
Flash Back
"Anda harus mandi dulu, Pangeran," kata seorang pria. Ia berbicara menggunakan bahasa asing sebuah negara.
Di sebuah ruangan megah, beberapa orang pengawal berseragam kerajaan sedang nenyeret seorang pria tampan rupawan menuju zakuci super besar yang desainnya begitu mewah. Zakuci itu telah dipenuhi oleh bunga setaman yang harumnya semerbak.
"Tidak! Aku tidak mau mandi!" teriak pria tampan yang dipanggil Pangeran. Ia berbicara menggunakan bahasa lain.
"Pangeran Enver Xzavier, kami mohon mandilah, sebentar lagi Anda akan mengikuti acara penyambutan, kalau Anda tak mau mandi, kami akan dihukum. Kami mohon kemurahan hati Anda, Pangeran."
"Oke, oke, aku mau mandi! Tapi aku ingin mandi sendiri! Aku tak sudi dimandikan! Aku sudah besar!" teriaknya lagi. Kali ini, ia menggunakan bahasa yang sama dengan para pengawal itu.
"Peraturannya, Anda harus dimandikan, kalau tidak, kami juga akan mendapat hukuman."
"Aku tidak mau!" bentaknya.
"Seret dan paksa saja Pangerannya, daripada kita dihukum, lebih baik kita bertindak tegas pada Pangeran," kata seseorang yang baru saja masuk ke ruangan tersebut. Dari pakaiannya yang terlihat berbeda, dipastikan jika pria itu adalah kepala pengawal.
"Baik, Pak," ucap mereka serempak.
"Lepas!"
Sang pangeran masih berusaha melepaskan diri. Namun ia kalah jumlah. Akhirnya, ia tak bisa berbuat banyak saat beberapa orang melepas busananya satu persatu. Kini, yang tersisa hanya busana di bagian inti tubuhnya saja.
"Sialan kalian!" teriak Pangeran Enver Xzavier.
"Cepat cek tubuh Pangeran, apa ada lukanya?" titah Kepala Pengawal.
Lalu tubuh proporsional sang pangeran diteliti dengan seksama. Yang bertugas memeriksa bahkan menggunakan kaca pembesar agar tidak ada bagian yang terlewati.
"Ada sedikit kemerahan di punggung Pangeran," lapor si pemeriksa. Lalu yang lain mendekat untuk melihat kemerahan tersebut.
"Itu bukan apa-apa! Hanya bekas luka garukan tanganku sendiri!" teriak Pangeran Enver.
"Cepat hubungi dokter kanselir! Setelah mandi, luka Pangeran harus diobati," kata Kepala Pengawal.
"Kalian berlebihan! Aaargh, aku muak dengan kehidupan gila seperti ini!"
Pangeran tampan itu terlihat semakin kesal saja. Sekarang, tubuh toplesnya sudah sangat dekat dengan zakuci, wangi bunga setaman kian menguar. Lalu beberapa orang pelayan pria yang akan bertugas memandikan memasuki ruangan.
"Maafkan kami, Pangeran," ucap seorang pengawal sesaat sebelum ia dan rekanannya mendorong paksa tubuh Pangeran ke dalam zakuci.
'Byur.' Pangeranpun tercebur. Tubuhnya langsung disambut oleh pelayan yang hendak membantunya mandi.
Pada akhirnya, Pangeran yang bermata indah itu hanya bisa pasrah. Sebab, sekuat apapun ia berontak, ia tetap kalah jumlah. Pangeran bergeming saat air hangat mulai membasahi tubuhnya. Lalu tangan-tangan terampil menyabuni tubuhnya.
Kemudian ia memejamkan karena bosan dengan ritual mandi kembang ini. Saat kegelapan di depan mata, sebuah bayangan menyeruak memasuki relung hatinya. Bayangan gadis itu membuatnya berulang kali menghela napas.
Ya, ia teringat akan gadis tuna netra yang ditemukan di penghujung senja, di bawah derasnya hujan, di sebuah halte yang ada di negara kepulauan nun jauh di sana.
