Perempuan Terpilih

Perempuan Terpilih
Bab 10. BEST FRIEND


__ADS_3

"Haris, gimana Eliza tadi malam? Apa kamu bantu dia pesan Grab?" cecar Bima.


"Tidak, pak... Nona nya nggak mau di bantu, malah ngomel-ngomel. Dia nunggu di luar pagar, nggak lama ada mobil datang. Sepertinya bukan Grab, pak, soalnya nona tampak sudah akrab sama yang jemput. Pakai cipika cipiki lagi, Pak...." jawab Haris jujur.


"Hah?! Kamu kenal siapa dia? Laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki, Pak... tapi saya nggak kenal. Kayaknya bukan teman bapak yang pernah main kesini juga. Mungkin kawan nya nona, pak..."


"Hmm... ya sudah. Kamu balik aja ke pos."


Bima membalikkan badan hendak masuk ke dalam rumah. Tapi Haris tampak mematung.


"Eem.... maaf pak..." kata Haris ragu-ragu.


Bima urung melangkah.


"Ada apa?"


Haris menunduk.


"Maaf pak kalau saya lancang. Gimana kabar Tuan,Pak? Apa tuan baik-baik saja?"


Bima mengusap wajahnya.


"Papa dirawat di rumah sakit. Tensi nya naik. Perlu di rawat beberapa hari di rumah sakit. Tapi tadi udah mendingan, kok.


Emang kenapa, Haris?"


Haris menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Em.... maaf pak... Semalam waktu bapak sampai rumah saya mau bilang kalo ada Tuan dan Nyonya di dalam. Tapi saya mau ngomong bapak bilang jangan ganggu.... maaf ya pak, kalau saja saya maksa ngomong aja sama bapak tadi malam paling cuma saya aja yang kena marah bapak, tapi keadaan nya gak akan serumit ini..."


Bima menghela nafas.... Ia ingat Haris semalam memang seperti ingin menyampaikan sesuatu... Tapi buru-buru dicegahnya. Malah ia bilang jangan ganggu, saya sedang sibuk. Ia terlalu sibuk dengan Eliza sehingga tidak bisa menguasai keadaan.


"Udah lupakan. Itu bukan salah kamu kok. Saya masuk dulu."


"Eemmm... Pak...."


Bima mendengus kesal.


"Apa lagi Haris?!"


"Ehh... itu mobil bapak kenapa kap nya penyok pak."

__ADS_1


Bima bergegas memeriksa mobilnya. Ternyata benar.... ia bahkan tidak sadar kondisi mobilnya setelah kecelakaan dengan gadis berhijab dijalan tadi.


"Oh ini... Saya nabrak orang tadi. Tapi gak papa kok udah beres. Ya udah kamu balik lagi ke pos sana."


Haris membungkuk kan badannya.


Bima menjatuhkan badannya di sofa. Membayangkan betapa kesalnya Eliza tadi malam. Niatnya mengajak Eliza ke rumah untuk bersenang-senang, malah kejadian nya di luar dugaan. Tapi siapa yang menjemput nya dan kemana ia pergi setelah keluar dari rumahnya? Bima meraih hp dan menelepon.


Hanya terdengar bunyi tuuuut.... Tersambung, namun tidak diangkat. Cek aplikasi WA, chatn ya pun belum dibuka. Sepertinya Eliza memang belum bangun. Bima bangkit dan bergegas untuk mandi.


Selesai mandi Bima bersiap ke kantor. Sepertinya bik Nah sudah datang. Tampak dari secangkir kopi yang sudah bertengger manis di meja. Bima segera meneguk habis kopi itu dan segera meluncur ke kantor.


❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Aisyah sudah selesai mandi dan bersiap. Walaupun kakinya masih terpincang-pincang ia harus berangkat ke kampus. Karena motornya rusak jadi Aisyah memesan Go-Jek saja. Ia berdiri di depan gang supaya Abang Go-Jek nya tidak susah mencari.


Setelah menunggu beberapa menit gojek pun sampai. Mereka langsung menuju kampus.


Hari pertama masuk kuliah lagi setelah libur semester tidak banyak aktivitas, hanya mengambil jadwal baru saja. Setelah itu Aisyah pun pulang dengan Go-Jek lagi.


❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Sesampainya Bima di kantor.


