Pernikahan Pasangan Populer

Pernikahan Pasangan Populer
Part 27 Selanjutnya Apa?


__ADS_3

“Sebenarnya apa yang mau mas tunjukkan?” tanyaku ketika aku dan Tedi sedang dalam perjalanan pulang.


“Aku ingin kamu melihat hubungan bu Ningrum dan Siska. Kamu mengira bu Ningrum menyayangi Siska kan?”


Aku kembali teringat saat makan malam di rumah Tedi tadi. Bagaimana cara bu Ningrum menyuruh-nyuruh Siska, dan bentakan-bentakan yang Siska terima ketika ia berbuat kesalahan.


“Siska! Kamu bisa berjalan lebih cepat tidak?! Kenapa kamu lelet sekali!”


“Siska! Mana minumnya? Kamu pikir aku bisa makan tanpa minum?”


Aku mengembuskan napas kasar. Di banding Siska, ternyata hidupku jauh lebih beruntung. Ibu mertuaku jauh lebih baik berkali-kali lipat dari ibu mertua Siska.


“Ibu Mas tidak menyukai Siska, tidak juga menyukaiku, lalu seperti apa menantu idamannya?” tanyaku.


“Kamu sungguh ingin tahu Al? Hahaha.” Tedi tertawa sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. “orang seperti dia itu tidak menyukai hal lain selain uang. Kamu paham kan? Dia pernah berkata pada ayahku bahwa dia tidak mau mempunyai anak karena hanya akan fokus menjadi ibuku. Tapi sebenarnya aku tahu alasannya. Dia ingin menjaga tubuhnya agar tetap cantik dan terawat agar menjadi magnet untuk uang lebih mendekat kepadanya.”


Deg. Tedi bilang  ibu sambungnya tidak ingin memiliki anak? Mengapa situasinya mengingatkanku akan diriku sendiri? Kalau Tedi adalah ayahnya, jadi bukankah itu berarti aku adalah bu Ningrum? Aku segera menggelengkan kepala. Mengusir pikiran bodoh bahwa aku sama dengan bu Ningrum.


 Lagi pula aku bukan wanita yang mendekati Tedi karena uang bukan? Tapi kalau bukan karena kekayaan Tedi, saat ini aku tidak mungkin ada di sisinya. Uangnya lah yang telah mendekatkan kami. Jadi kalau begitu, aku dan bu Ningrum sama saja? Aku menggelengkan kepala sekali lagi. Berusaha meyakinkan diri kalau aku tidak sama dengan wanita itu.


“Kamu kenapa Al?” Pertanyaannya membuyarkan lamunanku.”


“Eh, gapapa kok mas, memangnya kenapa?”


“Aku lihat kamu berkali-kali menggelengkan kepala, apa kamu pusing?”


“Engga mas, aku baik-baik saja.”


“Al ....” Tedi menggenggam tangan kananku dengan tangan kirinya. “Aku merindukanmu.” Ia kemudian mengecup punggung tanganku singkat.


Jantungku berdebar. Benar, kejadian demi kejadian yang terjadi pada kami membuat kami terpaksa tidak bertemu. Aku pun merasakan kerinduan yang sama seperti yang Tedi rasakan.


Aku menatap wajahnya dari samping, matanya, hidungnya, dan bibir itu ... Jantungku kembali berdetak lebih kencang.


“Kamu mau kita mampir sebentar sebelum pulang?”


“Kemana?”


Tedi tersenyum. Dan aku tahu arti dari senyumannya.


***


Aku mengenakan kembali pakaian yang tercecer di atas lantai usai menyelesaikan 3 jam panas kami.

__ADS_1


“Kamu yakin mau pulang Al? Ini sudah larut.” Tedi masih terbaring di atas tempat tidur.


“Sebenarnya aku ingin menghabiskan malam bersama kamu di sini Mas, tapi aku harus pulang. Di rumah sedang berduka, aku tidak mempunyai alasan untuk tidak pulang.”


“Baiklah.” Tedi bangun dan segera berpakaian setelah sebelumnya membersihkan diri.


Kami keluar dari hotel dan segera menuju ke tempat parkir di mana mobil Tedi berada. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 11 malam. Aku harus segera pulang.


“Al, kamu bertanya berapa banyak wanita yang pernah duduk di situ?” tanya Tedi ketika kami sedang berada di dalam mobil. “Tidak ada, tidak ada selain kamu.”


Aku tersipu. Menjadi wanita satu-satunya.


“Kamu tahu kan, mobil ini baru aku beli. Kamu wanita pertama, dan orang pertama yang duduk di situ.”


Apa? Aku tidak jadi tersipu. Bagaimana aku lupa kalau mobil Tedi sudah terbakar. Mobil ini sama 100% seperti mobil Tedi sebelumnya.


