PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN

PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN
Pangeran?


__ADS_3

Flash Back


___________


Suatu hari di sebuah pulau kecil bernama Waroulaut, Negara Kepulauan.


Angin laut berhembus perlahan, menggoyangkan daun nyiur, menyibakkan gelombang ombak hingga seakan-akan turut-serta mendorong buih ke tepian.


Pasir putih menghampar luas, warnanya keemasan karena terpantul cahaya senja yang tengah mengulur sang mentari menelusup ke ufuk barat.


Senja di hari ini, betapa sunyi nan sepi. Senja di hari ini, terasa hampa penuh nestapa. Senja di hari ini, tak seindah di saat senja bersamanya. Itulah perasaan yang dialami gadis cantik penyandang tuna netra itu.


Netra yang kelam dan selalu gelap gulita itu, sedang memandang nanar entah ke mana. Buliran bening membasahi pipi halusnya. Isakan kecil terlontar dari bibir mungilnya yang berwarna merah delima.


"Ayah ... ibu ... nenek .... Kenapa kalian semua meninggalkanku? Di saat sendiri seperti ini, aku merasa jika duniaku benar-benar gelap," lirihnya.


"Senja, kamu di sini?" Seorang ibu datang dari kejauhan dan mendekat.


"Bu Tati?" Gadis itu mencari asal suara. Matanya tetap bergulir, padahal ia sadar tidak akan bisa melihat apapun.


"Jangan melamun terus, Nak. Jangan terlalu dipikirkan ya. Ibu yakin Exam akan baik-baik saja," katanya sambil mengusap rambut Senja yang begerak pelan akibat sepoian angin laut.


"Bu, aku membencinya, ta-tapi ... aku juga merindukannya," lirih Senja.


"Membencinya? Atas dasar apa kamu membencinya? Dia pria yang bertanggung jawab, Nak. Sebelum dia dibawa oleh orang-orang asing itu, dia menitipkan kamu pada Ibu. Ibu sudah diberi banyak uang untuk mengurus dan menjaga kamu."


"Tapi kenapa dia tak pamit dulu, Bu? Dia pergi begitu saja tanpa ada satu katapun. Padahal, aku baru saja akan memberikan jawaban kepadanya." Senja berbicara dengan netra berkaca-kaca.


"Saat Exam pergi, Ibu sudah berniat membangunkan kamu, tapi Exam melarang Ibu, dia hanya meminta izin pada Ibu untuk mencium kening kamu. Saat dia mencium kening kamu, Ibu berdiri di ambang pintu. Ibu melihat dia menangis. Lalu orang-orang asing itu membawa Exam."


"Bu, apa orang-orang yang membawa kak Exam terlihat seperti orang jahat?"


"Ibu tidak tahu, Nak. Mereka banyak. Yang masuk ke rumah 'sih hanya dua orang, tapi yang tidak masuk ada banyak. Ibu tidak tahu berapa jumlahnya. Sebab sebagiannya tidak turun dari mobil."


"Apa Ibu sempat mendengar apa yang mereka bicarakan?"


"Emm, sebentar," bu Lela mengernyitkan alisnya untuk mengingat-ingat.

__ADS_1


"Kalau tidak salah, salah seorang dari mereka berkata, 'Siapkan penyambutan Pangeran di Pangkalan Militer,' begitu, Nak."


"Pangeran?" Senja merenung.


"Ya Nak. Oiya, Ibu juga sempat melihat salah satu dari mereka mengganti masker. Wajahnya tampan, Nak. Seperti wajah-wajah pemuda Timur Tengah atau wajah-wajah penduduk Jazirah Arab," terang bu Lela.


Senja terdiam, jikapun ia memikirkannya, ia tetap tak akan mengerti. Satu hal yang hingga saat ini mengganjal hatinya. Ya, Senja tak tahu entah sampai kapan ia akan berada di Waroulaut. Senja juga tak mungkin pergi ke kota seorang diri untuk menemui paman jahatnya.


"Bu Lela, apa kak Exam menitip pesan untukku?" Senja berharap ada sebuah kalimat dari Mister X yang bisa menenangkan batinnya.


"Tidak ada, Nak. Exam hanya berpesan agar Ibu menjaga kamu, mencari sekolah yang cocok untuk kamu, dan setiap bulannya akan mentransfer uang untuk kebutuhan kamu dan uang gaji untuk ibu."


Senja menunduk, jika sudah seperti ini, ia hanya bisa pasrah pada kenyataan bahwa masa depan dan hidupnya telah mendapat jaminan dari seorang malaikat penolong yang ia sendiri tidak tahu asal-usulnya.


Padahal, di malam Mister X pergi, ia berencana pada pagi harinya akan mengatakan jika dirinya akan menerima pinangan Mister X untuk menikah muda dan mengikuti Mister X ke negara asalnya. Keputusan itu diambil setelah ia mendapat jawaban dari doa-doanya melalui mimpi.


