Pernikahan Pasangan Populer

Pernikahan Pasangan Populer
Part 10 Do Action!


__ADS_3

“Maksud kamu apa Al?” tanya Andi tiba-tiba.


Aku yang baru saja merebahkan diri diatas tempat tidur kembali duduk.


“Kamu ngomong apa sih Ndi?”


“Maksud kamu apa mengajak papa dan mama makan malam bersama, mentraktir mereka, apa yang sebenarnya mau kamu tunjukkan?”


“Aku gak ngerti arah pembicaraan kamu Ndi.”


“Kamu pasti mau menunjukkan pada orang tua kamu, kalau kamu bisa menghasilkan uang sendiri sementara aku tidak. Iya kan Alya?”


“Kenapa kamu berpikir seperti itu?”


“Coba pikir apa yang kamu lakukan tadi? Pamer mobil, pamer gaji, kamu hanya ingin merendahkanku bukan?”


“Aku tidak punya pemikiran seperti itu Ndi. Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan, merayakan gaji pertamaku dengan orang-orang yang aku sayang, salahnya dimana?”


“Sejak awal ini memang sudah salah. Tidak seharusnya kamu bekerja. Terlebih lagi di perusahaan Tedi.”


“Kalau aku tidak boleh kerja, kenapa bukan kamu saja?”


“Saat ini aku sedang berada dalam kondisi tidak bisa meninggalkan keluargaku Alya!”


“Itu hanya alasan kamu saja.”


“Kamu!”


Andi mengeratkan tangannya di hadapanku. Rahangnya mengeras. Nampak sekali kalau ia tengah menahan amarah.


Andi merebahkan dirinya membelakangiku. Kemudian menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Ia begitu marah sampai tidak menyadari kalau aku hampir terjatuh karena ia tadi menarik selimut yang bagian ujungnya aku duduki.


Aku memandangi kepala bagian belakang Andi yang masih bisa ku lihat. Tidak mengerti mengapa Andi semarah ini. Apa salahnya jika aku mentraktir orang tuaku makan, toh itu adalah uangku sendiri. Bagian mana dari apa yang ku lakukan yang telah membuatnya marah. Aku sama sekali tidak merendahkannya di hadapan orang tuaku.


“Ndi ....” Aku masih mencoba membujuknya untuk berbalik, namun Andi masih bergeming.


Tiba-tiba aku teringat janji kami sebelum berangkat tadi sore. Aku merapatkan tubuhku dengan tubuh Andi, lalu memeluknya dari belakang. Namun yang selanjutnya terjadi di luar dugaan. Andi menepis tanganku. Ada apa dengannya? Tidak biasanya dia menolakku. Apa ia semarah itu.


Ting.


Suara notif ponselku berbunyi, yang artinya ada satu pesan masuk. Aku segera mengambilnya dari dalam tas, lalu membaca perlahan isi pesan tersebut.


[Al, besok kita pergi ke Surabaya, aku mau melihat progres pembangunan cabang baru kita di sana. Kamu persiapkan barang-barang pribadi kamu untuk 3 hari ke depan.]


Aku menoleh ke arah Andi yang masih tertidur membelakangiku. Kalau bisa, aku ingin menolak perintah Tedi kali ini. Aku tidak ingin pergi sementara hubunganku dan Andi sedang tidak baik-baik saja.


Ketika aku sedang mengetik balasan untuk Tedi, sebuah panggilan telepon masuk dari nomor Tedi.


“Halo,” sapaku begitu panggilan terhubung.


“Belum tidur Al?” tanya seseorang di seberang sana.


“Belum.”

__ADS_1


Aku beranjak bangun untuk pindah ke ruang keluarga supaya tidak mengganggu tidur Andi.


“Kenapa mas?” tanyaku seraya mendaratkan diri di atas sofa ruang keluarga.


“Sudah baca pesanku?”


“Sudah.”


“Bagus.”


“Ehm ... Mas, apa aku harus ikut pergi?”


“Memangnya kamu ada acara lain?”


“Ehm itu ....”


“Ayu sudah mengatur semuanya Al, tiket, akomodasi, penginapan, kamu tinggal pergi bawa diri sama barang-barang pribadi kamu aja.”


Ayu adalah sekretaris kantor yang bertugas mengatur schedule Tedi.


“Oh ... Yaudah kalo gitu.”


“Kamu kok kayak gak bersemangat gitu? Kamu lagi ada masalah Al?”


“Eh ... Tidak mas.”


“Jangan bohong Al, ingat, jika di luar kantor, kita adalah teman. Kamu boleh kok kalau mau curhat sama aku.”


