Perjalanan Hidup Anak Di Luar Nikah

Perjalanan Hidup Anak Di Luar Nikah
011 karakter keluarga


__ADS_3

lumayan lama juga aku dan ibu didalam toko


setelah perdebatan panjang dan alot


akhirnya aku memilih 4 baju +dalaman , lima termasuk yang kupakai saat ini


nggak enaklah ayah dan ibu dah keluar duwit banyak ntuk biyaya rumah sakit kemaren


masak ane tega


ngambil kesempatan saat ditawari


dan baju daster kebesaran milik emak-emak


jangan ditanya, udah tenang didalam tong sampah


bajunya dah bolong disana sini


biasalah baju daster golongan menengah kebawah


menurut ibu-ibu harganya selangit mudah sekali bolong


tapi nyamannya g ketulungan


entah PD amat aku dari tadi


g nyadar, baju dah bolong disana sini tetep santai kayak dipantai


mana g make Daleman lagi


Ya Allah aurotku.....


sepanjang perjalanan pulang, diatas motor ibu terus bertanya-tanya


apa makanan kesukaan ku atau yang tak kusukai


ibu menawari ku berbagai jenis makanan


dari yang berkuah , bersantan semua tak luput dari ucapan ibu


.dan akhirnya disinilah Kami


warung Nasi pecel tengah sawah milik Mak wiji


tempatnya sejuk, angin sepoi-sepoi


lokasinya ditengah sawah


pembelinya bejubel


rata-rata orang-orang yang bekerja di sawah


aku dan ibu duduk lesehan beralas tikar


ditelapak tangan kami terdapat nasi pecel


kacang panjang , toge , daun ketela pohon, jamur, disiram sambal kacang tanah


ditambah rempeyek kacang hijau dan bergedel kentang


hemmmmmmmm menggiurkan


piring nya pake daun pisang


tak lupa es teh manis jadi pelengkap


sembari makan mataku tak bosan menatap sekitar


hamparan hijau sawah yang membentang


udara sejuk segar jauh dari polusi dan hingga bingar kendaraan


ibu bercerita ngalor ngidul


semua hal diceritakan


termasuk manusia es yang membuat ku jengkel tadi pagi adalah mas Ilyas

__ADS_1


anak dari ayah dan istri sebelumnya


aku hanya menjadi pendengar setia


sesekali menanggapi dengan senyuman anggukan saja.


💦💞💦💞💦💞💦💞💦💞💦💞


motor kembali melaju setelah kami menghabiskan nasi pecel


dasar ibu-ibu dari tadi cerita g da kelarnya


apa nggak capek tu mulutnya


hadeeeehhhhh. biarin dah....


baru saja aku turun dari motor


simbah sudah berteriak menyambut kedatangan kami


" ya Allah ayune putuku, menik menik ayu tenan"


simbah menggandeng ku masuk


banyak tetangga yang pada melongo


bertanya-tanya


ada apa gerangan????


aku sampai malu sendiri......


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


waktu terus berputar, hari demi hari terlalu i


tak terasa sudah satu Minggu aku tinggal ditempat keluarga baruku


banyak hal yang baru kutahu


ayah yang mondar mandir


ditambah sawah berhektar-hektar milik ayah


hingga memperkerjakan banyak orang


tiap pagi ibu pulang pergi kepasar


sampai rumah menjaga toko


memang hanya toko ibulah satu-satunya toko di RT tempat kami tinggal


kebanyakan warganya orang-orang tua dan anak-anak


para remaja pemuda pemudi lebih memilih merantau ke kota-kota besar untuk mengadu nasib


ada juga yang menjadi TKW ke luar Negeri untuk memenuhi biaya kebutuhan ekonomi keluarga mereka


jadi tanpa alasan rumah ibu memang kotor seperti tak terawat


baru saja kedalam mau masak atau kekamar mandi


" lek tumbas. ......." cuma beli jajan seribu rupiah


tinggal kedalam lagi


" lek tumbas ....." beli garem dan sebagainya


paling menjengkelkan bila pembelinya anak-anak


ditinggal orang tua mereka kesawah


Anak-anak diberi uang 10 ribu


belinya jajan seribu-seribu bolak balik


sekarang beli jajan seribu dah diberi kembali an , setelah jajan Habis beli lagi seribu

__ADS_1


begitu seterusnya sampai uang Anak itu habis


itu baru satu anak, kalau lima anak???? sepuluh anak????


pegel kan kaki????


makanya urusan masak memasak seringnya dikerjakan simbah


tapi kalau simbah dah berikhtikaf dalam masjid kerasan bener,


nggak inget laper haus, yang ada hanya berzikir dan membaca amalan-amalan dari mbah yai pengurus pondok pesantren.


setelah keberadaan ku dalam rumah ini


akulah yang mengerjakan semuanya


dari masak bersih-bersih


rumah yang dahulu mirip gudang Alhamdulillah sekarang layak tempati


walau sering mendapat protes dari keluarga


khawatir aku kecapean


tapi aku masa bodo


rumah bersih itulah tujuan ku


Dari situ pula aku bisa melihat karakter dari mereka


seperti ayah dan simbah , bila marah langsung diluapkan dengan ucapan.


semua unek-unek dikeluarkan


dari A sampai Z nggak boleh dibantah nggak boleh ngelawan.


setelah puas meluapkan emosi


pergi menghindar dari lokasi kejadian


satu jam kemudian, kembali lagi


seperti tak terjadi apa-apa


hadehhhhh aneh memang.....


dan jangan sampai berani-beraninya menyinggung masalah tadi


yang ada emosi bakalan bangkit lagi


kalau ibu kalau marah seluruh rumah didiemin,. nggak ngomong sama sekali


" udah nggak usah bingung, ibumu juga seperti itu,. ntar juga baik sendiri"


itulah kata-kata ayah dan simbah bila melihat ku kebingungan karena didiemin ibu


walaupun marahnya bukan sama aku sih


tapi tetep aja aku kebingungan , biasanya ibu cerewet cerita ngalor ngidul nggak berhenti-berenti ni diem aja


akhirnya aku deketi ibu, ngomong baik-baik


" Bu maafin Soraya, kalau Soraya banyak salah, ngerepotin ibu , ataupun bikin jengkel ibu"


pasti ibu akan nangis sesenggukan sembari memeluk ku erat


" nggak nduk aya nggak salah apa-"


dan marah menghilang kembali ke semula


kalau mas Ilyas, nggak usah ditanya


seperti itu kulkas berjalan, dingin nya nggak ketulungan


hangatnya cuma sama keluarga doang


dan aku nggak dianggap sama sekali

__ADS_1


seperti mengganggapku memang tak ada


Ya Allah sabar -sabar


__ADS_2