PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN

PERAWAN MILIK PANGERAN IS SPECIAL HUMAN
Merahasiakan Fakta Aneh


__ADS_3

Ruang ICU Rumah Sakit Pusat Kota Negara Kepulauan


"Nona Senja, pegang tangan saya. Apa Nona bisa mendengar saya?"


Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan, sedang memegang tangan seorang pasien di ruangan tersebut. Pasien itu adalah gadis yang sebelumnya telah menghebohkan rumah sakit karena sempat menghilang secara misterius selama dua malam satu hari.


"Bisa, aku bisa mendengarmu, Anda." Ternyata, wanita disamping pasien tersebut bernama Anda. Tidak jelas seperti apa rupa wanita itu. Sebab, dia memakai masker dan topi.


"Nona, cepat buka matanya, dokter dan seluruh tim medis ingin segera melihat respon mata pendonor terhadap mata Nona," bujuknya.


"Aku takut, An. Aku takut dengan mataku sendiri."


"Kelak, kamu akan menyadari seberapa penting dan seberapa berbahayanya matamu yang cantik ini."


Ternyata, gadis bernama Senja itu terus mengingat kalimat tersebut. Kalimat yang ia temukan dalam mimpinya ketika masih terpengaruh obat bius.


"Nona Senja, kami akan segera memeriksa mata Anda." Sekelompok dokter dan suster datang dengan membawa berbagai perlengkapan medis.


"Aku belum siap," katanya. Tetap memejamkan matanya rapat-rapat.


"Nona, mohon kerjasamanya. Kami perlu mengeceknya untuk memastikan apakah operasinya berhasil atau tidak. Setelah ini, Nona juga harus dipindahkan ke kamar perawatan biasa. Jadi, prosedur pemeriksaan ini tidak boleh dilewatkan," terang seorang dokter.


"Mereka benar, Nona. Ayo, buka matanya ya, pelan-pelan saja."


Anda kembali membujuk. Ia bahkan mencium tangan gadis itu penuh kasih sayang. Ya, semenjak ia diberi tugas untuk menjaga gadis ini, ia telah menganggap gadis ini sebagai adiknya sendiri.


"Ba-baiklah," lirih Senja dengan terbata-bata.


"Kelak, kamu akan menyadari seberapa penting dan seberapa berbahayanya matamu yang cantik ini."


Dan kalimat itu terngiang lagi. Memunculkan lagi ketakutan luar biasa di dalam dirinya. Ia belum paham sepenuhnya tentang kalimat itu. Namun, ketakutan itu tetap ada.


"Yuk, Nona. Perlahan saja."


Bujukan Anda akhirnya berhasil merubah jalan pikirannya. Selain itu, Senja juga merasa bahwa ia harus menghormati tim medis yang telah bekerja keras untuk mengembalikan penglihatannya melalui prosedur operasi yang memakan waktu cukup panjang.


Dengan debaran di dada. Dengan ketakutan dan perasaan berkecamuk lainnya, akhirnya ... gadis itu membuka mata untuk pertama kalinya pasca prosedur operasi.


'Deg, deg, deg.'


Denyut jantung Senja yang terkoneksi dengan monitor terekam kian cepat dan tidak stabil. Tim medis segera siaga. Ketegangan nyatanya bukan hanya milik Senja saja. Seluruh tim medispun merasa tegang dan harap-harap cemas. Apakah operasi mata gadis itu akan berhasil? Semuanya menunggu respon dari Senja.


Senja, gadis itu membuka matanya seraya mengeratkan genggaman tangan pada bed pasien yang ditempatinya. Kegelapan yang selama itu menyelimutinya perlahan memudar saat matanya terbuka. Kini, tergantikan oleh sesuatu yang terang-benderang. Ia bahkan belum tahu nama sinar yang memancar dari sana.


Dilihatnya, ada benda bulat di atas sana. Memancarkan rona putih yang menurutnya sangat indah. Terlihat pula bagian lainnya.


Apa itu langit? Bukankah langit itu sangat indah, membiru, dan luas? Kenapa langit yang ini sangat kecil? Tidak indah dan sempit. Pikirnya.


Ternyata, yang dilihat Senja adalah lampu dan langit-langit ruang ICU. Dokter Ketua meletakkan ujung jemari telunjuk di bibirnya. Sedang memberi intruksi agar semua orang tidak ada yang mengatakan apapun. Cukup melihat respon Senja dan diam.


Lalu, Senja yang kebingungan, kini menggulirkan pandangan ke sampingnya seiring dengan detak nadinya di layar monitor yang terus meningkat. Gadis itu membulatkan matanya. Hal yang pertama ia lihat setelah menatap ke atas adalah saku seorang suster. Di saku itu, ia melihat ada deretan angka-angka dan huruf yang baru ia kenali. Angka-angka tersebut membentuk sebuah kata yang tidak ia pahami.


