
Hari ini kantor libur, aku memutuskan untuk berkunjung ke rumah mbak Dini, ingin melihat bagaimana keadaannya sekarang.
Di halaman rumah terlihat Alam tengah mencuci sepeda motor miliknya. Aku membuka gerbang yang tidak dikunci dan berjalan menghampiri Alam.
“Mama kamu ada Lam?”
“Tante?” Alam terlihat heran dengan kedatanganku. Mungkin karena ini kali pertamanya aku berkunjung ke rumahnya. “Ada tante di dalam.”
Aku masuk lebih dalam lagi, hingga sampai di ruang keluarga. Pemandangan mengharukan ku lihat di sana. Nampak mas Ridwan sedang menyuapi mbak Dini yang duduk di atas sofa, sedangkan putra bungsu mereka, Fauzi, yang masih duduk di bangku kelas 4 SD duduk di karpet seraya menonton serial kartun. Ah, sungguh keluarga yang harmonis, seandainya aku tidak melihat mas Ridwan tadi malam bersama wanita itu, mungkin aku akan berpikir bahwa mas Ridwan adalah pria sempurna.
“Selamat pagi mbak Dini,” sapaku.
Mas Ridwan nampak terkejut dengan kedatanganku. Namun hanya bertahan sepersekian detik. Ia kembali memasang wajah normal. Hah, dia sangat pandai bermain ekspresi. Benar-benar aktor yang ulung!
“Selamat pagi Alya? Tumben kamu kesini?” tanya mas Ridwan. Basa-basi sekali. Melihat cara bicaranya padaku sekarang, sulit dipercaya kalau dia adalah orang yang sama yang telah mengancamku semalam.
“Selamat pagi mas Ridwan.”
“Duduk Alya.”
Mas Ridwan sangat telaten mengurusi mbak Dini. Ia mengusap bubur yang bercecer di sekitar mulut mbak Dini dengan tissue. Mbak Dini tidak bisa mengunyah dengan benar. Mulutnya serong ke arah kanan. Tangan dan kaki kirinya masih bisa bergerak, walau terbatas. Sedangkan tangan dan kaki kanannya tidak bisa bergerak sama sekali. Kasihan sekali mbak Dini.
“Bagaimana keadaan mbak Dini mas?” tanyaku, ikut berperan dalam akting yang dia ciptakan.
“Ya seperti yang kamu lihat Al, Dini terkena stroke karena darah tingginya.” Ah, basi-basi macam apa ini. Aku jadi muak sendiri.
“Kalau begitu aku pulang dulu ya mas.”
“Kok buru-buru Al? Gak mau mas buatin teh dulu?”
“Tidak usah mas, terima kasih.”
Aku beranjak bangun meninggalkan mas Ridwan dan juga mbak Dini. Tanpa aku sadari, mas Ridwan ternyata mengikutiku.
“Alya tunggu!”
Aku berbalik, melihatnya setengah berlari ke arahku, “ada apa mas?”
“Soal semalam, mas minta maaf,” ucapnya setengah berbisik.
“Mas seharusnya minta maaf sama mbak Dini, bukan sama aku,” jawabku tak kalah pelan.
“Kamu tidak mengerti Alya. Mas sangat mencintai Dini.”
“Kalau mas mencintai mbak Dini kenapa mas berkhianat?”
“Mas tidak bermaksud berkhianat Al, tapi ....”
“Tapi apa?”
“Sebagai pria, mas juga mempunyai kebutuhan. Kamu pasti mengerti maksud mas.”
“Tidak mas, aku tidak mengerti.”
__ADS_1
“Kamu tahu Al, semenjak terkena stroke, Dini sudah tidak bisa lagi memenuhi tugasnya sebagai istri. Mas butuh itu Al.”
“Dengan memacari wanita muda yang usianya jauh di bawah mas?”
“Mas tidak memacarinya Al, mas hanya butuh tubuhnya saja.”
“Astaga ... Ternyata yang ada dalam pikiran mas ini hanya tentang ************.”
“Kamu vulgar sekali Al.”
“Aku bukan anak-anak yang tabu membicarakan sex mas.”
“Sekarang kamu paham kan mengapa mas sampai melakukan itu?”
Aku kembali menggeleng, “tidak mas, aku tidak paham. Mbak Dini baru terkena stroke seminggu yang lalu? Tapi mas sudah mencari wanita lain untuk menjadi pelampiasan sex? Sungguh tidak masuk akal.”
“Kebutuhan setiap pria itu berbeda-beda Alya.”
