Perempuan Terpilih

Perempuan Terpilih
BAB 5. PAK HARTAWAN MURKA.


__ADS_3

Sudah hampir sebulan lamanya Bima tidak pernah mengunjungi rumah orangtuanya. Pak Hartawan dan Bu Sandra sudah beberapa kali menghubungi lewat telepon, tapi berkali-kali pula tidak di respon. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengunjungi rumah Bima tanpa memberi kabar terlebih dahulu.


Selepas magrib mereka menuju rumah Bima diantar oleh Joni. Sesampainya mereka di rumah sang anak, tidak terlihat tanda-tanda penghuni rumah. Rumahnya terlihat sepi, hanya seorang satpam yang menjaga pos saja yang tampak. Mobil Bima pun tak terlihat bertengger di garasi.


Haris, satpam muda penjaga pos di gerbang mengenali mobil orang tua majikan nya. Segera gerbang dibuka lebar, mempersilahkan mobil masuk. Haris berlari kecil menghampiri mobil dan membukakan pintu disampingnya.


Pak Hartawan turun disusul dengan Bu Sandra yang telah dibukakan pintu nya oleh Joni.


"Selamat datang Pak, Bu, " sapa Haris seraya mengangguk sopan.


Pak Hartawan dan Bu Sandra tersenyum.


"Bima kemana, Haris?"


"Pak Bima keluar sejak dua hari yang lalu, Pak."


"Dia nggak bilang mau kemana?"


Haris menggeleng.


"Tidak, Pak. Pak Bima cuma bilang mau keluar sore sepulang kerja dua hari lalu dan titip jaga rumah. Begitu saja Pak."


"Hmm kebiasaan anak itu. Ditelponi pun nggak pernah mau ngangkat. Yasudah kami masuk dulu. Biar kami tunggu didalam.


Kamu pulang saja Jon, besok pagi jemput kesini lagi ya..." perintah Pak Hartawan.


"Baik pak...," jawab Haris dan Joni bersamaan.


Joni masuk kembali kedalam mobil dan keluar pagar. Sementara Haris menutup kembali gerbang rapat-rapat dan berjalan menuju pos nya kembali.


Bu Sandra sudah selesai membuka pintu utama rumah Bima. Ia memang dipegangi kunci serep rumah oleh Bima. Jadi ia bisa masuk kapan saja bila diperlukan.


Rumah tampak rapi. Artinya tadi bi Nah yang bertugas bersih-bersih rumah datang bekerja hari ini. Bi Nah hanya bertugas membersihkan rumah dan membereskan pakaian Bima. Dia tidak bertugas memasak karena Bima jarang makan di rumah.


Pagi hari biasanya Bima hanya minum secangkir kopi lalu sarapan di kantornya.


Setelah selesai pekerjaan rumah maka dia akan kembali pulang ke rumahnya.


Pak Hartawan dan Bu Sandra duduk di sofa ruang keluarga. Mereka ingin menunggu kedatangan Bima dan mempertanyakan atas tidak adanya kabar selama sebulan ini.


"Anakmu itu lho ma.... udah mulai kurang ajar sekarang. Orang tuanya nelpon gak diangkat. Apa sudah nggak dianggap kita ini sekarang," dengus Pak Hartawan kesal.


"Aduuh sabar lah pa... Mungkin Bima sedang sibuk, banyak kerjaan jadi nggak sempat terima telepon dari kita," sahut Bu Sandra.


"Inikan hari minggu, ma.... Sibuk kerja apa hari Minggu...."


"Ya Mama juga nggak tahu, pa. Sudah lah kita tunggu saja sampai anaknya pulang. Biar kita interogasi nanti."


"Bima sudah dewasa sekarang, ma.... Jangan selalu kamu belain terus. Jadinya seperti ini ngelunjak Dia. Papanya ngomong nggak pernah didengarkan."


Bu Sandra menggeser posisi duduknya mendekat kepada Pak Hartawan. Ia mengusap-usap pundak suaminya.