Namun, saat matanya berkedip, yang ia lihat hanyalah sebuah saku yang berisi ponsel. Matanya berkedip sekali lagi untuk memastikan dan mengalihkan pandangan pada saku baju suster yang ada di sisi kirinya. Senja kembali terhenyak, ia melihat ada nomor acak yang muncul dari saku tersebut.


Senja bingung, ia tak mampu mengartikan simbol yang muncul itu. Segera mengedipkan matanya. Ternyata, yang ia lihat adalah saku yang di dalamnya terdapat sebuah benda. Saat Senja mencoba menatap pada Anda, ia merasakan jika matanya sakit dan kepalanya mendadak pusing.


"Awhh," pekiknya. Senja memegang kepalanya. Tim medis segera memeriksa.


"Apa yang Anda rasakan, Nona? Bisa menjelaskannya pada kami?"


"Bagaimanan dengan mata Nona? Apa sudah bisa melihat? Apa melihat sesuatu namun samar-samar?" Tim medis merasa penasaran.


"Sa-sakit, mataku sakit, Dok. Kepalaku pusing," keluhnya.

__ADS_1


"Cepat lakukan penanganan, Dok!" Anda panik. Ia tampak cemas akan kondisi Senja. Apa lagi saat melihat mata Senja mengeluarkan air mata.


"Sabar, Nona. Bertahan ya, saya mohon," harapnya.


"An, pegang tanganku. An, a-ada yang aneh dengan mataku," lirihnya saat Anda mendekat ke arahnya.


"Keanehan apa? Cepat katakan pada dokter," desak Anda.


"Emm, a-aku ...."


"Kelak, kamu akan menyadari seberapa penting dan seberapa berbahayanya matamu yang cantik ini."


Lagi, kalimat itu seolah memberinya pertanda tersirat yang sulit dipahami. Senja kebingungan. Hatinya diselimuti kegundahan. Apa yang baru saja ia lihat, jelas sangat mengganggu pikirannya.


"Ya, Nona. Katakan saja, kita akan segera melaporkan perkembangan Nona pada Profesor. Tolong bantu kami ya, Nona. Jangan takut, kami berada di sini untuk membantu Nona," bujuk dokter pada Senja yang saat ini kembali memejamkan matanya.


"A-aku ... be-belum bisa melihat apapun," jawabnya. Sebuah jawaban yang membuat segenap tim medis melongo.


"Apa Nona serius? Apa Nona yakin tidak bisa melihat sedikitpun? Melihat cahanya misalnya?" tanya suster.


"Aku sempat melihat cahaya putih, tapi selanjutnya yang aku lihat hanya seberkas cahaya berbentuk garis," terangnya.


"Berarti operasinya gagal." Dokter Kepala menundukkan wajahnya. Ia tampak sedih. Ya, operasi pada blind total memang jarang yang berhasil.


"Sabar Dok. Jika Nona Senja mengatakan ada seberkas cahaya berbentuk garis, itu artinya, operasinya hampir berhasil. Mungkin perlu pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui penyebabnya. Atau bisa jadi, kornea mata Nona Senja sedang melewat fase adaptasi." Anda memberi semangat pada dokter tersebut.


"An benar, Dok. Setidaknya, aku sudah bisa melihat sesuatu yang terang, bukan kegelapan lagi," tambah Senja. Dalam benak gadis itu ternyata sedang terjadi perang batin. Antara mengatakan yang sejujurnya, atau merahasiakan apa yang dilihatnya dari siapapun.


"Kelak, kamu akan menyadari seberapa penting dan seberapa berbahayanya matamu yang cantik ini."


Nyatanya, kalimat itu seolah mengisyaratkan pada Senja untuk merahasiakan keadaan matanya. Gadis itu berpendapat, akan lebih baik jika ia pura-pura buta untuk sementara waktu, sampai semua misteri di dalam dirinya terjawab dan ia berani serta yakin untuk menunjukkan pada dunia jika matanya telah berfungsi.


"Baik, Bu Anda benar. Suster Liga, cepat kabari Profesor," titah Dokter Kepala.


"Baik, Dok." Suster Liga undur diri.


Lagi, saat ia berkedip dan memfokuskan tatapannya. Ia mampu melihat hal-hal janggal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Ia bisa melihat kabel-kabel rumit yang memenuhi ruangan ICU, kabel-kabel yang terhubung pada lampu, dan seluruh kabel yang berhubungan dengan benda-benda elektronik yang terdapat di ruangan tersebut.


Bahkan, ia bisa melihat ada sebuah kabel yang sepertinya sedang mengalami kerusakan. Benar saja, saat suster menggunakan sambungan listrik yang terhubung dengan kabel tersebut, suster itu menautkan alisnya, beberapa kali melakukan pengecekan, dan beralih ke sambungan listrik yang lain.


