
Disinilah mereka berada. Didalam mobil berdiam diri. Sepertinya keduanya sama-sama enggan memulai pembicaraan. Lama kelamaan Bima tak tahan. Ia menolehkan wajahnya kearah Eliza yang tampak masam.
"Honey... Aku ..."
"Kamu tau semua ini, Bim?"
"Em... Maksud kamu?"
"You know what i talking about !"
Bima terdiam.
"Bener kan Bim, kamu tau tentang semua ini? Makanya kamu bawa aku kesini. Tapi coba lihat, kamu sama sekali nggak kasi tau aku sebelumnya. Apa memang ini tujuan kamu, Bim? Kamu mau mempermalukan aku?" tanya Eliza sambil mulai menangis.
Bima merasa bersalah. Mungkin benar ia sudah keterlaluan pada Eliza. Ia tidak terus terang pada Eliza.
Diraihnya kedua tangan Eliza dan menciumnya.
"Honey please maafin aku. Nggak ada maksud aku buat sembunyiin ini dari kamu. Aku cuma... bingung ngasi tau ke kamu nya gimana..."
Eliza masih marah dan menangis. Wajahnya melengos tak mau melihat ke arah Bima.
"Aku tau aturan mama ini berat buat kamu. Nggak adil buat kamu... Tapi inilah permintaan orang tua ku, sayang..."
__ADS_1
"Ini juga angin segar buat kita,kan... Mama papa terima kamu sebagai calon pendamping hidup aku. Kita cuma harus sedikit mengalah aja sayang... Kita turuti kemauan mama papa..."
"Dan kamu tau betul itu nggak gampang buat aku, Bim. Secara nggak langsung mereka nyuruh aku mengundurkan diri," sanggah Eliza.
"Please jangan berpikir begitu,honey... Kamu cuma butuh belajar... Dan aku rasa waktu enam bulan yang dikasi mama papa buat kita itu cukup untuk kita berubah. Kita belajar sama-sama ya sayang... Please..."
Eliza menarik tangannya dari genggaman Bima. Matanya menerawang jauh.
"Kita cuma butuh belajar agama aja kok sayang... Nggak lebih. Kita pasti bisa,sayang...percaya deh sama aku..."
"It's too difficult to me ! You know that i...."
Eliza tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Kata-kata yang akan meluncur keluar itu bagai tercekat di tenggorokan. Jangan sampai Bima tau hal ini. Atau hubungan mereka akan hancur.
Eliza masih diam.
"Honey, please bantu aku untuk memperjuangkan cinta kita. Jangan sampai satu tahun kisah cinta kita kandas begitu aja. Aku cinta sama kamu, honey.... Sangat-sangat cinta. Aku nggak mau orang lain yang jadi pendamping aku... Aku maunya cuma kamu..."
Eliza luluh. Segera ia berhamburan kepelukan Bima.
" I love u honey... So much. Kamu mau kan berjuang bersamaku? "
Eliza menangis.... Ia mengangguk-angguk dalam pelukan Bima. Melihat ini Bima begitu bahagia. Semakin erat pelukannya pada gadis yang masih terisak-isak itu. Diciuminya puncak kepala pujaan hatinya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟
Bima mengantar Eliza kembali ke hotel. Ia langsung pamit kembali ke kantor karena masih banyak urusan yang terbengkalai. Bima ingin segera melangkah setelah memeluk dan mencium pipi Eliza, namun Eliza menahannya. Ia menampilkan wajah polos, wajah tanpa dosa yang selalu ia tunjukkan saat menginginkan sesuatu dari Bima.
Bima sudah hafal dengan tingkah kekasihnya. Segera diambilnya handphone, mengetik sejumlah nominal dari mobile banking, lalu mengirim pada rekening Eliza. Ia merasa bertanggung jawab atas beban yang harus ditanggung Eliza hari ini. Biarlah... setidaknya ini bisa menyenangkan hati Eliza dan membuatnya lupa akan kejadian tadi.
"Oke udah aku kirim ya honey... Pergilah shoping, atau ke salon atau apapun yang kamu mau. Tapi maaf ya aku nggak bisa nemenin kamu."
Eliza tersenyum senang. Hilang segala mendung yang menggantung diwajahnya sedari tadi.
"Iya nggak papa honey. Makasi yaa... Cupp"
Sebuah kecupan mendarat di pipi kiri Bima. Mereka tersenyum bersamaan.
"Kamu masuk kamar gih, istirahat. Nanti aku suruh Indra anterin barang-barang kamu yang di mobil ya...."
"Oke sayang...."
Bima pun pergi. Setelah punggung Bima tak lagi tampak, segera saja Eliza mengecek handphone nya. Benar ada SMS notifikasi transfer masuk.
"Wooowww 15jutaaaa....." Ia berteriak dan melonjak-lonjak kegirangan.
"Bima emang the best. Nggak salah pilih cowok gue hahaha... Lumayan bisa buat hepi-hepi ntar malem."
__ADS_1