
Pak Annas tengah berbincang hangat dengan pak Hartawan.
"Senang sekali saya hari ini. Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba tamu jauh berkunjung. Alhamdulillah mas Hartawan masih inget sama saya.... Dan masih Sudi mampir ke gubug repot kami hehehehe...."
Pak Hartawan ikut tertawa.
"Jangan nyindir begitu lah, Mas... hahahaha
Kangen saya lho sudah lama sekali gak pernah mampir. Ini tadi kebetulan sedang lewat ke kampung selatan sana, mumpung sudah gak ada kegiatan lagi makanya saya mampir. Mas Annas sekeluarga sehat semua kan..."
"Alhamdulillah.... seperti yang sampean lihat ini saya segar bugar, istri saya juga Alhamdulillah sehat, Aisyah juga sehat. Sampean sekeluarga gimana? Sehat juga to?"
Pak Hartawan manggut-manggut.
"Alhamdulillah kami sehat semua. Aisyah sudah gede yo, mas?"
"Lha iya to, mas... sudah kuliah semester empat di universitas X di Pekanbaru jurusan ilmu hadist."
"Pooh... kalau universitas x dekat itu smaa rumah nya Bima. Palingan cuma lima ratus meter aja jaraknya."
"Oooo... apa Bima apa sudah menikah mas? Kok rumahnya beda sama sampeyan?"
Pak Hartawan menggeleng, lalu menyeruput kopi nya.
"Belum mas, Bima belum nikah. Cuma kantor nya Bima kalau dari rumah saya jauh jaraknya. Jadi dia beli rumah yang jaraknya dekat dengan tempat kerjanya. Menghemat waktu, mas... Palingan sesekali Bima pulang ke rumah kami atau kami yang main kerumah Bima."
"Ooooh.... jadi Bima kerja apa, mas?"
"Bima itu kontraktor mas. Dulu selepas tamat kuliah di ITB dia langsung ikut kerja-kerja proyek. Dia belajar banyak selama ini, sampai akhirnya setelah 3 tahun ikut kerja sama orang sekarang Bima sudah jadi pemborong. Malah sekarang Bima sudah punya kantor sendiri, dan menyewakan alat-alat berat untuk kontraktor-kontraktor lain."
Pak Annas mengangguk-angguk takjub.
__ADS_1
"Waaah.... hebat juga Bima ya mas. Seingat saya Bima dulu kecilnya ndegil, cengeng, suka bolos sekolah hahahaha.... Nggak nyangka besarnya jadi orang sukses."
Pak Hartawan tersenyum sambil menyeruput kopinya lagi.
"Iya mas. Bima kecil beda sekali dengan yang sekarang. Sekarang dia pekerja keras, malah bisa dibilang dia gila kerja. Mungkin waktu yang mengajarkan Bima jadi sosok yang kuat.
Ngomong-ngomong ini kopinya mantep sekali lho mas rasanya. Gak kemanisan, gak kepahitan. Pas. Iya to, Jon?"
Joni, sopir pribadi pak Hartawan mengangguk membenarkan.
"Betul banget, Pak. Pas banget. Mantep," ujarnya seraya mengacungkan jempol.
"Itu kopi bikinan Aisyah, mas Hartawan.... Ais memang jago sekali buat kopi. Kalau dia dirumah, mana mau ayahnya minum kopi buatan saya... Harus Aisyah yang buatin kopi," Bu Arum muncul sambil ikutan nimbrung dan duduk di samping suaminya.
"Ooo jadi Aisyah sedang dirumah ini to, mbak?" tanya pak Hartawan.
Ibu Arum mengangguk.
"Wah, luar biasa nak Aisyah. Beruntunglah mbak, mas, kalian punya anak Soleha seperti Aisyah..." pak Hartawan takjub.
"Alhamdulillah, sampai detik ini Aisyah belum pernah mengecewakan kami. Prestasi akademisnya semakin meningkat, ngajinya juga Alhamdulillah semakin baik. Anak-anak sini seneng kalo ada Aisyah dirumah. Mereka makin semangat ngaji. Aisyah pun sayang anak-anak. Dia gak pernah marah meskipun anak-anak kadang bandel dan pecicilan. Makanya kalo Aisyah kuliah mereka pada kecarian, mas," jawab pak Annas.
Pak Hartawan mengangguk-anggukkan kepala.
Tiba-tiba Aisyah muncul dari arah dapur.
"Nah panjang umur... Ini yang diceritain nongol...," gurau Ayah.
Semua tertawa. Sementara Aisyah tersenyum sambil menunduk malu.
"Ayah,Ibu, Om, Aisyah sudah siapkan makan malam. Mari makan dulu, nanti ngobrolnya dilanjutkan lagi setelah makan."
__ADS_1
"Ayo... ayo mari mas Hartawan, mas Joni kita makan sama-sama," Ajak pak Annas.
"Walah kok jadi repot-repot begini to nak Aisyah."
"Nggak repot kok, mas... wong mampir gak mesti setahun sekali aja kok kalo gak dijamu makan dulu ya gak afdhol. Ayo mumpung baru mateng ini semua nya... masih hangat," jawab Bu Arum.
Semua beranjak ke meja makan. Sudah terhidang ikan goreng, capcay, kerupuk opak dan sambal terasi buatan Aisyah. Setelah yakin semua selesai maka Aisyah pun pamit kepada semuanya.
"Silahkan nikmati, Om, semoga suka dengan masakan Aisyah. Aisyah pamit dulu ada yang ingin di kerjakan."
"Lho, kamu nggak ikut makan sekalian, nak?" tanya pak Hartawan.
"Maaf Om Aisyah tadi sudah makan duluan. Permisi ya Om."
Pak Hartawan mengangguk.
"Maaf ya mas, Aisyah kami itu memang pemalu," kata bu Arum.
"Ah iya nggak papa, mbak.... memang seperti itu seharusnya anak perempuan. Menjaga harga diri dan marwahnya. Menundukkan pandangan. Sudah jarang sekali anak perempuan yang seperti Aisyah dijaman sekarang ini, mas...."
Semua mengangguk-anggukkan kepal tanda setuju. Dan mulai menikmati hidangan di depan mereka tanpa suara.
Setelah makan mereka melanjutkan ngobrol-ngobrol sampai jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Pak Hartawan pun pamit pulang ke rumahnya.
Diperjalanan Pak Hartawan masih memikirkan Aisyah.
"Jon, ternyata hari gini masih ada ya perempuan sederhana dan sholehah seperti Aisyah. Walaupun ia sudah kuliah dan tinggal di kota tapi dia tidak terpengaruh oleh perubahan gaya hidup."
Joni manggut-manggut.
"Betul pak... Sudah cantik, sopan, pintar masak lagi. Kopinya juga enak.
__ADS_1