"Tolong lapor ke bagian IPSRS (Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit), sakelar yang itu tidak berfungsi," titahnya pada suster lain.


Kejadian itu membuat pikiran Senja kian kalut. Ia benar-benar takut akan keadaan aneh yang terjadi pada matanya. Iapun melamun dan menatap ke sembarang arah.


"Tidak apa-apa Nona, seseorang akan mencarikan kembali pendonor mata yang cocok untuk Nona Senja," ucap Anda sambil menyisiri rambut Senja.


"An ...."


"Ya Nona."


"Tolong katakan pada seseorang yang kamu maksud agar tidak perlu mencari lagi pendonor mata untukku. Aku sudah bahagia dengan mataku yang sekarang."


Senja berkata sambil mengintip Anda yang tengah memainkan poselnya. Tiba-tiba, ia melihat sebuah deretan angka dan huruf muncul di layar ponsel milik Anda. Deretan angka dan huruf itu menghilang saat Senja berkedip.


Apa yang terjadi selanjutnya?


Saat Senja memerhatikan tangan Anda, Ternyata, deretan angka dan huruf itu digunakan oleh Anda untuk membuka sebuah aplikasi di ponsel miliknya.


Ini tidak mungkin! Seloroh Senja dalam batinnya.


Apa mungkin mataku bisa mendeteksi sandi rahasia? Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Pasti karena aku stres dan masih terpengaruh efek obat bius, duganya.


"Kenapa Nona? Apa Nona melihat cahaya yang berbeda warna?"

__ADS_1


"Tidak, An. Aku tidak melihat apa-apa?" elaknya.


Lalu, Senja meraih tangan Anda untuk diletakkan di bawah pipinya. Anda mengelus rambut Senja. Ia paham akan sesuatu. Jika Senja memosisikan tangannya seperti ini, itu tandanya, gadis cantik itu sedang merasa ketakutan dan cemas.


Apa yang Anda takutkan, Nona? Sikap Nona sangat aneh, batin Anda menduga-duga.


Sementara Senja, ia memilih memejamkan matanya demi menghindari hal-hal yang tak masuk akal itu. Padahal, ia sangat ingin melihat lebih banyak lagi. Ia ingin mengenali seluruh benda dan semua hal yang menurutnya sangat asing dan terlihat begitu menarik. Namun ....


"Kelak, kamu akan menyadari seberapa penting dan seberapa berbahayanya matamu yang cantik ini."


Kalimat itu, membuatnya harus menahan diri demi mengetahui seberapa penting dan seberapa bahayanya mata yang dimilikinya.


...***...


Negara Kerajaan Tepi Barat


"Apa?! Operasinya belum berhasil?!"


Pangeran Enver terlihat gundah-gulana. Ia menerima panggilan sambil mondar-mandir.


"Ya Pangeran. Tapi, Nona mengatakan melihat sesuatu yang terang," jelas seseorang di balik telepon.


"Kenapa gagal?! Cepat kirimkan laporan operasi pasca bedahnya! Aku mau cek!" teriaknya.


"Baik, Pangeran."


"Oiya, aku ingin mendengar suaranya. Cepat sambungkan panggilannya."


"Apa Pangeran mau mengobrol?"


"Tidak, aku hanya ingin mendengar suaranya."


"Apa yang harus saya katakan Pangeran?"


"Katakan saja kalau aku adalah dokter penanggung jawab yang ingin melakukan wawancara."


"Baik Pangeran. Mohon menunggu dulu ya. Sebab, Nona baru saja dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Sekarang, Nona juga sedang diperiksa."


"Apa dokternya laki-laki?"


"Laki-laki Pangeran."


"Apa katamu?! Laki-laki?!"


"Ya Pangeran."


"Masih muda apa sudah tua?!"


"Emm, su-sudah tua Pangeran."


"Syukurlah. Laporkan padaku jika gadis itu genit, atau ada pria yang menggodanya."


"Baik Pangeran. Perintah Anda adalah titah kerajaan. Saya akan menjaga Nona Senja dengan nyawa saya."


"Terima kasih, berapa lama aku harus menunggu?"


"Saya akan segera menghubungi Pangeran saat pemeriksaan pada Nona telah selesai."


"Baik, aku menunggu." Pangeran Enverpun mengakhiri panggilannya.


Selama menunggu, Pangeran Enver gugup. Pipinya memerah. Ia bingung harus menggunakan kamuflase suara seperti apa saat berkomunikasi dengan gadis pujaannya.


"Senja, aku merindukanmu."

__ADS_1


Lalu ia berguling-guling di atas tempat tidur megahnya sembari memeluk guling. Dan masa-masa indah bersama gadis itu terbayang kembali. Sang Pangeran lantas tersenyum sambil mengusap bibirnya. Teringat saat ia memberikan first kissnya.


...~Next~...


__ADS_2