Perjalanan Hidup Anak Di Luar Nikah

Perjalanan Hidup Anak Di Luar Nikah
017 Tamu di hari Jumat


__ADS_3

Hari ini , hari Jumat, seperti hari Jumat sebelumnya, sekolahku libur.


menurutku hari Jumat adalah, hari ternyaman dalam seminggu.


biasanya di jam segini, aku masih memplototi kitap kuning.


telingaku fokus akan setiap ucapan pak ustadz. dan jemariku membubuhkan setiap arti dari tulisan Arab di kertas berwarna kuning yang ku pelototi.


ya pak ustadz yang mengartikan dan kami para siswa yang menyalin setiap arti yang diucapkan pak ustadz


harus fokus dan teliti, karena sesekali pak ustadz meminta setiap siswa untuk maju kedepan , membaca kembali arti dari apa yang ditulis.


pastilah tegang.......


salah sedikit , malunya ya Allah, ketahuan deh kalau tidak fokus dalam mendengar setiap ucapan sang ustadz


meski sesekali pak ustadz berhenti dalam mengartikan , memberi kami waktu untuk beristirahat dalam menulis,


sembari menjelaskan apa yang diartikan tadi,


terkadang diselingi cerita atau candaan agar kami tidak terlalu tegang


tapi tetap saja akunya tegang, apalagi tulisan arabku yang seperti cakaran ayam, tiap kali menulis, jarang bisa dibaca kembali


kelas yang hening, semua temanku ikut menyimak, mencocokkan dengan tulisan mereka, tidak ada suara selain suara dari siswa yang sedang membaca kembali maknanan ( artian ) mereka.


ya Allah......


saat itulah , rasanya aku ingin menghilang dalam sekejap,


meski tiap kali salah , tidak akan dimarahi


tapi tetap saja , membuktikan bahwa akulah siswi terbodoh dalam kelas tersebut.


memang mungkin sudah nasibku,


mempunyai otak tak terlalu pandai, nggak ngerti gimana cara belajar.

__ADS_1


jadi tiap kali hafalan nadhoman, membaca kembali maknanan dan ulangan,


rasanya pengen ngompol,


saking tegang dan takutnya......


nilaipun selalu rendah


aku menghela nafas kasar.


karena kisahku sama saja, dari saat tsanawi sampai Aliyah , kasusnya tetep sama


paling tegang saat menghadapi tiga hal tersebut.


bila dulu , tidak ada waktu untuk belajar, dan menghafal, karena sibuk beres-beres rumah dan terkadang membantu simbah masak-masak ditempat tetangga.


kalau sekarang, mungkin otaku sudah terlalu tumpul, untuk hal semacam itu.


padahal waktuku sekarang lebih dari cukup, untuk yang namanya belajar dan menghafal Nadhoman,


Alhasil tetap sama saja.


Kulangkahkan kakiku menuju depan televisi


kunyalakan televisi berukuran 21 int, menonton acara gosip


terkadang mulutku ikut berkomentar, ngomong sendiri seperti orang gila.


karena memang saat ini aku sendirian dirumah.


simbah masih itikaf di masjid, ayah sudah berangkat ke sawah habis sarapan tadi, dan ibu ke pasar, mungkin agak lama karena ngegosip dahulu bersama teman-teman seprofesi nya


saat fokus ku pada acara di televisi, suara mesin mobil membuyarkanku.


kubalikan tubuhku , mataku melihat mobil terparkir di halaman depan rumah.


anehnya sang pengemudi tak kunjung turun.

__ADS_1


sampai bermenit-menit, masih betah didalam mobilnya. sedikitpun tak membuka kaca mobil, aku jadi penasaran kan???


siapa gerangan dirinya????


wajar bukan, bila aku berjalan menghampiri, berdiri diambang pintu , mengamati


siapa tahu terlihat , dan dapat melihat dengan jelas, orang dalam mobil tersebut.


kini mataku justru tertuju pada sosok manusia es, mas Ilyas, dari jalan arah Utara tepatnya dari arah pondok putra, menaiki sepeda motor metic warna merah miliknya.


memarkirkan motornya tak jauh dari mobil tersebut, dengan cepat mas Ilyas membukakan pintu mobil, dan keluarlah sang pengemudi.


sombong banget ,pake acara nyuruh bukak in pintu segala , emang nggak bisa buka pintu mobil sendiri???


harusnya jangan naik mobil bila nggak bisa membuka pintu mobil.


Nenek-nenek tua, memakai pakaian glamor,


kalungnya dipakai diluar jilbabnya, mungkin ingin menunjukkan, begitu besar dan indah kalung tersebut, kenapa tidak pakai rantai kereta api saja sekalian ???? pasti akan terlihat besar dan kelihatan, perhiasannya ya Allah mungkin satu toko dipakai semua itu.


berjalan beriringan dengan mas Ilyas , memasuki rumah, menghampiri aku yang sendari tadi berdiri diambang pintu.


refleks aku mundur beberapa langkah memberi jalan dua mahluk berbeda generasi, yang sedikitpun tak memperdulikan keberadaan ku.


terbukti keduanya acuh padaku, tak memperdulikan keberadaan ku, padahal Sudah kuulas senyum terindah ku khusus untuk keduanya.


Terserahlah, ........


mas Ilyas mempersilahkan nenek tua yang sering di panggil eyang, untuk duduk di kursi.


hebat bener tu eyang , sudah tua berani nyetir mobil sendirian, dari rumah nya di puncak bukit sampai disini , tanpa didampingi sopir atau siapapun .


Tanpa diminta pun Aku segera masuk, membuatkan minuman, dan menghidangkan beberapa cemilan yang sengaja aku ambil dari dalam toko.


Tepat saat aku membawa nampan berisi minuman untuk kubawa keluar, ayah , ibu dan Simbah sudah pulang,


ikut duduk diruang tamu, sembari mengobrol dengan eyang.

__ADS_1


__ADS_2