__ADS_1


"Iya, pa... iya. Jangan emosi ya... nanti tekanan darah tinggi papa kumat lagi. Mama janji gak bakalan belain Bima kalo dia salah kali ini. Sabar ya pa... Kita tunggu Bima pulang."


-------------------_---------------_------------------_-------------_


Pukul satu dini hari terdengar suara gerbang dibuka dan suara mobil memasuki garasi. Pak Hartawan dan Bu Sandra yang lelah menunggu sampai ketiduran terbangun mendengar suara orang membuka kunci pintu, lalu terdengar pintu dikunci kembali.


Oh rupanya sudah pulang anak nakal itu, batin Pak hartawan. Lihat saja bagaimana reaksinya melihat ada papa dan mama nya dirumahnya.


Suami istri itu terkejut melihat Bima muncul. Ia tak sendiri. Di sampingnya ada seorang gadis berambut pirang berpakaian minim sedang bergelayut manja di lengan Bima. Dan Bima berjalan sembari mengecup pipi perempuan disampingnya. Seketika Pak Hartawan dikuasai amarah melihat pemandangan di depan matanya.


"BIMAA !!!!!!!!!"


Bima dan gadis itu terlonjak mendengar hardikan Papanya. Betapa Bima tidak menyadari bahwa kedua orang tuanya sudah ada didalam rumahnya. Ia langsung teringat akan puluhan kali telpon dari mamanya yang sengaja tidak ia angkat. Sungguh ia malas mendengar beribu pertanyaan yang akan muncul saat mamanya menelepon. Dan pasti ujung-ujungnya membuat Bima kesal. Makanya sengaja tidak diangkat.


Diluar dugaan rupanya karena telepon yang tidak diangkat itu malah membawa kedua orang tuanya mendatangi rumah kediamannya dan memergoki kelakuannya.


"Pa, Ma, kalian kok disini?''


"Iya. Kenapa, Bima? Kamu tidak suka melihat kami ada di sini?'' ujar papanya sinis.


"Ehm... gak gitu juga, Pa.... Bima kaget aja lihat papa sama Mama datang nggak ngabarin dulu. Tumben kalian datang tiba-tiba," jawab Bima sambil mengusap lehernya bingung.


Bima melihat tatapan mata papa dan Mama seperti tidak suka kepada sosok di sebelahnya. Ini membuatnya tersadar dan langsung melepaskan tangan gadis itu dari lengannya.


"Bima, kita harus BICARA !," kata mama dengan penekanan.


Bima mengangguk gelisah.


Orang tua nya tidak menjawab, tapi melayangkan lirikan mata tidak ingin di ganggu pada orang disebelah Bima. Bima sadar akan hal itu, lalu berbisik pada gadis disampingnya.


Gadis itu mengangguk.


"Oke aku tunggu kami diruang tamu, sayang," jawabnya sambil berlalu setelah mencium pipi Bima sekilas.


Huuufftttt...


Bima mengusap jidatnya dengan kasar. Sepertinya malam ini tidak akan dilaluinya dengan mudah. Ia menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Sambil garuk-garuk leher ia mendekat dan duduk di sofa dihadapan papa dan mama.


Mereka semuanya terdiam. Saling tunggu siapa duluan yang akan membuka percakapan. Tapi tak satupun yang berucap. Mereka seolah-olah tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Bu Sandra tampak menghela nafas. Melihat situasi alot begini ia mengambil inisiatif untuk bicara terlebih dahulu.


"Bima, kamu hutang penjelasan sama Mama. Kenapa kamu gak pernah mau angkat telepon dari kami?"


"Hampir sebulan kamu sama sekali tidak ada kabar. Kamu darimana jam segini baru pulang?"


"Kata Haris kamu udah pergi dua hari, pulang-pulang dengan kondisi seperti ini. Kamu darimana?"


"Siapa perempuan yang bersama kamu tadi? Kenapa kalian mesra-mesraan cium-ciuman segala?"


