PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN

PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN
Pertolongan


__ADS_3

Sementara gadis itu, ternyata sangat berharap bisa bersua kembali dengan wanita yang telah membantunya membuka bekal. Ia bahkan menyesal karena belum sempat berkenalan dan menanyakan nama wanita tersebut.


Seperti biasa, sore itu, ia berjalan menelusuri trotoar khusus penyandang disabilitas dengan langkah mantap. Bibirnya yang tampak penuh dan sensual itu menyunggingkan senyum. Ia bahagia karena baru saja mendapatkan uang gajian hasil jerih payahnya bekerja di toko bunga.


Karena tuna netra, ia jelas tidak mengetahui secara detail kedaan yang terjadi di sekitarnya. Tujuannya gadis hanya satu. Segera tiba di rumah nenek dan memberikan uang gaji pertama pada neneknya.


Namun ia berhenti sejenak kala mendengar derap langkah kaki yang berasal dari arah belakang. Karena kekurangannya, ia ternyata memiliki kelebihan di indra pendengaran.


Secara otodidak, ia bisa membedakan bagaimana bunyi suara kaki penyandang tuna netra sepertinya dengan cara berjalan manusia normal.


Apa aku ada yang mengikuti? Batinnya bertanya-tanya.


Saat ia berhenti melangkah, langkah kaki itupun berhenti. Dan saat ia melanjutkan langkahnya, derap kaki itu terdengar kembali.


Ya Tuhan, s-siapa ya? Semoga bukan orang jahat, harapnya.


Kembali melanjutkan langkah dengan tangan sedikit gemetar. Tongkat yang ia pegang bahkan sempat terjatuh. Batinnya tidak tenang, jantungnya kian berdegup. Ditambah ada perasaan tidak enak yang mengganggu relung hatinya.


Bibirnya berkamit memanjatkan doa. Naasnya, ia tidak mendengar kebisingan lain yang berada di dekatnya kecuali langkah kaki itu.


Tiba-tiba, seseorang merebut tasnya, ia jelas kaget, tapi berusaha mempertahankan.


"I-ini tasku, lepaskan!" teriaknya.


"Hei gadis buta! Lebih baik kamu serahkan saja tasmu!"


"K-kamu jambret? Tolong, jangan mengambil uangku, ini gaji pertamaku, please ..." Ia masih bersikukuh dengan tasnya.


Ternyata, yang mengikuti gadis itu memiliki itikad jahat. Mereka beraksi saat gadis itu melintasi jalur yang sepi dari lalu-lalang. Ada dua orang, satu berbadan besar, satu lagi tinggi dan kurus.


"Hei lihat! Dia cantik, ck ck ck, sepertinya mantap nih," ujar yang berbadan besar sambil menelan salivanya. Matanya memerhatikan gadis itu dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.


"Benar juga," sahut temannya. Sambil memperhatikan area sekitar, sedang jaga-jaga takut ada yang melintas.


"A-apa maksud kalian, hahh?! Silahkan ambil uangku!" Gadis itu segera melepas tas dari genggamannya saat mendengar ucapan mereka.


Pikirnya, uang bisa dicari. Tapi tidak dengan kehormatan dan nyawa. Lalu melangkah tergesa dan berupaya meninggalkan penjambret tersebut.


"Hei, tidak semudah itu cantik," si kurus menahan tangannya.


"Kamu mau apa?! Lepas! Atau aku teriak!" bentaknya.


"Silahkan teriak cantik, tidak akan ada yang bisa menolongmu," kata si badan besar.


"Tolooong, tol ---."


Teriakan gadis itu langsung tercekal karena si badan besar sudah membekapnya dengan sapu tangan andalan yang mengandung obat bius.


"Salahmu berteriak gadis cacat!" katanya.

__ADS_1


"Ayo kita nikmati tubuhnya, aku sering melihat dia, tapi baru kali ini memiliki kesempatan mendekatinya," ujar si kurus.


Mereka membawa gadis itu ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari area tersebut. Gadis itu dibawa entah kemana, yang tertinggal hanya tongkat tunanetranya. Tergeletak begitu saja di sisi jalan yang sepi.


.


Beberapa menit kemudian, pria misterius yang tak lain adalah Mister X, melintas di jalur itu.


Akhir-akhir ini, memang sudah menjadi rutinitasnya setiap sore untuk pulang ke tempat rahasianya melalui arah ini. Dia akan memantau si gadis tuna netra itu sampai ke depan rumahnya. Ia menautkan alis dan melihat jam di tangan kanannya. Sebab, yang dinanti tak kunjung melintas.


Aneh, pikirnya. Lalu menyusuri jalan tersebut dengan perasaan gundah-gulana. Dan tibalah ia di jalur yang sepi. Terkejut tiada terkira saat melihat tongkat milik gadis itu tergeletak.


Ia merasakan jantungnya memanas. Perasaan takut kehilangan kembali mencuat, kekasihnya yang terbunuh beberapa tahun silam kembali terlintas di benak. Membuatnya benar-benar menjadi pria lemah.


Darah segar itu ... darah yang mengalir dari kepala sang pujaan hati hingga bersimbah seolah tercermin lagi di depan matanya.


"Tidaaak."


Mister X bersimpuh. Memukul dadanya berulang kali. Lalu mengambil tongkat gadis itu dengan tangan gemetar.