Sayang seribu sayang, di saat tekadnya sudah bulat, Mister X malah pergi begitu saja. Kini, kebersamaannya bersama dengan pria misterius itu hanyalah tinggal kenangan. Air mata Senja menetes. Andai ia memberikan jawaban lebih cepat, apakah hari ini ia akan berada di sisi Exam?


"Huuu, huuu."


Tangisan gadis tuna netra berparas jelita itu pecahlah sudah. Ada perasaan menyesal karena ia terlambat memberikan jawaban pada kekasih hatinya itu.


"Aku bukan menangisi dia, Bu. Aku menangisi nasibku," sangkalnya.


"Sabar .... Oiya, Ibu hampir lupa, kata Exam, kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang dirinya, kamu bisa menghubungi pak Agam."


"Mana berani aku berkomunikasi dengan pak Agam, Bu. Mendengar namanya saja, bulu kudukku langsung merinding."


"Ya ampun Nak, Ibu malah kenal baik dengan pak Agam. Perangainya memang dingin dan terkesan sombong. Tapi aslinya baik, 'kok."


"Huuu, terus aku harus bagaimana, Bu?"


"Kamu harus semangat, Nak. Besok, Ibu akan mengantar kamu ke sekolah luar biasa. Kamu harus kejar target jenjang pendidikan. Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Percayalah, di luaran sana masih banyak orang yang tidak seberuntung kamu, Nak."


"Ya, Bu. Aku juga bersyukur, tapi bagaimana caranya aku membalas kebaikan kak Exam?"


"Mudah 'kok, Nak. Kamu tinggal ikuti saja kemauannya, kamu sekolah, belajar yang tekun dan setia."

__ADS_1


"Setia? Maksud Ibu?"


"Senja, sebaik-baiknya pria, kalau tanpa dasar rasa cinta, jarang ada yang mau mengorbankan waktunya untuk seorang wanita. Tapi Exam melakukannya untuk kamu. Jadi, kamu jangan mengecewakan Exam. Dari gelagat yang dia lakukan, Ibu yakin kalau suatu saat Exam pasti akan menemui kamu lagi. Kalian akan bertemu lagi."


"Kenapa Ibu yakin sekali?"


"Nak, firasat Ibu mengatakan seperti itu."


Lalu Bu Lela memeluk Senja. Keistimewaan yang dimiliki Senja, membuat bu Lela teramat sangat menyayangi gadis ini. Rasa sayangnya pada Senja seperti pada anaknya sendiri.


"Bu Lela ... terima kasih. Mulai hari ini, Bu Lela adalah Ibu ketigaku."


"Ibu ketiga?"


"Ya, Bu. Ibu pertamaku sudah meninggal, ibu keduaku, Nenek. Nenekku juga sudah meninggal. Jadi, Bu Lela adalah ibu ketigaku."


"Baik, mulai hari ini, kamu adalah anak bungsu Ibu," sambil mencium kening Senja.


Kemudian, ibu dan anak itu berpelukan erat. Ada linangan air mata di pelupuk mata bu Lela. Memeluk Senja, membuat hatinya tersentuh.


.


Senja mulai meredup, malampun tiba. Senja dan bu Lela telah kembali ke rumah. Pesisir Waroulaut tampak semarak dengan kerlipan lentera kecil para nelayan yang bersuka cita mengais rezeki. Dengan senyum tersungging mereka melaut, tak lupa memanjatkan doa ke khadirat-Nya agar tangkapan ikan di malam ini melimpah ruah.


Ada pemadangan yang mengharukan, terlihat ada seorang balita perempuan yang menangis meraung bermandikan pasir. Usut punya usut, balita itu menangis karena ingin ikut melaut bersama ayah, kakek, dan pamannya.


"Kita tetap di rumah ya sayang. Kalau kamu sudah besar, baru boleh ikut," kata sang ibu sambil memeluk putri kecilnya.


Tatapan ibu itu fokus ke sana. Ke perahu kecil sang suami yang kian mengecil. Ia terus menatapnya hingga perahu kecil itu menghilang ditelan kejauhan.


.


Sementara Senja, setiba di kamarnya, ia melanjutkan tangisnya. Kesendirian ini membuatnya merindukan Mister X.


"Kalau tidak salah, salah seorang dari mereka berkata, 'Siapkan penyambutan Pangeran di Pangkalan Militer,' begitu, Nak."


Kalimat itu terngiang kembali.

__ADS_1


"Pangeran? Siapa sebenarnya dirimu, Kak?" gumamnya. Namun, semakin ia memikirkan tentang Mister X, Senja semakin kebingungan. Akhirnya, ia memejamkan dan berharap agar pria yang dirindukannya itu hadir di alam mimpinya.


...~Next~...


__ADS_2