“Mas, aku lupa mengatakan sesuatu, tentang Siska.”


“Kenapa?”


“Waktu pertama kali bertemu dengan Siska, dia bilang kan tidak punya hape, makanya nyuruh aku nge save nomor Mas. Tapi tadi aku lihat di dapur dia punya hape kok.”


Tedi menoleh ke arahku, “kamu yakin Al itu hapenya?”


“Kamu tidak menanyakan kepadanya itu hape siapa?”


“Jelas aku bertanya, dia bilang hape asisten rumah tangga kalian yang tertinggal sebelum pulang kampung.”


“Mungkin dia memang benar, itu hape asisten rumah tangga kami yang pulang kampung Al.”


“Asisten rumah tangga mas bisa membeli i-Phone?”


Tedi kembali menoleh ke arahku. Kali ini ia tidak berkata apa-apa.


“Mas, memangnya kenapa sih Siska tidak boleh punya hape. Mungkin dia juga perlu menghubungi keluarganya di kampung.”


“Keluarga siapa Al, dia itu hidup sebatang kara.”


“Mas ini ngaco, jelas Siska punya ibu. Dia kan datang ke pernikahan kalian.”


Tedi menepikan mobilnya, lalu menatap penuh selidik ke arahku, “kamu jangan becanda Al.”


“Ngapain aku becanda sih Mas. Apa Siska yang bilang kalau dia sebatang kara?”

__ADS_1


Tedi mengangguk.


“Kenapa dia tidak mengakui ibunya sendiri ya?” Tiba-tiba aku teringat kejadian di pesta pernikahan Siska, “pantas saja waktu ibunya di marahi, dia diam saja.”


“Kapan?” tanya Tedi.


“Waktu pesta pernikahan kalian. Ibunya tidak sengaja memecahkan piring, lalu seorang ibu lainnya ....” Aku mencoba mengingat-ingat wajah ibu-ibu yang memarahi ibunya Siska, “ah iya, itu ibunya Mas! Bu Ningrum memarahinya. Waktu itu aku sempat heran sih kenapa ibunya Siska jadi pelayan di pesta pernikahan anaknya sendiri, dan kenapa Siska diam saja saat ibunya dimarahi orang lain.”


“Kamu yakin itu ibunya Siska Al?”


“Mas, aku ini teman SMP nya Siska, ingat? Lagi pula ibunya Siska sering datang ke sekolah, jadi aku hafal wajahnya.”


Tedi mengalihkan pandangannya pada jalanan di hadapan kami. Ia terlihat tengah berpikir.


“Mas ....” Aku mengibaskan tangan di hadapannya.


“Aku antar kamu pulang sekarang,” ucap Tedi pada akhirnya.


Sisa perjalanan menuju ke rumah orang tuaku hening. Mata Tedi fokus ke jalanan, namun aku tahu Tedi tengah memikirkan semua yang aku ucapkan.


Mobil melambat ketika mobil yang kami tumpangi hampir sampai ke tempat di mana mobilku terparkir. Puluhan orang berkerumun di sana. Karena mobil tidak bisa membelah kerumunan, aku berinisiatif untuk turun dari mobil. Berjalan kaki mencari tahu pusat dari kerumunan tersebut. Tedi mengekorku dari belakang dengan jarak tidak terlalu jauh.


Tiba-tiba aku dikagetkan karena tiba-tiba seseorang menabrak tubuhku dan memelukku erat.


“Aku senang kamu baik-baik saja Al,” ucapnya.


Aku melebarkan jarak di antara kami agar aku bisa melihat siapa orang yang tengah mengajakku bicara.


“Aku khawatir sama kamu Al, aku pikir ....”


“Apa yang terjadi Ndi?” tanyaku bingung.


Andi menarik tanganku membelah kerumunan. Aku tersentak kaget melihat mobilku sudah hangus terbakar.


“Ke-kenapa bisa begini Ndi?” tanyaku.


“Aku juga tidak tahu Al. Waktu aku datang semuanya sudah seperti ini. Saat itu aku sangat takut Al, aku takut kamu ada di dalamnya.”


“Bagaimana kamu tahu aku ada di sini Ndi?”


“Aku tidak tahu, aku cuma menebak. Aku khawatir karena kamu belum pulang, dan ponsel kamu tidak bisa di hubungi.” Aku meraih ponselku di dalam tas, dan ternyata mati daya. “Lalu aku mencari kamu kesini, aku pikir kamu pasti kesini, dan ternyata dugaanku benar.”


Ledakan mobil Tedi, kebakaran rumah orang tuaku, dan sekarang mobilku yang terbakar. Lalu selanjutnya apa? Aku yakin dalang dibalik semua ini adalah orang yang sama.

__ADS_1


__ADS_2