PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN

PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN
Senja yang telah Berlalu


__ADS_3

Sekarang, tiba saatnya ia akan melakukan panggilan. Orang kepercayaan Pangeran telah memberitahu jika gadis itu sudah selesai diperiksa dokter dan boleh menerima telepon. Pangeran Enver mengusap dadanya dan tampak gugup.


Apakah ia siap berkomunikasi dengan gadis itu? Faktanya, Pangeran Enver masih ragu. Lagi pula, ia kebingungan harus menggunakan kamuflase suara seperti apa untuk bicara dengannya. Akhirnya, ia berkata pada orang kepercayaannya, "Aku tidak jadi meneleponnya."


"Kenapa Pangeran?"


"Tidak apa-apa."


"Baiklah, kalau begitu, saya mohon undur diri Pangeran. Salam bakti saya untuk Pangeran."


"Salam baktimu aku terima."


Lantas, Pangeran mengakhiri panggilan. Setelah itu, agar kerinduannya pada gadis nun jauh di sana sedikit teralihkan, ia kembali ke lapang kerajaan untuk mengikuti latihan memanah. Kini, harapannya untuk membuat gadis itu bisa melihat, kandaslah sudah. Awalnya, ia berharap operasi tersebut berhasil. Namun, kenyataan bicara lain. Gadisnya belum bisa melihat keindahan dunia.


Sebelum pergi ke lapang kerajaan, ia memberi perintah pada asisten pribadinya untuk mengumpulkan data pendonor mata. Harapannya, ia bisa menemukan kembali pendonor yang cocok untuk gadis tambatan hatinya.


...***...


~Flash Back On~


Pagi ini, seorang gadis cantik duduk di sebuah batu karang. Ia menjuntaikan kakinya di atas buih ombak kecil. Digerakannya kaki yang tak beralas itu hingga menyibakan cipratan air. Matanya terpejam rapat. Sedang membayangkan, seperti apakah keindahan laut itu?


Selama ini, ia hanya bisa mendengar cerita dari mulut ke mulut jika laut itu sangat luas, tampak kebiruan dan indah. Ia sebenarnya tak merasa puas dengan jawaban itu. Sebab, ia tidak tahu, seperti apakah luas itu? Seperti apakah biru itu? Dan ... seperti apakah indah itu? Setelah lima bulan lamanya tinggal di kawasan suku adat Waroulat, Senja akhirnya merasa kerasan.


"Senja," panggil seseorang.


"Bu Lela?"


Senja menoleh. Wanita bernama bu Lela mendekati Senja dan segera mengulurkan tangan pada gadis itu.


"Cepat pulang, Exam dapat ikan kesukaan kamu," jelasnya.


"Benarkah?" Senja sumringah.


"Benar, hari ini tangkapan ikannya sangat banyak. Sebagian lagi katanya sudah dijual ke kongsi ikan. Semenjak tinggal di sini, Exam jadi nelayan paling tampan se-Waroulaut. Padahal, dia selalu memakai masker, tapi warga di sini sering memuji ketampanannya," jelas bu Lela.


Ia menuntun Senja melintasi hamparan pasir putih menuju sebuah rumah. Usut punya usut, Mister X alias Pangeran Enver telah menyewa rumah tersebut.


"Kamu pernah lihat Exam buka masker? Kamu 'kan pacarnya. Pernah kali ya?" Tanpa sadar, bu Lela menanyakan hal itu pada Senja.


"Hahaha," Senja malah tertawa. Dan saat itulah bu Lela menyadari kesalahannya.


"Oh, ya ampun Nak, Ibu memang sering lupa kalau kamu tak bisa melihat, maaf ya," sambil mengusap pundak Senja.


"Tak apa-apa, Bu," jawab Senja seraya tersenyum.


"Oiya Senja, Ibu sebenarnya heran pada Exam, awalnya Ibu sempat berpikir kalau dia itu jahat."


"Hmm, jangankan Ibu, aku juga sempat mengira kalau dia jahat.


"Ya ampun, oiya, Ibu sebenarnya penasaran dengan kehidupan kalian berdua. Tapi Ibu tak berani bertanya. Exam juga selalu mengalihkan pembicaraan saat Ibu mau bertanya tentang asal-usulnya. Dia selalu mencari ikan dan ke dermaga di malam hari. Jadi, banyak warga sini yang tak mengenal dan menyadari keberadaannya."


"Kak Exam memang tak bisa melaut sore atau pagi, Bu. Kan dia harus bekerja."


"Ya juga 'sih. Pekerjaan apa ya? Perasaan di depan komputer terus, apa dia tidak pernah pusing?"


