
Bulan Syawal, bulan awal masuk tahun ajaran baru di sekolah , pondok pesantren Darul ulum dibawah pimpinan KH Hasyim Asy'ari.
walaupun cara belajar dan mengajar berbeda dengan sekolah pada umumnya. ijazah yang didapat setelah menuntut ilmu disini sudah diakui Negara.
seperti sekolah ku yang dulu , para alumninya banyak yang meneruskan ke luar negeri atau menjadi Dewan pemerintah an di Indonesia.
yayasan pendidikan Islam Darul ulum ini mencangkup berbagai studi.
dari RA Raudhatul Athfal setara TK atau taman kanak-kanak
Madrasah Diniyah , MI setara SD
Madrasah Tsanawiyah setara SMP
Madrasah Aliyah MA setara SMU
dan universitas .
bagi RA dan MI semua siswa putra dan putri masih menjadi satu kelas dan gedung.
barulah saat Tsanawi , Aliyah, sampai universitas , siswa putra dan putri dipisah gedung.
halamannya cukup luas, mungkin setara satu kampung.
terdiri dari masjid diarea pondok putra
gedung madrasah Tsanawi , Aliyah , universitas, pondok pesantren, ndalem mbah yai dan gus guse
semua berlantai dua.
masih belum gedung madrasah Tsanawiyah , Aliyah, universitas, pondok pesantren Putri, serta ndalem guse yang bertanggung jawab atas pondok putri
serta gedung RA dan MI.
ditambah madrasah, dan wustho ( setara SMP ) yang berangkat jam satu siang , pulang jam 4 sore dan gedung TPQ
memang lengkap seluruh studi di yayasan tersebut, semua berbasis agama.
semua siswa rata-rata para santri , dari berbagai kota, ada Juga yang dari Surabaya, Kalimantan, Sulawesi, sampai Banten
tak heran kalau pondok pesantren tersebut terkenal hingga ke luar Negeri.
karena banyak juga alumni dari sini yang bekerja atau meneruskan studi diluar negeri.
dan banyak juga yang ikut andil dalam anggota parlemen pemerintah an.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
aku keluar dari kamar , sudah memakai kemeja warna putih yang terdapat almamater dan kelas dilengan kanan dan kiriku
ditambah bet osis disaku tepat didadaku.
jilbab warna putih yang tersemat jarum pentul dibawah daguku serta sarung batik sebagai bawahan. tak lupa aku menentang beberapa Kitap kuning jadwal pelajaran ku hari ini.
kupeluk semua kitab tersebut didada, untuk menghormati kitab penuh dengan tulisan Arab.
pelan-pelan kulangkahkan kakiku keluar
memang sebelumnya aku sudah didaftarkan mas Ilyas masuk Madrasah Aliyah putri. kelas X, dan hari ini , hari pertama ku masuk sekolah, bertemu teman baru serta tempat baru, harapan ku tempatku saat ini tak seperti dikampungku dulu.
" ya Allah ayune , nduk ayaku"
ibu memelukku, mencium mukaku berulang kali, kulirik ujung mata ku
mas Ilyas berdiri menatap kami.
" Bu, Soraya berangkat dulu"
kucium punggung tangan ibuku sebelum melangkah kaki keluar rumah , guna menuntut ilmu.
ibu memasukkan uang 50 ribu dikantong sakuku
heran tentunya, apa salah memasukkan???
" nanti buat jajan"
" ini kebanyakan Bu"
" nggak papa, sisanya ditabung"
aku terharu, ini pertama kalinya dalam hidupku, aku sekolah membawa uang saku.
sebelumnya memang tidak pernah sama sekali.
lebih baik uangnya untuk keperluan yang lain. dari pada kubawa hanya untuk membeli jajanan diarea sekolah.
" Yas..... karung itu yang kamu angkat, "
ibu gantian berbicara pada mas Ilyas, setelah menunggu momen mengharukan menurutku
aslinya aku terpesona pada pria yang bernama M Ilyas Abdullah, tapi sayang, dinginnya nggak ketulungan.
jadi kubuang jauh-jauh rasa kagum dan terpesona ku pada dirinya.
