus semua data Special Human yang ada di database Laboro," titah Profesor. Hal itu tentu saja membuat mereka tertegun.
"Cepat laksanakan! Ini perintah Bos Besar!" sentak Profesor.
"Ta-tapi Prof, untuk menghapus data, harus ada izin langsung dari Bos Besar."
"Haish, kalian tidak dapat dipercaya! Ya sudah! Aku tidak akan minta bantuan pada kalian!" Lalu Profesor pergi lagi dengan tergersa-gesa. Selepas Profesor pergi, mereka saling menatap.
"Ada apa dengan Profesosr?"
"Ya, hari ini dia memang sangat aneh. Hahaha, mungkin, rambut palsunya ada kutunya," ledek salah satunya sambil terkekeh.
"Hahaha, bisa jadi. Apa kalian masih ingat saat rambut palsu Profesor jatuh karena ditarik sama robot yang eror?"
"Hahaha, ya aku ingat. Saat itu, Profesor marah besar dan memaki-maki robot."
__ADS_1
Lalu mereka terkejut bersamaan karena alarm emergency di salah satu ruangan berbunyi. Kumpulan human device tersebut segera berlarian ke asal suara. Pun dengan robot pengawas.
...***...
Rumah Sakit Pusat Kota
Sedang terjadi kekacauan di ruang komite medik Rumah Sakit Pusat Kota. Bagaimana tidak, di rumah sakit tersebut ada pasien yang hilang secara tiba-tiba. Parahnya, pasien tersebut sedang dirawat di ruang ICU. Kasus ini benar-benar langka.
"Kita tidak mungkin menyembunyikan kejadian ini berlama-lama. Cepat atau lambat, kasus ini akan segera diketahui oleh publik," ucap direktur rumah sakit yang wajahnya tampak bermuram durja.
Ia bahkan sudah beberapa hari tidak bisa makan dan tidur dengan tenang gara-gara kasus tersebut.
"Apa ada usulan?! Cepat bicara! Jangan diam saja!" Kini, ia beteriak pada stafnya.
"Sa-saya ada ide, Pak." Seorang staf memberanikan diri mengangkat tangan.
"Cepat katakan!"
"Rumah sakit kita memiliki jenazah terlantar yang tidak diketahui identitasnya. Bagaimana kalau kita memanipulasi salah satu jenazah yang identik dengan pasien untuk menggantikan posisi pasien tersebut?"
Ia mengemukakan pendapat dengan suara gemetar. Sangat ketakutan jika idenya dianggap sebagai ide gila dan beresiko.
"Tidak, saya menolak! Itu menyalahi kode etik kedokteran dan melawan hukum!" teriak perwakilan dari bagian medis.
Direktur merenung sambil memasygul rambutnya.
"Jika kita membeberkan kasus ini, risikonya ... izin rumah sakit ini akan dicabut. Masyarakat tidak akan percaya lagi dengan kinerja kita, dan yang paling penting adalah nasib ribuan karyawan yang bekerja di rumah sakit ini," lirih Direktur. Wajahnya tampak memucat dengan kantung mata yang sedikit menghitam.
Terlebih, ia tahu jika pasien yang hilang tersebut adalah titipan orang yang sangat ia hormati sekaligus ditakuti. Pikirnya, jalan satu-satunya adalah ... bersujud di kaki orang tersebut untuk meminta maaf, menjelaskan kebenarannya, lalu siap menanggung segala risikonya.
"Kalian lanjutkan pekerjaan kalian. Aku akan menemui seseorang. Jangan mengambil tindakan apapun untuk kasus ini sebelum ada intruksi dariku." Direktur bersiap, ia mengemas beberapa berkas yang sekiranya dibutuhkan.
"Siapa yang akan Anda temui, Pak? Apa akan menemui Wali Kota?"
"Bukan?"
"Apa mau menemui Presiden?"
"Bukan juga. Kalian tenang saja. Beri aku waktu 1x24 jam untuk menyelesaikannya. Mohon doanya agar orang yang akan aku temui dibukakan hatinya, mau memaafkan, dan bersedia membantu kita." Sambil menyalami stafnya.
"Siapa yang akan Anda temui Pak Direktur?"
__ADS_1
"Agam Ben Buana," tegasnya.
"A-apa?" Mereka melongo sambil mengerjapkan mata.
"Pemisi! Pak Direktur! Pak Direktur!"
Seorang pria masuk secara tiba-tiba ke ruangan komite medik dengan napas terengah-engah. Matanya membelalak dan terlihat panik.
"Hei, tenang! Ada apa?!" Seorang staf mengamankannya.
"Pa-pasien itu --- huhh, huhh, hhh ---."
Ia terbata-bata hingga tak mampu bicara. Terus mengatur napas sambil memukuli dadanya.
"Ada apa? Tenang, ini diminum dulu."
Ada yang menyodori minuman kepadanya. Langsung diambil, diteguk cepat-cepat, dan habis seketika. Rupanya, selain panik, dia juga sangat kehausan.
"Pa-pasien itu ---."
"Ya, kenapa?! Ada apa dengan pasien itu?! Pasien yang mana?!"
Pak Direktur kehabisan kesabaran. Ia akhirnya beteriak sembari bertolak pinggang.
"Pasiennya su-sudah kembali," terangnya.
Lalu ia terkulai begitu saja setelah mengatakan kalimat itu. Beruntung seseorang menahan tubuhnya.
"Apa?! Pasien yang mana?!"
Pak Direktur mengguncang tubuh pria yang baru saja terkulai. Namun, pria itu malah pingsan.
'Kriiing.'
Telepon pararel di ruangan tersebut bedering. Pak Direktur segera berlari untuk mengangkatnya.
"Pak Direktur, i-ini memang aneh, ta-tapi, pasien yang hilang itu su-sudah kembali ke tempat tidurnya," terang seorang dokter di balik telepon.
"A-apa?!"
Bola mata pak Direktur nyaris loncat dari kelopaknya. Tanpa basa-basi, ia langsung berlari tunggang-langgang untuk menuju ruang ICU. Berita ini memang menggembirakan, namun terasa janggal dan tidak masul akal. Ia harus segera memastikan kebenarannya. Pikirnya, jangan-jangan, dokter di ruang ICU tersebut telah mengalami stres berat akibat kasus ini hingga berhalusinasi.
__ADS_1
...~Next~...