
Hari sudah hampir petang. Mushola disamping rumah Pak Annas sudah mulai ramai didatangi anak-anak laki-laki dan perempuan. Usianya beragam, mulai dari 5 sampai 11 tahun. Kebanyakan dari mereka tinggal di desa adalah anak-anak kampung ini. Mereka datang untuk mengaji di mushola dengan pak Annas dan istrinya.
Sudah sepuluh tahun pak Annas dan istri menjadi guru ngaji dikampung mereka secara suka rela. Warga kampung pun gembira karena ada yang berbaik hati mengajari anak-anak mereka mengaji Al Qur'an. Terlebih lagi pak Annas tidak pernah minta bayaran. Semua dilakukan ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah SWT.
Namun warga kampung terkadang memaksa memberikan amplop seikhlasnya. Suami istri itu selalu menolak, namun semua beralasan uang itu bukan sebagai bayaran, tapi untuk membantu bayar listrik mushola. Akhirnya mereka tak kuasa menolak keinginan tulus warga, dengan syarat ikhlas dan tidak menjadi beban. Para warga kampung pun setuju.
Pak Annas adalah seorang Kepala sekolah SD setempat. Jarak sekolah dari rumah nya tidak jauh, sekitar 1 kilometer saja. Umurnya menjelang 50tahun. Sebentar lagi pensiun.
Sementara istri nya Bu Arum, hanyalah ibu rumah tangga. Usianya 45 tahun.
Mereka hanya dikaruniai seorang putri. Namanya Aisyah. Wajah dan akhlaknya secantik namanya. Ia berumur 19 tahun, sedang kuliah di kota Pekanbaru. Gadis cantik berjilbab lebar ini sedang libur semester. Ia pulang kampung dan mengisi kegiatan membantu ayah dan ibu nya mengajari anak-anak mengaji.
__ADS_1
Aisyah keluar dari pintu samping rumah dengan tangan menenteng tas berisi mukena. Ia berjalan menuju mushola, langsung diserbu anak-anak perempuan kecil yang berlari dan bergelayutan manja ditangan nya.
"Kak Ais, kak Ais, sini aku bawakan tas kakak," kata seorang gadis kecil berusia sekitar 6 tahun.
Belum sempat ia menjawab anak kecil itu langsung menarik tas dari tangan nya, sambil lari-lari menuju mushola.
Teman-teman gadis kecil itupun seperti terkomando, ikut lari sambil tertawa dan berteriak saling mengejar.
"Dini, Santi, Khanza, sudah jangan lari-larian.... Nanti keringatan lho ini kan sudah mau magrib. Ayo ke tempat wudhu kita wudhu bareng-bareng sama kak Ais yuk...." anak Aisyah.
Mereka serentak bersorak.
__ADS_1
"Ayooooo..... aku duluan aku duluan...."
Semua berebut ingin sampai duluan di tempat wudhu. Aisyah hanya tertawa kecil melihat tingkah laku mereka. ingat masa kecilnya dulu dia juga suka lari-larian ke sana kemari.
"Jangan rebutan ya adik-adik manis.... Yang tertib. Buka kran nya pelan-pelan biar gak muncrat kemana-mana airny. Rahma, itu lengan bajunya digulung biar nggak basah.
Lhoooo kok itu Anita sama Chika malah main siram- siraman sih, nanti basah semua bajunya .... Khanza kalau masuk tempat wudhu sendal nya di copot dulu. Nita.........!!!! "
Aisyah merepet karena tingkah anak-anak dihadapan nya. Nita yang wudhu pas di depan Aisyah membuka kran terlalu kencang sehingga air pun muncrat kemana-mana. Tak ayal jilbab Aisyah pun ikut basah.
Anak-anak seperti tidak peduli dengan suara Aisyah. mereka tetap main air. Aisyah hanya bisa geleng-geleng kepala. Meskipun mereka nakal tapi Aisyah tetap nggak bisa marah pada mereka. Dari dulu Aisyah memang suka anak-anak. Melihat mereka tertawa membawa rasa bahagia dalam hati Aisyah. Ya, Aisyah memang selalu sepi. Konsekuensi sebagai anak tunggal, tak punya kakak ataupun adik yang bisa diajak main. Makanya Aisyah terkesan dewasa karena selalu main sama ibu nya.
__ADS_1