Senja hanya tersenyum, kekasihnya memang misterius. Mister X ternyata menyusul mereka. Pria itu memberi isyarat pada bu Lela agar melepaskan tangan Senja. Maksudnya, agar dirinya yang memegang tangan Senja.


"Bu Lela, Bu Lela," panggil Senja. Ia kaget karena tangannya tak ada yang memegang lagi.


Lalu Mister X kembali memberi isyarat pada bu Lela agar pergi. Bu Lela mengangguk. Setelah bu Lela menjauh, Mister X menarik tangan Senja.


"Emm, Bu Lela?"


Senja merasa aneh karena tangan yang memegangnya terasa lebih lebar, hangat, dan halus. Mister X tak menjawab. Ia hanya tersenyum dan lanjut membawa Senja namun bukan ke rumah, malah membawa gadis itu ke tepi pantai.


"K-Kak Exam?"


Senja akhirnya sadar jika yang bersamanya adalah Mister X saat ia merasakan telapak kakinya kembali menyentuh air laut.


Setelah sampai di sisi pantai, tanpa mengatakan apapun, Mister X segera memeluk punggung Senja. Ia benar-benar merindukan gadisnya. Sebab selama ini, Senja selalu berada di bawah pengawasan bu Lela.


"Kak ...."


Selanjutnya, Senja hanya membisu, jantungnya berdegup seiring dengan hangatnya dekapan Mister X yang mendesirkan tubuhnya, ditambah dengan hembusan angin laut yang membelai rambutnya.


"Kamu semakin cantik," bisik Mister X.


"Hahh? Be-benarkah? Emm ... Kak, jangan peluk terus, a-aku tak nyaman," keluhnya.

__ADS_1


"Tapi, aku merindukan kamu, Senja. Bayangkan, kamu selalu berada di bawah ketiak bu Lela. Bu Lela sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk dekat-dekat sama kamu."


"Kak, bu Lela melakukannya pasti karena punya alasan. Mungkin agar kita tak sampai melanggar agama dan norma."


"Aku tahu. Tapi, bagaimana kalau kita langgar saja?"


"Ish, tidak mau, Kak." Senja melepaskan diri dari dekapan Mister X. Namun Mister X kembali mendekapnya.


"Apa kamu tahu? Aku rindu mencium bibir kamu," bisik Mister X.


"A-apa? Ke-kenapa bicaranya frontal sekali?" Senja gugup. Jadi malu sendiri. Sebab, ia juga ternyata menginginkan hal tersebut.


"Apa kamu tidak mau? Kita lakukan yuk! Aku tahu di dekat sini ada tempat yang aman dan tersembunyi. Tempatnya menyerupai goa dan terhalang karang besar. Ke sana yuk!" ajak Mister X.


"A-apa?! Ya ampun, apa K-Kak Exam baru saja mengajakku ke jalan yang sesat?" Senja membelalak.


"Ayo dong Senja," bujuk Mister X. Di balik masker ia menggigit bibirnya karena terlalu menginginkan aktivitas itu.


"A-aku tidak mau Kak." Entah alasannya apa, kali ini, gadis itu menolak dengan lantangnya.


Lalu Senja berlari ke sembarang arah. Mister X mengejarnya. Jadilah mereka saling kejar-mengejar. Mister X pura-pura kesulitan mengejar Senja hingga gadis itupun kelelahan. Langkah Senjapun goyah, namun sebelum tubuhnya terhempas ke pasir, Mister X menangkapnya.


"Kena kau!" seru Mister X.


"Huhh, a-aku lelah sekali, Kak. Kenapa tak menangkapku sedari tadi?" Sambil melingkarkan tangan di leher Mister X. Kepalanya disadarkan di lengan yang terlihat kuat itu.


"Kenapa kamu juga tak mengatakan dari tadi kalau kamu kelelahan?" Sambil membawa Senja menuju sebuah rumah yang terletak di pesisir pantai.


"Kukira Kak Exam memahami perasaanku."


"Maaf ya. Oiya, lain kali, kalau kamu pergi ke pantai, jangan pergi sendirian, selalu ajak bu Lela, oke?"


"Aku juga selalu bersama bu Lela kok, Kak."


"Baik, kali ini aku memaafkan kamu. Oiya, kita sudah sampai."


Mister X meletakan Senja di halaman rumah, tepatnya di atas rumput hias yang menghampar luas menghiasi halamam rumah tersebut.


"Kak, kok aku seperti menginjak rumput di halaman rumah? Di goa juga ada rumput seperti ini?"


"Hahaha, dasar gadis nakal," seru Mister X sambil menyentil pelan kening Senja.


"Kamu mau juga ya?" bisik Mister X. Wajahnya sedikit merona karena ia sadar jika Senja jadi seperti ini akibat ulahnya.