"Senja," gumamnya. Matanya masih tertutup.
Ia tidak tahu kapan bisa bersua lagi dengan gadis tersebut. Yang jelas, ia terpaksa meninggalkannya karena sebuah alasan yang tak bisa dibantah. Yaitu, demi menjalankan sebuah tanggung jawab besar yang telah ada secara turun-temurun.
Para pengawal tersenyum bahagia karena sang pangeran tak lagi melawan.
...⚘️⚘️⚘️...
Selesai mandi, Pangeran dituntun ke ruang ganti. Penampakan ruangan ini terlihat bak etalase sebuah galeri pakaian. Baju tidur, baju semi formal hingga baju formal tertata rapi. Aksesoris berbaris-baris. Sepatu, sabuk, dan lain-lainya terlihat begitu lengkap dan mahal.
Terdapat pula berbagai macam produk perawatan tubuh khusus pria. Produknyapun super lengkap. Dari mulai perawatan rambut, kulit, hingga perawatan ke ujung kuku kaki.
"Aku tak mau memakai minyak rambut!" tolak pangeran saat seseorang hendak menyisir rambutnya. Lalu ia kembali melamun, tangannya dilipat dada, pandangannya fokus ke lantai.
"Apa yang Anda pikirkan, Pangeran?" tanya seorang pelayan pria yang sedang memotong kukunya.
"Bukan urusanmu!" jawabnya ketus.
"Dari kecil hingga tumbuh sebesar dan setampan ini, Pangeran belum berubah, tetap sombong, hehehe," ucap yang lainnya.
"Kesombongan adalah hak seseorang, jika aku memilih untuk sombong, ya terserahku!" katanya.
__ADS_1
"Apa keistimewaan negara itu hingga Pangeran rela merantau di sana selama itu?" tanya pelayan yang lainnya.
"Aku di sana bukan untuk liburan! Di sana aku bekerja, belajar, berlatih, dan menolong yang membutuhkan. Di sana, aku melakukan praktik melayani dan memahami masyarakat," jelasnya.
"Wah, Anda hebat, Pangeran," puji mereka serempak.
"Tapi aku tak suka ayahanda menipuku dengan cara ini! Beraninya beliau pura-pura sakit keras hanya karena ingin membawaku kembali ke negara ini! Aku kecewa!" rutuknya.
"Paduka melakukan itu karena Pangeran berulang kali mengindahkan titah kerajaan. Bukankah Pangeran sudah dikirim surat resmi kerajaan untuk cepat kembali sejak pertengahan tahun di tahun lalu?"
"Aku tak pernah menerima surat resmi kerajaan! Aku yakin ada pihak yang sengaja ingin mencegahku kembali ke sini!"
"Masalahnya tidak sesimpel itu, Pangeran. Menurut penasihat kerajaan, paduka raja khawatir jika kelompok pemberontak negara mengetahui keberadaan Pangeran dan nekad mencelakai Anda atau membunuh Anda saat Pangeran berada di negara rantau. Karena di sana, Anda hidup tanpa pengawasan dan pengawalan," jelas Kepala Pengawal.
"Aku di sana hidup aman dan damai. Penduduknya ramah. Di sana, aku juga memiliki jaringan internasional yang bisa membantuku."
"Wah, Anda gagah dan tampan sekali. Putri Hanane Ibtissem pasti pangling saat melihat Anda. Putri Hanane sangat merindukan Anda, Pangeran."
"Tapi aku tak merindukan Putri Hana," sangkalnya.
"Hahaha, bukankah dulu Pangeran mengatakan ingin menikahinya?"
"Kenapa kalian masih saja percaya pada ucapanku di masa lalu, hahh?! Dengar ya, aku mengatakan ingin menikahi putri Hana saat usiaku masih sepuluh tahun. Ucapan itu terlontar dari bibir seorang bocah ingusan yang bahkan belum mengerti apa itu cinta! Apa harus kalian memercayai yang aku katakan?! Aku tak ada rasa cinta pada putri Hana!" teriaknya. Emosinya kembali meluap.