Gantian Bima kali ini yang menghela nafas.

__ADS_1


Inilah yang dihindari dari mamanya. Kalau sudah bertanya, pasti akan panjang dan detail sekali. Bima malas mencari alasan.


"Ma, sebulan ini Bima sibuk kerja. Lagi banyak proyek yang Bima tangani. Makanya Bima gak sempat terima telepon dan ngabari papa sama Mama. Tapi walaupun Bima gak ngasi kabar, mama lihat sendiri kan Bima baik-baik aja?"


"Tapi ini bukan hari kerja, Bima.... Ini hari libur. Apa hari libur kamu kerja juga? Apa kamu gak punya waktu lima menit saja untuk telpon mama sama papa?"


"Ma, udah Bima bilang Bima sibuk kerja. Bima capek, ma... Hari libur waktunya Bima senangin diri ma, Bima santai. Bima cari hiburan. Bima cuma pengen hilangkan penat, itu aja, ma !"


"Jadi hiburan macam apa yang kamu cari, Bima?" kali ini papa yang bicara.


Bima tidak menjawab.


"Kalau ini kamu bilang hiburan, berarti perempuan yang bersama kamu tadi itu perempuan penghibur??? Benarkah perempuan penghibur yang kamu ajak pulang kerumahmu, Bima ?!!!"


Wajah papa yang sedari tadi sudah tegang makin menegang.


Bima mengusap wajah nya.


"Bukan begitu, Pa. Dia Eliza, pacar Bima, pa.


"Dia baru datang dari jakarta. Makanya Bima tadi hang out, terus Bima ajak kerumah karena dia disini gak punya tempat tinggal."


"Apa perempuan seperti itu yang kamu pilih Bima? Penampilan nya seperti wanita murahan. Apakah segitu buruknya seleramu, Bima? Hah?!!!"


Pak Hartawan bertambah emosi.


"Pa, tolong jangan salah sangka. Eliza itu seorang model, pa. Makanya penampilan nya seperti itu. Jangan berpikir yang tidak-tidak pa... Dia gadis baik-baik, Pa..."


"Gadis baik-baik tidak akan mau diajak pulang dan berduaan dirumah laki-laki yang bukan mahram nya. Gadis baik-baik tidak akan berpakaian seperti yang dia pakai. Gadis baik-baik tidak akan keluyuran dimalam buta seperti sekarang, BIMA! Jadi gadis baik seperti apa dia itu..."


"CUKUP, PA!!!!! " Bima menggebrak meja.


"Cukup papa ceramahi Bima. Bima bukan anak kecil lagi pa. Bima sudah dewasa. Bima berhak menentukan apa yang baik dan apa yang tidak baik bagi hidup Bima, Pa!


Sudah cukup papa ikut campur dalam urusan Bima pa...." teriak Bima kasar.


"BIMA !!!!!!! Dasar anak tak tau diri! Seperti itu cara bicaramu pada orang tuamu sendiri, hah !!!!! Aaaa....auuuhhhh.... "


Pak Hartawan mulai limbung. Tangan nya memegangi dadanya yang teramat sakit. Nafasnya tersengal-sengal. Wajahnya merah padam tak mampu meredam emosinya. Akhirnya pak Hartawan ambruk tak sadarkan diri.


"Papaaaa...."


Bu Sandra dan Bima menjerit bersamaan. Mereka meraih tubuh pak Hartawan. Dengan panik mencoba menolong tubuh yang amat sangat kaku memendam amarah.


"Pa.... istighfar paaa istighfar...." Bu Sandra mulai menangis.


Wajah pak Hartawan masih merah padam. Tubuhnya tidak dapat menahan lonjakan tekanan darah yang melonjak tinggi. tak lama berselang ia mulai kehilangan kesadaran.....


bersambung.....


❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️

__ADS_1


salam sayang dari author .. semoga suka ya dengan cerita nya. biar makin semangat up kasi like nya donk.... makasih banyak readers tersayang......


__ADS_2