
“Al ... Hei ... Al.” Tedi mengibaskan tangannya di depan wajahku.
“Eh iya, kenapa pak?”
“Sudah aku bilang, kalau di luar tidak usah panggil pak, panggil mas aja.”
Aku melihat ke sekeliling. Ah benar, tadi Tedi mengajakku makan siang bersama. Sekarang kami berada di sebuah restoran tak jauh dari kantor.
“Maaf mas, tadi aku lagi gak fokus.”
“Kamu ada masalah apa?”
Aku menimbang-nimbang, haruskah aku menceritakan kepada Tedi perihal rumah tanggaku. Tapi kalau Andi tahu, nanti pasti dia marah. Dia paling tidak suka kalau urusan rumah tangga kami diketahui orang lain.
“Kamu boleh saja tidak menceritakan masalah kamu sama aku, asal masalah kamu itu tidak mengganggu pekerjaan.”
“Ehm ... Sebenarnya Andi minta aku resign mas.”
“Kenapa?”
“Dia meminta aku membantu kakak perempuannya yang baru melahirkan mengurus bayinya.”
“Terus, kamu jawab apa?”
“Aku bilang kalau Andi bisa menghasilkan uang lebih banyak dari gaji aku perbulannya, aku akan resign.”
“Oh ... Kalau begitu aku tidak perlu khawatir untuk segera mencari sekretaris baru.”
“Maksud mas?”
Tedi hanya tersenyum. Nampak tidak akan mencoba menjawab pertanyaanku.
“Oh iya Al, nanti malem aku minta kamu temenin aku meeting sama klien dari luar kota. Bukan urusan kantor sih, tapi kebetulan dia sedang ada di sini, aku hanya ingin menjamunya saja.”
Aku mengangguk, “iya mas.”
Awalnya aku bingung, mengapa Tedi menjadikanku sekretarisnya sementara di kantor sudah ada sekretaris yang mengurusi semua schedule Tedi. Namun saat aku menanyakannya pada Tedi, dia bilang kalau sekretaris yang satunya itu tugasnya mengurusi internal kantor, sedangkan aku bertugas mengurusi eksternal kantor. Tapi aku merasa tidak pernah melakukan apa-apa selain menemaninya meeting dengan klien.
Walaupun menjadi sekretaris tidak sesuai dengan jurusanku ketika kuliah, aku tetap menjalani profesi ini. Karena selain kerjanya mudah, gajinya juga lumayan besar.
“Sudah siap Al?”
Aku melihat jam di tangan, sudah jam pulang kantor. “Siap pak.”
__ADS_1
“Kita naik mobil aku aja.”
Aku mengangguk.
Mobil keluar dari area perkantoran menuju ke jalan utama. Macet dimana-mana. Semua orang nampak terburu-buru untuk segera sampai di tujuannya masing-masing. Bunyi klakson saling bersahutan memekakkan telinga.
Setelah satu jam berada dalam kemacetan, akhirnya mobil berbelok dan masuk ke dalam basement sebuah mall. Tedi memarkirkan mobilnya di sana.
“Kok kesini mas?”
“Kita beli baju dulu buat kamu, sekalian ke salon.”
“Memangnya baju aku yang ini kenapa?” Aku melihat pakaian yang ku kenakan, rasanya tidak ada yang salah.
“Tidak apa-apa, kamu tetap cantik kok pakai baju apa aja. Apalagi kalau tidak memakainya.” Senyum menyeringai dari Tedi.
“Eh.”
“Becanda Al. Aku mau beliin kamu gaun malam.”
“Oh gitu ... Oke.”
***
Saat sedang menunggu klien Tedi datang, tiba-tiba mataku menangkap seseorang yang sangat aku kenal. Seorang pria tengah makan malam bersama seorang perempuan cantik seusiaku. Mereka nampak mesra, seperti layaknya sepasang kekasih.
Ketika mataku masih terfokus padanya, tatapan mata kami bertemu. Ia menghentikan tawanya, dan kami hanya saling memandang selama beberapa detik hingga suara Tedi memutus kontak mata diantara aku dan pria itu.
“Kamu kenapa Al?” tanya Tedi.
“Eh, tidak apa-apa mas, apa kliennya sudah datang?”
Tedi menunjuk ke arah pintu masuk, “itu mereka.”