"A-apa?! Jangan asal menuduh ya, Kak!" teriak Senja.


"Cepat, ikan bakarnya sudah matang," seru bu Lela yang tiba-tiba melongo dari balik jendela.


"Baik, Bu," sahut Senja dan Mister X secara bersamaan.


Mereka bergandengan tangan. Sekilas terlihat seperti kakak beradik. Bu Lela tersenyum, saat melihat Senja dan Mister X. Sesampainya di ruang makan, setelah mencuci tangan, Mister X langsung membuangi tulang ikan yang berada di piring Senja.


Rutinitas tersebut selalu ia lakukan acap kali gadis itu akan makan ikan. Atau, Mister X akan mencicipi makanan yang akan dimakan Senja guna memastikan keamanan makanan tersebut. Mister X juga akan mengipasi makanan Senja saat makanannya masih panas.


Saat makan berlangsung, bu Lela sering mencuri pandang pada Mister X. Sejak Mister X dan Senja datang ke sini, bu Lela memang kagum dan merasa aneh dengan sikap Mister X. Itu karena cara makan Mister X berbeda dengan cara makan kaum bangsawan pada umumnya.


Saat makan, Mister X selalu menundukkan kepala. Namun, punggungnya tetap tegak lurus. Tidak berbicara saat makan, dan selalu meletakan atau menghamparkan lap tangan segi empat di pangkuannya. Mister X juga selalu menyediakan mangkuk kecil berisi air mentah untuk mencuci tangan. Namun setelahnya, ia akan cuci tangan kembali di wastafel.


Bahkan, cara minumnyapun berbeda. Padahal, yang diminum hanya air putih. Tapi, Mister X tampak seperti sedang meminum air yang sangat luar biasa enaknya.


Saat Senja selesai makan, Mister X membantu Senja mencuci tangan. Kasih sayangnya terhadap Senja begitu dalam. Selain telah jatuh hati pada gadis ini, faktanya, Mister X memang tahu bagaimana caranya memperlakukan seorang gadis yatim piatu.


...***...


Lalu di suatu hari, saat matahari hendak menelusup ke ufuk barat, saat gelombang laut tengah mengombang-ambing sang ombak, Senja dan Mister X duduk di bawah nyiur kecil. Angin senja membelai rambut keduanya.


Pandangan Mister X terlihat fokus ke sana. Ke titik-titik noktah kecil yang menghiasi hamparan samudra. Ya, titik itu adalah perahu nelayan yang sedang melaut. Namun, yang terlihat oleh Senja hanyalah kegelap-gulitaan.


"Senja," ucap Mister X lirih. Sambil meraih tangan Senja.


"Ya Kak, kenapa?"


"Aku baru saja mendapat kabar dari mata-mata kalau ayahandaku sedang sakit parah, jadi ...." Mister X tak melanjutkan kalimatnya.


"Ayah Kakak sakit? Terus?"


"Sebenarnya, ada banyak orang yang bisa mengurus ayahandaku. Tapi, menurut informasi mata-mata itu, ayahanda selalu memanggil namaku dan memintaku kembali. Padahal, beliau sendiri yang memintaku pergi jauh dan mengasingkan diri. Tapi Senja, aku tak mampu pergi tanpa kamu. Aku tak bisa meninggalkan kamu." Sambil mencium punggung tangan Senja.


"Lalu?" Senja melongo. Jujur, ia bingung harus mengatakan apa.

__ADS_1


"Aku ingin membawamu ke negaraku. Apa kamu mau ikut?"


"A-apa? Ta-tapi, Kak ---."


"Senja, di negara ini, kamu memang masih memiliki keluarga, tapi paman kamu jahat," sela Mister X.


"Ya, Kak. Aku tahu kalau pamanku memang jahat. Tapi, kalau aku ikut, aku takut tak bisa menyesuaikan diri. 'Kan ada yang mengatakan, daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Bagaimanapun senangnya hidup di negeri orang, masih lebih senang hidup di negeri sendiri," jelas Senja.


"Senja, aku sudah berjanji pada nenekmu, padamu, dan pada diriku sendiri kalau aku akan membahagiaan kamu dan akan membuatmu bisa melihat dunia ini. Aku sudah memiliki ide cemerlang untuk menunaikan janjiku itu."


Mister X terlihat serius. Menatap wajah Senja dalam-dalam.


"Ide? Ide apa, Kak?"


"Senja, mari kita menikah muda," ajak Mister X tanpa basa-basi.


"A-apa?!" Gadis itu terkejut maksimal.


"Aku serius Senja, kalau kamu setuju, aku bisa membawa pamanku untuk datang ke sini dan menjadi wali nikah. Setelah kita sah menikah, aku akan membawamu ke negaraku."


