
Bima bergegas menuju lokasi yang ditunjukkan handphone nya. Hotel x, kisaran 20 menit perjalanan dari kantor Bima.
Setelah menanyakan nama Eliza kepada resepsionis hotel, Bima langsung naik ke lantai empat menuju kamar yang disebutkan oleh resepsionis.
Setelah berkali-kali mengetuk barulah pintu dibuka dari dalam. Terlihat tampang kusut Eliza menyembul dari sebalik pintu. Melihat Bima yang datang, lekas ia ber hambur ke pelukan laki-laki itu. Bima terkejut dengan pelukan yang sangat tiba-tiba karena mereka masih diluar kamar. Bergegas Bima ber ingsut masuk ke dalam kamar dengan Eliza masih memeluk tubuhnya erat.
Eliza mendorong tubuh Bima ke ranjang. Segera ia menciumi bibir Bima dengan buas. Bima berusaha menghindar, tapi Eliza tetap mendekat dan mengecup bibirnya berulang-ulang.
"Honey, please stop it. Ada hal penting yang harus kita bicarakan," kata Bima seraya menolak halus kecupan Eliza.
Tapi Eliza tidak bergeming. Ia masih saja mengecup bibir Bima dengan rakus. Ciumannya berpindah ke leher Bima. Tangannya pun bergerak melepaskan kancing kemeja yang dipakai Bima.
Bima mulai kehabisan kesabaran. Perasaan nya yang sedang kalut membuatnya membentak Eliza.
"Eliza stop it !!!!!
Terkejut dengan bentakan Bima yang tak terduga itu membuat Eliza terhenyak. Dilihatnya kedalam mata Bima, ada sorot sungguh-sungguh disana.
Eliza beringsut turun dari tubuh Bima. Berdiri membelakangi Bima sambil terdiam. Tangannya terangkat menjambak rambut pirangnya yang acak-acakan. Ia tak menyangka reaksi Bima akan berlebihan seperti itu. Biasanya juga mereka melakukan hal itu, bukan ?
Sementara Bima juga terkejut dengan reaksinya sendiri. Apa ia terlalu berlebihan? Merasa bersalah, Bima lalu bangkit dan merengkuh tubuh Eliza dari belakang.
" Eliza please maafin aku. Aku nggak bermaksud bentak kamu. "
Eliza bergerak melepaskan diri dari pelukan Bima. Tapi tak bisa karena Bima mempererat pelukannya.
"Maaf"
Eliza memberontak. Ia berusaha sekuat tenaga untuk lari dari pelukan Bima. Pelukan yang tadi ia harapkan. Namun berubah saat Bima membentak dan menolaknya.
"Don't touch me. Don't touch," erang Eliza.
__ADS_1
"Forgive me, please..."
Bima mendekap Elisa dengan semakin kuat. tetap saja Eliza memberontak dan berusaha melepaskan diri dari dekapan Bima.
" Lepasin aku !" teriak Eliza garang.
Bima kewalahan menghadapi sikap berontak Eliza. Sekuat apapun Bima menahan Eliza tetap saja Eliza berhasil lolos dari pelukannya. Eliza berbalik dan menatap nanar ke arah Bima. Dengan nafas terengah-engah anda menangis Elisa memaki Bima.
" Kamu nggak bisa seenaknya sama aku. Ingat kamu tadi malam sudah ninggalin aku begitu aja, kamu biarin aku sendirian tengah malam buta. Sekarang kamu datang tapi kamu nolak aku ! Memangnya KAMU SIAPA HAH ??!!! "
Bima mencoba meraih tangan Eliza. Tapi kemudian ditepis dengan kasar.
" Sayang kamu tenang dulu... Dengerin aku dulu.... Kasi aku waktu buat jelasin semua nya. Kamu duduk dulu ya...."
Elisa membuang muka kesal kepada Bima. Rasa marahnya belum hilang. Tak habis pikir tentang semua yang terjadi pada dirinya. Seolah ketiban sial, semua yang terjadi tak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Bima menghampiri Eliza, mendorong bahunya dengan lembut menuju sofa kamar hotel. Walaupun Eliza tampak masih kesal namun ia menurut. Dengan wajah ditekuk ia duduk di sofa bersebelahan dengan Bima.
Eliza mendelik kesal.
" Kita???? Yang benar saja kamu. Aku gak melakukan apapun ke papa kamu. Jangan bawa-bawa aku dalam hal ini, " ucap Eliza ketus.
Bima menghela nafas.
" Iya, aku tau.... kamu memang gak ngelakuin apa-apa ke papa. Tapi kan papa marah karena melihat kita malam itu. Dan sialnya lagi aku sampai melawan papa. Secara gak langsung kita lah penyebab papa masuk rumah sakit.
Jadi sayang, bisakah kamu ikut dengan ku menjenguk papa ke rumah sakit? "
Eliza menajamkan pandangannya dan bertanya sinis.
" Kamu mau aku ngapain di rumah sakit? "
__ADS_1
" Bisa kan kamu minta maaf sama papa? Walaupun kamu gak ngerasa bersalah, demi hubungan kita bisa kan kamu melakukan ini? Aku ingin memperkenalkan kamu secara resmi kepada kedua orangtuaku. Supaya hubungan kita semua membaik. "
Eliza terlihat sangat malas melakukannya. Tanpa menjawab ia malah merebahkan diri semakin dalam di sofa.
"Eliza, please... Kamu mau kan berkorban sedikit saja untuk hubungan kita? "
" Sayang... please ...."
Eliza memutar bola matanya. Sungguh ia benar-benar malas melakukan nya. Tapi ia juga tak kuasa menolak permintaan Bima. Toh cuma minta maaf untuk sekedar basa basi saja.
" Oke you win this time. Aku bakal ikut kerumah sakit dan minta maaf sama papa kamu. Kapan ?"
Bima tersenyum senang. Dipeluknya tubuh Eliza dengan sepenuh hati.
" Setelah kamu bersiap kita kesana ya.... Aku pengen semua membaik secepat mungkin. "
" Are you crazy?? Aku bahkan belum makan dari semalam. Aku mau mandi dulu, dan kamu tau??? Baju dan barang-barang ku semua ada di koper. Kamu bawa mobil kan? Koperku ada di mobilmu. "
Bima menepuk keningnya dengan keras. Lupa kalau ada barang Eliza dalam mobilnya. Dan parahnya lagi mobilnya kan sedang diurus penggantiannya oleh Indra.
" Mobilku sedang dalam perbaikan, sayang... Tadi pagi aku nabrak orang. Udah kamu mandi aja dulu ya, nanti aku panggilkan layanan kamar biar antar makanan kamu. Biar aku pergi belikan pakaian ganti buat kamu. "
Eliza melengos meninggalkan Bima menuju kamar mandi.
"Aku pergi dulu ya beli pakaian kamu."
Eliza menjawab ketus.
"Whatever "
Lalu menghilang dibalik pintu kamar mandi.
__ADS_1
Bima menggeleng kepala. Susah menghadapi wanita yang sedang marah. Tak usah diambil pusing lebih baik segera bergegas.