Andai saja dia lebih ramah
uh.... jatuh cinta aku..... beneran nggak bakal nyesel, malah bahagia.
dengan sekali angkat , karung gabah berbobot 50 kg diangkat diatas pundaknya.
eh mamas ganteng, nggak keberatan???
nyantai bener angkatnya....
jadi pengen digendong, berat badan ku nggak nyampe 50 kg Lo mas hehehehe....
bolak balik mas Ilyas mengangkatnya, keluar masuk rumah, ditatanya semua karung diatas mobil pickup sendirian.
entah mau dibawa kemana, males Juga mau tanya, paling-paling nggak bakalan dijawab, malah sakit hati yang ada
uh.....nggak capek apa ,mamas ganteng????
angkat-angkat karung.
aku sampai melongo nggak percaya,
itu tulang atau besi mas????
" nduk aya nggak jadi sekolah?????
atau mau bantuin mas Ilyas mu ngankat karung,???"
aku nyengir memperlihatkan seluruh deretan gigi-gigiku, entah warnanya apa menurut mereka, yang pasti bukan hitam dan merah,,. " iya bu Soraya berangkat, assalamualaikum......"
pamitku segera melangkahkan pergi.
__ADS_1
aku berangkat hanya berjalan kaki , lewat jalan depan rumah arah timur ke barat
tinggal berjalan ke timur sudah sampai dibelakang area pondok putri.
dan jalan lagi menuju gedung madrasah Aliyah tempatku sekolah.
kuedarkan pandangan ku mencari kelas X
cukup luas juga gedung berlantai dua ini
didepannya gedung madrasah Tsanawiyah juga berlantai dua.
tak seperti area pondok putra
pondok putri sangat tertutup, , terutama gedung pondok pesantren Putri dikelilingi pagar bumi.
didepan sana gerbang tinggi menjulang begitu gagahnya.
para santri putri tak diizinkan keluar dari area pondok karena disini sudah dilengkapi berbagai hal
mulai dari koprasi, minimarket, toko baju, serta perpustakaan.
jangankan untuk keluar , pulang tanpa jemputan tak diizinkan. jemputanya pun harus mahram nya, bisa menunjukkan dari kartu anggota keluarga sebagai bukti
ribet dan cukup Ketat, sesuai lah dengan ilmu yang didapat, bila oranya bersungguh sungguh dalam menuntut ilmu.
bukan hanya itu para santri pun tak diizinkan untuk bertatap muka dengan bukan mahramnya. alias lawan jenis.
kecuali para ustadz yang mengajar disekolah dipondok pesantren, itupun semuanya sudah udzur, alias Bapak-bapak yang sudah tua dengan perut buncit.
mana ada yang tergoda kecuali istri mereka masing masing.
hanya saat badhalanlah ( ustadz yang mengajar tidak bisa hadir )
mata para santri cuci mata
karena ustadz yang menggantikan mengajar adalah para pengurus atau para kang-kang putra yang sudah lulus sekolah dan masih dipondok.
itupun tidak semua, Hanya orang-orang terpilih lah yang bisa menjadi badhalan.
selain karena pandai dalam ilmu agama mereka harus cuek alias dingin macam es batu seperti mas Ilyas.
jadi aman, mereka tak akan tebar pesona,
tapi bukan perempuan namanya bila nggak histeris melihat lawan jenis , apalagi ganteng dan manis, seperti yayang Hanan yang aku suka, orangnya gagah dan tinggil 11 12 lah sama mas Ilyas
bedanya dia hitem manis so sweet, murah senyum lagi, kadang-kadang
aku berjalan memasuki kelas X sudah banyak teman sekelas ku yang datang, mereka asyik mengobrol dan ngegosip.
jangan bayangkan kelasku ini seperti kelas-kelas pada umumnya.
karena tak ada meja kursi, hanya ada bangku panjang berisi dua orang, dan duduknya dilantai,
setiap kelas hanya ada satu meja dan Kursi untuk duduk sang ustadz pengajar.
dari gedung Tsanawiyah, Aliyah sampai universitas,
berbeda dengan kelas madrasah sore , MI dan RA, setiap siswa diberi bangku masing masing.
sampai didalam kelas aku hanya diam, karena tak ada yang aku kenal, aku juga tak terbiasa beramah-tamah dengan orang lain
mungkin sudah terbiasa sejak kecil , karena orang-orang kampung ku yang menganggapku rendah.
jam pelajaran pun dimulai, semua siswa kusyuk dalam memaknai setiap lembar kitab kuning dihadapannya masing-masing.
ustadznya cukup ramah dan lumayan humoris, jadi para siswa tak terlalu tegang.
mereka tegang hanya saat menghafal nadhoman , baik imriti, Qowaidul i'rob, almaqsud, sampai Alfiah.