"Apa?!" Senja semakin terbengong-bengong.


"Jangan khawatir pada pamanmu. Asalkan ada uang, maka semua urusan dengan dia akan berjalan lancar. Oiya, aku juga bisa menjamin kehidupan seluruh anggota keluargamu. Akan kupastikan mereka aman, hidup layak, dan mendapat pendidikan yang baik," terangnya.


"Emm, a-aku bingung, Kak. Untuk saat ini, aku benar-benar belum bisa menjawab dan belum bisa memberi keputusan."


"Kenapa? Kamu mencintaiku, 'kan?"


"Ya Kak. Cinta 'sih cinta, tapi ... kata bu Lela, kehidupan rumah tangga itu rumit. Aku pernah mengobrol masalah rumah tangga dengan bu Lela."


"Senja, aku tak punya banyak waktu. Aku akan menunggumu sampai besok pagi," desaknya.


"Sesingkat itu?"


"Ya Senja, dan kamu jangan mengira kalau aku main-main. Aku serius ingin menjadikan kamu sebagai permaisuriku."


"Permaisuri? Hahaha, Kak Exam lucu."


"Aku tidak bercanda Senja." Seraya mencubit pipi gadis itu.


"Aduh, sakit tahu, Kak. Ehm, aku juga sebenarnya semakin ke sini semakin ragu." Senja menunduk.


"Ragu? Maksud kamu?"


"Kak, maaf ya, akhir-akhir ini, aku sering tanya-tanya sosok Kak Exam pada bu Lela. Kata bu Lela, Kakak itu tampan, pandai berbahasa asing, pandai menggunakan komputer, pandai menembak, berenang, berkuda dan juga pandai memasak."


"Terus? Masalahnya apa?" sela Mister X.


"Aku ragu kalau aku adalah jodohnya Kak Exam. Aku banyak kekurangannya, Kak. Selain buta, aku juga miskin dan tak berpendidikan. Bagaimana kalau keluarga Kakak tak menerimaku?"


"Senja, wanita yang akan aku nikahi adalah wanita yang kucintai. Aku bebas memilih siapapun, percaya padaku. Pokoknya, besok harus sudah ada jawaban. Aku tak ingin mendengar alasan apapun, tak ada protes, dan tak ada tapi-tapian," tegas Mister X sambil merangkul dan menekan pelan bahu Senja agar bersandar di lengannya.


"Senja," panggilnya.


"Ya, Kak."


"Selama berada di sini, saat hari menjelang senja, aku selalu merasa lebih bahagia. Karena di saat bersamaan, aku bisa melihat dua keindahan sekaligus. Pertama, keindahan suasana senja di pesisir pantai, dan yang kedua, keindahan Senjaku, kekasihku," jelasnya sambil mengecup puncak kepala Senja.


"Terima kasih atas rayuannya. Oiya Kak, selain alasan tadi, aku juga takut terhadap hal lain," tambah Senja.


"Takut apa lagi? Di negaraku, usia tujuh belas tahun itu sudah bisa menikah, kok. Kamu sudah dapat kartu identitas juga, kan? 'Nah, itu artinya kamu sudah dewasa."


"Bukan masalah usia 17 tahunnya, Kak. Hehehe, masalahnya adalah, aku takut menghadapi malam pertama," ucap Senja sembari terkekeh.


"A-apa?" Seketika, Mister X merasa jika wajahnya jadi panas setelah mendengar ucapan Senja.


"Kata temanku yang bekerja di toko bunga, setelah melakukan malam pertama, dia masuk rumah sakit akibat perdarahan hebat. Sampai harus dirawat dan masuk ruang operasi, Kak. Awalnya, karena malu, temanku tak mau ke rumah sakit. Eh, perdarahannya malah semakin banyak sampai dia anemia. Aku takut seperti itu, Kak."


Mister X melongo, matanya mengerjap. Malam pertama seperti apa pikirnya sampai bisa semengerikan itu.


"Gila, pasti ada yang salah," gumam Mister X.


"Ya 'kan? Kak Exam saja kaget, apalagi aku?"


"Jangan mengkhawatirkan masalah itu, aku janji tidak akan melakukannya sebelum kamu siap. Lagipula, saat kamu sudah sah menjadi istriku, aku dan kamu harus menjalani banyak ritual dan upacara. Dalam hal ini, kapan aku melakukan malam pertamapun ada aturannya. Aku tidak bisa berkehendak sesuka hatiku," jelas Mister X.


"Hmm, Kakak bicara apa 'sih? Aku tidak mengerti."


...~Next~...

__ADS_1


__ADS_2