
Bima terbangun saat pintu ruangan dibuka oleh suster.
"Selamat pagi Bapak Hartawan.... Bagaimana tidur nya, nyenyak...?" Sapa suster ramah.
Pak Hartawan mengangguk kecil.
"Kita cek tensi dulu ya pak.... Ada keluhan pak? Pusing? Mual?"
"Pusing aja sus..." Jawab pak Hartawan pelan.
"Tensi nya sudah mulai normal ya pak.... Sebentar lagi jatah makan bapak datang. Tolong dihabiskan ya pak, setelah itu lanjut obat. Setelah itu dokter datang untuk memeriksa bapak kembali.
"Ada keluhan lain, pak?"
Pak Hartawan menggeleng.
"Baik kalau begitu saya permisi ya pak, Bu...."
"Terima kasih, sus...." Kata Bu Sandra.
"Sama-sama Bu... Kalau ada apa-apa jangan lupa pencet bel nya ya Bu...."
"Baik suster."
Bima mendekat setelah suster keluar ruangan. Duduk di samping mamanya.
"Gimana keadaan papa...."
Tidak ada yang menjawab. Semua diam.
Pak Hartawan membuang muka.
"Pa, Bima minta maaf atas kejadian tadi malam. Bima gak bermaksud melawan papa. Sungguh pa Bima menyesal."
__ADS_1
Semua masih terdiam. Bima menghela nafas berat. Diraihnya tangan papa.
"Pa, Bima serius nyesal pa.... Gak seharusnya Bima ngelawan papa kayak tadi malam. Tolong percaya sama Bima pa. Bima harus apa biar papa mau maafin Bima? Apapun akan Bima lakukan asalkan papa mau maafin Bima dan mau ngomong lagi sama Bima."
Pak Hartawan menoleh perlahan-lahan. Memandang jauh kedalam mata Bima. Tampak kesungguhan dari tatapan mata anak semata wayangnya itu.
"Kamu serius mau melakukan apapun?" Tanya pak Hartawan ragu.
Bima mengangguk cepat. Direngkuhnya erat tangan papanya kedalam pelukannya.
"Bima, papa cuma mau bilang ini sekali saja. Bila kamu mau menuruti apa keinginan papa, papa akan merasa bahagia. Kalaupun tidak, mungkin inilah hukuman untuk papa karena tidak bisa mendidik kamu menjadi anak yang baik dan taat."
Bima terdiam. Menanti apa yg akan diucapkan oleh papanya.
"Bima, papa dan mama sudah tua. Papa ingin kamu berubah. Jadi orang yang lebih baik lagi. Dekat pada agama. Rajin beribadah. Kamu sudah lebih dari cukup untuk dibilang dewasa. Saatnya kamu memperbaiki diri, mencari pendamping hidup yang baik, yang Soleha, taat, bagus agama dan akhlaknya."
Bima tertunduk diam. Ia masih mencerna kata-kata papa.
Bima perlahan mengangkat kepala. Memandang kearah papa yang terlihat sedih. Pandangan nya menerawang jauh..... Entah apa yang sebenarnya mengusik pikiran papanya.
Bima menghela nafas.
"Pa.... Bima akan berusaha nuruti keinginan papa. Tapi Bima perlu tau pa, kenapa papa ngomong kayak gini...."
Hening .... Semua seperti terpaku pada pikiran masing-masing. Akhirnya Bu Sandra yang angkat bicara.
"Bima, Mama minta maaf sama kamu karena belum bisa jadi ibu yang baik. Selama ini kami sudah berhasil membuat kamu tumbuh dan berkembang jadi anak yang sehat, mandiri dan sukses. Tapi sebenarnya titik kesuksesan orang tua tidak hanya terpatok pada hal itu saja. Kesuksesan itu semata hanya Dimata manusia dan dunia."
"Satu hal yang kami lupakan selama ini, kita tidak peduli sudut pandang Tuhan. Kamu adalah titipan dari Allah untuk kami berdua, agar dijadikan sebagai ladang pahala bagi kami. Tapi kami lalai, melupakan apa tujuan terbesar kamu dilahirkan. Itu semua karena apa, Bima? Karena mama bukanlah perempuan yang Soleha. Mama gak mampu bimbing kamu, nak...."
"Dan kesalahan kami lagi, kami sudah tau kami tidak sanggup karena keterbatasan kami dalam ilmu agama. Tapi kami pun lalai, tidak mendekatkan kamu dalam pendidikan yang condong ke agama. Kami malah memasukkan mu ke sekolah umum bertaraf internasional. Kami mengharapkan nilai akademis mu yang terbaik, tapi kami melupakan nilai agamis mu, Bima..."
"Jadilah kamu seperti sekarang ini. Melupakan tugas dan kewajiban mu sebagai hamba Allah. Kamu jauh dari agama. Kamu terjerumus dalam pergaulan. Sampai menjadikan perempuan seksi itu sebagai kekasih. Itu semua kelalaian kami selaku orang tua mu, Bima... "
__ADS_1
Mama mencurahkan segala yang ia pendam selama ini dengan bercucuran air mata.
Bima hanya tertunduk dan papa pun hanya memandang kosong ke satu arah.
"Hhhhhmmmmmmmm"
Bima menghembuskan nafas berat. Serasa ada batu ribuan kilo yang menghimpit dadanya sampai ia merasa sesak.
"Jadi Bima harus bagaimana, ma?
Jujur Bima sayang sama Eliza. Sudah satu tahun Bima pacaran sama dia ma. Gak mungkin kan Bima putusin dia tanpa alasan ma...."
Pak Hartawan menoleh ke arah Bima.
" Bima, kami juga punya perasaan. Kami tau yang kamu rasakan. Tapi mengertilah keadaannya. Papa dan mama hanya ingin yang terbaik buat kamu dan keluargamu kelak."
"Papa beri kamu kesempatan untuk kamu bisa membuat Eliza berubah. Dalam segala hal, menuju kriteria perempuan Soleha walaupun belum sepenuhnya. Papa akan pantau terus perkembangannya. Jika dalam waktu enam bulan kamu tidak berhasil membuat Eliza berubah, kamu harus terima jika papa dan mama menentukan perempuan yang akan menjadi jodohmu."
Bima mematung. Otaknya mencerna kata-kata papanya barusan.
"Gimana, Bima? Kamu setuju dengan syarat dari papa?" tanya Bu Sandra.
Bima mengusap dahi.
"Kalau kamu gak yakin Eliza bisa berubah, lebih baik kamu putuskan saja dia. Dan carilah perempuan baik-baik pilihanmu sendiri dalam enam bulan ini. Jika kamu gagal dalam mendidik Eliza ataupun mencari penggantinya, maka perempuan yang akan jadi pendamping kamu mutlak pilihan papa dan mama, " lanjut Bu Sandra.
Pak Hartawan mengulurkan tangan.
"Deal or No Deal?"
Bima tertegun sejenak. Lalu dengan meyakinkan hatinya sendiri yang bimbang ia menerima uluran tangan papanya.
"DEAL !!!"
__ADS_1