
Bima keluar dari rumah sakit dengan gontai. Ia akan pulang kerumahnya untuk mandi dan berangkat ke kantor. Sementara mamanya telah menyuruh Joni datang ke rumah sakit membawa keperluan nya dan suaminya selama di rumah sakit.
Kebimbangan tampak jelas dimatanya. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang tidak terbaca. Ditambah lagi tampang kusut karena belum mandi dari semalam.
Ah, bagaimana dengan Eliza? Sejak bima meninggalkan nya sendiri tadi malam ia mendengar kabar tentangnya. Dimana dia menginap... Apakah dia mendapat kesulitan.... Apakah dia menangis.... Ah, Bima merasa bersalah pada gadis kesayangannya itu.
Setelah masuk ke mobil, Bima meraih ponsel dari dalam saku celananya. Mencari dalam daftar kontak, lalu menekan tombol telepon. Berkali-kali panggilan tersambung tapi tidak diangkat. Ah mungkin Eliza masih tidur. Lebih baik kirim chat WhatsApp saja.
*Sayang...
maaf baru menghubungi mu....
papa masuk rumah sakit.
kamu dimana??? √√
Share location ya....
Sebelum berangkat ke kantor aku kesana....√√*
Bima menghela nafas kasar. Pikirannya masih runyam. Masih teringat permintaan papa yang sudah ia terima. Bagaimana caranya mengatakan pada Eliza nanti? Ah biar ku pikirkan sambil jalan.... batin Bima.
Diletakkan nya hape nya di dashboard mobil. Ia meninggalkan parkiran rumah sakit dan melaju menuju rumahnya sendiri.
❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️
Ditempat lain, Eliza tertelungkup di ranjang hotel dengan pakaian setengah terbuka. Tadi malam setelah keluar dari rumah Bima, ia menelpon teman yang sering bersama dengan nya saat berada di kota ini sebelum ia menjadi kekasih Bima. Bukan mantan pacar, hanya sebatas teman clubbing. Meminta untuk dijemput dan pergi bersama ke night club.
Mereka bersenang-senang di sana, minum alkohol dan berjoget ria dalam musik disko yang menggelegar. Eliza melupakan kekesalannya dan tidak ingat kepada Bima. Hingga ia diantar masuk ke hotel setelah subuh dalam keadaan mabuk.
Dan sampai saat ini Eliza masih dibuai mimpi. Tak sadar panggilan di hape nya sudah belasan kali dan beberapa chat yang masuk dari Bima.
❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️
Liburan semester Aisyah sudah selesai. Pagi sekali usai shalat subuh ia pamit pada ayah dan ibu untuk kembali ke kost nya di Pekanbaru.
__ADS_1
Aisyah adalah perempuan yang mandiri. Ia terbiasa naik motor sendiri kemanapun ia pergi. Seperti hal nya pagi itu, ia mengendarai motor Scoopy putihnya dengan kecepatan sedang. Perjalan dari kampung menuju kost-an nya di Pekanbaru memakan waktu hampir satu jam. Berarti masih ada waktu sekitar 2 jam sebelum ia berangkat ke kampus. Hari ini hari pertama kuliah setelah liburan. Ia akan masuk mata kuliah jam setengah sepuluh.
Aisyah sudah masuk wilayah Pekanbaru. Ia mulai berhati-hati mengendarai motornya karena jalanan sudah mulai ramai. Mengingat hari ini adalah hari Senin, wajar saja jika jalanan menjadi sedikit macet.
Sebentar lagi Aisyah sampai. Tinggal belok kiri dari jalan raya, lalu masuk gang dan rumah kost-an nya hanya beberapa puluh meter lagi.
Aisyah selalu berhati-hati. Saat akan berbelok ia tak pernah lupa menekan lampu sein. Karna sedikit ramai dari arah yang berlawanan, Aisyah berhenti menunggu giliran lewat. Lalu tiba-tiba....
Braaaakkkkkk
"Allahu Akbar...." pekik Aisyah bersamaan dengan motornya yang terpental dan badan nya yang terguling ke sisi kiri jalan.
Sesaat jalanan menjadi macet. Terdengar bunyi klakson kendaraan dari arah depan dan belakang. Aisyah belum sepenuhnya sadar apa yang tengah terjadi.