“Kalian kok ngobrol di sini?” Ibu mertua datang di tengah perbincangan kami.
Aku dan mas Ridwan serempak menoleh. Nampak ibu mertua di ambang pintu, membawa satu susun rantang yang bisa aku tebak kalau isinya adalah makanan untuk mas Ridwan dan keluarganya. Dan di depan ibu, berdiri Alam yang memandang ke arah kami dengan ekspresi yang sulit di jabarkan. Ada apa dengannya? Apakah dia mendengar perbincanganku dengan mas Ridwan sesaat lalu?
“Kamu di sini Al? Pantas saja tadi Andi nyari-nyari kamu.” Ucapan ibu mertua mengalihkan perhatianku.
“Iya Bu, Alya abis jenguk mbak Dini, mumpung libur kerja. Kalau begitu Alya pulang dulu ya Bu.”
“Iya.”
“Kenapa lam?”
“Tante semalam bertemu papa?”
Deg. Benar dugaanku, Alam mendengar perbincangan kami sesaat lalu. Tapi sejauh apa Alam mendengarnya? Aku harus memastikan dulu.
“Ah itu, iya. Semalam tante bertemu papa kamu waktu sedang meeting bersama klien.”
“Alam mendengar semuanya Tante, Tante gak perlu menyembunyikan apapun lagi.”
“Alam, ada beberapa hal mengenai orang dewasa yang tidak kamu pahami.” Aku merendahkan nada suaraku.
“Aku bukan Ryan ataupun Fauzi tante. Aku sudah cukup dewasa untuk memahami semua yang terjadi.”
“Alam ....”
“Papa bohong sama tante.”
“Maksud kamu apa?”
“Sejak lama papa suka bermain perempuan di belakang mama. Alam sering melihat mama menangis. Sampai satu minggu yang lalu, mama pingsan dan kemudian masuk rumah sakit. Itu semua gara-gara papa tante!”
Mataku membelalak seketika. Ternyata sudah banyak hal yang ia ketahui. Tidak disangka remaja di hadapannya yang pernah ia sebut numpang makan di rumah ibu mertuanya itu menyimpan banyak rahasia dalam dirinya.
“Alam minta tolong, bantu Alam tante.”
__ADS_1
“Bantu apa?”
“Bantu Alam untuk menghentikan kegilaan papa. Dan sementara itu, tolong jangan bilang apa-apa sama mama.”
“Itu rasanya sulit Lam.”
“Alam mohon tante. Alam mau keluarga Alam tetap harmonis. Dan lebih dari itu, Alam mau mama sembuh.”
Rasanya sulit sekali untuk memenuhi permintaan Alam. Merubah sifat manusia tidak semudah membalikkan telapak tangan. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan. Mungkin saja mbak Dini sudah berusaha melakukannya terlebih dahulu, dan gagal. Lalu apa yang diharapkan Alam dariku.
“Tante?”
“Tante akan berusaha semampu tante.”
“Terima kasih tante.”
“Lam?”
“Ya?”
“Soal kejadian waktu itu, tante minta maaf.”
“Kejadian yang mana tante?”
“Waktu kamu datang ke rumah dan meminta om kamu nganterin mama kamu ke rumah sakit. Waktu itu tante malah nyuruh kamu memesan taksi online. Tante minta maaf.”
“Oh itu, lupakan aja tan.”
“Tante itu kalo lagi lapar memang suka absurd.”
Alam mengernyit heran ke arahku.
Aku sedikit tertawa, “waktu itu tante lagi lapar karena dari pagi belum makan. Waktu om kamu mau ngajak makan, tiba-tiba kamu datang dan mengajaknya pergi. Tante jadi emosi.”
“Hahahaha ....” Tidak kusangka Alam malah menertawakanku. “Tante sungguh konyol.”
Kami pun tertawa bersama seperti layaknya seorang sahabat.
“Lam?”
“Ya?” Alam menghentikan tawanya.
“Karena kita sudah tertawa bersama, berarti sekarang kita berteman.”
“Aku tidak mau berteman dengan tante-tante.” Nah, mulai keluar tengilnya nih.
“Hei ... Usia kita cuma bertaut lima tahun. Lagi pula kalau dilihat sekilas kita terlihat sebaya. Tidak akan ada yang mengira kalau kita itu tante sama keponakan.”
“Dasar menolak tua!” Desis Alam.
“Tante denger loh.”
“Hahahaha ....” Kami pun kembali tertawa bersama.
__ADS_1