"Woooyyyy bos besar... Mentang-mentang kekasih nya datang sampe telat ngantor. Kayaknya gak tidur semalaman nih, hahahaha...."


Bima mendengus.


Indra adalah sahabat sekaligus tangan kanan Bima. Mereka menjadi teman sekelas disekolah Bima yang baru setelah kepindahannya ke Pekanbaru. Mereka berteman baik sejak saat itu.


Malam sebelum Bima pulang ke rumah, mereka memang nongkrong bersama. Bima bersama Eliza, dan Indra bersama Dino, pasangan sejenisnya.


Ya, Indra memang mengalami kelainan seksual. Ia hanya tertarik pada laki-laki. Dengan perempuan ia bersikap baik, tapi tidak pernah merasakan ketertarikan. Bima juga tau keadaan temannya. Hal itu terjadi karena ada trauma masa lalu.


Latar belakang keluarga Indra adalah broken home. Indra terlahir dari keluarga yang tergolong susah. Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan. Awalnya semua baik-baik saja, tapi setelah ibunya selingkuh dengan pria kaya yang baru dikenalnya akhirnya keluarga itu berantakan. Ibunya selalu mencaci pekerjaan ayahnya, dan ketidakmampuan ayah Indra dalam memenuhi segala kebutuhan mereka. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi di depan mata Indra kecil, hingga perceraian tak dapat di elakkan.


Indra tinggal dengan ayahnya, sementara ibunya dan adik perempuannya dibawa oleh pria kaya itu. Indra kecil hidup dengan segala keterbatasan, tanpa kasih sayang seorang ibu. Itulah yang menjadi trauma tersendiri bagi Indra, sampai berdampak pada orientasi seksual nya saat ini. Kegagalan ayahnya menjadikannya takut menjalin hubungan dengan perempuan manapun. Hingga ia merasa nyaman saat bertemu dengan seorang gay bernama Dino, partner bisnis Bima dari luar kota.


Indra menangkap kerut di kening Bima.


"Ngapa... Ada masalah Lu?"


"Banyak. Banyak banget masalah gua. Sampe pusing mikirinnya....,"keluh Bima.

__ADS_1


Indra terheran-heran.


"Lah, barusan tadi malem kita hepi. Apa sih yang terjadi dalam waktu semalem aja? Berantem lu sama Eliza?"


Bima memijit pelipisnya. Saat ini ia benar-benar pusing.


"Gua malah belum tau gimana kabar Eliza."


"Hah?! Maksudnya lu semalem gak sama Eliza gitu? Eh tapi lu sendiri yang bilang mau pulang ke rumah bawa Eliza.... Kok sekarang jadi gak tau kabarnya gimana sih elu tuh..."


"Panjang ceritanya In...."


Bima menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Indra dengan serius mendengarkan.


"Ya Tuhan... Banyak banget kekacauan yang udah lu buat dalam semalam ya, Bim.... Salut gua ckckck...''


Bima melempar sebuah buku laporan tebal ke arah Indra yang duduk di depan mejanya, namun segera di tangkis oleh Indra sambil terkekeh.


"Udah jangan marah-marah... Kayak emak-emak aja lu hahahaha.... Ayo kita selesaikan satu persatu. Lu mau mana dulu yang di selesain...?"


"Tau ah, pusing gua."


"Dasar amatir... cari duit aja lu yang yang pinter. Udah sini biar gua yang atur schedule."


"Gua lagi serius, Indra... Lu jangan bikin gua tambah stress lah...."


Indra menggeleng berkali-kali.


"Kagak.... kagak bakalan bikin tambah stress... Ini seriusan gua mau bantuin elu. Mumpung hari ni kita longgar ni gak ada pertemuan. Gua bantu sebisa gua."


"Seriusan lu, In?"


Indra mengangkat jempol.


"Seriusan... Apasih yang gak buat elu, Bim... Sahabat gua atu-atunya di dunia ini."


Bima tersenyum.


"Thanks, In... cuma elu yang bisa gua andalkan. Lu memang kawan gua paling the best."


💟💟💟💟💟


hai readers.... makasi udah setia baca tulisanku. jangan lupa klik like juga ya... biar akunya makin semangat up ceritanya.

__ADS_1


salam sayang dari author 😘😘


__ADS_2