"Kenapa ...?" lirihnya.


Ingin sekali protes pada Yang Maha Kuasa, tapi ... ia tahu jika semua khendak-Nya selalu yang terbaik. Jikapun manusia melihatnya sebagai hal buruk.


Ia lantas bergegas dengan langkah cepat. Menuju ke sebuah bangunan rahasia yang selama ini ditempatinya, tongkat gadis itu digengam erat. Lalu dalam hati ia berkata ....


Sepanjang jalan, ia merenung. Selama ini, selalu menyimpan perasaannya jika itu berhubungan dengan wanita. Hanya sanggup melihat orang yang disayanginya dari kejauhan.


Profesinya yang berbahaya menuntutnya untuk menyembunyikan identitas dari. Ia sebenarnya pernah dicintai dan jatuh cinta, tapi ... kekasihnya terbunuh tanpa sebab. Sejak saat itulah, ia takut jatuh cinta dan dicintai.


Di keadaan itu, ia hanya berharap segera menemukan cinta dalam setiap doanya. Namun beberapa hari yang lalu, ia menemukan gadis itu. Seorang gadis yang tidak bisa melihatnya.


Gadis istimewa yang tidak bisa melihat indahnya dunia. Bahkan, dia tidak bisa melihat keindahan dan kecantikan dirinya sendiri.


"Di mana kamu Senja?"


Tiba di tempat rahasinya. Ia segera mengecek CCTV beberapa tempat di pusat kota yang sudah terkoneksi dengan komputer miliknya. Ia tengah berusaha mencari gadis cantik itu.


...***...


Gadis tuna netra bernama Quitta Senja Izora itu ternyata dibawa ke sebuah banguan kosong yang sepertinya sudah lama tidak dihuni. Bangunan tersebut berada di tengah kota, di antara gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.


Gadis itu belum sadar, ia dibaringkan di sebuah sofa bekas yang kotor dan lusuh.


"Ck ck ck, benar-benar gadis yang sangat cantik dan manis. Apa yakin kita akan menikmatinya berdua saja?" tanya si badan besar pada temannya yang sedang membelalakan mata. Temannya begitu terpesona melihat tubuh Senja yang elok dan nyaris tanpa cela.


"Maksud kamu?" Air liurnya bahkan meleleh. Isi kepalanya telah dipenuhi hal-hal kotor dan menjijikkan.


"Bagaimana kalau kita jual saja? Maksudku dilelang. Tapi kita harus cek dulu keasliannya. Masih gadis atau tidak," ungkap si tinggi kurus.

__ADS_1


"Halah tidak perlu, ini barang bagus tahu. Kita sangat beruntung kalau dapat dia," tolak si badan besar. Ia mulai mendekat ke arah Senja. Lalu mengusap pelan kaki Senja.


"Hei, kamu berpikir dong! Kalau kita jual, kita bisa untung besar!" Si tinggi kurus bersikukuh.


"Ya sudah, cepat periksa kegadisannya, kalau masih gadis kita jual. Kalau barang bekas, kita pakai bergiliran sampai puas. Hahaha." Pada akhirnya, si tubuh besar patuh juga pada si kurus.


"Hahaha." Tawa pria biadab itu bersahutan.


"Hahaha, aku mau memfoto bagian itu. Wah, pasti indah sekali." Si kurus mengambil ponsel dari tasnya.


Namun ....


'KRAK.'


Tiba-tiba terdengar suara patahan ranting yang terinjak.


"Siapa di sana?!" teriak si kurus. Panik. Mereka kaget, segera mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru bangunan.


Lalu ....


'Syuuung.'


'Tak.'


Satu busur panah berukuran kecil mengenai leher si kurus. Menancap dengan sempurna. Si kurus tersungkur dengan wajah mencium lantai yang terlihat sangat kotor dan ditumbuhi rumput. Si badan besar bengong, terkesima dengan serangan itu.


'Syuuung.'


'Tak.'


Busur yang lain kini menancap juga di leher si badan besar saat dirinya masih ada dalam mode kaget karena kawannya tersungkur.


'BUGH.'


Suara si badan besar menghantam lantai terdengar jelas. Mereka tak begerak lagi. Rupanya, efek mata panah itu membuat mereka tak sadarkan diri. Sepertinya, busur kecil itu mengandung obat bius.


Siapakah yang menyerang jambret-jambret itu. Belum ada sosok lain yang muncul di area itu. Kecuali dua penjahat dan gadis itu yang saat ini mulai tersadar. Senja celingak-celinguk, tangannya meraba area di sekitarnya dengan raut wajah kebingungan.


"Tolooong, tolooong," teriaknya.


Lalu mencoba berdiri dan berjalan terhuyung tanpa arah tujuan. Hanya ada kegelapan di balik netra beningnya, airmatanya berurai. Ia menangis terisak-isak.


"A-aku di mana? Nenek ... tolong aku ...," lirihnya.


"Ehm, ehm. Nona, Anda baik-baik saja, kan?"


Terdengar dehaman dan suara perempuan dari area itu. Namun, sosoknya belum terlihat. Senja terkejut. Dalam ketakutan, ia menautkan alis. Merasa pernah mendengar suara itu. Tapi di mana ya?


...~Next~...

__ADS_1


__ADS_2