Perempuan Terpilih

Perempuan Terpilih
BAB 13. PERKENALAN RESMI


__ADS_3

Bima kembali ke hotel menenteng sebuah paper bag besar bertuliskan nama butik ternama di kota ini. Sesampainya dikamar Eliza sedang menikmati makanan nya dengan memakai jubah mandi dan handuk di kepalanya. Wajahnya agak pucat saat polos tanpa make up. Alis tipisnya terkesan aneh saat tidak dilukis dengan pensil alis. Bibir nya juga tampak gelap agak kehitaman. Seperti seseorang yang berbeda. Tidak seperti Eliza yang biasa ia lihat.


Merasa diperhatikan membuat Eliza tampak risih.


" Kenapa mandangin nya begitu amat ? Aku jelek ya? "


Bima menggeleng sambil tersenyum.


"Nggak kok... kamu tetap cantik seperti biasanya. Udah siap belum makan nya? Nih baju ganti kamu. "


Eliza menyambut paper bag yang diulurkan Bima. Melihat isinya. Pakaian dalam, sebuah tunik dan sebuah flat shoes. Matanya menyipit saat mengembangkan tunik warna coklat bunga-bunga putih dihadapannya.


" What ? Baju apa ini Bima? Kamu tau kan ini nggak "AKU BANGET" ????


Bima sudah menduga. Pasti dia akan protes karena ku pilihkan baju yang agak tertutup.


" Sayang, itu keren. Pakailah, kamu pasti tambah cantik kalau baju ini. "


Eliza menghempaskan baju itu kasar. Apa Bima tidak tau selera berpakaiannya sehingga membeli baju yang benar-benar tidak diinginkannya.


" Pakai lah sayang .. Kita bukan mau pergi clubbing. Kita mau ketemu papa dan mamaku. Mulai sekarang kamu harus sering memakai pakaian yang lebih tertutup. Ini permintaan mama. "


Eliza masih enggan melakukan nya.


" Pleaseeeee...."


Eliza mendengus kesal. Tapi diambilnya juga baju itu. Dibawanya ke kamar mandi dengan tampang kesal.


Huuuft.... Sabar Bima... Ini baru awal. Belum juga ketemu dengan papa dan mama. Bisa dibayangkan seperti apa reaksi Eliza jika tau seperti apa keinginan mama.


⛄⛄⛄⛄⛄⛄⛄⛄⛄⛄⛄⛄⛄⛄⛄⛄


Bima dan Eliza berjalan beriringan menuju kamar rawat inap pak Hartawan. Eliza tampak cantik mengenakan pakaian pilihan Bima. Tubuhnya yang tinggi dan langsing khas model memang mendukung ia tampil serasi apapun yang dikenakannya. Wajahnya pun sudah segar dipoles make up. Seberapapun kuat usaha Bima meyakinkan Eliza untuk tampil apa adanya tetap saja tidak berhasil. Terpaksa ia berhenti di sebuah toko kosmetik untuk membeli make up yang dibutuhkan Eliza karena barang-barangnya semua tertinggal di dalam mobil.


Mungkin seperti inilah kehidupan para artis dan model. Mereka tidak percaya diri saat tampil polos tanpa polesan make up. Bima sendiri mengakui perbedaan tampilan kekasihnya sebelum dan sesudah dipoles.


Apakah semua wanita harus seribet ini?

__ADS_1


Ah sepertinya tidak juga. Ia ingat perempuan yang ditabraknya tadi pagi. Wajahnya cantik natural tanpa polesan make up sama sekali. Alisnya hitam tebal alami tanpa di cukur dan diganti dengan pensil alis. Bibirnya pink muda asli tanpa polesan lipstik. Bima melirik ke arah bibir Eliza. Bibir yang tadi tampak gelap kini sudah di sulap dengan lipstik warna merah menyala.


Lamunan Bima buyar saat Eliza bertanya kamar rawat inap nomor berapa yang ditempati papa. Bima membimbing nya masuk ke ruang VVIP tempat pak Hartawan dirawat.


Mereka langsung menghampiri bed pasien. Tampak pak Hartawan sedang berbaring dan bu Sandra duduk di kursi sebelahnya. Mereka kompak berpaling ke arah Bima dan Eliza.


" Pa, ma. Gimana keadaan papa sekarang ?"


" Alhamdulillah sudah lebih baik."


" Oiya pa, ma. Bima kesini bawa Eliza. Eliza, ini papa dan mama ku. "


" Halo om, tante. " Sapa Eliza sambil menyalami keduanya.


" Maaf tidak sempat berkenalan tadi malam. Saya pribadi minta maaf atas kelakuan tidak sopan saya semalam. Itu karena saya tidak mempersiapkan diri bertemu dengan om dan Tante. Semoga om cepat pulih kembali. "


Pak Hartawan hanya mengangguk. Lalu memberi isyarat dengan mata kepada istrinya agak berbicara langsung kepada Eliza. Tentang apa yang sudah terlebih dahulu dibicarakan dengan Bima.


