
Siang itu panas terik.
Ayah Aisyah pulang dari sekolah mengendarai motor Astrea grand. Dulu orang-orang bilang Astrea motor butut, sekarang banyak dicari org untuk di modifikasi. Sudah berkali-kali orang datang menawarkan harga motor tua itu, tapi pak Annas tetap bertahan. Sampai-sampai pak Annas buat tulisan di tempat ia selalu parkir, TIDAK UNTUK DIJUAL!!!!
"Assalamualaikum...''
Pak Annas mengucap salam, lalu duduk di kursi teras sambil melepas sepatu.
"Waalaikum salam... Ayah udah pulang..." sambut Bu Arum sambil mencium tangan pak Annas.
"Aisyah,,, bawa sini cangkir teh ayah yang udah ibu buat dimeja dapur. Biar diminum mumpung masih hangat."
Aisyah keluar membawa cangkir berisi teh hangat untuk ayahnya. Lalu mencium tangan ayahnya takzim.
"Makasi ya Ais... kamu sudah sholat?"
"Sudah ayah, " jawab Aisyah sambil mengangguk.
"Gimana sekolah hari ini, Yah?" tanya ibu.
"Alhamdulillah lancar seperti biasa Bu. Paling agak sibuk karena sebentar lagi ujian akhir" jawab ayah sambil menyeruput teh nya.
"Masuk yuk Yah, makan siang. Aisyah udah masak sayur asem sama ikan goreng. Pasti seger kan siang-siang begini makan sayur asem." ajak ibu.
"Boleh lah boleh lah. Ayah mau icip masakan anak gadis ayah, enak apa asin " ledek ayah.
Aisyah tertawa kecil. Ingat sayur lodehnya yang gagal karna kebanyakan ngasi garam.
"Tenang aja yah.... kali ini masakan Aisyah insya Allah gak mengecewakan. Ais udah minta chef ibu untuk nyicip duluan kok tadi hahahaha ..."
"Gimana Bu.... Lulus gak yang kali ini...?"
Ibu menjentikkan jari.
__ADS_1
"Lulus dengan nilai 90 yah. Anak gadis kita udah pinter masak sekarang. Sudah bisa lah kita carikan calon suami" jawab ibu sambil tersenyum dan mengedip-ngedipkan mata kepada ayah.
"Ibuuuuuuuuuuu...." Aisyah menjerit panjang seraya menutup telinga, sementara ayah dan ibu tertawa bersama.
------------_-----------_--------------_-------------_----------------
Senja hari seperti biasa anak-anak mulai berdatangan. Aisyah bersiap mengajar mereka mengaji kembali setelah sholat magrib berjamaah. Mengajari anak-anak perempuan kecil membaca iqro' dengan sabar. Sementara ibu mengajar anak-anak perempuan membaca juz amma. Ayah di sebalik hijab mengajari anak-anak laki-laki.
Suara mereka riuh rendah melantunkan ayat-ayat Al Qur'an. Membawa rasa damai dalam hati yang mendengarnya.
Biasanya belajar mengaji berakhir lima belas menit sebelum azan isya berkumandang. Dan anak-anak bubar setelah sholat isya berjamaah.
Aisyah dan Bu Arum sedang membereskan iqro' dan Al Qur'an, saat terdengar suara mobil berhenti di depan rumah mereka. Ibu keluar mushola melihat siapakah tamu yang datang, sementara Aisyah lanjut beres-beres.
Mungkin tamu ayah, atau teman kerja ayah. Aisyah tidak tertarik untuk melihat keluar mushola.
Tak lama setelah itu adzan berkumandang. Ayah masuk kembali kedalam mushola bersama dua orang laki-laki. Mereka ikut sholat berjamaah. Selesai sholat, Aisyah masuk rumah lewat pintu samping.
Menyadari kehadiran Aisyah, ibu langsung melambaikan tangan memberi tanda agar Aisyah membantu masak.
Aisyah mengambil alih spatula. Membalik ikan yang mulai kering dan membantu mengupas bawang.
"Siapa tamu ayah, Bu? Tumben kok ibu langsung masak. Apa mereka makan malam disini?" Aisyah penasaran.
"Itu Pak Hartawan lho Ais, kawan lama ayah. Yang dulu tinggal di kampung kita, yang rumahnya dekat puskesmas, tapi sekarang pindah ke Pekanbaru. Kamu masih inget nggak? "
Aisyah diam. Mengingat-ingat siapa yang dimaksud ibu. Tidak ada gambaran tentang siapa itu pak Hartawan yang disebutkan ibu.
"Nggak ingat ya? Itu lho.... yang anaknya laki-laki ndegil, manja, tukang nangis, suka bolos sekolah sama ngumpet di belakang rumah kita kalo lagi di cariin mama nya."
Sekilas Aisyah ingat. Anak laki-laki, umurnya beberapa tahun lebih tua dari Aisyah. Sangat nakal, sering dihukum karena suka bolos di sekolah. Anak nakal yang juga cengeng. Hahahaha iya itulah dia. Jadi tamu ayah adalah papa dari anak cengeng itu.
"Iya Bu, Aisyah baru ingat. Bima ya nama anak nakal itu. Om Hartawan suaminya Tante Sandra kan bu..."
__ADS_1
"Betul sekali."
"Tumben om Hartawan main kesini Bu."
"Ya gak papa lho Ais... menjaga silaturahmi itukan penting.... udah sana kamu bikinkan kopi saja. Tiga ya, buat ayah dan supirnya sekalian."
Aisyah mengangguk. Bikin kopi itu keahlian Aisyah. Ayah selalu memuji kopi buatan nya. Rasanya pas. Gak kemanisan, gak kepahitan.
Tiga cangkir kopi sudah selesai dibuat. Aisyah meletakkan cangkir dalam nampan hijau, lalu menyerahkan kepada ibu.
"Ini Bu sudah selesai."
Ibu menyambut nampan kopi lalu bergegas membawanya ke ruang tamu. Aisyah menuju ke kompor, melihat sayur yang sedang dimasak ibu. Oooo rupanya ibu masak capcay. Aisyah menyendok sepotong bakso. Mengecapnya. Lalu menyendok lagi sepotong brokoli. Hambar. Mungkin memang belum diberi garam oleh ibu.
Aisyah bereksperimen. Memberi setengah sendok garam, sejumput kaldu bubuk dan sedikit gula . Diaduk-aduk, lalu dicicipi.
Hmmmm ... sedap rasanya.
Ibu masuk kembali ke dapur.
"Bu sudah Ais beri garam. Coba icip Bu kurang apa."
Ibu mengambil sendok yang diulurkan Ais. Mengecap sedikit sayur, lalu manggut-manggut.
"Kurang apa Bu?"
Ibu mengacung jempol.
"Pas. Mantap. Makin jago masak sekarang anak gadis Ibu."
Yang dipuji cuma senyum-senyum ge-er.
Hahaha gak percuma kursus masak sama ibu. Bentar lagi juga aku bisa jago masak kaya ibu 😁😁
__ADS_1