Perjalanan Hidup Anak Di Luar Nikah

Perjalanan Hidup Anak Di Luar Nikah
01


__ADS_3

jam menunjukkan pukul lima sore. Soraya duduk didepan gubug yg dia tinggali semenjak lahir


kedua mata indahnya jauh menerawang langit.


sesekali kedua bola matanya menangkap kumpulan burung-burung yg berterbangan ingin kembali ke sarangnya.


ada rasa iri yg menggelayuti hati kecilnya, melihat


burung-burung yg terbang bebas , berkelompok, tanpa ada perbedaan dan perdebatan.


beda dengan dirinya,


orang-orang selalu menatapnya jijik, menggunjing, sudah menjadi makanan sehari-hari Soraya.


"dasar anak haram , pembawa sial "


itulah kata-kata yg slalu terlontar dari mulut mereka.


Soraya menghela nafasnya berat.


tak terasa bulir air mata jatuh membasahi pipi mulusnya.


"nduuukkk"


panggilan simbah membuyarkan lamunan Soraya


buru-buru dia menghapus air mata dengan jilbab kumal yg ia kenakan.


biar bagaimanapun, dia tak ingin memperlihatkan semua beban kesedihan nya pada sang simbah


orang yg merawat nya sendari bayi,


dan hanya dialah keluarga satu-satunya yg Soraya miliki.


seakan tau apa yg dirasakan sang cucu


simbah mengusap kepala Soraya

__ADS_1


satu senyuman terulas dari wajah keriput sang simbah.


"mbaahh"


panggil nya ragu


Soraya bingung, apakah pertanyaan ini akan menyinggung simbahnya atau tidak


"ada apa Nduk????"


"emmm........"


simbah hanya mengangguk sebagai jawaban agar Soraya melanjutkan pertanyaan nya.


"mbah , apakah kita memang tak punya sodara???"


kedua mata Simbah menatap langit sore, ada kesedihan yg terpancar jelas dari raut mukanya


tp dia jg tak bisa selalu diam, biar bagaimanapun sang cucu harus tau.


"simbah sama kakung mu dulu dari bayi tinggal di panti Nduk, jd simbah g tau".


simbah menggeleng


"pantinya sudah digusur nduk, krn berdiri diatas tanah sengketa"


Soraya nampak mengagukan kepala, mengerti.


berharap sang nenek melanjutkan ceritanya


"lalu kakungmu dibesarkan oleh orang tuanya pak kiyai, tempat mu sekolah,.


sementara simbah diangkat anak oleh pendatang dr luar kota Nduk,


simbah jg g tau asal mereka , simbah jg g pernah diajak kesana.


yg simbah rasakan Hanya senang , bisa mendapatkan kasih sayang dari orang tua yg selama di ini simbah inginkan.

__ADS_1


mereka baik, punya satu anak perempuan usianya dua bulan lebih tua dari simbah


tp sedikit pun mereka tdk pernah membeda_bedakan kami".


Soraya mengusap lengan sang simbah,


memberikan kekuatan.


" sampai suatu hari pa'enya simbah dipanggil sang pencipta, simbok sedih terburuk, sampai sakit-sakitan.


dengan terpaksa yu Marmi sodara tirinya simbah, membawa simbok kembali ke kota asalnya,


simbah tdk bisa ikut, karena simbah sudah menikah dengan kakungmu,


Kakung mu tdk bisa meninggalkan orang yg merawatnya, karena saat itu , orang tuanya pak kiyai jg sedang sakit-sakitan.


itulah pertemuan terakhir Simbah dengan yu Marmi"


simbah memeluk Soraya, menyembunyikan air mata yg telah menggenang membasahi pipi keriput sang Nenek.


"mbah kenapa kita tdk tinggal dirumah yg dulu ditinggali Mbah buyut????


"rumah nya sudah disita rentenir, rumah yg sering kamu lewati saat berangkat dan pulang sekolah"


pelan2 simbah melepas pelukannya


"ayo masuk udah magrib"


ajak sang simbah, Soraya hanya mengangguk dan mengikuti langkah sang simbah masuk dalam gubug reot yg mereka tinggali


tak lama kemudian kumandang adzan Maghrib menggema


lewat speaker masjid , musola terdekat.


seperti umat muslim pada umumnya , Soraya dan simbah segera menjalankan kewajiban.


🎆🎆🎆🎆🎆🎆

__ADS_1


seperti kebiasaan Soraya setiap hari


__ADS_2