
Dengan mengendarai Audi A6 seri lama berwarna silver, aku memasuki pelataran rumah ibu mertuaku. Mobil ini adalah mobil milik Tedi hadiah dari mendiang ayahnya ketika lulus kuliah 10 tahun yang lalu. Walaupun mobil lama, tapi sangat terawat. Tedi memberikannya kepadaku sebagai inventaris karena sudah seminggu ini aku bekerja menjadi sekretaris pribadinya.
Aku segera masuk usai memarkirkan kendaraan yang tadi aku bawa di halaman rumah. Sekilas aku melihat ke arah rumah mbak Dini, ramai sekali orang. Sepertinya mbak Dini sudah pulang dari rumah sakit.
“Kamu dari mana Al?” tanya Andi.
Rupanya sekarang ia ada di rumah. Seminggu terakhir ini kami memang jarang bertemu. Terkadang aku berangkat ketika ia masih tertidur. Dan ketika aku pulang, Andi tidak di rumah. Seminggu ini Andi sibuk bolak-balik rumah sakit untuk ikut menjaga mbak Dini, bergantian dengan ibu dan mas Ridwan.
“Kerja,” jawabku singkat.
“Jangan bohong kamu Al!”
“Siapa yang bohong sih! Udah sana, aku capek!”
“Kenapa gak bilang sama aku kalau kamu kerja?”
Aku menatap lekat bola mata Andi, “seminggu ini kamu kemana aja?”
“Kamu kan tahu aku sibuk jagain mbak Dini.”
“Nah itu masalahnya Ndi, kamu terlalu fokus sama keluarga kamu, sampe kamu mengabaikanku.”
“Setidaknya kamu bisa memberitahu aku kan?”
“Andi, aku kerja! Tuh udah.”
“Kamu jangan kekanak-kanakan gini dong Al.”
“Siapa yang ke kanak-kanakan sih, udah sana ih, aku capek mau istirahat.” Aku masih mencoba mendorong Andi yang menghalangi jalanku untuk masuk ke rumah.
“Kenapa kamu kerja?”
“Kenapa? Ya karena aku butuh uang lah.”
“Apa gara-gara minggu lalu ibu tidak masak, jadi kamu memilih untuk bekerja di luar tanpa sepengetahuan aku? Supaya kamu punya uang untuk beli makan? Iya?”
“Gak ada hubungannya, Andi!”
“Lalu kenapa? Waktu itu ibu buru-buru Al. Ibu bilang Ibu sudah nyiapin bahan makanannya kok di kulkas.”
“Aku kan udah bilang, gak ada hubungannya. Lagian aku udah lupain kejadian itu kok.”
“Lalu kenapa? Kamu disini tidak kekurangan makanan, pakaian, dan kita juga sudah mempunyai tempat tinggal. Kenapa kamu memilih bekerja di luar?”
“Ndi, kebutuhan hidup aku tuh gak melulu soal makan, pakaian, dan rumah yang notabene adalah milik ibu kamu. Aku juga punya kebutuhan lain.”
“Kebutuhan apa? Kamu tinggal bilang Al, aku akan penuhi kok.”
“Dengan minta uang ke ibu kamu?”
__ADS_1
“Memang masalahnya apa? Sejak kita pacaran kamu tidak pernah mempermasalahkan dari mana uangku berasal kan?”
“Sekarang kita sudah menikah Ndi, itu bedanya.”
“Aku gak ngerti deh jalan pikiran kamu.”
“Aku yang gak ngerti jalan pikiran kamu!”
Ibu mertuaku datang ditengah-tengah perdebatan kami.
“Kalian kenapa sih ribut-ribut di sini? Apa gak bisa ngobrolnya di dalem aja?”
Aku menabrak tubuh Andi dan segera masuk ke kamarku. Kesal rasanya ketika capek pulang kerja malah diinterogasi di depan pintu.
Samar-samar aku mendengar perbincangan antara ibu dengan Andi.
“Kalian ngeributin apa sih Ndi?”
“Itu Bu, Alya ternyata kerja.”
“Kerja? Sejak kapan?”
“Aku juga gak tahu Bu.”
“Kok bisa kamu gak tahu?”
Hening sejenak sebelum ibu melanjutkan ucapannya, “Ibu juga merasa bersalah karena kurang memperhatikan Alya akhir-akhir ini. Ibu repot bantuin Tati yang baru lahiran, sekarang Dini malah kena stroke. Kedepannya mungkin Ibu akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Dini.”