" Eliza, bisakah kita berbicara sebentar? Ada yang ingin Tante sampaikan langsung kepada kamu. "


"Eliza, Tante sudah dengar dari Bima tentang kamu. Sebagai orang tua, kami merasa bahwa sudah waktunya Bima menjalin hubungan yang serius. Tante ingin dengar langsung dari kamu, apakah kamu serius menjalin hubungan dengan anak tante? "


Eliza melihat Bima, mencoba mencari kekuatan disana. Bima pun mengisyaratkan dengan anggukan.


" Tante, saya sudah menjalin hubungan dengan Bima selama satu tahun terakhir ini. Hubungan kami serius. Umur saya sudah 26 tahun, sudah pantas untuk menikah. Kami sangat senang jika om dan Tante memberikan kami restu. "


Bu Sandra mengangguk.


" Baiklah kalau memang kalian sudah serius. Untuk itu perlu Tante sampaikan kepada kamu, bahwa terus terang kami selaku orang tua, berharap yang terbaik untuk masa depan anak kami. Kami tidak bisa memaksakan siapa yang akan jadi pendamping Bima, tapi kami punya syarat yang harus dipenuhi. "


Eliza dan Bima berpandangan.


" Siapa saja yang akan menjadi istri Bima, kami harap ia adalah perempuan yang bisa menjaga Marwah keluarga. Punya sopan santun dan akhlak yang baik. Punya bekal agama untuk mendidik anak-anak kalian kelak. Bisa merubah Bima menjadi sosok yang lebih baik lagi. "


Eliza merasa hatinya panas mendengar ucapan Bu Sandra. Bukankah yang diharapkan nya itu bertolak belakang dengan dirinya????


" Tante tau kamu paham apa yang Tante ucapkan barusan. Tapi tolong jangan salah paham, Tante mengatakan ini untuk kebaikan kalian berdua. Terus terang kami selaku orang tua mengaku sudah gagal mendidik Bima. Kami terlalu membebaskan Bima sehingga dia jauh dari agama. Maka dari itu siapapun yang menjadi istrinya haruslah bisa membawanya kembali kejalan yang lurus. Seandainya kamu belum bisa, setidaknya kamu bisa belajar mulai dari sekarang. "

__ADS_1


Eliza menunduk. Pikirannya terbang tak tau arah.


" Eliza, Tante bukan memojokkan kamu. Ini semua Tante lakukan demi kebaikan kalian dimasa yang akan datang. Setidaknya kalian bisa belajar bersama-sama, memperbaiki perilaku dan akhlak. Tante rasa jika ada keinginan yang kuat maka semua itu tidaklah mustahil. "


" Tante beri waktu tiga bulan. Itu waktu yang cukup untuk menunjukkan kesungguhan kamu dan juga Bima. Tante harap kamu tidak mengecewakan Tante. Jika memang cinta diantara kalian besar tentu syarat kami tidaklah terlalu berat."


"Semua keputusan ada ditangan kamu. Kalau kamu menerima syarat dari Tante, maka Tante akan sangat senang karena kamulah perempuan pilihan Bima. Kita akan lihat perkembangan nya selama 3 bulan kedepan. Kalau kamu gagal, maka dengan sungguh menyesal Tante akan pilihkan perempuan lain untuk menjadi pendamping anak Tante. "


" Bagaimana, Eliza? Kamu sanggup dengan syarat dari kami? "


Eliza tak bergeming. Bima yang paham akan kondisi ini segera mengambil langkah.


" Ma, beri Eliza sedikit waktu untuk berpikir. Banyak hal yang harus di pertimbangkan sebelum ia mengambil keputusan nya. "


"Baiklah, mama tidak akan memaksa Eliza menjawab sekarang juga. Silahkan pikirkan dulu masak-masak, setelah itu kabari kami. Eliza, ada yang ingin kamu sampaikan kepada kami? "


Eliza menggeleng.


" Beri kami waktu untuk bicara, ma. Kami permisi dulu, " kata Bima sambil menggandeng tangan Eliza.


Bu Sandra hanya mengangguk membiarkan mereka pergi dari kamar. Setelah itu ia kembali duduk di samping bed suaminya.


Pandangan nya berubah sedih.


" Apa mama terlalu keras pada mereka, Pa?"


Pak Hartawan tersenyum sambil menggeleng.


" Tidak, ma. Sudah waktunya mereka diberi ketegasan. Sudah cukup bermanja-manja selama ini. Biarkan mereka memutuskan. Walaupun Bima sudah setuju tapi kan belum tentu Eliza juga setuju. Masih banyak kemungkinan."


Bu Sandra meraih jemari tangan suaminya. Mencari kekuatan disana.


" Tampak nya tadi Eliza seperti keberatan. Semoga saja bukan Eliza yang jadi mantu kita ya Pa. Kalaupun harus Eliza semoga ia bisa jadi seperti yang kita harapkan."


Pak Hartawan menggenggam erat tangan istrinya.


"Aamiin... Semoga saja ya ma."

__ADS_1


__ADS_2