paling semangat bila pelajaran Qurotul uyun dan ukudul Ijen, kitab yang membahas tentang tata cara berumah tangga dan hubungan suami istri.
serta faidah dan madorotnya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
jam istirahat berbunyi, para santri ada yang tidur, maklum lah sebagai santri yang namanya tidur adalah hal terindah selama menjadi santri.
bayangkan saja sebelum subuh sudah harus bangun untuk sholat malam, sholat subuh.
setelah sholat subuh mengaji Alquran. dipimpin oleh neng-nengnya alias putri dan menantunya Mbah yai , karena semua alhafodhoh 👉 sudah hafal Al-Qur'an
bagi yang datang bulan silahkan tidur
setelah warahan dibagi per dua kamar , karena ada 30 kamar semua kamar berisi 20 orang, untuk piket atau bersih-bersih halaman pondok dan tiap depan kamar.
kecuali kamar masing-masing dibersihkan para anggota kamar tersebut.
barulah masak untuk sarapan, dan mandi untuk ke sekolah
jam sekolah masuk jam 7 tepat. bagi santri yang ingin menghafal Al-Qur'an dibebaskan untuk tidak mengambil studi.
karena setiap santri diwajibkan untuk sekolah
istirahat jam 9 , dan pulang tepat jam 12 siang. disusul jama'ah dhuhur bersama.
setelah jamaah boleh istirahat, atau ingin menghafal nadhoman dari sekolah tadi
tepat jam 2 siang ngaos kitab guse sampai adzan Asyar, berjamaah .
setelah jamaah bisa masak, setiap kelompok.
tidak ada yang ngekos, karena setiap santri diwajibkan mandiri, agar bisa masak.
jamaah magrib. doa dan wiridan bersama. sampai adzan isyak , jamaah .
belajar bersama disetiap angkatan kelas. didampingi para pengurus masing-masing.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
ada juga yang saat istirahat sekolah kembali kepondok , entah ngepain
mungkin cari makan
karena menurut para kebanyakan santri, kata kenyang seakan ditiadakan.
bagaimana tidak sekali ngobrol makan ramai-ramai satu dandang pun akan habis.
makan bersama sangat nikmat. sepertinya perut para santri terbuat dari karet.
setiap makanan bisa masuk.
mungkin bagi pandangan orang awam , melihat hal seperti itu , mereka akan bilang santri itu rakus, semuanya dimakan.
tapi bagi para santri itu suatu kenikmatan.
__ADS_1
makan beramai-ramai menggunakan tangan , beralas nampak.
lauk sambel korek pun terasa ayam
hahahaha.....
minumnya cuma air keran, nggak pakai gelas, segalanya bisa dipakai, paling-paling pakai gayung kamar mandi. anehnya bertahun-tahun sejak dahulu sampai sekarang nggak ada yang mengeluh sakit perut, mungkin karena dapat ridho dan doa mbah yai pondok.
bila ingin makan mie caranyapun unik
mie tidak direbus, tapi direndam air keran, jangan berkhayal rendahnya pakai mangkok
karena perendaman mie cuma pakai plastik pembungkusnya.
tapi nikmatnya luar biasa.
mandinya pun beramai-ramai, setiap mandi memakai sarung sebagai basahan agar tak telanjang.
sambil mengobrol , bercanda ria, kadang tertawa terbahak-bahak. melupakan kata anggun atau menjaga image.
kamar mandinya ada، hanya kecil-kecil berisikan ****** atau kloset.
setiap kamar berisikan sampai 20 santri, tidurnya berjajar seperti sete yang siap dipanggang.
jangan berfikir tidur nyaman dengan kasus empuk, hanya memakai tikar sebagai alas.
memang miris bagi orang-orang yang terbiasa hidup manja
Alhamdulillah semua santri betah dan kerasan tinggal dipondok pesantren.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
aku menatap para santri lainnya yang asyik mengobrol, dudukupun lumayan jauh.
entahlah mungkin masih kikuk dan terbiasa dengan masa lalu.
jangan tanyakan apa yang diobrolkan
apalagi kalau bukan lawan jenis.
saat berkumpul seperti ini melihat kang-kang putra seperti melihat mutiara.
mereka langsung bersemangat kadang histeris. berteriak-teriak kegirangan.
padahal sudah sering ditegur, tapi memang mereka sangat keras kepala.
