
Bu Sandra dan Bima panik melihat pak Hartawan tidak sadarkan diri.
"Ma ayo bawa papa kerumah sakit, ma."
Mama mengangguk sambil masih menangis.
Bima berlari keluar berteriak pada Haris untuk cepat membuka gerbang. Haris yang terkejut sigap mematuhi perintah majikannya. Sambil berlari ia menduga-duga pasti telah terjadi keributan antara anak dan orang tua.
Bima berlari ke garasi. Membuka pintu belakang mobil, lalu masuk lagi kedalam rumah. Ia kembali dengan membopong tubuh papanya yang masih tidak sadarkan diri.
Bu Sandra tergopoh-gopoh mengikuti dari belakang.
Haris berlari mendekat. Membantu memasukkan tubuh pak Hartawan di kursi penumpang. Bu Sandra langsung masuk, duduk di satu kursi, sementara Haris dan Bima membantu memposisikan tubuh pak Hartawan berbaring dengan kepala di pangkuan Bu Sandra. Bima masuk lagi ke kursi kemudi.
Eliza yang bingung melihat kejadian itu ikut keluar rumah.
"Ada apa ini sayang, kamu mau kemana,??"
"Eliza aku sedang buru-buru mau ngantar papa kerumah sakit."
"Kamu kok nggak ajak aku, sih? Terus aku gimana??" kata Eliza sambil telunjuknya menunjuk ke wajahnya sendiri.
"Eliza please aku lagi buru-buru. Kamu pesan grab aja ya, terus pesan hotel tempat biasa kamu nginap kalo lagi disini, oke?"
Eliza menganga. Nggak nyangka dia bakal diusir pergi tanpa diantar.
"Haris kamu bantu pesankan grab buat dia, oke?" kata Bima disambut anngukan oleh Haris. Sambil mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dalam dompetnya dan menyerahkan ke tangan Eliza.
"What??? Bima kamu cuma kasi aku ongkos segini??? Kalau kurang gimana???" teriak Eliza gusar.
"Sayang ,aku gak punya uang cash lagi. Itu lebih kok buat pesan grab dan sewa hotel. Please ya please...ngertiin kondisiku. Aku lagi panik dan buru-buru sekarr....."
"BIMAAAAAA BURUAAAAAAANNNNN !!!!!"
Teriakan mama memutus omongan Bima yang belum selesai. Segera Bima memundurkan mobil, keluar gerbang, dan melaju kencang menuju rumah sakit terdekat.
"Aaarghhhh....."
__ADS_1
Eliza menggeram. Ia kesal tidak terkira. Mimpi apa ia sampai mendapat kesialan seperti ini.
Haris menghampiri.
"Mau dibantu pesan grab, mbak??"
Eliza mendelik.
"Nggak usah! Aku bisa sendiri !"
Haris mengangguk.
"Oooo kalau gitu silahkan keluar, mbak. Saya mau kunci pagar dulu," kata Haris dengan wajah innocent.
"Aaarghhhh...."
Eliza menggeram frustasi. Satpam kampret! Gak ada simpati-simpatinya sama orang yang lagi kecewa. Bikin tambah bete aja. Ia bergegas keluar pagar, disusul bunyi pagar yang ditarik dan dikunci. Eliza menendang pintu gerbang yang sudah tertutup itu dengan geram sampai kakinya terasa sakit.
------------------------------------------------------------------------
Tiga puluh menit kemudian Bima sudah berhasil sampai dirumah sakit. Segera para perawat UGD bergegas membawa pak Hartawan masuk untuk diberikan pertolongan.
Bima mendekat. Ia berjongkok di hadapan mamanya. Mamanya menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Bima meraih tangan itu lalu menggenggamnya.
"Ma....maafin Bima ya ma.... Bima bener-bener minta maaf.... Bima gak bermaksud buat papa kayak gini, ma....."