“Lalu bagaimana dengan mbak Tati, Bu?”
“Itu lah, ibu juga bingung. Tadinya ibu sempat berpikir untuk meminta Alya membantu mbakmu, tapi kalau Alya kerja sepertinya ibu akan suruh Tati untuk menyewa jasa asisten rumah tangga saja.”
“Apa aku minta Alya berhenti kerja saja Bu?”
“Tidak usah. Satu pesan Ibu, kalau ada masalah bicarakanlah baik-baik, jangan seperti tadi yah. Yaudah, ibu mau mandi dulu, habis itu mau ke rumah mbakmu lagi, lagi banyak tamu.”
Apa-apaan sih Andi, masa menyarankan aku berhenti kerja buat bantuin mbak Tati jaga bayinya. Enak aja.
Pintu kamar diketuk, tak lama Andi masuk ke dalam.
“Aku gak mau ya Ndi, kalo kamu nyuruh aku berhenti kerja cuma buat jadi baby sitternya anak mbak Tati.”
“Aku belum ngomong apa-apa loh, Al.”
“Aku udah denger semuanya. Aku denger perbincangan kamu dan ibu.”
Andi mendekat ke arahku dan memegang kedua bahuku, “aku mohon mengerti Al, keadaan kedua mbakku saat ini sedang sulit, aku mohon pengertian kamu. Aku tidak mau dianggap kacang lupa kulitnya. Kamu harus ingat, siapa yang membiayai hidup kita selama ini.”
“Kita? Bukan kita Ndi, tapi kamu dan ibu! Aku tidak termasuk di dalamnya.”
__ADS_1
“Kamu pikir barang-barang yang selalu aku kasih ke kamu semenjak kita pacaran, uangnya berasal dari mana?”
“Kok kamu jadi ngungkit-ngungkit pemberian kamu? Tahu akan diungkit-ungkit seperti ini, aku lebih baik tidak menerimanya waktu itu.”
“Bukan ngungkit-ngungkit Al, aku cuma pengen ngasih tau kamu tentang jasa kedua mbakku pada kita.”
“Kamu minta aku balas jasa?”
“Bukan begitu Al, setidaknya tunjukkanlah sedikit kepedulian kamu sama mereka. Mereka itu sekarang saudara kamu juga loh.”
“Yaudah, kamu list aja apa-apa yang sudah kamu berikan sama aku semenjak pacaran. Akan aku ganti. SEMUANYA! Aku tidak mau punya hutang sama siapapun.”
“Kamu itu kenapa keras kepala banget sih Al? Kamu jangan sombong, baru kerja satu minggu juga.”
“Eh Andi, aku tuh lebih baik karena punya niatan untuk mencari uang sendiri dari pada kamu yang cuma jadi beban keluarga!”
“Jaga bicaramu Alya! Berani-beraninya kamu ngomong seperti itu sama aku!”
“Kamu itu pemalas Andi! Bahkan papaku sendiri mengetahuinya. Ndi, laki-laki yang tidak bisa membiayai kehidupan istrinya itu laki-laki yang tidak mempunyai harga diri.” Aku sedikit mengutip apa yang dikatakan Tedi.
“Papa kamu ngomong gitu?”
“Bukan. Mas Tedi.”
“Kamu membicarakan tentang rumah tangga kita pada orang lain, Alya?”
Aku diam.
“Pasti dia juga yang memberikan kamu pekerjaan.”
Aku kembali diam.
“Aku minta kamu resign,” ucap Andi dingin.
“Aku tidak mau!”
“Ini perintah, bukan tawaran.”
“Baik, aku akan resign kalau kamu bisa membuktikan kamu bisa menghasilkan uang lebih banyak dari gaji aku perbulannya.”
“Kenapa kamu jadi matre gini sih Al?”
“Ini bukan matre Ndi, tapi sudah sewajarnya seorang suami membiayai kehidupan istrinya. DENGAN UANG HASIL JERIH PAYAH SENDIRI.”
“Baik, aku terima tantangan kamu! Siapkan saja surat pengunduran dirinya dari sekarang.”
“Oke. Ingat, jangan bekerja di perusahaan mas Lukman maupun mas Ridwan. Karena mereka bisa saja memberikan kamu gaji sesuai dengan yang kamu minta.”
Andi nampak diam sejenak, “oke.”
__ADS_1