Nampak seorang pria paruh baya beserta seorang wanita tak jauh berbeda usia berjalan seraya tersenyum ke arah Tedi. Tedi bangun dari duduknya, dan akupun mengikuti gerakan Tedi.
“Halo pak Haikal dan bu Haikal, apa kabar?” sapa Tedi seraya menjulurkan tangan.
“Baik pak Tedi, gimana kabar pak Tedi,” tanya pak Haikal menjawab uluran tangan Tedi.
“Saya juga baik pak, silakan duduk pak.” Kami pun duduk kembali usai saling berjabat tangan.
“Saya dengar pak Tedi baru saja melangsungkan pernikahan yah. Pantas saja pak Tedi mau nikah muda, orang istrinya cantik gini. Kalau tidak segera di legalkan, bisa diambil orang ya pak. Hahaha.”
__ADS_1
Eh, Sepertinya ada kesalah pahaman di sini. Tapi melihat Tedi hanya tertawa, sepertinya ia tidak mencoba untuk meluruskan kesalah pahaman ini.
Baru saja aku hendak membuka suara, netraku kembali teralihkan pada pria yang sedari tadi menjadi fokus penglihatanku. Pemandangan menjijikkan kulihat di sana. Tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang pria beristri melakukan hal tidak sopan seperti itu di tempat umum. Terlebih lagi wanita itu bukan istrinya.
“Al, kamu kenapa?” suara Tedi kembali membuyarkan lamunanku.
“Eh, aku tidak apa-apa mas. Aku ke toilet sebentar.” Aku segera meninggalkan meja kami tanpa menunggu persetujuan dari Tedi.
Aku melewati pasangan kekasih yang terpaut usia cukup jauh itu, yang masih asyik bercumbu mesra tanpa mempedulikan sekitar, dan berdehem di dekat mereka. Mencoba menyadarkan kalau aku ada di sana. Begitu si pria melihatku, aku segera melanjutkan perjalanan ke toilet.
“Kamu pegang rahasiaku, aku pegang rahasiamu!” Suara seseorang di belakangku membuatku seketika menghentikan langkah.
Aku berbalik demi untuk melihat siapa yang tengah berbicara, dan kepada siapa kata-kata tersebut ditujukan.
“Kamu pegang rahasiaku, aku pegang rahasiamu!” Pria itu kembali mengulangi kata-katanya.
“Maksud mas apa?”
“Anggap kita tidak bertemu di sini.”
“Mas takut kalau aku mengadu pada istri mas tentang perselingkuhan mas?”
“Cih, nyatanya kamu sama saja!”
“Jangan samakan aku seperti mas yah. Aku tidak sedang selingkuh. Aku hanya menemani atasanku makan malam dengan kliennya.”
“Dengan pakaian seperti ini?” Ia melihat penampilanku dari atas ke bawah.
“Memangnya kenapa dengan pakaianku?”
Pria tersebut mendekatkan wajahnya kearahku, dan berbisik di telingaku, “seperti seorang pel**ur.”
Aku membelalakkan mata mendengar ucapannya, “mas jangan sembarangan yah. Mas lihat saja, aku akan mengadukan ini pada istrimu!”
“Silakan saja kalau kamu mau pernikahan kamu yang baru berusia seumur jagung itu kandas.”
“Mas Andi tidak akan percaya pada mas. Dia sudah mengenalku lebih dari enam tahun.”
“Dan dia sudah mengenalku jauh lebih lama dari itu.” Seringai jahat kembali terlihat dari wajahnya. “Dan ya, kalau Andi masih tidak percaya, aku bisa menunjukkan foto ini.”
Aku membelalakkan mata melihat layar ponselnya yang ia arahkan kepadaku. Sebuah foto terpampang di sana. Fotoku yang tengah duduk berdampingan dengan Tedi. Dalam foto tersebut, nampak Tedi tengah mengusap kepalaku.
Ternyata orang di depanku ini sangat licik. Bisa-bisanya dia mengambil fotoku diam-diam. Dan apa itu? Tedi seolah sedang mengusap kepalaku. Padahal kejadian sebenarnya adalah Tedi membantu membetulkan rambutku yang sedikit berantakan karena tertiup angin.
__ADS_1
Melihat aku hanya bergeming, pria licik itu tertawa puas. Ia lalu meninggalkanku dan melenggang pergi menemui kekasihnya yang sudah pasti tidak sabar menunggu kedatangannya.