"Tolong tenang Pangeran. Maafkan kami karena telah menyinggung perasaan Anda."
Kepala Pengawal bersimpuh di hadapan pangeran, lalu diikuti oleh seluruh pengawal dan pelayan yang ada di ruangan tersebut.
"Permintaan maaf kalian aku terima, tapi tolong berikan kesempatan untuk aku menyendiri sejenak. Aku ingin menenangkan pikiranku," katanya sambil memijat keningnya.
"Baik Pangeran, kami permisi," ucap Kepala Pengawal. Kemudian ia dan yang lainnya berjalan mundur meninggalkan Pangeran seorang diri.
Setelah menyendiri, Pangeran Enver Xzavier alias Mister X terlihat bersedih, raut wajah tampan yang awalnya terlihat karismatik itu, kini berubah sendu.
Lalu ia berjalan lunglai menuju jendela kecil yang ada di setiap sudut ruangan ini. Ia membuka perlahan salah satu jendela untuk melihat dunia luar.
Ketika ia berhasil melihat keluar, jantungnya langsung berdegup. Ya, kala hari menjelang senja, saat itulah hatinya kian dirundung nestapa. Kerinduannya pada gadis bernama Senja, benar-benar membuatnya merana. Telah merasa nyaman di negara rantau, membuat Mister X tak kerasaan tinggal di negaranya sendiri.
"Senja ... aku merindukanmu," lirihnya.
Pangeran Enver memejamkan mata guna membayangkan sosok gadis itu. Demi keselamatan Senja, ia terpaksa menghapus seluruh foto Senja yang ada di ponselnya. Ia sebenarnya masih memiliki foto Senja di sebuah file yang dirahasiakan. Namun ia belum berani membukanya karena khawatir terciduk oleh tim cyber org kerajaan.
Negara Mister X adalah sebuah negara kerajaan yang didirikan pada tahun 1921 dan diakui oleh liga bangsa-bangsa sebagai sebuah negara di bawah mandat Britania pada tahun 1922. Negara ini dikenal sebagai negara Emirat Trans.
Pada tahun 1946, resmi menjadi negara merdeka yang dikenal sebagai Kerajaan Hasyimiyah. Negara ini adalah negara modern dengan standar pendidikan yang tinggi. Di Timur Tengah, negara ini terkenal sebagai salah satu negara dengan tingkat melek huruf tertinggi.
Namun, negara ini adalah satu-satunya negara kawasan yang tidak memiliki sumber daya alam minyak sehingga ekonominya sangat kecil bahkan terkecil di Timur Tengah. Tapi, negara ini termasuk ke jajaran negara maju jika disejajarkan dengan negara-negara lain di semenanjung tersebut.
"Senja, aku berjanji, suatu hari nanti, cepat atau lambat, aku dan kamu akan bersama kembali," gumamnya.
Ada yang berkaca-kaca di bola matanya. Bibir merahnya gemetar menahan tangis. Cintanya pada Senja teramat mendalam. Namun ia sadar benar jika untuk kembali bersama Senja, ada banyak hal yang harus ia perjuangkan.
Dilahirkan sebagai calon Putra Mahkota, membuat Pangeran Enver merasa jika dirinya telah terbelenggu oleh sesuatu yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah ia bisa memiliki Senja tanpa melepas belenggu itu? Ataukah cintanya pada Senja akan kandas dan hanya menyisakan kenangan? Entahlah.
"Senja ...."
Ia kembali memanggil nama itu. Lalu airmatanya menetes membasahi baju bertabur swarovski yang dikenakannya.
"Keivel ...."
Ia juga teringat pada bayi menggemaskan yang pernah diasuhnya.
"Tuan Deanka, pak Agam ...."
Teringat jua akan orang-orang yang telah berjasa membantunya dan mengajaknya bekerja sama selama ia berada di negara perantauan.
"Apakah aku bisa bertemu kalian lagi?" tanyanya pada diri sendiri. Sebuah pertanyaan yang ia sendiri tak bisa menjawabnya.