Aku menoleh ke arah pintu kamarku. Masih tertutup. Mungkin lebih baik aku menceritakan kejadian tadi kepada Tedi, mungkin bisa sedikit mengurangi beban pikiranku.


“Ada apa lagi dengan suami kamu?”


“Tadi sore sepulang bekerja, aku, andi, dan mama papa aku makan malam bersama. Aku berniat mentraktir mereka dengan gaji pertama aku. Tapi pulangnya Andi marah. Menurut mas aku salah yah?”


“Gak ada yang salah dari mentraktir orang tua Al.”


“Andi bilang, aku hanya mau menunjukkan kepada orang tuaku kalau aku bisa menghasilkan uang, sementara dia tidak.”


“Kalau begitu yang salah bukan kamu, tapi suami kamu.”


“Andi yang salah?”


“Iya lah. Dia begitu karena dia merasa rendah diri. Kamu sudah melangkah, sementara dia hanya diam di tempat. Dia sebenarnya marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengimbangi kamu Al.”


Aku hanya diam mendengarkan apa yang akan dikatakan Tedi selanjutnya.


“Al, bagi seorang istri itu, suami adalah partner seumur hidupnya. Begitu pun sebaliknya. Suami istri itu seharusnya berjalan searah seperti layaknya sepasang kaki. Sekarang kamu bayangkan, jika salah satu kaki kamu tidak berfungsi. Apakah kamu bisa sampai di tujuan? Mungkin bisa, tapi akan sangat sulit.”


“Jadi menurut mas, aku harus gimana?”


“Itu terserah kamu. Kamu bisa menyeret kaki kamu yang tidak berfungsi itu untuk terus berjalan. Atau kamu juga bisa mengganti kaki kamu itu dengan kaki yang berfungsi baik, sejalan dengan tujuan kamu.”


Aku hanya diam, tidak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


“Al?”


“Ya?”


“Kamu masih di sana?”


“Iya mas.”


“Kenapa diam?”


“Aku cuma tidak tahu harus berkata apa. Tapi terima kasih ya mas sudah mau menjadi tempat curhat aku.”


“Jangan sungkan sama aku Al. Oh iya, besok kita naik penerbangan pagi. Aku harap sebelum jam enam pagi, kamu sudah di bandara.”


“Baik mas.”


“Sekarang istirahat lah.”


Aku segera berdiri begitu panggilan terputus. Namun betapa terkejutnya aku mendapati Andi tengah berdiri di depan pintu kamar kami. Dia menatapku tajam.


“Habis telponan sama siapa?” tanya Andi.


“Ehm ... Tadi mas Tedi nelpon, urusan kerjaan.” Aku tidak bisa menyembunyikan kegugupanku. “Kamu kok bangun?”


“Kenapa? Aku mengganggu curhat kamu sama Tedi?”


Deg. Ternyata Andi mendengarnya.


“Aku sudah bilang, jangan menceritakan rumah tangga kita sama orang lain Alya!”


“Aku butuh seseorang untuk teman berbagi Ndi, apa itu salah?”


“Kalau kamu butuh teman berbagi, kamu tahu aku akan selalu ada untuk kamu Alya!”


“Tapi –“


“Tidurlah, ini sudah malam.” Andi menurunkan nada bicaranya. Namun entah mengapa aku malah takut mendengarnya.


Aku mengekor di belakang Andi yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar. Membaringkan diri di samping Andi yang masih membelakangiku.


“Ndi?”


Tidak ada jawaban.


“Besok aku mau ke Surabaya. Tiga hari.” Aku melirik ke arah Andi, ingin melihat responnya. Namun Andi masih bergeming.


“Ndi?”


“Kalau aku bilang tidak boleh, apa kamu akan tetap pergi?”


“Kamu tidak mau aku pergi? Kamu jangan egois Ndi, ini bukan keinginan aku, ini perintah bos aku.”


Andi berbalik ke arahku, “itulah mengapa aku tidak ingin kamu bekerja Al, kamu sudah menjual waktu kamu kepada perusahaan. Kamu tidak bisa lagi mengontrol apa yang ingin dan tidak ingin kamu lakukan.”

__ADS_1


“Kenapa sih kita harus meributkan hal yang itu-itu lagi. Kamu tahu alasan aku kerja, kamu juga tahu solusi apa yang harus kamu perbuat agar aku berhenti bekerja. Do action Ndi! Masalahnya ada pada diri kamu sendiri.”


Andi hanya menatapku tanpa berkata. Dari sorot matanya, nampak sekali kalau dia kecewa dengan semua yang aku katakan.


__ADS_2