tapi bila hanya bertiga atau berdua, bila melihat kang-kang mereka akan menunduk malu, menampilkan keanggunan masing-masing agar kang-kang putra berkesan
menurut mereka yang namanya kang-kang santri putra , sejelek apapun mereka , kalau sudah memakai sarung dan peci akan terlihat tampan, hahaha.... mungkin mata mereka sudah katarak karena tak pernah diizinkan melihat lawan jenis, jadi tidak bisa membedakan mana yang ganteng beneran atau pura-pura ganteng karena uang.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
sudah satu bulan aku bersekolah, banyak sedikit sudah mulai hafal nama-nama teman satu kelas.
ada satu teman sekelas ku, dia memang pendiam, bila saat berkumpul dia selalu menjadi pendengar setia tanpa mau menimpali setiap obrolan mereka.
bila ada hal lucu ikut tertawa, bila menyeramkan ikut tegang, bila yang diceritakan kang-kang putra ikut bahagia.
aneh bukan???.
dia bernama Faridhotul Muniroh
anak kiyai masjid , dikampung area pasar.
orang tuanya memiliki toko sembako lumayan besar, ibu Ningsih pun sering berbelanja kebutuhan toko disana
dia sama seperti ku sama-sama nglaju.
alias tidak mondok, datang kesekolah tiap pagi dan pulang siang.
Tapi dia lewatnya jalan ketimur terus , melewati gedung MI dan RA baru ke Barat.
katanya lebih dekat sampai pasar bila lewat situ, datangnya pun hanya naik sepeda. padahal orang tuanya memiliki banyak sepeda motor berbagai merek.
maklumlah orang kaya.
meski anak orang berada dia tidak pernah sombong, atau membanggakan harta orang tuanya, aku tahu cerita tentang dia pun dari mbak-mbak lain , bukan dari mulutnya sendiri
Faridhotul Muniroh yang sering disapa mbak Farid, anak terakhir dari tiga bersaudara selain pendiam dia juga pemalu
alasannya tidak pernah lewat depan rumah ibu Ningsih, karena dijalan itu , sering sekali hilir mudik para kang-kang santri lewat, berseliweran tak tahu waktu.
kalau aku sudah terbiasa. karena mereka juga sering cari perhatian. entah itu cuma lewat atau berbelanja ditoko ibu, padahal di pondok putra juga menyediakan minimarket cukup lengkap,.
entahlah menurutku orang yang pantas untuk kucari perhatian cuma kang Hanan.
pernah suatu hari saat aku menyapu halaman rumah. aku melihat mas Ilyas dan kang Hanan berjalan beriringan dari pondok.
jalan depan rumah ibu yang menuju keutara.
mereka ngobrol kadang diselingi oleh canda tawa, tentu saja aku terpesona.
kupasang senyumku semanis mungkin
eh melihat ku muka mas Ilyas kembali datar
hanya kang Hanan lah yang masih mengulas senyum ramah padaku.
bodoh amat mas M Ilyas Abdullah. aku udah nggak berminat cari perhatian Sama kamu.
katanya ibu sih mas Ilyas dan kang Hanan adalah teman baik.
mereka juga seumuran.
ibu hafal betul ya?????
lebih membuat ku kagum katanya kedua orang tuanya tinggal di Kairo, membuka lestoran halal di Negara tersebut.
tempatnya pun tak jauh dari universitas yang terkenal itu Lo Al Azhar , kalau nggak salah.
adiknya perempuan jadi santri di kota Banten.
dan pakleknya mempunyai pondok pesantren cukup terkenal di kota Pekalongan.
alasannya dia terdampar disini, masih gerogi bila harus dipercaya untuk ikut andil dalam mengelola pondok pesantren pakleknya.
karena muridnya cukup banyak, dan semua anak-anaknya masih kecil-kecil.
paklek dan buleknya kuwalahan menangani santri putra dan putri yang makin bertambah.
maka dari itu mereka meminta kang Hanan pada kedua orang tuanya di Kairo untuk ikut mengurus pesantren.
tentu saja kedua orang tuanya senang, dan bahagia, alasannya abah dari kang Hanan tidak pernah mondok sebelumnya.
dia bisa menikah dengan ibunya kang Hanan adalah suatu anugerah terindah.
__ADS_1
bagi dia yang awam akan agama mendapat istri cantik Sholehah dan pandai dalam ilmu agama, sebab itu dia mendidik kedua anaknya agar menjadi seorang santri , menuntut ilmu agama untuk bekal pulang ke alam baka.