Mamanya masih diam. Air mata nya semakin deras mengalir. Tidak menyangka Bima bisa berlaku kasar kepada orang tuanya sendiri.
Ia mulai menyalahkan diri sendiri. Andai ia tidak memanjakan Bima. Andai ia mendidik Bima dengan baik. Andai ia mengajarkan adab dan juga ilmu agama pada Bima. Pasti kejadian seperti ini tidak perlu terjadi.
Lima belas menit kemudian seorang perawat keluar dan menghampiri mereka.
"Permisi... keluarga pasien diminta untuk masuk ruangan."
Bima mengangguk. Ia menggenggam tangan mama nya dan membimbing masuk ruangan.
Seorang dokter separuh baya tengah berdiri di dekat pak Hartawan. Melihat keduanya mendekat, dokter pun menyapa.
__ADS_1
"Siapa yang keluarga pasien?"
"Saya istrinya, dok...."
"Saya anaknya, dok...."
"Baik lah, kondisi pasien saat ini sudah mulai membaik. Tadi sudah sempat sadarkan diri namun kami beri obat penenang supaya beliau bisa istirahat dahulu. Sepertinya ada guncangan emosional yang memuncak membuat tensi darahnya menjadi sangat tinggi. Saya sarankan pasien dirawat inap beberapa hari sampai kondisinya membaik dan stabil kembali."
"Baik, dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk papa saya," Bima memohon penuh rasa penyesalan.
"Tentu, pak. Akan kami usahakan yang terbaik. Sekarang mohon bapak isi administrasinya, supaya pasien bisa segera dibawa ke ruang inap."
Bima mengangguk, lalu bergegas keluar dari UGD menuju bagian administrasi. Setelah semua urusan selesai, Bima kembali ketempat papanya. Diliriknya mama yang masih tampak sedih menggenggam tangan papa.
Bima masih merasa bersalah. Ia meruntuki dirinya sendiri.
Tak lama kemudian dua orang suster dan dua orang perawat pria masuk. Mereka membawa pak Hartawan ke kamar rawat inap. Bu Sandra dan Bima mengikuti mereka. Sampai lah dilantai lima, sebuah ruangan luas, Lux dan private. Rupanya Bima memesan ruangan VVIP untuk perawatan papanya.
Ruangan itu begitu nyaman. Sebuah tempat tidur pasien yang lebar dan empuk. Diatasnya kepala menempel di dinding terdapat beberapa peralatan medis. Sebuah TV LED lebar, kulkas mini, lemari, satu set sofa dan sebuah matras lebar ada didalamnya.
Seorang suster selesai menggantungkan botol infus di sisi bed pasien. Ia berjalan menghampiri Bu Sandra.
" Sudah selesai, Ibu... Sekarang biar Bapak beristirahat dulu. Kami pamit, kalau ada apa-apa ibu tinggal pencet bel ini saja. Nanti kami akan segera datang mengecek kondisi. Besok pagi dokter akan berkunjung. Silahkan ibu beristirahat."
Bu Sandra tersenyum.
"Terima kasih, sus."
Para perawat dan suster meninggalkan ruangan. Tersisa Bu Sandra dan Bima.
"Mama tidur aja dulu, ma. Biar Bima yang jagain papa."
Mama tidak menjawab. Ia masih tetap diam tak ingin berbicara pada Bima. Membuat Bima serba salah dan makin merasa tidak berguna.
"Ma...."
"Mama jangan diem aja donk, ma... Bima ngaku Bima salah sama papa sama Mama. Hukum Bima, ma, pukul Bima atau apa aja yang bisa buat mama berhenti marah sama Bima. Ngomong dong, ma...."
__ADS_1
Bu Sandra tak bergeming. Membuat Bima menghela nafas berat. Percuma ngomong sama mama... mama lagi ngambek. Akhirnya Bima duduk menunggu di sofa. Entah apa yang ia pikirkan. Lama terdiam sampai tanpa sadar ia tertidur.