Beberapa penumpang kendaraan berhenti dan menepikan diri di pinggir jalan. Mereka mencoba menolong Aisyah berdiri, memapah dan mendudukkan di trotoar. Beberapa orang lagi memeriksa motor Scoopy Aisyah. Tampak kap depan nya pecah, dan stang nya miring. Rem nya lengket mengunci sehingga motornya susah untuk di gerakkan. Dengan cara digotong barulah motor Aisyah bisa ditepikan.
Aisyah melihat dirinya. Gamisnya kotor terkena noda tanah. Siku kirinya perih, mungkin sedikit lecet. Dan tulang keringnya agak sakit.
Terlihat dua orang pria mengetuk keras kaca mobil di belakang ia terjatuh tadi.
Tok tok tok.....
Aisyah baru tersadar, bahwa ia jatuh karena ditabrak oleh mobil yang kaca jendelanya sedang diketuk-ketuk orang-orang. Tak lama kaca mobil pun terbuka.
"Iya pak, sebentar saya pinggirkan mobil dulu," kata pengemudi mobil itu.
" Buruan turun !!! jangan coba-coba kabur lu ya abis nabrak orang !!!" teriak seorang pria dengan garang.
Beberapa orang tampak mengawal mobil itu menuju tepi. Sepertinya mereka ingin memastikan si pengemudi mobil tidak lari.
Mobil yang menabrak Aisyah benar menepi. Sesaat kemudian seorang pemuda turun dari mobil, bergerak menuju ke arah Aisyah duduk. Beberapa orang tampak mencekal kerah bajunya sambil menghardik.
"Kalo jalan lihat-lihat, mas!!! Kasian tu anak orang gak salah lu tabrak.... Tampang kusut begini jangan-jangan nyetir sambil mabok ni orang...."
Beberapa orang tampak menyoraki.
__ADS_1
Pemuda itu berusaha menjelaskan.
"Maaf mas-mas, saya gak sengaja. Saya tadi gak lihat ada motor yang berhenti mau belok... makanya gak sengaja tertabrak. Beneran saya gak lihat tadi."
''Makanya kalo dijalan tu lihat-lihat... Apa jangan-jangan beneran mabok ni orang nih... Panggil polisi aja udah....'
Pemuda itu berjuang menjelaskan lagi kepada orang-orang yang berkumpul mengitarinya.
"Saya minta maaf... Saya betul-betul nggak sengaja. Saya nggak mabuk, kalian bisa buktikan sendiri saya nggak bau alkohol."
"Alaaah banyak alesan ni orang...."
Melihat akan terjadi keributan, Aisyah bangkit dari duduknya dan mendekat kearah mereka.
" Assalamualaikum... Maaf semua nya, sudah nggak usah diperpanjang. Saya baik- baik aja kok.... Tolong nggak usah bawa-bawa polisi ya pak, mas,... saya baik-baik aja kok... Beneran...."
Mereka yang semula gaduh terdiam. Pemuda itu mendekat ke arah Aisyah.
"Mbak, saya bener-bener minta maaf. Saya nggak sengaja mbak, nggak lihat lampu sein dan motor mbak yang berhenti mau belok di depan saya."
" Iya mas nggak apa-apa."
"Gimana keadaan kamu, mbak? Apa ada yang sakit? Mari saya bawa ke rumah sakit biar diperiksa dokter."
"Oh nggak perlu, mas. Saya baik-baik aja. Cuma lecet sedikit saja. Nggak perlu cemas nanti biar diobati di rumah saja."
Pemuda itu melihat kearah motor Aisyah.
"Sepertinya motor mbak yang rusak. Biar saya bawa ke bengkel dulu mbak. Kebetulan di seberang jalan ada bengkel. Biar semua kerusakan saya yang tanggung."
Aisyah belum sempat menjawab. Pemuda itu sudah pergi menghampiri motornya. Dengan dibantu beberapa orang ia berhasil membawa motor Scoopy Aisyah ke seberang jalan. Tampak ia berbicara kepada pemilik bengkel, lalu bergegas kembali kearah Aisyah.
"Motornya sudah saya masukkan bengkel, mbak. Kata orang nya nanti sore baru bisa diambil. Rumah Mbak dimana? Biar saya antar pulang."
"Oh nggak perlu mas, saya bisa naik ojek saja. Rumah saya sudah dekat kok," Aisyah menolak.
__ADS_1
"Nggak papa mbak, biar saya antar saja. Sekalian biar saya tau rumah Mbak biar gampang ngembaliin motornya."
Pemuda itu memaksa. Ia membukakan pintu disamping kemudi. Aisyah tidak bisa menolak.