Kenapa demikian?
__ADS_1
Sebab, kelompok mata-mata milik sahabatnya yang berada di negara kepulauan, telah berhasil ditangkap oleh pihak kerajaan dan sudah dideportasi ke negara asalnya. Awalnya, pihak kerajaan mengira jika mata-mata itu hendak berbuat jahat dengan cara mencuri data kerajaan.
Padahal faktanya, mata-mata itu diperintahkan untuk memata-matai atas perintah dari Mister X alias Pangeran Enver itu sendiri. Dalam hal ini, tepatnya satu tahu yang lalu, Mister X pernah meminta bantuan pada sahabatnya untuk menyewa kelompok mata-mata. Untungnya, keberadaan mata-mata itu tak sampai mengganggu hubungan diplomatik antar dua negara tersebut.
Flash Back Off
_____<<>>____
SAAT INI
Di Negara Kepulauan
Apa yang terjadi dengan mataku? Keluh Senja di dalam batinnya.
Keanehan dari semua hal yang dilihatnya, membuat ia ketakutan untuk membuka mata. Tekadnya untuk merahasikan keadaan matanya semakin mantap saja. Ia bertekad akan mempelajari sendiri keanehan itu tanpa bantuan dari siapapun.
"An," panggilnya pada wanita yang selama ini selalu membantunya.
"Ya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku mau berjemur, apa boleh?" tanyanya.
Saat Anda lengah, Senja menatap wanita yang selalu membantunya itu dengan perasaan riang. Walau belum begitu jelas, ia akhirnya bisa melihat sosok Anda. Ingin rasanya memeluk Anda saat ini juga. Namun, Senja mengurungkan niatnya.
Anda, aku bisa melihatmu, maaf atas ketidakjujuranku. Aku terpaksa melakukan ini karena aku sendiri tidak mengerti dengan mataku. Sebelum aku tahu penyebabnya, aku akan merasahasiakannya dari siapapun, batinnya.
"Berjemur di sore hari tidak baik, Nona. Besok saja ya."
"Baiklah."
"Oiya, An."
"Ya, Nona."
"Jika di luar hujan, tolong beri tahu aku ya. Aku ingin memegang air hujan."
"Baik Nona."
"Terima kasih An."
"Ya, Nona. Perintah Anda adalah titah."
"Kamu bicara apa 'sih, An? Aku tidak mengerti."
"Kelak, Nona juga akan mengerti."
"Baiklah, kamu boleh pergi. Aku mau istirahat."
"Baik, Nona."
Anda berlalu setelah membungkukkan badan untuk memberikan hormat pada Senja. Senja keheranan, apakah selama ini Anda selalu membungkukkan badan? Untuk apa? Pikirnya. Kenapa ia diperlakukan seistimewa ini?
"Kak Exam," gumamnya. Apa semua ini karena kamu? Apa Anda adalah utusanmu?
Senja merenung. Lalu ia bertekad untuk menyelidiki identitas kekasihnya itu dengan caranya sendiri.
Tunggu, apa aku masih kekasihnya?
Ia kebingungan. Sebab, sejak Exam meninggalkannya di Waroulaut, ia tidak pernah berkomunikasi dengan Exam lagi. Pria yang ia anggap sebagai malaikat penolongnya itu, seolah menghilang begitu saja bak ditelan bumi.
"Kak Exam," gumamnnya seiring dengan tetesan airmatanya.
"Aku merindukanmu. Apa kamu juga merindukan aku?" lirihnya.
Lalu gadis itu terisak-isak. Ia merasa kebingungan dengan semua hal yang terjadi terhadap dirinya.
"Ayah .... Ibu .... Nenek ...." Lantas teringat akan orang-orang terkasih yang telah pergi mendahuluinya.
"Selamat datang Profesor." Suara dari luar membuatnya segera berbaring dan memejamkan matanya.
Lalu Profesor dan beberapa orang dokter memasuki kamar perawatan milik Senja.
__ADS_1
...~Next~...